LOGIN“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”
“Sama-sama.” Mila mengangguk dengan senyum kecil. Meski berat karena ia sudah cocok dengan Suci dan pekerjaannya, Mila tidak bisa mencegah gadis itu itu untuk mengundurkan diri. Terlebih ketika Suci mengatakan ingin beristirahat sejenak untuk menyelesaikan masalah keluarga. “Kalau suatu saat butuh kerjaan lagi, kamu bisa hubungi aku. Nanti biar aku rekomendasiin ke teman.”
Suci tersenyum dan kembali mengangguk. “Iya, Bu. Nanti saya pasti hubungi Ibu.”
Tidak banyak yang bisa Suci katakan lagi, karena alasan pengunduran dirinya adalah kebohongan. Ia hanya membungkuk sekali lagi, lalu meletakkan seluruh kunci kantor di meja wanita itu.
“Ini kunci-kunci kantor dan … saya pamit,” ucap Suci lalu mengulurkan tangan pada Mila.
“Jaga diri baik-baik,” ucap Mila akhirnya beranjak dari kursinya. Ia mengitari meja lalu menyambut uluran tangan Suci dan memeluk karyawan pertama yang Mila miliki saat baru membangung perusahaan kecilnya. “Aku juga mau ngucapin banyak terima kasih karena sudah banyak dibantu. Padahal kita semua di sini sudah seperti keluarga.”
Untuk sesaat, Suci membeku. Selama ia bekerja, Suci tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh atasannya. Mila memang berbeda dan sejauh ini wanita itu adalah bos yang terbaik yang pernah Suci temui.
“Sama-sama, Bu,” ucap Suci dengan kedua mata yang mulai mengembun saat Mila melepas pelukan singkatnya. Namun, ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata barang setitik pun.
“Untuk administrasi, nanti diurus sama Janice,” ujar Mila menepuk pelan pundak Suci.
“Baik, Bu, saya pergi dulu,” pamit Suci kemudian berbalik dan melangkah pergi dari ruangan tersebut. Ia berbincang sesaat dengan karyawan lainnya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Hanya ada sedikit perasaan lega saat Suci berjalan menyusuri lorong setelah meninggalkan pekerjaannya. Hal itu karena ia tidak bisa mengungkapkan alasan pengunduran dirinya secara jujur kepada Mila. Padahal, meski statusnya hanya sebagai office girl, di tempat ini Suci merasa benar-benar dihargai. Sangat berbeda dengan tempat kerja sebelumnya.
Sebelum melangkah masuk ke dalam lift, Suci sempat menoleh ke sisi gedung yang berbeda, tepatnya ke arah firma tempat Arif bekerja. Setelahnya, ia masuk ke dalam lift sembari kembali meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah jalan terbaik untuk saat ini.
Begitu keluar dari lift, ponsel Suci berdering. Ia melihat nama Sahli tertera di layar lalu segera menerima panggilan tersebut.
“Napa, Li?” tanya Suci tanpa basa-basi.
“Bang Irul nggak mau keluar dari rumah.” Sahli melaporkan anak Nurul dan Bahlil yang tinggal di rumah Suci sejak kepergian ibu mereka. “Katanya nggak ada yang ngawasin aku sama Hadi kalau dia pergi. Rumah juga nggak ada yang jaga, apalagi kamu sekarang kerjaannya netap di rumah bosmu.”
“Orang itu!” desis Suci mencengkram erat ponsel yang berada di telinga.
Suci mengira, ketika sertifikat rumah sudah di tangan, maka masalah mereka dengan tantenya juga ikut selesai. Ternyata, tidak. Anak sulung Nurul yang bernama Irul, ternyata tidak mau keluar dari rumah tersebut.
“Nggak usah nyetok apa-apa di rumah, Li,” titah Suci setelah berpikir beberapa saat, sambil terus berjalan menuju pintu keluar gedung. “Nggak usah beli gula, teh, apalagi kopi. Kalau beli makan, pasin buat kamu sama Hadi. Bilang aja uangmu mepet buat bayar kuliah sama sekolah Hadi. Terus, jangan mau lagi kalau disuruh-suruh sama dia. Itu rumah kita!”
Suci membuang napas cepat. “Pokoknya, jangan lagi mau dijadiin babu di rumah sendiri. Kalau dia lapar, biarin cari sendiri. Dia masih punya kaki, punya tangan, punya orang tua, tapi malah numpang di rumah kita!”
“Nah itu! Tadi pagi dia marah-marah karena kopi di dapur habis,” adu Sahli, “dia langsung nyuruh beli seenaknya. Pake uangku dulu, kayak biasanya.”
“Kamu beliin?”
“Nggak!”
“Bagus!” Suci berdecak. Ia berhenti di pelataran gedung lalu bersandar pada salah satu pilar. Memijat pelipisnya pelan, karena masalah Irul cukup membuatnya sakit kepala. “Oia, kunci kamar kalau pergi. Dompet juga jangan ditinggal sembarangan. Kalau perlu bawa sekalian kalau ke kamar mandi. Dan buruan telpon aku kalau ada apa-apa.”
“Iya, Kak.”
Panggilan keduanya berakhir dan Suci hanya bisa mengatur napas. Mencoba mengurai emosi yang masih mengendap di dalam dada.
Namun, baru satu langkah ia beranjak, sosok wanita paruh baya tampak menaiki tangga pelataran dengan begitu elegan.
Jantung Suci mencelos. Ia terpaku di tempat, napasnya tertahan seketika. Wanita itu adalah Deswita, ibu mertuanya. Setidaknya, begitulah sebutan yang harus ia sematkan, meski pernikahan yang ia jalani dengan Arif tak lebih dari sekadar sandiwara.
