แชร์

10~Mimpi Buruk

ผู้เขียน: Kanietha
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-08 23:39:08

“Apa-apan ini, Rif!” seru Deswita begitu memasuki ruang kerja suaminya. “Kamu nggak beneran nikah sama perempuan itu, kan? Kamu cuma pura-pura, kan!”

“Bun–”

“Jangan main-main sama orang tua,” potong Ivan segera menimpali setelah menutup pintu, “kamu kira kami percaya? Kamu tau-tau datang bawa perempuan dan bilang itu istrimu?”

“Sebentar,” potong Arif tenang. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya ke arah Ivan setelah membuka galeri foto. “Ini buktinya. Kami baru ni
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (9)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
syik syak syok deswita dan ivan
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
perang di mulai
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
gk kebayang deh marahnya nenek lampir udah buang Nila.. eh Arif malah mengenalkan istrinya yg profesinya OG
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Kontrak Suci   43~Pelukan Hangat

    “Kamu sudah makan, sudah tidur, sudah istirahat. Jadi, sekarang nggak punya alasan lagi untuk menghindar.”Tanpa memberi kesempatan Suci menyela, Arif meraih pelan tangan gadis itu, lalu menuntunnya menuju sofa panjang di depan televisi. Setelah semua piring selesai dicuci dan dapur kembali rapi, kini saatnya mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.“Aku nggak mau ngulang semua yang sudah aku omongin dari tadi siang,” lanjut Arif setelah keduanya duduk di sofa. “Jadi–”“Kita jalani aja dulu,” putus Suci sambil menarik tangannya dari genggaman Arif. Ia juga sudah enggan berdebat dengan pria itu, karena semua akan berakhir sia-sia. “Jalani kayak biasanya.”“Tapi aku nggak mau,” tolak Arif tanpa basa-basi. “Ngapain aku capek-capek ngerobek surat kontrak, kalau kita tetap jalan seperti biasanya. Makanya aku tegaskan, kalau kita pacaran dulu.”“Itu, kan, maunya Mas Arif. Bukan mauku.”“Aku tau kalau kamu juga mau,” tembak Arif bergeser untuk memangkas jarak dengan Suci.

  • Kontrak Suci   42~Suami Istri yang Sebenarnya

    “Ini …” Suci menyodorkan sebuah map berwarna cokelat ke hadapan Arif yang sedari tadi menunggunya di kursi makan. Setelah kembali ke apartemen, pria itu meminta Suci membawa surat kontrak yang pernah mereka tanda tangani. “Mau diapain surat kontraknya?” tanya Suci sambil duduk perlahan di hadapan Arif. Sejak percakapan mereka di restoran, tepatnya setelah Bias pergi, keduanya memang belum lagi membahas tentang hubungan mereka secara serius. Mereka hanya sibuk menghabiskan camilan dalam diam, lalu pulang setelah selesai.Arif membuka benang pengunci map tersebut tanpa melepas tatapannya pada Suci. Hanya diam dan tidak memberi jawaban. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas putih dari dalam sana, lalu memastikan semua lembarnya masih lengkap. Setelah yakin, Arif langsung merobek kertas tersebut tanpa keraguan sedikit pun.“Maaas!” Suci terbelalak dan spontan berdiri di tempat. Tidak beranjak ke mana pun karena masih syok dengan perbuatan Arif. “Kenapa … dirobek?”“Aku sudah bilang, a

  • Kontrak Suci   41~Langsung Pulang

    “Aku … nggak ada perasaan apa-apa sama Mas Arif,” ucap Suci sembari menunduk pelan guna menyembunyikan ekspresinya. Selain itu, ia juga tidak berani menatap pria itu, karena Arif mungkin dapat mengetahui kebohongannya. “Dari awal, tujuanku cuma uang. Nggak ada yang lain.”Suci berusaha mempertahankan ekspresi datar, meski jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia tidak pernah menduga, jika menolak perasaan seseorang yang dicintai bisa senyeri ini. Bahkan, patah hatinya dahulu kala tidak pernah semenyesakkan keadaan yang sedang ia hadapi sekarang.Setidaknya, saat itu Suci hanya perlu menerima kenyataan bahwa hubungannya dengan mantan kekasih sudah kandas dan tidak bisa diteruskan lagi.Namun, kali ini berbeda.Saat ini, orang yang Suci cintai justru ada di hadapannya dan mengulurkan tangan. Sementara dirinya sendirilah yang memilih mundur.Bukan karena tidak ingin menerima. Melainkan karena Suci takut kebahagiaan ini hanya sementara. Ia yakin, suatu hari nanti Arif

  • Kontrak Suci   40~Apa yang Kamu Rasakan?

