MasukFahri berbalik tanpa menunggu reaksi siapa pun. Langkahnya cepat, kasar. Pintu kaca terbuka lalu tertutup keras di belakangnya. Bel kecil di atas pintu berdenting nyaring, memantul di udara toko yang masih tegang.Di luar, Fahri menaiki motornya. Mesin langsung meraung. Gas ditarik penuh, suaranya memekakkan telinga sebelum motor itu melesat pergi, meninggalkan bau bensin dan amarah yang belum reda.Khalisa berdiri diam beberapa detik, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa napasnya tetap teratur.“Maaf, Zidan,” ucapnya akhirnya, pelan.Zidan menoleh, ekspresinya tenang.“Gak apa-apa, Khalisa,” jawabnya. “Aku paham kok.”Khalisa menoleh ke arah pelanggan. Ia sedikit meninggikan suara, cukup agar semua mendengar.“Aku minta maaf atas kekacauan ini,” katanya tegas. “Silakan dilanjutkan belanjanya.”Seorang pelanggan perempuan mengangguk sambil tersenyum tipis.“Baik, Mbak. Lain kali kalau dia datang, langsung kunci pintu saja,” celetuknya setengah
Motor berhenti di depan rumah menjelang siang. Fahri turun lebih dulu, langkahnya berat. Nayla menyusul dari belakang, wajahnya kusut, amplop cokelat masih di tangan Fahri. Begitu pintu tertutup, Nayla langsung bicara. “Ini belum cukup, Mas.” Fahri berhenti di tengah ruang tamu. Ia menoleh cepat. “Ibu ambil uang Khalisa berapa sih, Nay?” tanyanya kesal. “Dari awal sampai sekarang nggak ada yang jujur.” Nayla menghela napas. “Banyak, Mas. Aku lihat sendiri. Tebal. Ibu ambil dari tas waktu beli tas terakhir itu.” Fahri mengusap wajahnya kasar. “Ibu benar-benar cari masalah,” gumamnya. “Terus mau cari uang dari mana lagi?” Nayla terdiam sebentar, lalu bicara hati-hati. “Ya sudah, bawa saja ini ke Khalisa, Mas. Bilang nanti dicukupkan kalau sudah gajian.” Fahri langsung menoleh tajam. “Tapi aku sudah dipecat, Nay!” suaranya meninggi. “Aku nggak punya gajian!” Nayla mendekat setengah langkah. “Ya yakinkan saja belum dipecat,” katanya cepat. “Atau bilang masih pro
Lampu ruang tamu menyala terang, tapi rasanya dingin. Nayla mondar-mandir dari sofa ke jendela, lalu kembali lagi. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang membesar, wajahnya cemas. “Gimana, dong, Mas?” tanyanya akhirnya. “Ibu beneran bisa ditahan.” Fahri duduk di ujung sofa. Siku bertumpu di lutut, kepala tertunduk. Sejak keluar dari kantor polisi, kepalanya seperti dipukul bertubi-tubi. Tidak ada solusi yang terasa benar. Belum sempat ia menjawab, ayahnya melintas dari arah dapur. Di tangannya ada sebungkus rokok, langkahnya santai, seolah malam itu tidak terjadi apa-apa. “Pa,” Fahri langsung berdiri. “Uang yang ibu kasih kemarin harus dikembalikan.” Ayahnya berhenti. Menoleh sebentar, lalu mendengus kecil. “Dikembalikan?” katanya heran. “Loh, itu kan sudah papa pakai. Buat rokok. Sama beli burung satu lagi, tuh.” Nada bicaranya ringan. Tidak ada rasa bersalah. Bahkan tidak ada pertanyaan. Fahri menatap ayahnya tajam. “Papa tahu nggak ibu sekarang ditahan gara-gara
“Terus ibu harus gimana, Fahri?!”Suara Laila meledak lagi, memantul di ruang tunggu tahanan yang sempit. Beberapa orang yang sedang mengurus laporan menoleh. Petugas jaga langsung bangkit dari kursinya.“Bu, tolong jaga suara,” katanya tegas. “Ini masih kantor polisi.”Laila menoleh sekilas, lalu kembali ke Fahri. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat, keringat di pelipisnya terlihat jelas.“Apa kamu dengar, Fahri?” suaranya meninggi lagi. “Ibu nggak mau ditahan! Ibu nggak mau malam ini tidur di sini!”Fahri berdiri tepat di depannya. Jarak mereka hanya dipisahkan jeruji besi pendek—bukan sel, hanya pembatas ruang tahanan sementara. Tapi rasanya tetap seperti tembok tinggi.“Bu,” kata Fahri berat, “ibu sendiri yang bikin ini semua jadi begini.”“Itu bukan jawaban!” teriak Laila.Lalu, seolah baru mendapat ide, matanya menyipit.“Uang,” katanya cepat. “Kita kumpulin uangnya.”Fahri mengernyit.“Maksud ibu?”“Uang yang ibu kasih kemarin!” suara Laila mendesak. “Kalian semua harus balikin!
Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di pelapor.” Fahri mengangguk. Itu sudah cukup. Di sisi lain kota, ponsel Khalisa bergetar saat ia sedang duduk di ruang kantor toko. Dinda masih berdiri di dekat pintu, Nadia menyeduh air hangat. Nomor tak dikenal. Khalisa mengangkatnya. “Halo.” “Selamat malam, Bu Khalisa,” suara petugas terdengar formal. “Kami dari kantor polisi. Terkait laporan yang Ibu buat, pihak terlapor meminta mediasi. Apakah Ibu bersedia datang?” Khalisa diam sebentar. Tangannya mengerat di ponsel. “Untuk apa?” tanyanya singkat. “Untuk upaya damai. Jika ada kemungkinan penyelesaian,” jawab petugas. “Kondisinya jelas,” kata Khalisa datar. “Tidak ada damai tanpa tanggung jawab.” “Kami sampaikan ke pihak sana. A
Fahri masuk ke toko tanpa salam.Pintu kaca terbuka cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh. Suara bel kecil berdenting nyaring, tapi Fahri tidak peduli. Matanya langsung menyapu ruangan, mencari satu nama.“Lis!” teriaknya.Dinda yang sedang di balik kasir terkejut. “Fahri"Fahri tidak berhenti. Ia melangkah lebih dalam. Rak-rak pakaian berjajar rapi, beberapa pelanggan langsung mundur pelan, merasakan ketegangan yang tiba-tiba turun.“Lis!” suara Fahri lebih keras.Dari pintu belakang, Khalisa muncul. Ia sudah tahu Fahri akan datang. Wajahnya tenang, hijabnya terpasang rapi, ekspresinya dingin, tidak kaget, tidak panik.“Ada apa?” tanyanya santai. “Soal ibumu?”Nada itu membuat Fahri mendidih.“Lis… kok kamu tega mau memenjarakan ibu aku?” kata Fahri tegas, matanya merah, rahangnya mengeras.Khalisa melipat tangan di dada. “Karena ibumu mencuri.”Kata itu jatuh telak.“Cukup, Khalisa!” Fahri melangkah lebih dekat. “Ibu aku cuma ngira itu hak aku. Kenapa kamu malah besarin masa







