Share

21. Perdebatan

last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-28 09:49:54

Khalisa berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka lebar. Ia menatap rak-rak kosong itu cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang terlewat oleh matanya. Padahal ia ingat betul, kemarin malam ia masih menyusun camilan—pudding, roti, beberapa kotak makanan ringan—semuanya ia simpan rapi.

Pintu kulkas ia tutup perlahan.

“Loh… kok kosong,” ucapnya lirih, lebih heran daripada marah.

Bu Rina yang duduk di kursi langsung menoleh. Ia tidak perlu bertanya. Wajahnya mengeras, lalu ia bersuara—kali i
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 95. Adit datang

    Hening menggantung di antara mereka. Khalisa menatap Tami dengan mata yang masih basah. Dadanya naik turun, menahan sisa tangis yang belum sepenuhnya reda. “Siapa, Tan?” tanyanya pelan. Ada rasa penasaran… tapi juga ketakutan. Tami tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Khalisa lebih dalam, seolah ingin memastikan sesuatu. “Kalau Tante bilang sekarang…” ucapnya hati-hati, “apa kamu sudah siap menerimanya?” Pertanyaan itu membuat Khalisa terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Ia menunduk. Jari-jarinya saling bertaut, menggenggam satu sama lain seolah mencari kekuatan. “Hm…” ia menghela napas pelan. “Beri aku waktu, Tan…” Suaranya lirih, tapi jelas. Tami terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Namun matanya tetap menyimpan kegelisahan. “Jangan lama-lama, Nak…” ucapnya pelan. Nada suaranya berubah—lebih dalam, lebih jujur. “Tante… gak selamanya bisa tinggal sama kamu.” Khalisa langsung mengangkat wajahnya. Ada keterkejutan di sana. Tami tersenyum tipis, me

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 94. Siapa dia

    Suaranya nyaris tak terdengar. Tatapannya berpindah ke arah Tami, seolah mencari penjelasan… mencari alasan.Tami menatapnya lembut, meski ada kegugupan yang tak bisa disembunyikan.“Iya, Nak…” ucapnya hati-hati. “Kami cuma ingin kamu bahagia.”Khalisa menunduk. Roti di tangannya perlahan ia letakkan kembali ke piring.Pagi yang tadi terasa hangat, tiba-tiba berubah. Bukan menjadi dingin… tapi terasa berat.Di dalam dadanya, sesuatu bergerak—kenangan, rasa takut, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.Ia menarik napas pelan.“Kenapa… tiba-tiba, Tante?” tanyanya lirih.Yono tidak langsung menjawab. Ia menatap Khalisa sejenak, lalu berkata pelan,“Karena kamu gak bisa terus sendiri, Nak.”Khalisa tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari sebelumnya—tipis dan rapuh.“Sendiri… gak selalu buruk, Om,” ucapnya pelan, meski suaranya terdengar goyah.Tami menggeleng kecil.“Bukan itu maksud kami. Kami hanya ingin ada orang yang menjaga kamu… yang benar-benar tulus.”Khalisa terdiam. Tatapannya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 93. Menikah?

    Malam itu berjalan pelan.Televisi menyala di ruang tengah, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka perhatikan.Tami duduk di sofa, tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh ke mana-mana.Yono duduk di sampingnya, bersandar tenang. Sesekali matanya melirik ke arah tangga.Seolah memastikan Khalisa benar-benar sudah beristirahat.Suasana hening beberapa saat.Hanya suara televisi yang mengisi ruangan.“Apa sudah waktunya, Pah… kita kasih tahu Khalisa?” suara Tami akhirnya memecah keheningan.Pelan.Penuh keraguan.Yono tidak langsung menjawab.Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Jangan tunggu lama, Ma,” jawabnya tenang. “Nanti keburu gak sesuai rencana.”Tami menoleh.Ada kegelisahan yang jelas terlihat di wajahnya.“Aku masih takut, Pah…” ucapnya lirih. “Kalau Khalisa nolak… dan akhirnya semua malah berantakan.”Yono menatap istrinya.Lama.Seolah mencoba menenangkan tanpa harus banyak kata.“Kita gak maks

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 92. Perhatian

    Setelah melayani pelanggan dan merapikan barang di toko hingga sore, Khalisa akhirnya pulang. Ia menyetir sendiri. Jalanan terasa biasa saja, tapi pikirannya penuh. Lelah… bukan hanya fisik, tapi juga hati. Semua kejadian hari itu seperti berputar ulang di kepalanya—Adit, Kayla, dan Zidan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mobilnya perlahan masuk ke halaman rumah. Begitu turun, langkahnya terhenti. Halaman rumah terlihat rapi. Rumput dipotong pendek, tanaman tersusun indah. “Wah… indah sekali,” celetuknya pelan. Di sudut halaman, Yono sedang merapikan sisa potongan rumput. Khalisa langsung menghampiri. “Ya ampun, Om… gak usah repot-repot potong rumput,” ucapnya dengan senyum yang mulai mengembang. Perasaan hangat perlahan muncul. Seperti… punya orang tua lagi di rumah ini. Yono menoleh dan tersenyum. “Gak apa-apa. Biar enak dilihat,” jawabnya santai. “Sana masuk, bersihin diri dulu. Om beresin ini sebentar lagi.” “Baik, Om,” jawab

