Mag-log inUjung sepatu Reno menginjak pedal rem dengan begitu dalam. Derit gesekan ban tebal dengan permukaan aspal jalanan memekakkan telinga, menyisakan jejak hitam dan asap tipis yang membubung pendek di udara. Tubuh Humaira terdorong kuat ke depan, terbentur lembut oleh sabuk pengaman yang menahannya tepat waktu.
Napas Humaira memburu, dadanya kempas-kempis oleh kejutan luar biasa. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat pegangan pintu mobil. "M-Mas Reno... dia... perempuan itu..." cicit Humaira dengan suara hampir habis, menunjuk ke arah depan kap mobil dengan mata membelalak ketakutan. Reno mengenali wajah itu. Wajah yang selama tiga tahun terakhir mengisi ruang hatinya, wajah yang dulu amat ia agungkan, namun juga wajah yang secara kejam menghancurkan seluruh rasa percaya dan harga dirinya sebagai seorang pria. Prily. Reno mematikan mesin mobil dengan satu sentakan kasar. Pintu mobil dibuka dan dihempaskannya dengan bunyi dentuman keras yang bergema di jalanan yang lengang. Langkah kakinya yang lebar dan penuh emosi mendatangi wanita itu. "Apa-apaan kamu, Prily?! Kamu sudah gila, hah?!" bentak Reno dengan suara membahana. Amarah yang ditahannya sejak lama meledak seketika di udara terbuka. "Kalau mau mati, jangan pakai mobil saya! Jangan buat saya berurusan dengan polisi hanya karena tindakan bodohmu ini!" Wanita bernama Prily itu tersentak kaget mendengarkan bentakan keras Reno. Wajahnya yang semula pucat kian memutih bagai mayat. Riasan wajahnya yang tebal tampak luntur oleh lelehan air mata yang tak henti-hentinya menetes. Gaun merah mewahnya yang biasa tampak licin dan anggun kini kusut, dengan beberapa bagian kain yang sobek di tepi lengan. "Reno... hmmm, Reno..." tangis Prily pecah. Tanpa peduli pada kemarahan Reno, wanita itu justru maju dan memburu tubuh Reno, hendak memeluk pinggang pria itu erat-erat. "Jangan sentuh saya!" bentak Reno seraya menepis kedua tangan Prily dengan kasar hingga wanita itu sempoyongan hampir tersungkur di atas aspal. "Reno, tolong aku! Tolong maafin aku, Ren!" pangkas Prily histeris, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon-mohon bagaikan pengemis di kaki Reno. "Aku salah, Ren! Aku khilaf! Tolong maafin aku... Tolong terima aku lagi, Ren. Aku mohon..." Reno tertawa. Sebuah tawa sumbang yang amat dingin dan sarat akan penghinaan. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Prily dari atas ke bawah dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan sama sekali. "Khilaf?" ulang Reno dengan nada mengejek yang menyengat. "Kamu bilang khilaf setelah tiga tahun kita menjalin hubungan, lalu dengan sadar kamu membawa laki-laki lain ke tempat tidurmu di apartemen yang saya belikan? Itu yang kamu sebut khilaf, Prily?!" "Nggak, Ren! Nggak gitu!" ceraca Prily seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya bercucuran makin deras membasahi pipinya yang lebam. "Tommy... Tommy itu iblis, Ren! Dia cuma memanfaatkan aku!" Sebut nama itu membuat rahang Reno makin mengeras. Tommy—pria yang ditangkap matanya sendiri sedang berduaan dengan Prily di atas ranjang beberapa hari lalu. Laki-laki pesolek yang selalu membual tentang bisnis properti, yang ternyata hanyalah seorang benalu dan pemuda pengangguran berpakaian mahal. "Tommy cuma mau uangku, Ren! Dia mau uang dari kamu yang selama ini kamu kasih ke aku!" Prily menjerit frustrasi, menunjukkan memar kebiruan di lengan bawahnya dan sudut bibirnya yang robek serta mengeluarkan darah segar yang sudah mengering. "Waktu aku bilang kamu sudah memutuskan hubungan kita dan memblokir semua rekonsiliasi keuangan... dia marah besar, Ren! Dia pukulin aku habis-habisan! Dia rampas perhiasanku, tas-tas mahalku, lalu dia usir aku dari apartemen!" Prily berlutut di jalanan, memegang kaki celana Reno tanpa peduli lagi pada harga dirinya yang telah hancur berkeping-keping. "Tommy itu penipu, Ren! Dia cuma mau hartaku! Cuma kamu laki-laki