首頁 / Romansa / Kontrak Suci / 8~Menantu Beneran

分享

8~Menantu Beneran

作者: Kanietha
last update publish date: 2026-05-07 22:10:10

“Ci, bawa ini,” titah Arif menyodorkan sebuah kartu debit di meja kitchen island. “PIN-nya sudah kuganti jadi bulan dan tahun lahirmu. Pakai untuk beli semua keperluanmu buat besok malam.”

Suci mematikan kompor. Ia berbalik lalu menatap kartu berwarna hitam yang diberikan Arif dengan ragu. Tidak berani menyentuh, apalagi membawanya di dalam dompet karena jenis kartu tersebut melambangkan level nasabah yang tidak mungkin terjangkau oleh Suci. Yakni, prioritas.

“Aku nggak akan ikut campur masalah
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (8)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
bener loh yg dibilang sahli ci, jangan mendahului tuhan
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
kita aminin kenceng2 ya sahli
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
aamiinin aja doa adikmu suci jadi istri beneran Arif...
查看全部評論

最新章節

  • Kontrak Suci   80~Menunggu

    “Mereka sudah pergi,” ujar Arif. Sejak tadi, ia menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV di depan rumahnya. Untuk sementara, kebohongannya tentang kepindahan ke apartemen mungkin bisa membuat Nurul dan Bahlil berhenti mencari keberadaan Suci. Setidaknya, mereka tidak akan datang ke rumah dan mengganggu ketenangan Suci yang baru saja pulang dari rumah sakit.“Tapi, sampai kapan kita harus bohong?” tanya Suci. Ia duduk santai di sofa dan tengah menikmati potongan buah. “Lama-lama mereka pasti curiga karena nggak ada yang mau nerima telpon atau balas chatnya kayak dulu.”“Biarkan.” Arif berbalik, lalu ikut duduk di samping Suci. “Orang seperti mereka itu, bakal minta jantung kalau dikasih hati. Tapi, biar besok aku kirim bingkisan ke rumahnya.”“Buat apa?” tanya Suci tidak mengerti. “Sebagai ucapan terima kasih,” jawab Arif sambil menyomot potongan apel dari piring Suci. “Karena tiap Te Nurul ke rumah sakit, dia selalu bawa masakan yang lumayan enak. Aku nggak mau berutang, jadi, ak

  • Kontrak Suci   79~Jangan Nyerah!

    “Welcome home!” seru Sahli, Hadi, dan Masni bersamaan saat menyambut kedatangan Suci yang akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Mereka sudah menyiapkan balon bertuliskan ucapan tersebut di ruang keluarga yang di tempel di salah satu dinding. Begitu Suci dan Arif masuk, Sahli dan Hadi langsung menarik konfeti yang sudah disiapkan hingga serpihan kertas warna-warni berhamburan di udara.Meski begitu, Suci belum diperbolehkan melakukan banyak aktivitas. Dokter juga memintanya lebih banyak beristirahat dan menghindari hal-hal yang bisa memicu kelelahan.Suci yang masih duduk di kursi roda lantas tertawa pelan. “Ngapain coba, pake disambut gini.”“Biar kayak orang kaya,” celetuk Sahli. Suci langsung terkekeh. “Emang orang kaya kalau pulang dari rumah sakit disambut begini?”“Di tivi-tivi gitu,” jawab Sahli lagi.“Nggak papa, Mbak,” timpal Masni ikut bahagia karena kedatangan Suci kembali ke rumah. “Sekali-sekali. Biar saya juga ngerasain kayak orang kaya.”Tawa di ruang keluarga

  • Kontrak Suci   78-Tangan Terbuka

    “Jadi, Ayah balik ke rumah lagi,” ujar Arif menyimpulkan setelah mendengar cerita ayahnya. Ivan mengangguk. Ia tidak punya pilihan selain kembali ke rumah. Andai sesuatu terjadi pada Deswita karena kepergiannya, makan hal itu akan menjadi penyesalan seumur hidup. Hal yang tidak akan bisa ia maafkan hingga kapan pun. “Mau bagaimana lagi,” ujar Ivan menatap kopinya yang sudah tersisa setengah gelas. “Dan kamu, kapan mau jenguk Bunda?”Arif mengendik singkat. “Aku nggak akan nginjakkan kaki ke rumah, sebelum Bunda nerima Suci. Paling nggak, kalau memang masih nggak mau nerima kehadiran istri dan calon anakku, cukup diam dan jangan ganggu mereka.”“Kasih Bundamu waktu.” Sejak tadi, Ivan terus menggunakan kata “Bundamu” saat bicara dengan Arif agar putranya itu tidak semakin menjauh dari ibunya sendiri. “Mungkin sekarang Bundamu belum bisa menerima semuanya, tapi bukan berarti selamanya akan seperti itu.”“Waktu dan kesempatan itu selalu ada,” balas Arif melihat jam tangannya sekilas. “T

