Share

Bertemu Mantan

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2025-11-25 23:07:25

Merasa kesehatannya lebih baik, Aditya memutuskan untuk kembali bekerja setelah cuti panjang. Hidup harus terus berjalan, selama ini hanya Dya yang bekerja dan menghidupi rumah tangga mereka. Padahal, Dya aslinya masih punya tanggungan. Yaitu orang tua juga adiknya yang sula berjudi. Jika hanya Dya yang banting tulang bekerja, mereka pasti tak akan bisa menabung.

Adit ini seorang pria pekerja keras. Dia tidak bisa duduk manis di rumah, dia harus memegang kendali rumah tangga.

Dya pun tak masalah, asalkan Adit kuat, dia boleh kembali bekerja.

Setelah 8 bulan vakum karena sakit, Adit kembali bekerja di perusahaan alat medis. Pegawai yang lain menyambut Adit dengan suka cita. Untung saja kepala perusahaan ini berhati malaikat dan mengerti kondisi Adit yang sakit-sakitan. Ia tak mau melepas Adit karena memiliki kinerja mengesankan.

Setelah pulang bekerja, Adit pergi ke kedai kopi. Sebuah kebiasaan yang memang rutin dilakukannya semenjak dulu. Setelah hari berganti malam, dia baru pulang ke rumah.

Baru memesan kopi, Adit berdecak. Istrinya mengirim pesan, bertanya Adit pulang jam berapa? Apa bekal makan siangnya habis dimakan? Nah, Adit menggeser pesan itu. Ia tak berniat membalas.

Adit menyesap kopinya perlahan sembari berselancar di sosial media sampai tak sadar ada yang mengetuk meja tempat duduknya.

Adit mendongak dan terkesiap.

"Adit, kan?" Wanita ini memastikan.

"Betul. Kayra?" Adit menatap lekat.

Kayra tersenyum dan duduk di kursi hadapan Adit.

"Ternyata benar dirimu. Aku sempat ragu tadi."

"Sedang apa kamu disini?"

"Bukannya lebih baik bertanya mengenai kabar?" Kayra tersenyum manis. "Apa kabarmu? Ku dengar kamu sakit."

"Ya begitulah. Tapi sekarang lebih baik. Kamu bagaimana?"

"Begitulah juga." Kayra terkekeh. "Sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan."

"Bukannya kamu bekerja di rumah sakit?" Seingat Adit, Kayra langsung diterima bekerja ketika lulus waktu itu. Kebetulan, Kayra, Adit dan Dyandra satu kelas saat kuliah.

"Iya. Tapi aku sudah diputus kontrak. Kamu tahu rumah sakit itu mengalami pemorosotan pasien, jadi beberapa pegawai diberhentikan. Dan aku termasuk dari bagiannya."

"Kasihan sekali. Jadi, sekarang apa rencanamu?"

Kayra mengedikkan bahu. "Aku sedang mencari pekerjaan lain."

"Sudah mengirim lamaran kerja kemana saja?"

"Macam-macam perusahaan. Bahkan aku juga melamar di Bank." Jawab Kayra sambil terkekeh.

"Kamu bisa bergabung dengan Dyandra di rumah sakit internasional. Dia sudah naik pangkat menjadi ketua tim."

"Oh.. dengan istrimu?" Kayra terkekeh lagi. "Aku nggak minat kerja di rumah sakit. Capek!"

"Betul juga." Adit meminum kopinya lagi.

"Apa kabar istrimu?"

"Baik. Suamimu apa kabar?"

"Kami sudah berpisah."

"Apa?" Adit terkejut.

Kayra berdeham. "Sudah tiga bulan ini kami resmi berpisah. Mantan suamiku itu berselingkuh dengan wanita lain."

Adit menatap Kayra dengan iba.

"Ironi kan, ya? Dulu aku lebih memilih pria itu dibandingmu karena pekerjaannya. Rupanya, itu tidak menjamin."

"Yang lalu biarlah berlalu." Adit menghela nafas panjang. Ia lalu mengangkat telpon karena ponselnya bergetar.

"Sebentar lagi aku pulang." Ucap Adit sambil mematikan sambungan.

"Istrimu yang menelpon?"

