เข้าสู่ระบบArlina terus menunggu di tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika melihat Arini akhirnya keluar dari gedung itu.Namun, langkah Arini tidak sendirian.Seorang laki-laki berjalan di sampingnya. Dari cara berpakaian dan sikapnya, Arlina langsung tahu bahwa laki-laki itu salah satu tamu tempat tersebut.Bahkan, laki-laki itu merangkul Arini begitu mereka keluar.Arlina membeku.Tatapannya turun pada pakaian Arini yang terlihat jauh lebih terbuka dibandingkan saat berada di rumah.Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa, Kak?” lirih Arlina. “Kenapa Kakak seperti ini?”Arini dan laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mobil.Arlina buru-buru menuju motornya.Ia menyalakan mesin dan mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia percaya.Namun, ketika mobil itu berhenti di depan sebuah hotel, tubuh Arlina terasa lemas.“Tidak mungkin...” bisiknya.Arini turun bersama laki-laki te
Hari demi hari, tingkah Arini semakin membuat Arlina gelisah.Kadang Arini pulang tengah malam.Kadang baru muncul keesokan harinya.Bahkan pernah sampai tiga hari Arini tidak pulang.Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama."Urusan kerja."Lama-lama Bu Laila juga tidak lagi bertanya.Yang penting Arini masih pulang dan membawa uang.Setiap kali Arini menyerahkan uang, Bu Laila hanya tersenyum."Wah, anak Ibu yang paling cantik. Terima kasih, ya, uangnya."Arini biasanya hanya tersenyum."Iya, Bu."Tidak ada pertanyaan tentang dari mana uang itu.Tidak ada pertanyaan kenapa Arini sering pulang larut malam.Bagi Bu Laila, selama Arini membantu kebutuhan rumah, ia memilih tidak ikut campur.Berbeda dengan Arlina.Semakin lama, Arlina justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Arini kembali keluar rumah.Arlina yang masih terjaga langsung bangun.Ia melihat dari balik jendela ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Arlina akhirnya masuk ke kamarnya.Namun rasa penasaran membuatnya sulit tidur.Ia terus memikirkan kejadian di lampu merah tadi.Perempuan yang dilihatnya memang sangat mirip dengan Arini.Begitu juga pria yang duduk di sampingnya.Ada sesuatu yang terasa familiar.Tetapi Arlina belum bisa mengingatnya.Di kamar sebelah, Arini juga belum tidur.Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.Sebuah pesan baru masuk.Arini membacanya sebentar, lalu langsung menghapusnya.Ia meletakkan ponsel di atas meja.Wajahnya terlihat gelisah.Sementara itu, Fahri yang tidur di ruang depan ternyata masih terjaga.Ia mendengar suara pintu kamar Arini tertutup.Fahri membuka matanya.Ia teringat ucapan Laila tentang Arini yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga.Fahri lalu melihat ke arah kamar adiknya."Kerja apa sebenarnya dia?"Ia menguap dan kembali berbaring.Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel Arini.Fahri tidak terlalu memperdulikannya.Hingga su
Laila akhirnya masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya. Hanya telur dadar, tumis sayur, dan sedikit sambal.Ia meletakkan piring itu di hadapan Fahri."Sudah, makan dulu."Fahri tidak banyak bicara. Ia langsung mengambil nasi dan mulai makan.Rasa lapar yang sejak tadi ditahannya membuat Fahri makan dengan lahap. Meski lauknya sederhana, ia tidak mempermasalahkannya.Laila memperhatikan dari samping."Jangan cuma tahu makan. Besok cari kerja."Fahri masih mengunyah."Iya, iya, Bu. Bisa diam nggak?"Laila langsung melotot."Dasar anak nggak tahu diri."Fahri hanya menghela napas dan kembali menyendok nasi.Beberapa saat kemudian, ia menatap ibunya."Oh iya, Bu.""Hm?""Kalian dapat uang dari mana?"Laila mengernyit."Maksudmu?""Rumah memang sederhana, tapi kelihatannya kebutuhan masih bisa jalan."Fahri kembali memasukkan nasi ke mulut."Arini kerja," jawab Laila singkat."Dia yang banyak membantu kebutuhan rumah."Fahri berhenti meng
Zidan perlahan kembali masuk ke kamar.Lampu kamar masih menyala redup. Khalisa masih membelakanginya, tubuhnya terdiam di balik selimut.Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Setelah berbicara dengan Nadya, ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak ia mengerti tentang istrinya.Ia kemudian naik ke tempat tidur.Perlahan, Zidan mendekat dan memeluk Khalisa dari belakang.Tubuh Khalisa sempat menegang.Namun hanya beberapa detik.Setelah itu ia kembali diam.Tidak menolak.Tidak pula membalas pelukan tersebut.Zidan merapatkan pelukannya.Tangannya hanya melingkar lembut di pinggang Khalisa.Ia tidak mengatakan apa-apa.Malam itu, untuk pertama kalinya, Zidan memilih diam dan membiarkan Khalisa dengan perasaannya sendiri.Khalisa memejamkan mata.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir.Namun kali ini ia tidak mengusapnya.Entah kenapa, pelukan Zidan membuat pertahanannya sedikit runtuh.Ia tahu suaminya tidak bersalah.Ia tahu Zidan tidak melakukan apa pun
Zidan akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia tidak ingin terus membangunkan Khalisa dengan pertanyaan yang sama. Perempuan itu jelas sedang tidak ingin bicara. Zidan keluar dari kamar dan duduk di teras. Udara malam di desa terasa dingin. Suara jangkrik terdengar dari sekitar rumah, sementara lampu-lampu rumah warga terlihat samar dari kejauhan. Zidan menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikirannya masih tertuju pada Khalisa. Sejak mereka meninggalkan restoran tadi, sikap istrinya berubah. Awalnya Zidan mengira Khalisa hanya memikirkan masalah toko. Tetapi semakin ia mengingat kejadian sepanjang perjalanan, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak ia pahami. Khalisa tidak biasanya seperti itu. Kalau sedang kesal karena sesuatu, biasanya perempuan itu akan mengatakan dengan jelas. Tetapi kali ini tidak. Ia hanya diam. Menjawab seperlunya. Bahkan ketika Zidan menawarkan untuk mengganti kerugian toko, Khalisa tetap tidak menunjukkan ketertarikan. Zidan mengusap
Fahri keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Udara sore menyambutnya dingin, tapi dadanya jauh lebih beku.Di depan ruang rawat, ia berhenti sebentar.“Rin,” ucapnya lirih pada Arini. “Kamu temani Nayla ya. Jangan tinggalin dia.”Arini mengangguk cepat, matanya masih sembap. “Iya, Kak. Tena
Nayla menatap Fahri dengan kening berkerut. Nada suaranya naik, penuh heran.“Kenapa balik lagi, Mas?” tanyanya. “Bukannya mau langsung ke tempat Khalisa, terus bebaskan ibu?”Fahri menghela napas panjang. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu berhenti di dekat jendela.“Duitn
Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di p
Ruang sidang itu kembali dipenuhi udara tegang.Khalisa Azzahra duduk tegak di kursinya. Hari itu penampilannya berbeda—bukan berlebihan, tapi rapi, anggun, dan tenang. Hijabnya tersampir sederhana, wajahnya terlihat lebih cerah, seolah luka-luka yang kemarin dipaksakan untuk sembuh kini berubah me