  • Kontrak Suci   77~Tidak Semudah Itu

    “Titip Suci, Bu,” ujar Arif sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Jangan telat makan. Vitaminnya juga jangan lupa diminum. Buah juga. Pokoknya, sedikit-sedikit makan. Perutnya jangan sampe kosong.”“Beres, Mas,” jawab Masni sambil mengupas apel di sofa. “Oia, Mas Arif jadi nyari orang buat jaga rumah?”“Jadi,” ujar Arif dengan anggukan. “Bu Mas ada kenalan yang bisa dipercaya?”“Kalau suami saya boleh, Mas?” tanya Masni agak sungkan. “Soalnya belum dapat panggilan kerja di mana-mana. Sementara ini masih ngojol.”Arif berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Besok pagi suruh ke sini. Kita ngobrol dulu.”Masni mengangguk pelan. “Baik, Mas. Makasih.”“Sama-sama,” balas Arif kemudian menghampiri Suci. “Pergi dulu. Nurut apa kata Dokter biar cepat pulang.”“Dari kemaren-kemaren juga sudah nurut,” ujar Suci sambil mengerucutkan bibir. Ia meraih tangan kanan Arif yang baru terangkat lalu menciumnya. “Hati-hati di jalan. Sukses buat sidangnya.”Arif tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia mend

  • Kontrak Suci   76~Maksud Sebenarnya

    Pagi itu, rumah terasa berbeda.Deswita duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya, sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga sama sekali tidak tersentuh. Sejak bangun tidur, pikirannya terus tertuju pada satu orang, yakni Ivan.Tidak ada pesan.Tidak ada telepon.Suaminya sama sekali tidak menghubunginya sejak pergi dari rumah. Bahkan, untuk sekadar berbasa-basi atau menanyakan kabarnya pun tidak.Deswita menatap kursi kosong di sebelahnya. Biasanya, Ivan akan duduk di sana sambil menikmati sarapan. Mereka juga selalu berbicara tentang rencana hari itu sebelum menjalani kesibukan masing-masing.Namun, kini kursi itu kosong.Tidak ada suara Ivan yang menyapanya. Tidak ada percakapan ringan yang biasanya mengisi pagi mereka. Bahkan rumah yang luas itu terasa terlalu hening ketika hanya dirinya yang berada di dalamnya.Deswita menghela napas berat. Ia beranjak dari meja makan, tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Ada sesuatu yang hilang dari rumah itu, hingga membuat perasa

  • Kontrak Suci   75~Selesai

    “Masa’ dia bawa uang di dompet sampe sejuta lebih,” ujar Nurul masih dalam keadaan heboh saat membicarakan perihal Arif pada suaminya. “Waktu dia ngeluarin semua uang yang seratus ribuan, yang lima puluhan masih ada tuh, nyisa di dalamnya.”“Itu baru di dompet,” sahut Irul yang juga ikut mendengarkan. “Belum yang di rekening.”“Sama emas!” timpal Nurul setuju dengan ucapan putranya. “Nggak mungkin orang kayak Arif nggak punya simpanan yang begitu-gitu.”“Pastinya!” ujar Bahlil menambahkan. “Tapi itu tadi, ternyata pernikahan Suci sama Arif itu nggak disetujui sama mertuanya.”“Nah! Iya itu!” seru Nurul menjentikkan jari lalu menunjuk Bahlil yang duduk di sampingnya. Mereka bertiga tengah menikmati makan malam di meja bundar sembari membicarakan Suci tanpa henti. Sejak tadi, topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari pernikahan Suci dan Arif, terutama setelah mengetahui bahwa keluarga Arif ternyata tidak sepenuhnya menerima Suci.“Tapi, Arif itu kelihatannya sudah cinta mati ke Suc

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status