Share

Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku
Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku
Author: Molista

Bab. 1

Author: Molista
last update publish date: 2026-06-30 15:41:23

Tiga tahun pernikahan, ternyata hubunganku dengan David diuji oleh orang ketiga. Aku tidak langsung marah saat mendengar tentang perselingkuhannya, karena aku tidak mau membuang tenaga secara sia-sia hanya untuk seorang pengkhianat.

Selama dua bulan ini, Faris membantuku menyelidiki siapa wanita yang kini menjadi simpanan suamiku itu. Dan saat Faris mendapatkan informasi yang aku inginkan… ia itu tak langsung memberitahu. Aku sempat marah, tapi pria kepercayaan ayahku itu memberikan alasan yang bisa aku terima. 

Faris ingin aku mengontrol emosiku. Dia tak ingin aku langsung membabi buta, lalu melakukan hal yang mungkin justru merugikanku. Dia ingin aku menghadapi masalah ini dengan tenang agar tak salah mengambil langkah.

>>>>

“Apa kamu ingin melindungi wanita itu, Faris? Atau kamu juga tertarik dengannya?” tanyaku saat itu, tapi Faris tak menjawab pertanyaanku dan justru diam menatapku dengan tenang

“Cepat beri tahu aku siapa wanita itu, agar aku bisa segera memberi mereka pelajaran atas hal menjijikan ini,” ucapku lagi.

“Nona, saya tahu anda sedang marah, tapi keputusan yang diselimuti amarah hanya akan menambah masalah. Dan jika tuan Abraham tahu tentang ini… Beliau akan sangat kecewa.”

“Lalu apa kamu ingin aku membiarkan mereka terus berhubungan di belakangku?! Kamu ingin wanita itu merebut David dariku?! Apa kamu ingin aku membiarkan itu terjadi, hah?!”

Aku bahkan berbicara dengan nada tinggi pada Faris, karena sangkin kesalnya aku padanya yang berusaha menutupi siapa wanita itu. Bahkan aku sempat mengira jika ia bersekongkol dengan mereka.

“Bukan begitu, Nona. Saya hanya ingin anda menyelesaikan masalah ini tanpa emosi.”

Aku tertawa pelan. Tawa getir karena jawaban Faris. “Apa kamu ada di pihak mereka?” tanyaku.

“Nona, saya tidak akan berkhianat pada Tuan Abraham untuk selalu melindungi Anda. Tapi jika saya memberitahu pada anda sekarang, apa anda yakin tidak akan melakukan kesalahan yang mungkin membuat tuan Abraham turun tangan?”

Aku diam sejenak, dan Faris kembali bicara.

“Nona, ini semua demi kebaikan anda.”

“Cih! Alasan saja. Kalau kamu benar-benar setia sama Papa, sekarang beritahu aku, siapa wanita itu? Aku janji tidak akan loss control”

“Apa yang akan Anda lakukan jika sudah mengetahuinya?”

Aku kembali diam sebelum menjawab. Aku sangat paham Faris, dia tidak akan memberitahuku jika aku tidak menjawab pertanyaannya, sesuai dengan keinginannya.

“Aku akan memberi pelajaran padanya hingga ia menyesal seumur hidup, dengan caraku.”

Faris pergi dari ruanganku setelah mendapat jawaban. Dan itu benar-benar membuat aku sangat kesal. Aku bahkan hampir melempar vas bunga di mejaku, sebelum punggungnya menghilang dari balik pintu. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Karena jika aku terus memaksanya untuk memberitahuku, maka yang ada dia akan mengadu pada ayahku.

Aku menunggu beberapa hari hingga hati dan pikiranku sedikit tenang, barulah Faris memberi tahuku tentang wanita itu.

Aku tak sabar menunggu, tapi saat apa yang aku tunggu datang, aku justru merasa takut. Takut akan kenyataan yang mungkin akan lebih menyakitkan dari sebelumnya.

“Berjanjilah anda tidak akan lepas kontrol setelah mengetahuinya,” ucap Faris saat memberikan sebuah amplop coklat padaku.

Aku hanya melirik tajam, dan langsung mengambil amplop itu cepat dari tangan Faris. Kadang sikap Faris membuat aku muak dan ingin memecatnya. Andai saja Papa tidak memaksaku untuk membiarkan Faris ada di dekatku…

Aku menghela nafas, lalu membuka amplop coklat itu. Dan… mataku terbelalak melihat isi di dalamnya.