"Ya begitulah.." Jawab Adit mendesah pelan. Baru saja ingin santai, istrinya sudah mencari. "Mungkin dia baru pulang."

"Kalau begitu pulanglah, pasti dia mencemaskanmu."

Adit jadi terkekeh. "Aku duluan. Jika butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku."

"Apa boleh?"

Adit memandang Kayra. "Boleh saja. Nomorku masih yang lama."

Mendengar itu Kayra tersenyum.

"Terima kasih. Hati-hati di jalan Adit."

Adit hanya mengangguk dan meninggalkan Kayra sendirian. Oh, sesungguhnya kepergian dirinya ini sekaligus untuk menutupi kegugupan hatinya.

Bagaimana tidak? Setelah sekian lama, ia bertemu lagi dengan cinta lamanya.

Selama 4 tahun kuliah, Kayra dan Aditya berpacaran. Namun ketika sama-sama lulus dan meraih mimpi, Kayra memutuskan hubungan dan menikah dengan pria lain yang lebih mapan. Padahal jika Kayra bisa bersabar, Adit memang ingin melamarnya.

Tapi yang nama pilihan hidup, Adit tak bisa mengelak. Ia pun lalu melanjutkan hidupnya dengan menerima cinta Dyandra. Yang tak lain dan tak bukan sekarang menjadi istrinya.

Sesampainya di rumah, Dya menyambut dengan senyuman manis. Mengambil tas kerja, membantu menaruh sepatu di tempatnya dan tak lupa segelas air dingin diberikan.

"Bagaimana hari pertama kerja?" Tanya Dya lembut sambil mengusap punggung suaminya.

"Begitulah. Masih butuh adaptasi karena beberapa kebijakan berubah."

"Begitu rupanya."

"Sudah. Aku mau mandi dulu." Adit menurunkan tangan istrinya dan pergi ke kamar mandi.

Sementara, Dya menyiapkan makan malam.

Menurut Adit, hidup keduanya terkesan biasa saja. Begitu hambar. Mungkin karena belum terbitnya cinta di hati Adit untuk istrinya.

Jika dilihat sebenarnya Dyandra ini tak terlalu jelek. Ia memiliki tubuh yang kecil mungil, berbanding terbalik dengan Adit yang berotot. Wajahnya memang tak secantik model tapi lumayan juga untuk meneduhkan pandangan.

Begitu juga dengan sikap lembutnya. Bagi pria yang tepat, Dya memang istri yang sempurna. Tak pernah mengeluh, tak pernah menuntut. Tetap bersabar meski Adit belum membalas cintanya.

"Sayang.. nanti hari minggu kita jalan yuk!"

"Bukannya kemarin baru keluar?" Tanya Adit heran.

"Ada danau buatan yang baru dibuka di selatan kota ini. Katanya bagus sekali, loh!"

"Ya. Lihat saja nanti."

Dya hanya mengulum senyum. Bekerja sebagai perawat, dia hanya libur satu hari dalam seminggu yaitu di hari minggu saja. Makanya dipakainya sebagai waktu untuk bersenang-senang.

Hari minggu tiba, keduanya berjalan di sekitar taman dekat danau. Banyak pengunjung karena tempat ini baru dibuka. Pasangan muda-mudi, yang baru menikah hingga memiliki anak terlihat bersenang-senang disana.

Termasuk Dya dan Adit ini. Bedanya hanya Dya yang bersemangat sementara Adit tidak.

"Indah pemandangannya.."

"Terlalu ramai. Aku nggak suka." Ucap Adit.

Dya langsung memandang wajah suaminya.

"Aku senang kamu lebih segar sekarang. Syukurlah kamu sudah sehat."

Adit hanya berdeham.

"Nggak terasa juga sudah satu tahun kita bersama, susah senang semuanya sudah kita lalui.." sambung Dya lagi walau tak ada jawaban dari Adit.

"Sayang, jawab aku!" Dya mencebik.

"Soal apa?"

"Apa kamu mencintaiku?" Dya menatap lekat suaminya.

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Cuma penasaran karena kamu nggak pernah membalas ucapan cintaku."

"Apakah perlu? Kita sudah sah menjadi suami istri."

"Tapi kan wanita juga butuh kepastian."

"Apa sih kamu?" Adit menatap tak suka.

