Home / Romansa / Kontrak Suci / 6~Semakin Berliku

Share

6~Semakin Berliku

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-05-05 21:27:44

“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”

“Sama-sama.” Mila mengangguk dengan senyum kecil. Meski berat karena ia sudah cocok dengan Suci dan pekerjaannya, Mila tidak bisa mencegah gadis itu itu untuk mengundurkan diri. Terlebih ketika Suci mengatakan ingin beristirahat sejenak untuk menyelesaikan masalah keluarga. “Kalau suatu saat butuh kerjaan lagi, kamu bisa hubungi aku. Nanti biar aku rekomendasiin ke teman.”

Suci tersenyum dan kembali mengangguk. “Iya, Bu. Nanti saya pasti hubungi Ibu.”

Tidak banyak yang bisa Suci katakan lagi, karena alasan pengunduran dirinya adalah kebohongan. Ia hanya membungkuk sekali lagi, lalu meletakkan seluruh kunci kantor di meja wanita itu.

“Ini kunci-kunci kantor dan  … saya pamit,” ucap Suci lalu mengulurkan tangan pada Mila.

“Jaga diri baik-baik,” ucap Mila akhirnya beranjak dari kursinya. Ia mengitari meja lalu menyambut uluran tangan Suci dan memeluk karyawan pertama yang Mila miliki saat baru membangung perusahaan kecilnya. “Aku juga mau ngucapin banyak terima kasih karena sudah banyak dibantu. Padahal kita semua di sini sudah seperti keluarga.”

Untuk sesaat, Suci membeku. Selama ia bekerja, Suci tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh atasannya. Mila memang berbeda dan sejauh ini wanita itu adalah bos yang terbaik yang pernah Suci temui. 

“Sama-sama, Bu,” ucap Suci dengan kedua mata yang mulai mengembun saat Mila melepas pelukan singkatnya. Namun, ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata barang setitik pun. 

“Untuk administrasi, nanti diurus sama Janice,” ujar Mila menepuk pelan pundak Suci. 

“Baik, Bu, saya pergi dulu,” pamit Suci kemudian berbalik dan melangkah pergi dari ruangan tersebut. Ia berbincang sesaat dengan karyawan lainnya, lalu berjalan menuju pintu keluar. 

Hanya ada sedikit perasaan lega saat Suci berjalan menyusuri lorong setelah meninggalkan pekerjaannya. Hal itu karena ia tidak bisa mengungkapkan alasan pengunduran dirinya secara jujur kepada Mila. Padahal, meski statusnya hanya sebagai office girl, di tempat ini Suci merasa benar-benar dihargai. Sangat berbeda dengan tempat kerja sebelumnya.

Sebelum melangkah masuk ke dalam lift, Suci sempat menoleh ke sisi gedung yang berbeda, tepatnya ke arah firma tempat Arif bekerja. Setelahnya, ia masuk ke dalam lift sembari kembali meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah jalan terbaik untuk saat ini. 

Begitu keluar dari lift, ponsel Suci berdering. Ia melihat nama Sahli tertera di layar lalu segera menerima panggilan tersebut. 

“Napa, Li?” tanya Suci tanpa basa-basi.

“Bang Irul nggak mau keluar dari rumah.” Sahli melaporkan anak Nurul dan Bahlil yang tinggal di rumah Suci sejak kepergian ibu mereka. “Katanya nggak ada yang ngawasin aku sama Hadi kalau dia pergi. Rumah juga nggak ada yang jaga, apalagi kamu sekarang kerjaannya netap di rumah bosmu.”

“Orang itu!” desis Suci mencengkram erat ponsel yang berada di telinga. 

Suci mengira, ketika sertifikat rumah sudah di tangan, maka masalah mereka dengan tantenya juga ikut selesai. Ternyata, tidak. Anak sulung Nurul yang bernama Irul, ternyata tidak mau keluar dari rumah tersebut. 

“Nggak usah nyetok apa-apa di rumah, Li,” titah Suci setelah berpikir beberapa saat, sambil terus berjalan menuju pintu keluar gedung. “Nggak usah beli gula, teh, apalagi kopi. Kalau beli makan, pasin buat kamu sama Hadi. Bilang aja uangmu mepet buat bayar kuliah sama sekolah Hadi. Terus, jangan mau lagi kalau disuruh-suruh sama dia. Itu rumah kita!”

Suci membuang napas cepat. “Pokoknya, jangan lagi mau dijadiin babu di rumah sendiri. Kalau dia lapar, biarin cari sendiri. Dia masih punya kaki, punya tangan, punya orang tua, tapi malah numpang di rumah kita!”

“Nah itu! Tadi pagi dia marah-marah karena kopi di dapur habis,” adu Sahli, “dia langsung nyuruh beli seenaknya. Pake uangku dulu,  kayak biasanya.”

“Kamu beliin?”

“Nggak!” 