yang tulus sama aku... Cuma kamu yang bener-bener mencintai aku tanpa syarat. Aku menyesal, Ren... Aku janji nggak akan pernah ulangi lagi. Tolong selamatkan aku, Ren... Bawa aku pulang..." tangis Prily makin menjadi-jadi, suaranya parau memecah keheningan sore. Di dalam mobil, Humaira menyaksikan pemandangan dramatis itu dari balik kaca. Dadanya terasa berdenyut ngilu. Melihat seorang wanita berlutut dan menangis histeris dengan wajah lebam tentu menimbulkan rasa kasihan di hati kecilnya yang lembut. Namun, mendengar tiap potong kalimat pengkhianatan yang diucapkan wanita itu, Humaira paham betapa dalamnya luka yang dirasakan oleh pria bernama Reno ini. Pria yang tampak gagah dan berkuasa itu nyatanya menyimpan luka menganga di balik dadanya yang lapang. Reno menundukkan kepala, menatap Prily yang menangis di kakinya. Tidak ada lagi binar cinta di matanya. Yang tersisa hanyalah kekosongan dan kekecewaan yang telah membeku menjadi dendam dingin. "Tommy memukulmu karena uangmu habis?" tanya Reno dengan suara pelan, namun begitu menusuk. "Lalu sekarang kamu lari ke saya karena kamu sadar cuma saya yang punya uang untuk menghidupimu?" "N-nggak, Ren! Nggak cuma karena uang! Aku cinta sama kamu! Aku baru sadar kalau aku cuma cinta sama kamu!" jerit Prily mencoba membela diri. "Bohong!" potong Reno dengan nada tegas dan menggelegar. "Kamu tidak pernah mencintai saya, Prily. Kamu cuma mencintai fasilitas yang saya berikan! Kamu mencintai kenyamanan yang bisa dibeli dengan uang saya! Dan saat ada laki-laki lain yang memberikan kesenangan sesaat, kamu tanpa ragu menginjak-injak harga diri saya!" Reno menarik kakinya secara paksa, membuat pegangan Prily terlepas. Pria itu mundur satu langkah, merapikan jas hitamnya yang sedikit kusut dengan gerakan elegan dan dingin. "Saya bukan pria bodoh yang bisa kamu bohongi dua kali dengan air mata buaya dan mulut manismu itu, Prily," tegas Reno. "Cinta saya untukmu sudah mati detik di mana saya melihat kamu tidur dengan laki-laki lain. Dan uang saya... tidak akan pernah lagi menetes satu rupiah pun untuk wanita tidak tahu berterima kasih seperti kamu!" "Reno! Jangan sekejam ini, Ren!" Prily berteriak, mencoba bangkit berdiri dengan tubuh gemetar. "Kamu nggak bisa buang aku gitu aja setelah tiga tahun kita bersama! Kamu nggak ingat janji kamu mau menikahi aku Minggu depan? Bagaimana tentang pernikahan kita Ren?!" "Janji itu sudah hangus saat kamu memilih menjadi pelacur untuk laki-laki lain! Dan jangan pernah bertanya soal pernikahan itu!" tembak Reno tanpa ampun. Prily membeku. Kata-kata pedas Reno bagaikan sembilu yang menyayat jantungnya. Ia menatap Reno dengan tatapan tak percaya, tak menyangka pria yang dulunya begitu lembut, sabar, dan selalu menuruti segala keinginannya kini telah berubah menjadi sosok yang begitu keras dan tak tersentuh. Namun, mata Prily yang sembap dan liar tiba-tiba menangkap pergerakan di dalam mobil sedan hitam milik Reno. Melalui kaca depan yang transparan, ia melihat sosok wanita berhijab yang sedang duduk manis di kursi samping kemudi. Mata Prily menyipit tajam. Rasa terkejut, bingung, dan cemburu mendadak membakar dadanya yang terasa sesak. "Siapa... siapa perempuan yang ada di dalam mobilmu itu, Ren?" tanya Prily dengan suara bergetar, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah Humaira. "Siapa dia?!" Reno tidak langsung menjawab. Pria itu berpaling sebentar, menatap ke arah mobil di mana Humaira sedang menatapnya dengan raut wajah cemas dan polos. Sebuah ide terlintas di kepala Reno—sebuah langkah tegas untuk mengakhiri drama gila ini sekaligus menutup rapat-rapt pintu masa lalunya. Dengan langkah mantap, Reno berjalan kembali ke arah pintu penumpang mobilnya. Ia membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan. "Keluar sebentar, Humaira," panggil Reno dengan suara yang sengaja dilembutkan, amat bertolak belakang dengan nada suaranya saat berbicara pada