登入Keesokan paginya, suasana di depan kontrakan masih cukup sepi.Arlina sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana, lalu membawa tas kecil yang berisi beberapa perlengkapan.Di depan kontrakan, sebuah motor bekas terparkir.Motor itu memang tidak baru. Catnya sudah sedikit kusam dan beberapa bagian bodinya memiliki goresan.Namun bagi Arlina, motor tersebut sangat berarti.Ia membelinya dengan harga murah dan membayarnya secara cicilan sedikit demi sedikit."Yang penting bisa dipakai kerja," gumamnya.Arlina memasukkan kunci ke kontak.Baru saja ia hendak menyalakan mesin, terdengar suara seseorang dari belakang."Arlina?"Arlina langsung menoleh.Matanya membulat."Kak Fahri?"Fahri berdiri beberapa langkah darinya.Wajah laki-laki itu terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali Arlina melihatnya.Tubuhnya tampak lebih kurus.Wajahnya kusut.Matanya terlihat lelah.Fahri berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu adiknya."Kamu mau ke mana pagi-pagi?""Kerja,
Setelah suasana kembali sedikit tenang, Bu Laila akhirnya mengajak Arini masuk ke kamar kecil di bagian belakang kontrakan.Kamar itu tidak luas. Hanya ada sebuah kasur tipis, lemari plastik, dan meja kecil yang sudah terlihat kusam."Sudah, kamu istirahat saja," ujar Bu Laila.Arini mengangguk pelan."Iya, Bu."Bu Laila kemudian keluar dari kamar.Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pikirannya sudah jauh lebih ringan. Uang yang diberikan Arini membuatnya tidak lagi memikirkan dari mana putrinya mendapatkannya.Baginya, selama masih ada uang untuk membeli makanan, masalah itu bisa dipikirkan belakangan.Sementara itu, Arlina yang masih berada di ruang tengah diam-diam memperhatikan kakaknya.Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.Sikap Arini berbeda dari biasanya.Apalagi setelah mendengar pertanyaan Pak Arman.Arlina tidak langsung masuk ke kamarnya.Ia memilih menunggu beberapa saat.Ketika melihat Bu Laila sudah kembali duduk di ruang depan sambil memeriksa uang yang diberikan Arin
Setelah pertanyaan Arlina, tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Arini hanya duduk sambil menundukkan kepala. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas dengan erat. Sementara Bu Laila sibuk memasukkan uang pemberian Arini ke dalam dompetnya. Pak Arman yang sejak tadi memperhatikan putrinya akhirnya memanggil. "Arini." Arini mengangkat wajah. "Iya, Pak?" "Sini." Nada suara Pak Arman membuat Arini sedikit gugup. Ia perlahan mendekat. "Ada apa, Pak?" Pak Arman menatap putrinya cukup lama. "Apa pekerjaan kamu sekarang?" Arini terdiam. "Aku kerja, Pak." Pak Arman mengernyit. "Bapak tahu kamu kerja." "Bapak tanya, kamu kerja apa?" Arini mulai gelisah. "Kenapa sih, Pak?" "Bapak mau menyudutkan Arini?" "Apa Bapak nggak bersyukur ada Arini yang cari uang untuk kita makan?" Bu Laila yang mendengar itu langsung menyela. "Sudahlah, Man." "Jangan terus desak Arini." "Yang penting dia pulang bawa uang." Pak Arman tidak menghiraukan istrinya.
Pintu kontrakan sederhana itu tertutup rapat. Ruangan sempit yang hanya diterangi satu lampu redup terasa semakin pengap. Arlina baru saja meletakkan tas kerjanya di atas kursi plastik ketika suara Bu Laila kembali terdengar. "Arlina!" "Iya, Bu?" "Mana uangnya?" "Ibu mau belanja." Arlina menghela napas pelan. "Bu, sabar." "Arlina belum gajian." Bu Laila langsung berdiri dari tikar yang didudukinya. "Belum gajian?" "Terus kita mau makan apa kalau kamu nggak kasih uang?" Arlina menundukkan kepala. "Bu, aku baru mulai kerja besok." "Gajinya juga belum tentu langsung dibayar." "Tolong mengerti dulu." Namun Bu Laila seolah tidak mau mendengar. "Kamu seharusnya berusaha kasih makan Ibu." "Ibu sudah capek-capek membesarkan kalian." "Tapi ini balasan kalian." "Terutama Fahri." "Dia tega meninggalkan ibunya dalam keadaan begini." Nama Fahri kembali membuat suasana semakin berat. Arlina menahan air matanya. "Bu..." "Aku tahu." "Tapi Arlina ma
Zidan lebih dulu membawa dua koper besar masuk ke dalam rumah.Sementara itu, Khalisa melangkah pelan menuju teras.Begitu sampai di sana, ia langsung terdiam.Di hadapannya terbentang pemandangan yang begitu menenangkan.Perbukitan hijau memanjang sejauh mata memandang.Beberapa rumah batu berdiri berjauhan, masing-masing dikelilingi taman kecil dan pepohonan.Jarak antar rumah cukup jauh sehingga suasana terasa sangat tenang.Yang terdengar hanya semilir angin dan kicauan burung.Khalisa menarik napas dalam."Masya Allah..."Ia tersenyum sendiri."Aku baru tahu ada tempat setenang ini."Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah.Zidan keluar setelah selesai meletakkan koper.Melihat Khalisa yang masih menikmati pemandangan, ia menghampiri tanpa banyak bicara.Perlahan, kedua tangannya melingkar dari belakang, memeluk pinggang sang istri.Khalisa sempat tersentak kecil.Namun begitu merasakan pelukan hangat itu, ia langsung tersenyum.Ia tahu siapa yang memeluknya.Z
Setelah menempuh perjalanan panjang dengan transit beberapa kali, akhirnya pesawat yang membawa Zidan dan Khalisa mendarat di Prancis. Setelah proses imigrasi dan mengambil koper selesai, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju sebuah desa yang sudah dipilih Zidan. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan di luar jendela berubah. Hamparan ladang hijau membentang luas. Rumah-rumah batu dengan atap cokelat berdiri berjajar rapi. Jalanan kecil yang bersih membelah perkampungan dengan pepohonan yang mulai menguning. Khalisa tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan kiri. "Mas..." "Iya?" "Indah banget." Zidan hanya tersenyum tipis. "Masih ada yang lebih indah." Khalisa mengernyit. "Masih?" "Sebentar lagi." Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah area parkir kecil. Sopir membantu menurunkan koper mereka. Begitu pintu mobil dibuka, udara sejuk langsung menyambut. Khalisa menarik napas panjang. "Masya Allah..." "Udaranya enak
Fahri masih berdiri kaku di samping sofa. Tatapan Khalisa belum bergeser darinya, tegas dan dingin. Beberapa detik yang terasa panjang itu akhirnya dipatahkan oleh langkah cepat dari arah ruang tamu.Nayla bangkit.Dengan wajah dibuat lembut dan suara mendadak manja, ia menghampiri Fahri lalu berge
“Gak bisa, Bu. Kan yang suruh pesan ibu tadi,” ujar Nayla akhirnya, nada suaranya mengeras. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat, seolah angka empat juta di layar itu benda rapuh yang harus dijaga mati-matian. “Uang segitu buat kebutuhan aku. Aku bentar lagi lahiran.”Laila menatapnya tak percay
Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan,
Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k