    “Jadi … kita mau ngapain?” tanya Suci mulai merasa canggung. Sejak diajak pergi ke restoran, perasaannya mulai tidak tenang. Ia bisa merasakan bahwa Arif sedang memikirkan sesuatu, tetapi belum menemukan cara untuk mengatakannya. “Sebelum nonton, kan, kita sudah makan. Pas di bioskop juga sudah ngemil, kan? Apa Mas Arif lapar lagi?”Arif menarik napas panjang. Entah kenapa lidahnya terasa kelu ketika sudah duduk berhadapan dengan Suci seperti sekarang. Padahal, biasanya tidak seperti ini. “Aku mau nyantai bentar,” ujar Arif sambil menunjuk buku menu yang tergeletak di atas meja. “Aku pesan kopi. Apa aja yang penting dingin. Kalau camilannya, terserah kamu.”“Ohh …” Suci mengangguk pelan, lalu meraih buku menu di hadapannya. Ia lebih dulu menyusuri daftar minuman, mencari pilihan kopi yang sekiranya cocok untuk Arif. Setelah menentukan pesanan, Suci melanjutkan dengan memilih beberapa camilan ringan untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian, ia memanggil pelayan dan menyebutkan satu p

  • Kontrak Suci   39~Cemburu?

    “Mas Arif … nggak apa-apa?” tanya Suci sambil menghampiri Arif yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di depan televisi.Deswita baru pergi beberapa saat yang lalu. Wanita itu meninggalkan apartemen dengan wajah yang sulit diartikan. Tidak lagi tampak amarah di wajahnya, tetapi tidak juga terlihat baik-baik saja. Bahkan, wanita itu tidak menatap Suci setajam biasanya. Entah apa yang telah dibicarakan oleh ibu dan anak itu di kamar, sehingga keduanya tampak membawa luka yang sulit dijelaskan. Arif menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata. “Aku nggak papa.”Suci duduk di ujung sofa yang sama dengan Arif. “Mas pasti tau pepatah … kalah jadi abu, menang jadi arang. Dan menurutku, itulah yang terjadi antara Mas sama Bu Deswita.”Arif membuka matanya, lalu menatap Suci. Gadis sederhana yang selalu bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Suci mungkin tidak memiliki gelar tinggi dan bukan berasal dari keluarga terpandang, tetapi, ada kalanya cara berpikir Suci justru

  • Kontrak Suci   38~Jangan Menyesal

    Sementara Suci membeku di tempat dan masih mencerna semua yang dilakukan Deswita, Arif justru menghampiri wanita itu dengan tenang.“Access card-ku,” pinta Arif mengulurkan tangan kanannya pada Deswita. Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu barusan. “Tolong kembalikan.”Senyum penuh kemenangan yang sempat tersemat di wajah Deswita, spontan luruh begitu saja. Rasa kesal mulai merayap, menggantikan rasa percaya diri yang tadi sempat melambung tinggi karena Arif tidak mengindahkan ucapannya.“Bunda minta penjelasan, tapi kamu malah minta access card?” tanya Deswita tidak percaya. “Nggak ada yang perlu dijelaskan,” ujar Arif menghentak pelan tangannya yang masih menggantung di udara. Tetap meminta access card-nya kembali. “Karena aku juga nggak akan bisa ngubah apa pun yang ada di pikiran Bunda.”“Kamu sudah bohongin Bunda! Akui itu.” Arif menarik tangannya kembali saat melihat Deswita tidak menunjukkan niat untuk mengembalikan kartu tersebut. “Bohong di bagian mana?” tany

  • Kontrak Suci   37~Semua Kebohongan

    Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi

  • Kontrak Suci   34~Gemas Sendiri

    “Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar

  • Kontrak Suci   33~Semua Luka

    “Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia

  • Kontrak Suci   32~Hapus, Nggak!

    “Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status