เข้าสู่ระบบKhalisa segera mempercepat langkahnya menghampiri Arlina."Arlina!"Mendengar namanya dipanggil, Arlina yang sejak tadi hanya menangis perlahan mengangkat wajah."Kak... Kak Khalisa..."Matanya langsung dipenuhi air mata yang semakin deras.Melihat Khalisa datang, ia seolah menemukan harapan.Namun belum sempat Arlina mengatakan apa pun, wanita paruh baya yang berdiri di depannya langsung menatap Khalisa dengan sinis."Kamu siapa?"Khalisa tetap bersikap sopan."Saya hanya ingin bertanya, Bu. Ada apa sebenarnya?""Ada apa?" bentak wanita itu."Jangan ikut campur urusan saya!"Nada suaranya semakin tinggi hingga beberapa orang yang berada di sekitar mulai memperhatikan.Khalisa tetap berusaha tenang."Kalau memang ada masalah, mungkin bisa dibicarakan baik-baik.""Baik-baik apanya?" hardik wanita itu."Kalau sudah mencuri ya tetap saja pencuri!"Khalisa mengernyit."Mencuri?"Wanita itu menunjuk Arlina dengan kasar."Dia ini mencuri di warung saya!"Arlina langsung menggeleng kuat-kuat
Keesokan harinya, suasana rumah sudah ramai sejak pagi. Tami dan Om Yono tampak sibuk merapikan tas-tas mereka. Beberapa oleh-oleh yang dibawakan Zidan juga sudah tersusun rapi di dekat pintu. Hari itu mereka akan kembali ke kampung. Ladang dan para pekerja sudah menunggu untuk diperhatikan. Di halaman rumah, mobil Zidan telah siap mengantar mereka ke terminal. "Semuanya sudah, Om?" tanya Zidan sambil mengangkat satu tas ke bagasi. "Sudah, Nak. Nggak banyak barang," jawab Om Yono sambil tersenyum. Khalisa berdiri di samping Tami. Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. Baru beberapa hari bersama, kini Tante dan Om sudah harus pulang. Tami yang menyadari perubahan wajah keponakannya langsung membuka kedua tangannya. "Sini." Tanpa berpikir panjang, Khalisa langsung memeluk Tami erat. Pelukan itu berlangsung cukup lama. Tami mengusap punggung Khalisa dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. "Jaga diri baik-baik ya, Nak." "Iya, T
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Khalisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya setelah percakapan tentang ibu Zidan. Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. "Sudah sampai," ucap Zidan. Khalisa mengangguk pelan. Di teras rumah, terlihat Tami dan suaminya, Om Yono, sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat. Begitu melihat mobil mereka masuk, Tami langsung berdiri. "Nah, akhirnya pengantin baru datang juga." Wajah Khalisa langsung memerah. "Tante..." Om Yono tertawa kecil. "Baru sehari nikah sudah susah dicari." Khalisa semakin malu. Sementara Zidan hanya tersenyum santai. "Kami cuma mampir sebentar ke rumah lama Khalisa, Om." Om Yono mengangguk mengerti. "Bagus. Rumah itu memang penuh kenangan." Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama. Begitu masuk, Tami langsung menggandeng tangan Khalisa. "Gimana? Senang lihat rumah orang tuamu lagi?"
