MasukPot penyiram tanaman di tangan Humaira terlepas begitu saja, menghantam rumput taman dengan suara gedubrak pelan. Airnya meluber membasahi selop rumahan yang dikenakannya.
Mata Humaira membelalak lebar, menatap tak percaya pada sosok wanita paruh baya yang kini berdiri gemetar di hadapannya.Wanita itu adalah Ibu April. Namun, penampilannya saat ini jauh berbeda dari wanita yang selalu memukulinya dan menuntut uang ratusan juta padanya waktu itu. Daster tipis yang dikenak"Aghkk... lepas... lepasin..." cicit Salsa terbata-bata. Tangannya mencengkeram lengan kokoh Bagas yang menahan lehernya di atas tempat tidur. Matanya yang mendelik ketakutan menatap Reno, yang berdiri di dekat saklar lampu dengan tatapan dingin membunuh.Lampu gantung kristal di dalam kamar utama memancarkan cahaya terang benderang. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Gaun malam tipis berwarna merah marun milik Humaira yang dicuri Salsa kini tampak begitu mengenaskan dan murahan di tubuhnya.Reno melangkah mendekat dengan santai. Kedua tangannya terbenam tenang di dalam saku celana bahan mewahnya. Setiap ketukan pantofel kulitnya di atas marmer bagaikan ketukan lonceng kematian bagi akal sehat Salsa."Bagas, lepaskan. Saya tidak mau tangannya kotor karena menyentuh sampah seperti dia," desis Reno tanpa emosi.Bagas menghentakkan pegangannya dengan kasar hingga tubuh Salsa terdorong ke belakang. Perempuan itu batuk-batuk histeris sambil memeg
Pot penyiram tanaman di tangan Humaira terlepas begitu saja, menghantam rumput taman dengan suara gedubrak pelan. Airnya meluber membasahi selop rumahan yang dikenakannya.Mata Humaira membelalak lebar, menatap tak percaya pada sosok wanita paruh baya yang kini berdiri gemetar di hadapannya.Wanita itu adalah Ibu April. Namun, penampilannya saat ini jauh berbeda dari wanita yang selalu memukulinya dan menuntut uang ratusan juta padanya waktu itu. Daster tipis yang dikenakannya tampak kusam, berdebu, dan penuh tambalan. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini kusut tak terurus, sementara di tangan kanannya terpaut sebuah kantong plastik hitam besar yang kumal— berisi barang-barang plastik."I-Ibu...?" cicit Humaira, tenggorokannya mendadak terasa amat kering.Ibu April mendongak lambat. Begitu matanya beradu dengan mata Humaira, wanita paruh baya itu langsung menjatuhkan kantong plastiknya ke tanah. Air mata bercucuran deras dari pelupuk mata
"Mas... lepasin, memangnya kamu nggak capek?" Reno malah menatap istrinya itu semakin intens lalu menjatuhkan kecupan berkali-kali dibibir Humaira. Pipinya merona merah usai kecupan hangat yang mendarat bertubi-tubi di wajahnya.Reno terkekeh pelan, bukannya melepas, ia justru makin merapatkan posisinya. Jemari kokohnya menyelipkan sejumput anak rambut Humaira ke belakang telinga."Kata kata capek kalau untuk menghabiskan waktu bersama kamu Humaira," goda Reno dengan suara baritonnya yang berat, membuat Humaira makin salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.Namun, di tengah momen manis nan hangat yang tercipta di antara sepasang suami istri itu, sebuah mobil taksi kelabu berhenti tepat di depan pagar megah kediaman keluarga besar Reno.Dari dalam taksi, dua pasang mata menatap nanar bangunan megah bak istana di hadapan mereka.Seorang wanita paruh baya berpoles make-up tebal namun tampak lusuh—Ibu April,
Suara dering jam dinding di kamar utama itu berdetak pelan, memecah kesunyian malam yang hangat. Reno meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, membiarkan layar benda persegi itu padam dalam kegelapan. Ia kembali merapatkan dekapannya pada Humaira, menarik selimut wol tebal itu hingga menutupi bahu mungil istrinya yang tertidur pulas."Tidurlah yang nyenyak, Humaira," bisik Reno lembut, mengecup sekilas pucat rambut sang istri.Pria itu bertekad membersihkan setiap duri yang berpotensi melukai wanita di pelukannya. Sanksi tegas berupa penarikan seluruh investasi dan pemutusan hubungan kerja sama bisnis dengan keluarga Prilly bukanlah isapan jempol belaka. Pagi hari esoknya, hantaman badai finansial itu dipastikan akan meremajakan kesombongan keluarga Prilly tanpa sisa.Keesokan paginya, matahari bersinar cerah di langit ibu kota. Namun, suasana di kediaman milik keluarga Prilly justru terasa bagaikan neraka jahanam."APA-APAAN INI?!" jerit suara seorang pria paruh baya menggema
"Reno..." bisik Prilly pelan, mendadak mengubah raut wajahnya menjadi memelas nan manis saat melihat pria itu berlari mendekat. Kacamata hitamnya ia selipkan di atas kepala. "Kamu datang tepat waktu, Ren! Tolong kasih tahu cewek kampung ini, kalau kamu sebenarnya nggak benar-benar cinta sama dia!" Langkah Reno terhenti tepat di samping Humaira. Tatapan matanya tajam bagaikan kilatan petir, dingin dan mematikan. Pengunjung dan para pegawai toko emas yang tadinya sibuk berbisik-bisik mendadak bungkam, merasakan aura intimidasi yang amat pekat keluar dari tubuh pengusaha muda itu. Bukannya menatap Prilly, Reno justru melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Humaira, menarik tubuh istrinya rapat ke sisinya tanpa ragu. "Reno! Apa-apaan kamu?!" teriak Prilly tak terima, matanya membelalak melihat kemesraan itu di depan umum. "Kenapa kamu malah meluk dia di depan orang banyak?! Cuma buat bikin aku cemburu? Sudahlah jangan seperti ini, lebih baik kita perbaiki lagi hubungan kita yang sud
Gemericik air di dalam kamar mandi terdengar samar-samar. Reno menggendong Humaira keluar dengan tubuh yang sudah segar terbungkus bathrobe. Wajah Humaira masih merona merah, malu-malu menatap suaminya yang terkekeh pelan melihat kepolosan sang istri."Mas... turunin, aku bisa jalan sendiri," cicit Humaira pelan sambil meremas bahu kokoh Reno."Yakin bisa jalan?" goda Reno sambil memiringkan kepala, menatap bibir ranum istrinya yang sedikit bengkak akibat perbuatannya semalam hingga subuh tadi. "Nanti kalau jatuh, saya juga yang repot.""Ih, Mas Reno mah! Gara-gara siapa coba yang nggak mau berhenti?" sungut Humaira sambil menepuk dada bidang Reno pelan.Reno justru tertawa renyah. Tawa lepas yang sangat jarang terdengar dari bibir pria dingin itu. Laki-laki itu menurunkan Humaira dengan sangat hati-hati di tepi ranjang yang sudah rapi disapu asisten rumah tangga tadi saat mereka di kamar mandi.Cup!Satu kecupan singkat kembali mendarat di dahi Humaira."Terima kasih untuk semalam ya