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 91. Menjauh

    Zidan berdiri di samping ibunya, tetapi perhatiannya justru tertuju pada ponselnya.Jari-jarinya sibuk mengetik, sesekali menatap layar dengan serius.Seolah urusan di dalam layar itu lebih penting dari apa pun di sekitarnya.“Yang itu aja, Nak. Ibu sudah suka,” ucap wanita tua itu lembut.Khalisa tersenyum kecil, lalu segera mengambil baju yang ditunjuk.“Oh iya, Bu,” jawabnya ramah sambil mendekat.Ia menyerahkan baju itu dengan hati-hati.Sekilas, Khalisa melirik ke arah Zidan.Namun pria itu masih saja fokus pada ponselnya.Tidak memperhatikan sama sekali.Khalisa sedikit mengernyit, tapi tidak mengatakan apa-apa.“Nah, yang ini cocok dengan usia Ibu,” lanjut wanita itu lagi sambil memperhatikan bahan baju di tangannya.Khalisa mengangguk.“Iya, Bu. Bahannya juga nyaman dipakai,” jelasnya.Wanita itu tersenyum puas.“Bagus. Ibu ambil ini saja.”Khalisa mengangguk lagi.“Baik, Bu. Saya siapkan ya.”Ia berbalik menuju meja kasir.Sementara itu, Zidan akhirnya menurunkan ponselnya.T

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 90. Kamu pilihanku

    “Kayla! Apa-apaan sih kamu ke sini?”Suara Adit terdengar keras begitu ia mendekat.Langkahnya cepat, wajahnya terlihat jelas menahan emosi.Kayla menoleh dengan tatapan tidak kalah tajam.“Itu urusan aku, Dit,” balasnya dingin. “Lagipula kamu ngapain ke sini lagi? Mau aku laporin kamu ke mama kamu?”Adit menghela napas keras, mencoba menahan kesabarannya.“Cukup, Kay,” ucapnya tegas. “Sekarang kamu pulang. Kamu sudah mengganggu ketenangan Khalisa dan juga Tante Rina.”Kayla tersenyum sinis.Namun sebelum ia sempat membalas lagi—“Pulang!” bentak Adit.Suasana di depan toko langsung sunyi.Beberapa orang yang tadi memperhatikan bahkan langsung berpura-pura berjalan seperti biasa.Kayla menatap Adit dengan wajah kesal.Tatapannya kemudian beralih pada Khalisa.Ada kemarahan yang jelas terlihat di matanya.Namun pada akhirnya ia berbalik.Langkahnya cepat menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.Beberapa detik kemudian mobil itu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana yang tadi p

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 80. Makan bersama

    Khalisa akhirnya menggeleng pelan.“Tapi maaf, Dit. Aku mau sendiri hari ini,” jelasnya lembut.Adit mendesah kecil. “Hmm… nggak bisa banget ya?”Khalisa tersenyum tipis. “Nggak.”Adit menggaruk tengkuknya, lalu pura-pura baru ingat sesuatu. “Oh iya, Lis. Aku sebenarnya mau ngajak kamu ke rumahku m

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 79. Kehadiran Adit

    Dua hari setelah kejadian di depan toko itu, bayangan wajah Fahri yang penuh amarah masih terlintas di benak Adit. Bukan karena takut. Tapi karena ia melihat sendiri bagaimana Khalisa berdiri sendirian menghadapi masa lalunya—tanpa gemetar, tanpa berlindung di balik siapa pun. Itu membuatnya semakin

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 78. Penyesalan

    Malam itu seperti menolak selesai.Tangis Nafa menggema di kamar sempit itu, memantul di dinding-dinding yang sejak awal tak pernah benar-benar hangat. Nayla berdiri dengan tubuh masih gemetar. Bekas operasi terasa perih, tapi hatinya jauh lebih sakit daripada luka di perutnya.“Sudah, Nak… Ibu di

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 77. Perdebatan

    Beberapa hari kemudian, setelah urusan rumah sakit dan jaminan biaya selesai, Nayla dan bayi itu akhirnya dibawa pulang. Rumah yang dulu terasa biasa saja kini terasa sempit. Pengap. Penuh bisik-bisik tak terlihat. Nayla duduk di sofa dengan tubuh masih lemah. Luka operasi belum kering benar. Ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status