Deswita terus berjalan tanpa sedikit pun melirik ke arahnya. Aroma parfum mahal yang tertinggal di udara seolah menjadi pengingat tentang jarak kasta di antara mereka. Suci menarik napas panjang, mencoba menelan rasa gugup yang tiba-tiba datang..
Wanita itu tidak mengenalnya. Belum.
Namun, Suci tahu bahwa saat mereka benar-benar diperkenalkan nanti, perjalanan hidupnya akan semakin berliku.
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk dengan senyum kecil. Meski berat karena ia sudah cocok dengan Suci dan pekerjaannya, Mila tidak bisa mencegah gadis itu itu untuk mengundurkan diri. Terlebih ketika Suci mengatakan ingin beristirahat sejenak untuk menyelesaikan masalah keluarga. “Kalau suatu saat butuh kerjaan lagi, kamu bisa hubungi aku. Nanti biar aku rekomendasiin ke teman.”Suci tersenyum dan kembali mengangguk. “Iya, Bu. Nanti saya pasti hubungi Ibu.”Tidak banyak yang bisa Suci katakan lagi, karena alasan pengunduran dirinya adalah kebohongan. Ia hanya membungkuk sekali lagi, lalu meletakkan seluruh kunci kantor di meja wanita itu.“Ini kunci-kunci kantor dan … saya pamit,” ucap Suci lalu mengulurkan tangan pada Mila.“
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi kontraknya lebih cepat. Penghulu sudah pulang. Sahli juga sudah pergi setelah bicara empat mata dengan Arif. Kedua teman pria Arif yang menjadi saksi pun telah meninggalkan unit sejak beberapa saat yang lalu. Kini, Suci berdiri canggung di samping sofa, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Kebaya putih sederhana yang masih ia kenakan menjadi bukti nyata, bahwa yang dilaluinya barusan bukanlah mimpi. Di sisi lain, Arif berdiri tidak jauh darinya. Melepaskan jasnya dengan gerakan tenang, lalu meletakkannya di sandaran sofa. Ekspresinya datar, seolah pernikahan yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang berarti.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada senyum.Hanya dua orang asing yang kini terik
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah mempertimbangkannya secara singkat, Bias sudah bisa menilai jika perbuatan Arif tersebut hanya akan mendatangkan hal negatif. “Nggak ada untungnya sama sekali buatmu!”“Kamu nggak ada di posisiku, Bi,” sahut Arif membela diri. Pernikahan kontrak yang akan dilakukannya memang tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi Arif. Tidak secara materi, tidak juga secara perasaan. Namun, semua ini bukan soal untung atau rugi.Ini soal … luka yang belum selesai. Seharusnya, rasa sakit itu telah terkubur bersama waktu. Namun, perbuatan Deswita semakin membuatnya merasa sesak dan akhirnya Arif memutuskan untuk memberi sebuah “pelajaran” hidup bagi ibunya. Arif mengerti, Deswita hanya ingin Arif mend
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Dipinjemin bosku, Te. Tapi, potong gaji.”“Potong gaji sampe berapa tahun, ha?” Nurul tertawa kecil. Sekaligus menatap remeh pada Suci. “Andaipun kamu jual diri, seratus juta pun nggak bakal kamu dapat dalam semalam. Memangnya kamu siapa? Artis? Seleb?”Suci menarik napas pelan atas cibiran Nurul barusan. “Tapi kami sudah ada uangnya, Te,” timpal Sahli kemudian menatap Bahlil yang baru menyingkap gorden kamar lalu keluar. Omnya itu lantas duduk di samping Nurul. Mengangkat satu kakinya ke atas dan bersandar santai. “Digaji berapa kamu sebulan sama bosmu?” tanya Bahlil menunjuk ringan pada Suci. Sebelumnya, aa sudah mendengar percakapan antara istrinya dan Suci dari kamarnya. “Teru
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenang. “Kamu punya pacar? Atau sudah ada rencana nikah?”Arif bertanya karena Suci meminta uang muka seratus juta lebih dulu. Mungkin saja, uang tersebut akan dijadikan tabungan untuk menikah.Suci menggeleng cepat. “Nggak punya.”“Terus, uang seratus juta mau kamu pakai buat apa?”“Ahh …” Suci menghela pelan dan terdiam sesaat. Jemarinya saling bertaut dan terasa dingin. “Buat bayar utang. Saya mau ambil sertifikat rumah yang digadai sama Ibu saya setahun yang lalu sama Tante saya.”“Satu tahun, seratus juta?”Suci mengangguk. “Sudah sama bunganya. Makanya mau saya lunasin, biar bulan depan nggak berbunga lagi.”“Kenapa sampai berutang?”“Itu Pak …” Suci tersenyum pedih. “Dulu, Bapak saya keli
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan suaranya, “dan yang paling penting, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.”“Bunda nggak pernah jodoh-jodohkan kamu,” balas Deswita cepat, nada suaranya mulai naik tetapi ia segera menahan diri karena mereka berada di tempat umum. Jika tidak didatangi di kantor, Arif pasti akan susah ditemui. “Bunda cuma mau kamu move on dan kenalan dengan anak teman-teman Bunda atau Ayahmu. Bukan mau jodohin kamu. Jadi, jangan selalu negative thinking.”“Move on? Kenalan?” Arif tertawa singkat dan hambar. “Duduk satu meja, dipaksa basa-basi sama perempuan pilihan Bunda? Yang bener aja, Bun.”Pernah sekali Arif akhirnya luluh karena Deswita kerap menanyakan kabar, memberi perhatian, dan dat