“Bagus!” Suci berdecak. Ia berhenti di pelataran gedung lalu bersandar pada salah satu pilar. Memijat pelipisnya pelan, karena masalah Irul cukup membuatnya sakit kepala. “Oia, kunci kamar kalau pergi. Dompet juga jangan ditinggal sembarangan. Kalau perlu bawa sekalian kalau ke kamar mandi. Dan buruan telpon aku kalau ada apa-apa.”

“Iya, Kak.”

Panggilan keduanya berakhir dan Suci hanya bisa mengatur napas. Mencoba mengurai emosi yang masih mengendap di dalam dada. 

Namun, baru satu langkah ia beranjak, sosok wanita paruh baya tampak menaiki tangga pelataran dengan begitu elegan. 

Jantung Suci mencelos. Ia terpaku di tempat, napasnya tertahan seketika. Wanita itu adalah Deswita, ibu mertuanya. Setidaknya, begitulah sebutan yang harus ia sematkan, meski pernikahan yang ia jalani dengan Arif tak lebih dari sekadar sandiwara.

Deswita terus berjalan tanpa sedikit pun melirik ke arahnya. Aroma parfum mahal yang tertinggal di udara seolah menjadi pengingat tentang jarak kasta di antara mereka. Suci menarik napas panjang, mencoba menelan rasa gugup yang tiba-tiba datang..

Wanita itu tidak mengenalnya. Belum. 

Namun, Suci tahu bahwa saat mereka benar-benar diperkenalkan nanti, perjalanan hidupnya akan semakin berliku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
jangan gubris sampe irul memutuskan buat keluar dr rumah itu sendiri
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
sik sak sok kalo bu Deswita sampe denger mas arif udah nikah
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
Suci minta tolong sama suamimu aja (cie suami hehe) buat ngusir si irul itu dari rumah Bentar lagi nih dikenalin sama ibu mertua yg sangat menyakitkan klo ngomong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   37~Semua Kebohongan

    Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar

  • Kontrak Suci   36~Status Kita

    “Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan

  • Kontrak Suci   35~Mas Bule

    “Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena fokus pada ayahnya. ”Ka–”“Sampai kapan sandiwaramu dengan Suci berakhir?” tanya Ivan baik-baik. Tanpa ada emosi sama sekali. “Maksud Ayah, sampe kapan kamu mau buat Bundamu sakit kepala?”“Memangnya siapa yang lagi sandiwara?”“Kalau memang bukan sandiwara, untuk apa pernikahanmu dengan Suci masih ditutupi?” “Suci yang minta,” jawab Arif tenang. “Bapaknya di penjara dan ibunya kabur entah ke mana. Jadi, lebih baik kami diam-diam saja. Yang penting SAH.”“Oh ya?” Ivan tertawa hambar sambil mene

  • Kontrak Suci   34~Gemas Sendiri

    “Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif. Hening sesaat. Sampai akhirnya Suci melihat gagang pintu kamar bergerak. Pintu itu terbuka, menampilkan Arif dengan rambut sedikit berantakan, wajah lelah, dan bayangan gelap di bawah matanya.Kemungkinan besar, pria itu hampir tidak tidur semalaman.“Sarapan dulu,” ulang Suci ragu-ragu, “Mas Arif sakit? Mau aku bawain sarapannya ke kamar? Atau aku bikinin teh anget. Mas Arif bisa mandi aja dulu.”Arif mengusap pelan wajahnya. Kemudian, ia menggeleng. Menatap Suci yang kembali dengan penampilannya

  • Kontrak Suci   33~Semua Luka

    “Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya. “Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di tempat dan bersedekap. “Hapus dulu fotonya.”Tahu Suci tidak lagi berada di sampingnya, Arif pun terkekeh kecil. Ia melangkah mundur dan berhenti di sebelah Suci. “Mau sampe kapan ngambeknya?”“Siapa yang ngambek.” Suci mencibir. “Berarti ini lagi nggak ngambek?”“Nggak.”“Ya udah.” Arif meraih pergelangan Suci. Mencengkramnya lembut, lalu menariknya dengan perlahan. Membawa gadis itu menuju butik yang ia tunjuk sebelumnya. “Di hapeku juga ada foto nikah kita, tapi kamu nggak pernah minta hapus.

  • Kontrak Suci   32~Hapus, Nggak!

    “Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, bahkan terlalu tenang untuk seseorang seperti Deswita. Ingin rasanya Arif berpikiran negatif terhadap ibunya, tetapi hal tersebut dengan segera ia urungkan. Siapa tahu saja, Deswita memang benar-benar lelah dan butuh waktu untuk introspeksi diri. “Mas nggak papa?” tanya Suci menatap Arif setelah menghentikan video yang ia tonton. Pria itu sudah berpakaian rapi seperti biasa dan tentu saja terlihat tampan. “Nggak papa. Memangnya kenapa?”“Didiemin sama ibunya.”“Mau gimana lagi.” Arif menghela panjang. “Yang penting, ibu mertuamu itu sudah nggak tinggal di sini lagi.”Suci tertawa kecil. Ternyata, Arif masih bisa bercanda di saat seperti ini. “Nanti aku pindahin lagi barang-barangku ke kama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status