Dya mana perduli. Dia tetap memeluk lengan suaminya sampai Adit merasa jengah.

"Aku masih nggak menyangka saat kamu memutuskan untuk melamarku." Dya tersenyum ketika membayangkan hari bahagia itu.

"Ya.. aku juga tidak menyangka berakhir denganmu."

"Kalau misalkan saat itu aku menolak lamaranmu, bagaimana?"

"Aku bisa mencari gadis lain."

Dyandra tergelak.

"Tenang saja. Aku nggak membiarkanmu memilih wanita lain."

"Percaya diri banget kamu!"

"Gampang, kan? Kalau kamu nggak melamarku, maka aku yang melamarmu!"

"Kalau aku menolak bagaimana?" Tanya Adit menatap dingin.

"Maksudnya?" Tanya Dya yang terkesiap.

"Aku menolak lamaranmu!" Ucap Adit tegas dan meninggalkan Dya yang tertegun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Hadiah Terindah (Ending)

    Selepas melihat Maria tadi, Dyandra menjadi diam dan membuang pandangannya keluar jendela. Andri yang tahu jika istrinya bersedih, memilih tak banyak bicara. Dia hanya menggenggam tangan istrinya dengan lembut untuk sekedar menguatkan hatinya yang tengah rapuh.Sebagai seorang anak, Andri mengerti jika Dyandra pasti terpukul dengan keadaan ibunya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah kehidupan yang sudah dipilih oleh Maria."Mas.." panggil Dya lemah tanpa menoleh."Iya, sayang?""Tolong cari tahu keadaan Ari. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.""Baik, akan kulakukan. Kamu masih memikirkan Maria?" Tanya Andri memberanikan diri.Dyandra mengangguk sembari menatapi pemandangan yang ada diluar sana."Lupakanlah. Ingat rasa sakitmu, Dya. Sekarang waktunya kamu bahagia.." Andri meraih tangan Dya dan mengecupnya.Dyandra tersenyum. Jika mengingat masa lalu hanya membangkitkan luka masa kecilnya yang begitu perih. Bentuk penolakan, dibedakan hingga ditipu daya sudah pernah Dya lalui. Memb

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Tuai Perbuatan

    Satu minggu lagi adalah pernikahan Cipta dan kekasihnya. Untuk merayakan hal tersebut, Yasmine mengadakan makan malam bersama keluarga besarnya. Termasuk mengundang keluarga dari calon istri Cipta."Selamat datang mas Andri, Dyandra.." Cipta memberikan pelukan pada sepupunya. Tak lupa Dya juga yang memberikan salam sayang pada Yasmine."Eh.. ada Selina disini!" Seru Dyandra langsung mendekati calon istri dari Cipta.Wanita bernama Selina ini juga ikut mendekat dan mengulurkan tangannya pada Dyandra. Dya pun membalas dengan memberikan satu kotak hadiah."Hadiah pernikahan dari kami." Ucap Dyandra."Aduh kalian ini kenapa sampai repot sekali.." seru Yasmine yang bergabung dengan keduanya."Nggak apa-apa, tante. Kami ikut bahagia karena kak Cipta akhirnya menikah.""Setelah 33 tahun, akhirnya aku mendapatkan pasangan juga." Ucap Cipta yang mengundang gelak tawa semua orang."Aku juga baru mendapatkan pasangan yang tepat di usia 33 tahun, Cipta. Kita sama saja." Sahut Andri.Hadiah yang d

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Waktu Milik Kita

    Satu tahun enam bulan kemudian..Suara tangisan terdengar lagi dengan keras, padahal sebelumnya tempat ini baru saja hening dari suara tangisan bayi.Dyandra mengambil air dengan tangannya untuk berkumur-kumur. Karena telat sarapan, Dyandra sampai muntah begini. Herannya, ia tidak sakit perut seperti gastritis biasanya. Hanya mual diiringi muntah saja.Setelah berkumur, Dyandra menyeka mulutnya dan keluar dari kamar mandi. Suara tangisan bayi itu kembali terdengar hingga membuat Nyonya muda ini menuju ke bagian depan baby spanya.Setidaknya sudah 6 bulan ini, Dyandra mendirikan baby spa. Sebuah cita-cita yang meluncur sekitar satu tahun ke belakang. Dya yang tidak bisa meninggalkan dunia anak-anak, mengambil pelatihan khusus untuk pemijatan bayi.Bersama sahabatnya, Putri, Dya merintis usahanya. Tentu saja impian ini dapat tercapai karena dukungan dari suami tercintanya."Ada pengunjung lagi?" Tanya Dya pada pegawai frontliner."Ada satu, Nyonya."Dyandra masuk ke dalam ruangan spa ya