Prily tadi. Humaira tersentak. Jarinya meremas ujung jilbabnya, merasa canggung dan ragu. Namun, melihat sorot mata Reno yang memohon pengertian, gadis itu akhirnya mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari mobil, berdiri anggun di samping Reno. Angin sore berhembus pelan, mengibarkan jilbab pastel yang membingkai paras ayu Humaira. Tanpa polesan makeup tebal, wajahnya memancarkan kecantikan alami yang bersih, tenang, dan bersahaja—sangat bertolak belakang dengan penampilan Prily yang mencolok dan berantakan. Prily melangkah mendekat dengan histeris, matanya meneliti Humaira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Siapa perempuan udik ini, Ren?!" jerit Prily dengan nada menghina. "Kamu berpaling ke perempuan kampung berhijab seperti ini cuma buat balas dendam sama aku, kan?! Kamu mau panas-panasin aku pakai enggak nggak jelas ini?!" Humaira menundukkan kepalanya sedikit, merasa terintimidasi oleh tatapan liar Prily. Namun, sebelum rasa takut itu menguasainya, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat tiba-tiba meraih jemari tangannya. Reno menggenggam erat tangan Humaira. Jemari pria itu menyusup di antara jemari Humaira, menguncinya dengan begitu protektif dan hangat. Humaira tersentak, mendongak menatap profil samping wajah Reno yang tegas. Dada gadis itu berdesir hebat, jantungnya bertalu-talu menerima sentuhan yang begitu tiba-tiba namun terasa amat melindungi itu. Reno menarik tubuh Humaira sedikit lebih dekat ke sisinya, lalu menatap Prily dengan sorot mata yang penuh kebanggaan dan ketegasan mutlak. "Jaga mulutmu, Prily!" tegur Reno dengan suara berat yang menggelegar, membuat Prily bungkam seketika. Reno makin mempererat genggaman tangannya pada jemari Humaira, mengangkatnya sedikit di udara agar Prily bisa melihatnya dengan jelas. "Perkenalkan... Humaira, calon istri saya."BAB 6: Ujian dari Calon Ibu MertuaHumaira membaca pesan singkat yang baru saja dikirimkan oleh Reno dengan perasaan yang tidak menentu. Jemarinya gemetar meremas ponsel di genggamannya. Di dalam hati kecilnya, sebuah keraguan besar berbisik lirih: Apakah aku benar-benar sanggup memainkan sandiwara sebesar ini?Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Reno sudah melunasi utang ratusan juta milik keluarga tirinya, dan ia sudah menandatangani lembar kesepakatan itu.Usai membersihkan diri di kamar mandi, Humaira bersiap agar bisa tampil sempurna di hadapan calon ibu mertuanya. Ia melangkah ragu mendekati lemari pakaian besar berukir elegan yang disediakan oleh Reno. Saat pintunya dibuka, mata Humaira membelalak pelan. Deretan pakaian wanita berkualitas tinggi menggantung rapi di sana.Jemarinya menyusuri kain-kain lembut itu, hingga pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berwarna soft yellow yang dipadukan dengan rok panjang berwarna mahogany serta hij
Mobil sedan hitam milik Reno melaju membelah malam yang makin larut. Setelah insiden panas di tengah jalan bersama Prily sore tadi, tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Reno. Pria itu fokus menatap jalanan dengan rahang mengeras, sementara Humaira memilih bungkam, meremas jemarinya yang masih terasa hangat bekas genggaman erat Reno.Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Pagar otomatis itu terbuka lambat, menyambut kedatangan mereka ke dalam sebuah pekarangan rumah megah berarsitektur modern minimalis."Turunlah. Kita sudah sampai," ucap Reno singkat seraya mematikan mesin mobil.Humaira melangkah keluar dengan canggung. Matanya menatap takjub pada bangunan dua lantai yang berdiri megah di hadapannya. Halamannya asri dengan pendar lampu warm white yang memberikan kesan hangat sekaligus elegan.Reno berjalan lebih dulu, membukakan pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal, lalu membawakan koper tua milik Humaira masuk ke dalam