Senyum di wajah Khalisa belum juga hilang ketika ponselnya yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Khalisa segera mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar. "Tante Tami." Ia langsung menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, Tante." "Waalaikumsalam, Nak." Suara Tami terdengar hangat dari seberang telepon. "Kamu sekarang di mana?" Khalisa melirik Zidan yang berdiri di sampingnya. "Aku lagi di rumah lama, Tante. Sama Mas Zidan." "Oh, jadi kalian ke sana?" "Iya, Tante." Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang dikenali Khalisa sebagai suami Tami. "Katakan saja kita sudah sampai." Tami tertawa kecil. "Nak, Tante sama Om sudah di rumah kalian." Khalisa sedikit terkejut. "Sudah sampai?" "Iya. Kami baru saja pulang dari hotel dan mampir ke rumah. Tapi rumah kosong." Khalisa tersenyum. "Maaf, Tante. Aku nggak bilang dulu." "Nggak apa-apa. Justru Tante senang kalian mampir ke rumah orang tua kamu." Khalisa menatap hal
"Kamu tambah kurang ajar ya, Nayla!"Fahri membentak keras.Wajahnya memerah karena emosi.Seumur hidupnya, tidak banyak orang yang berani mengusirnya secara terang-terangan seperti itu.Nayla yang masih menggendong bayinya langsung menatap tajam."Kurang ajar?""Iya!"Fahri melangkah mendekat."Kamu berani mengusir suamimu sendiri?""Suami?"Nayla tertawa pahit."Kamu masih ingat kalau kamu suamiku?"Fahri mengepalkan tangannya."Nayla!""Aku capek, Mas!"Air mata kembali mengalir di pipi Nayla."Aku capek selalu disalahkan!"Suasana semakin memanas.Namun sebelum Fahri sempat membalas, ibu Nayla tiba-tiba berdiri di depan putrinya.Wanita paruh baya itu menatap Fahri dengan wajah dingin."Cukup."Fahri langsung menoleh."Bu, lihat sendiri bagaimana anak Ibu bicara sama saya!""Saya lihat.""Dia kurang ajar!"Ibu Nayla menggeleng pelan."Bukan Nayla yang kurang ajar."Fahri membelalakkan mata."Apa?""Yang keterlaluan itu kamu."Ruangan langsung hening.Fahri tidak menyangka wanita y
Setelah sarapan bersama di hotel, Zidan mengajak Khalisa pergi.Mereka meninggalkan hotel menjelang pagi yang semakin terang.Khalisa duduk di samping suaminya sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela mobil."Mas, kita mau ke mana?" tanyanya penasaran."Nanti juga tahu.""Kok dirahasiakan?""Biar jadi kejutan."Khalisa menghela napas pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, mobil perlahan memasuki sebuah kawasan yang terasa sangat familiar.Khalisa yang sejak tadi santai mendadak menegang.Matanya membesar."Itu..."Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah.Rumah yang sangat ia kenal.Rumah peninggalan kedua orang tuanya.Rumah yang dulu pernah ia jual karena keadaan.Dan rumah yang kemudian dibeli oleh Zidan."Kita ke rumah ini lagi?" tanya Khalisa pelan.Zidan mematikan mesin mobil lalu menoleh kepadanya.Tatapannya lembut."Apa kamu membenci rumah ini karena masa lalumu dengan Fahri?"Pertanyaan itu membuat senyum Khalisa perlahan memudar.Ia menatap rumah terse
“Bu,” Fahri akhirnya angkat suara. “Khalisa ngancam. Kalau Ibu ke sana lagi, dia bakal lapor.” Laila tertawa pendek. Bukan geli—lebih ke meremehkan. “Hahaha… Fahri, Fahri.” Ia menggeleng. “Itulah bodohnya kamu. Masa mau percaya begitu saja?” Fahri menatap ibunya. “Aku cuma ngingetin.” “Serahin ke ib
Belum lima menit setelah ibu itu pergi, pintu toko kembali terbuka.Kali ini suara geserannya terdengar keras.Khalisa yang sedang mencatat penjualan otomatis menoleh.Darahnya langsung terasa turun.Laila berdiri di ambang pintu.Hijabnya dililit asal, wajahnya tegang, matanya menyapu toko dengan
“Sudahlah, Fahri!” bentak Laila tiba-tiba. Suaranya meninggi, memotong amarah yang masih menggantung di udara. “Bikin rumah ribut saja. Kamu pikir hidup orang lain nggak capek?”Fahri menoleh cepat. “Bu—”Belum sempat kalimat itu selesai, Arini sudah bergerak. Ia meraih tas kecilnya, melangkah cepa
Saat sore menjelang malam, Fahri akhirnya pulang.Motor tua itu berhenti di depan rumah yang masih berantakan. Fahri turun tanpa semangat, helm dilempar ke kursi plastik di teras. Langkahnya berat ketika masuk ke ruang tengah. Bau semen dan debu masih menyengat, bercampur dengan aroma pewangi ruang