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Menerima Kebahagiaan

    Andri sampai mengorek telinganya yang gatal. Bagaimana tidak? Nadira mengomel karena anaknya hilang tanpa kabar.Harusnya Andri pulang sejak semalam, tapi setelah ditunggu-tunggu anak kesayangannya itu malah tidak datang. Nadira pikir pesawat Andri jatuh dan hilang kontak. Membuat Nadira sudah berpikir yang macam-macam saja.Semalaman dihubungi Andri tidak menjawab. Sudah cemas setengah mati, rupanya Andri malah sedang bermesraan dengan istrinya di rumah sewa. Lantas saja itu membuat Nadira marah."Cepat pulang sekarang!" Perintah Nadira yang tak bisa diganggu gugat.Andri kembali menaruh ponselnya setelah sambungan dimatikan."Kenapa, mas?""Mama marah karena aku nggak mengabarinya.""Aduh.. pasti mama cemas. Kamu sih!""Iya salahku memang." Andri lalu menatap istrinya. "Bersiaplah. Kita pulang hari ini.""Pu-pulang?" Dyandra terkejut."Iya pulang ke rumah. Kita sudah berbaikan, kan? Aku mau kita tidak tinggal terpisah lagi."Dyandra tertunduk mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya Dy

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Syahdu

    "Apa maksud mas ngomong begitu?"Andri melirik sekilas dan berbalik lagi. Namun bahunya kembali tertahan."Apa mas pikir aku mau kembali dengan Aditya?""Salah, ya? Bukannya kamu memang masih mencintai mantan suamimu?" Tanya Andri balik."Oh, Tuhan." Sampai merosot bahu Dyandra, selama ini Andri sudah salah paham padanya. "Walau kita berpisah, aku nggak akan mau kembali kepadanya.""Kenapa? Kamu masih cinta sama dia, kan?""Darimana asumsimu itu?" Dyandra menatap tajam."Buktinya kamu ingin berpisah dariku. Aku yakin alasannya itu." Gumam Andri pelan."Aku kan sudah bilang kalau aku nggak mau menyakitimu terlalu jauh! Aku nggak mau terus-terusan menjadi beban untukmu, memberi kalian rasa malu.. aku nggak mau! Makanya aku memutuskan untuk berpisah!" Dyandra mengerjap menahan tangis."Bukan karena ingin kembali pada Aditya?" Tanya Andri lagi."Bukan!" Dyandra berdecak kesal. "Kamu juga setelah ini akan dijodohkan oleh mama Nadira. Mama sudah menyiapkan seorang wanita untukmu.""Mama bil

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Saling Merindu

    Baru satu minggu tidak bertemu keduanya jadi gelisah. Dyandra sudah terbiasa ada Andri di sisinya, terbiasa mendengar suara lembut itu, terbiasa jika tertidur di pandangi olehnya juga terbiasa melayani suaminya ketika akan pergi dan pulang bekerja.Siapa nanti yang memakaikan dasi untuk suaminya? Menyiapkan air hangat untuk mandi dan juga pakaian gantinya? Lalu bagaimana makannya? Apa Andri masih suka bekerja sampai larut di ruang kerjanya? Duh, Dyandra gusar sendiri.Apalagi kegelisahannya makin menjadi-jadi ketika mendapat pesan dari suaminya barusan. Andri yang sopan dan sungguh menghargai privasinya. Dia bertanya apakah Andri boleh berkunjung atau tidak?Namun, sayang Dya lekas menjawab untuk tidak bertemu dulu. Lalu yang terjadi malah Dya yang gelisah.Mondar mandir tubuh ini dibuatnya, Dya menunggu balasan pesan dari suaminya. Jahatkah diri ini berkata demikian? Dyandra yakin Andri juga tersiksa akan perpisahan ini."Nyonya dari tadi mondar mandir." Ucap Asih yang sejak tadi mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status