Ujung sepatu Reno menginjak pedal rem dengan begitu dalam. Derit gesekan ban tebal dengan permukaan aspal jalanan memekakkan telinga, menyisakan jejak hitam dan asap tipis yang membubung pendek di udara. Tubuh Humaira terdorong kuat ke depan, terbentur lembut oleh sabuk pengaman yang menahannya tepat waktu.Napas Humaira memburu, dadanya kempas-kempis oleh kejutan luar biasa. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat pegangan pintu mobil."M-Mas Reno... dia... perempuan itu..." cicit Humaira dengan suara hampir habis, menunjuk ke arah depan kap mobil dengan mata membelalak ketakutan.Reno mengenali wajah itu. Wajah yang selama tiga tahun terakhir mengisi ruang hatinya, wajah yang dulu amat ia agungkan, namun juga wajah yang secara kejam menghancurkan seluruh rasa percaya dan harga dirinya sebagai seorang pria.Prily.Reno mematikan mesin mobil dengan satu sentakan kasar. Pintu mobil dibuka dan dihempaskannya dengan bunyi dentuman keras yang bergema di jalanan yang lengang. Langkah
Setelah saling bertukar nomor telepon di toko emas tempatnya bekerja, pria asing bernama Reno itu melangkah pergi begitu saja. Punggung tegapnya menghilang di balik pintu kaca, meninggalkan denting halus bel toko yang menyisakan keheningan memekakkan dada.Humaira berdiri membeku di balik etalase kaca. Jemarinya yang memegang secarik kertas berisi nomor ponsel pria itu bergetar pelan. Pandangannya kosong menatap deretan perhiasan emas yang berkilauan di bawah pendar lampu toko.Apakah keputusan yang kuambil ini sudah tepat? bisik Humaira dalam hati, merasa kecemasan merayapi tiap relung jiwanya. Menjual diri demi melunasi utang keluarga... apakah ini takdir yang harus kutempuh?Gadis itu menghembuskan napas berat, mencoba menetralkan dada yang sesak. Tidak ada pilihan lain. Esok adalah batas akhir ancaman pak Broto, si lintah darat berhati iblis itu. Jika ia tidak membayar utang ibu tirinya, ia akan dipaksa menjadi istri simpanan pria yang pantas menjadi kakeknya tersebut.Sore ha
Kata-kata Reno tertahan di udara, menggantung kaku di antara tumpukan perhiasan emas di atas meja konter.Humaira terpaku. Matanya melotot sempurna, menatap pria bersetelan jas rapi di hadapannya seolah pria itu baru saja bicara dengan bahasa asing. Senyum ramah yang tadinya menghiasi bibir Humaira sirna seketika, berganti dengan ekspresi syok yang tak bisa disembunyikan."B-bapak... bicara apa, ya?" bisik Humaira gagap. Suaranya hampir tenggelam oleh degup jantungnya sendiri. "Bapak jangan bercanda, ini tempat kerja saya."Reno tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wajahnya keras, tanpa ada raut humor sama sekali."Saya tidak sedang bercanda," tegas Reno, suaranya tenang namun menekan. "Pernikahan saya dijadwalkan minggu depan. Semua gedung, katering, dan undangan sudah siap. Daripada saya menanggung malu dan membuat orang tua saya serangan jantung karena batal nikah, saya butuh pengantin wanita pengganti. Kamu mau atau tidak?"Dada Humaira berdesir hebat. Napasnya tertahan.Nika
BAB 1: Mahar yang Terjual"Sayang, kamu na-kal banget deh. Lihat nih, leher aku jadi merah-merah gini.""Kenapa? Takut ketahuan sama Reno?""Ih... Apa sih kamu, Sayang? Kamu kan tahu, aku pacarin dia tuh cuma buat ngeruk hartanya aja. Cinta aku cuma buat kamu seorang!"Kedua tangan Prily melingkar mesra di leher kekar milik Tommy.Cup!Bibir mereka kembali berpaut mesra. Entah untuk keberapa kalinya pengkhianatan itu terjadi di kamar apartemen yang dibeli dari jerih payah pria lain.Tanpa mereka sadari, seorang pria berdiri kaku di ambang pintu. Dada Reno kempas-kempis, menahan gemuruh emosi yang mencabik dadanya. Telinganya menangkap setiap kata, setiap desahan, dan pengakuan jujur dari bibir Prily—wanita yang statusnya adalah tunangannya.BRAKKK!Pintu kamar ditendang keras hingga menghantam dinding. Mata Reno menghujat tajam pada dua insan di hadapannya, bagai seekor buaya yang siap menerkam mangsa."R-Reno?" bisik Prily tergagap. Wajahnya pucat pasi melihat kehadiran pria yang san







