LOGINSetelah berpamitan dengan Ibu Zidan, mereka akhirnya berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ibu Zidan ikut mengantar mereka sampai ke bandara. Sementara koper-koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup santai. Zidan sesekali berbicara dengan ibunya yang duduk di kursi depan, sementara Khalisa duduk di belakang sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela. Namun, saat mobil sudah memasuki jalan tol, Khalisa tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Ya ampun..." Zidan yang sedang fokus mengemudi meliriknya melalui kaca spion. "Kenapa?" "Aku lupa pamitan sama Tante Rina." Zidan tersenyum tipis. "Ya sudah, telepon saja." Khalisa segera mengambil ponselnya. "Masih ingat nomornya?" "Masih." Ia kemudian mencari nama Tante Rina di kontak ponselnya lalu menekan tombol panggilan. Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. "Assalamualaikum, Tante." Suara Khalisa langsung terdengar lebih ceria. "Waalai
Setelah tengah malam, satu per satu teman-teman Zidan akhirnya berpamitan. "Terima kasih sudah menerima kami malam-malam begini," ujar Reza sambil tersenyum. Zidan menggeleng pelan. "Kalau lain kali mau datang, kabari dulu." "Kalau dikabari, nanti bukan kejutan lagi," sahut salah satu temannya. Zidan hanya tersenyum tipis. "Ya sudah. Hati-hati di jalan." Setelah semua temannya pergi, Zidan menutup pintu rumah lalu memastikan pintu sudah terkunci. Rumah kembali sunyi. Ia kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu dibuka, Zidan mendapati Khalisa sudah tertidur. Perempuan itu berbaring menyamping dengan wajah yang terlihat tenang. Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur. Pikirannya kembali teringat pada percakapan bersama teman-temannya malam itu. Tentang Fatimah. Zidan menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa nama itu masih sempat terlintas di pikirannya. Padahal selama ini, ia sudah tidak pernah memikirkan perempuan itu. Zidan menatap waj
Zidan membalas pelukan Khalisa sebentar, lalu mengusap pelan punggung istrinya. "Sudah?" Khalisa tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mas." "Mas bikin aku kaget." Zidan tersenyum tipis. "Memang sengaja." "Biar ada yang diingat." Khalisa kembali melihat e-ticket di tangannya. "Mas, ini benar-benar sudah dibayar?" "Sudah." "Nggak bisa dibatalin lagi?" Zidan menggeleng pelan. "Bisa saja." "Tapi kenapa harus dibatalkan?" Khalisa tertawa kecil. "Soalnya masih terasa seperti mimpi." Zidan mengambil map itu lalu menaruhnya di atas meja. "Kita berangkat beberapa hari lagi." "Besok mulai siapkan barang yang perlu dibawa." "Kalau ada yang kurang, kita beli." Khalisa mengangguk. "Iya, Mas." "Tapi aku belum pernah ke negara yang dingin." "Aku juga nggak tahu harus bawa apa." "Nanti kita belanja secukupnya." "Nggak perlu berlebihan." Khalisa tersenyum. "Baik." Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah hampir malam." "Ayo makan dul
Mobil yang dikendarai Zidan akhirnya memasuki halaman rumah. Begitu mesin dimatikan, suasana langsung terasa berbeda. Rumah yang beberapa hari terakhir ramai oleh kehadiran Tante Tami dan Om Yono kini kembali sunyi. Khalisa memandang sekeliling rumah beberapa saat. Lalu ia mengembuskan napas pelan. "Rumah jadi sepi ya, Mas." Zidan tersenyum kecil sambil membuka sabuk pengamannya. "Iya." "Om Yono dan Tante Tami kan langsung pulang ke kampung." "Jadi rumah terasa kosong lagi." Khalisa mengangguk pelan. "Padahal baru beberapa hari bersama." "Rasanya sudah terbiasa ada mereka." Zidan menggenggam lembut tangan istrinya. "Nggak apa-apa." "Nanti rumah ini juga bakal ramai lagi." Khalisa menoleh sambil tersenyum tipis. "Ramai bagaimana, Mas?" Zidan menyeringai jahil. "Ya sama anak-anak kita nanti." Pipi Khalisa langsung memerah. "Ih... Mas." Zidan tertawa pelan. "Aamiin." "Semoga Allah segera mengabulkan doa kita." Khalisa mengangguk pelan. "
Mobil melaju meninggalkan gang sempit itu. Suasana di dalam mobil hening untuk beberapa saat. Khalisa masih memandangi jalan di depan. Bayangan wajah Arlina yang terus berusaha tegar membuat hatinya belum benar-benar tenang. Zidan melirik istrinya sekilas. Ia tahu, perempuan di sampingnya sedang memikirkan banyak hal. Dengan senyum tipis, ia akhirnya memecah keheningan. "Khalisa." "Hm?" "Aku mau ngajak kamu bulan madu." Khalisa menoleh cepat. "Wah..." "Bulan madu?" Zidan terkekeh pelan. "Iya." "Kemana, Mas?" tanya Khalisa penasaran. Zidan mengangkat bahu sambil tetap fokus mengemudi. "Itu tergantung kamu." "Kamu ingin pergi ke mana?" Khalisa tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan. "Nggak perlu, Mas." "Aku sudah senang kok." "Bisa hidup tenang sama Mas saja sudah lebih dari cukup." Jawaban itu membuat Zidan menghela napas sambil tersenyum. "Kamu ini." "Selalu bilang nggak perlu." Khalisa terkekeh pelan. "Memang nggak perlu." "Aku b
Pak Yoko tersenyum tipis melihat wajah Arlina yang kini jauh lebih tenang. Suasana di ruangan itu perlahan berubah hangat. Khalisa menatap Arlina beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. "Arlina." "Iya, Kak." "Kakak rasa..." Khalisa memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Alangkah baiknya kalau kamu mencari tempat tinggal yang lebih dekat dari sini." Arlina tampak terkejut. "Pindah kontrakan, Kak?" Khalisa mengangguk pelan. "Iya." "Kalau setiap hari harus menempuh perjalanan hampir satu jam untuk berangkat dan satu jam lagi untuk pulang, tenaga dan waktumu akan banyak habis di jalan." "Belum lagi kalau harus berangkat pagi sekali." Arlina menundukkan kepala. "Tapi, Kak..." "Aku tinggal sama Bapak dan Ibu." "Kalau aku pindah..." "...siapa yang menemani mereka?" Khalisa terdiam sejenak. Ia memahami kegelisahan gadis itu. "Kakak bukan menyuruhmu meninggalkan mereka." "Kamu tetap bisa pulang setiap akhir pekan atau saat libur." "Yang Kakak pik
Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k
“Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta
Khalisa belum sempat menjawab ketika dari sudut ruang keluarga terdengar suara tawa kecil. Arini dan Arlina masih duduk santai di sofa, mata mereka terpaku ke layar televisi. Sinetron sore diputar cukup keras. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum, bahkan terkekeh kecil seolah kegaduhan di ruma
Di dalam kamar, Khalisa menyandarkan punggungnya ke pintu yang terkunci rapat. Nafasnya masih belum sepenuhnya stabil. Pipinya terasa panas, tapi rasa perih itu kalah oleh sesuatu yang jauh lebih dalam.Ia melangkah ke meja rias, membuka laci paling bawah. Tangannya tidak gemetar lagi. Justru tenan







