LOGINSambil terus mengumpat dalam hati, Deswita menunggu Arif di lobi gedung apartemen. Ia tidak mendatangi kantor putranya, karena merasa tidak leluasa jika bicara di sana. Siang tadi, Ivan sudah menghubungi dan memastikan bahwa Arif memang sedang mengurus surat untuk mengesahkan pernikahannya.Deswita segera berdiri, ketika melihat putranya keluar dari lift. “Jangan.” Arif menggeleng ketika Deswita baru membuka mulut untuk bicara. Ia berhenti tepat di hadapan wanita itu. “Kalau kedatangan Bunda ke sini cuma untuk protes atau mengkritik pernikahanku dengan Suci, lebih baik jangan pernah lagi temui aku.”Deswita menarik napas panjang. “Jadi, kamu lebih milih perempuan itu daripada Bunda? Orang tuamu sendiri? Orang yang sudah melahirkan kamu?”“Aku menghormati Bunda sebagai seorang ibu, tapi bukan berarti Bunda punya hak untuk mengatur siapa yang layak mendampingi hidupku."Deswita tertawa pahit. "Cuma karena perempuan itu, kamu sampai tega bicara seperti ini sama Bunda? Coba pikirkan seka
Mendengar langkah kaki yang terseret malas dari arah belakangnya, Suci lantas menoleh. Ia terdiam sesaat, ketika melihat Arif masih berpakaian santai. Hanya kaos hitam polos dan celana pendek.“Nggak kerja, Mas?” tanya Suci tanpa memberi sapaan selamat pagi seperti biasa. “Aku berangkat agak siang dan langsung ke pengadilan,” jawab Arif berhenti di sudut meja kitchen set. Ia mengambil gelas di lemari gantung lalu bersiap membuat kopi. “Ooh...” Suci mematikan kompor. Ia mengambil sepotong daging dari wajan dengan sendok, lalu menyodorkannya pada Arif. “Mas, coba rasain beef teriyaki-ku. Ini pertama kali aku bikin, tapi nggak tahu rasa asli masakannya itu sebenernya gimana.”Arif mengambil alih sendok dari tangan Suci, lalu menyantap potongan daging tipis tersebut. Ia mengunyahnya perlahan. Keningnya berkerut, sedang menimbang-nimbang komposisi bumbu yang bercampur di lidahnya.“Gimana?” buru Suci tidak sabar.Bukannya menjawab, Arif justru bergeser melewati Suci. Ia mengambil satu po
“Bu Deswita … baik-baik aja, Mas?”tanya Suci memberanikan diri memecah keheningan, setelah mobil mereka meninggalkan kediaman Adiningrat beberapa menit lalu. Melihat respons kedua orang tua Arif ketika mereka datang, sudah bisa dipastikan Deswita dan Ivan tidak menyukai Suci. Dengan demikian, tahap pertama dari rencana Arif sudah berjalan lancar. Arif menggeleng pelan. Telunjuknya mengetuk-ngetuk kemudi dengan ritme yang lambat karena tidak bisa melupakan sikap kedua orang tuanya. Terutama dengan Deswita. “Besok, ayahku pasti akan cari informasi tentang pernikahan kita,” ujar Arif terus menatap lurus ke depan. “Setelah itu, ibuku pasti akan mencari tau tentang latar belakangmu.”Suci mengangguk karena telah paham akan hal tersebut. “Bu Deswita … pasti makin syok kalau tau keluargaku betul-betul berantakan.”“Hm.”“Yakin nggak papa, Mas?” tanya Suci agak khawatir. Ia sampai memutar posisi duduknya agar bisa menatap Arif sepenuhnya. “Aku takut kalau kesehatan Bu Deswita sampai tergan
“Apa-apan ini, Rif!” seru Deswita begitu memasuki ruang kerja suaminya. “Kamu nggak beneran nikah sama perempuan itu, kan? Kamu cuma pura-pura, kan!” “Bun–”“Jangan main-main sama orang tua,” potong Ivan segera menimpali setelah menutup pintu, “kamu kira kami percaya? Kamu tau-tau datang bawa perempuan dan bilang itu istrimu?”“Sebentar,” potong Arif tenang. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya ke arah Ivan setelah membuka galeri foto. “Ini buktinya. Kami baru nikah seminggu yang lalu. Bias sama Yosep yang jadi saksinya. Bias Manggala, sama Yosep asprinya Pak Danuar. Ayah bisa telpon Bias kalau nggak percaya. Silakan.”Ivan mengambil ponsel tersebut. Matanya terpaku pada sebuah foto yang memperlihatkan Arif tengah menjabat tangan seorang pria tua dengan peci hitam di sebuah ruangan. Di samping Arif, seorang gadis duduk menunduk dengan kerudung putih yang tampak sederhana. “Geser,” ujar Arif bersedekap. “Fotonya nggak cuma satu.”Deswita merampas ponsel
Suci menarik napas sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan. Menatap pantulan dirinya di cermin dengan rasa gugup yang tidak terkira. Meskipun yang akan dilakukannya nanti hanyalah sandiwara belaka, tetapi perasaan yang menyelimutinya saat ini benar-benar nyata.Kira-kira, apa respons Deswita ketika bertemu dengan Suci nanti. Perlakuan dan kata-kata seperti apa yang akan menyambutnya?Dengan langkah berat, Suci akhirnya keluar dari kamar. Ia mendapati Arif tengah duduk santai di sofa dan menatap ponselnya dengan serius.“Mas,” tegur Suci pelan.Arif menoleh. Melihat Suci dari ujung rambut hingga kaki dengan perlahan. Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk karena penampilan Suci menurutnya sudah cukup sempurna. Pakaian gadis itu cukup sopan dan riasan wajahnya juga tidak berlebihan.“Sudah siap?” tanya Arif bangkit dari sofa dengan menarik napas panjang.“Siap.” “Ayo!”Suci tersenyum tipis, cenderung dipaksakan. Ada setitik nyeri yang tiba-tiba menyergap, saat menyadari Arif sama sekali
“Ci, bawa ini,” titah Arif menyodorkan sebuah kartu debit di meja kitchen island. “PIN-nya sudah kuganti jadi bulan dan tahun lahirmu. Pakai untuk beli semua keperluanmu buat besok malam.”Suci mematikan kompor. Ia berbalik lalu menatap kartu berwarna hitam yang diberikan Arif dengan ragu. Tidak berani menyentuh, apalagi membawanya di dalam dompet karena jenis kartu tersebut melambangkan level nasabah yang tidak mungkin terjangkau oleh Suci. Yakni, prioritas.“Aku nggak akan ikut campur masalah dapur,” lanjut Arif saat melihat keterdiaman Suci. “Tapi untuk semua kebutuhanmu yang lain, aku yang tanggung sesuai dengan isi kontrak. Jadi, pergilah ke … pokoknya beli semua yang kamu butuhkan buat besok malam.”Suci meraih kartu debit tersebut dengan perlahan. Menatap nama Arif Adiningrat yang tercetak jelas di atasnya. Untuk sesaat, jemarinya terasa kaku karena ini pertama kalinya ia memegang kartu seperti itu. “Mas, kalau hilang gimana?” Suci kembali meletakkan kartu itu di meja, lalu me