“Ini…,” aku menatap Faris dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dia benar-benar mengkhianatiku? Dan wanita ini…” tanyaku. Suaraku mulai bergetar. Amarahku benar-benar membakar dada.

Aku kembali menatap foto itu. Menatap foto suamiku dengan wanita yang ternyata cukup aku kenal. 

“Anda sudah berjanji untuk tenang, Nona.”

Aku menatap Faris. Ya, aku sudah berjanji untuk mengontrol amarahku jika dia memberitahuku. Aku sudah berjanji untuk tetap tenang, dan aku tidak mungkin melanggarnya. Aku meremas kuat foto-foto itu, lalu melemparnya diatas meja hingga ada beberapa yang terjatuh. 

Aku kembali duduk di kursi, menundukan wajah dan mulai menangis. Aku bisa mengontrol amarahku, tapi tidak dengan kekecewaan yang begitu melukai hatiku.

Tiga tahun pernikahan. Aku berusaha menunjukan ketulusanku pada David. Aku berusaha melakukan yang terbaik untuk karirnya, tapi nyatanya….

Kenyataan ini terlalu menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. 

“Nona Caroline,” suara Faris terdengar memanggilku. 

Aku yang sedang menangis hanya diam tanpa merespon panggilan itu. Aku melirik ke arahnya. Ia mengambil beberapa lembar foto di lantai yang yang terjatuh, saat aku lempar di meja tadi. 

Ia menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan di meja kerjaku. “Untuk apa Anda menangisinya?” tanyanya.

Aku menoleh ke arahnya perlahan. “Kamu bertanya kenapa aku menangisinya? Apa aku tidak boleh menangis dengan apa yang sudah David dan wanita itu lakukan padaku?”

Faris tak menjawab. Ia hanya menatapku setelah menghela nafas, lalu kembali merapikan foto-foto itu ke dalam amplop coklat.

“Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa tiga tahun pernikahan ini tidak ada artinya sama sekali baginya? Kenapa ketulusan dan kesetiaanku justru ia khianati? Kenapa?” tanyaku pelan dengan air mata yang kembali menetes.

Faris menatapku tanpa kata-kata, lalu perlahan mendekat. ia berlutut hanya agar bisa menatapku dengan posisi yang nyaman. 

“Anda wanita kuat, Nona. Anda tidak akan lemah hanya karena pengkhianatannya, kan? Tunjukan jika anda adalah orang berkelas, yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini dengan cara elegan. Tunjukan jika Anda bukanlah orang yang akan mempertahankan sebuah sampah.”

Aku pun menatapnya. Meski dia hanya seorang ajudan, tapi dia selalu menenangkanku setiap kali aku ada masalah dengan suamiku. Dia selalu berusaha agar rumah tanggaku baik-baik saja. Dan tak jarang suamiku meminta saran padanya, cara membujukku saat aku marah.

Tapi untuk masalah saat ini… Faris tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya memintaku untuk menjadi wanita kuat.

“Kamu benar, aku bukan wanita lemah. Aku tidak akan terpuruk hanya karena sebuah pengkhianatan. Jika mereka ingin bermain api, maka aku akan membuat mereka terbakar oleh api yang mereka mainkan.” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.31

    Senyum Rian benar-benar hilang, terlebih ia melihat kekasih adiknya justru bersama teman lamanya. Ia menatap Faris penuh selidik.“Maaf, saya rasa anda sudah salah paham. Bahkan saya tidak mengenal anda, ataupun adik anda,” ucap Faris. Ia masih berdiri tenang menatap Rian.“Kamu tidak mengenal adikku?” Rian menggeleng pelan sambil menghela nafas. “Maya akan tersakiti jika dia mendengarnya, Faris.”“Maya?” tanya Caroline memastikan.“Ya, Maya, adikku.”“Tunggu, Maya adik anda?” Faris ikut bertanya.“Tentu saja, dan kemarin kamu menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat,” sahut Rian.“Tapi Maya bukan pacar saya,” bantah Faris.Rian melipat kedua tangannya. tatapannya berubah penuh kekesalan pada Faris. “Jangan bilang sekarang kamu mau pura-pura tidak punya pacar hanya karena datang ke reuni bersama Caroline.”“Saya tidak pura-pura. Saya memang tidak—”“Faris,” potong Caroline. Ia tahu jika ia tetap merahasiakan siapa Faris sebenarnya, masalahnya pasti akan runyam. “Kemarin kamu bilang pa

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.30

    Caroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.29

    “Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.28

    Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.27

    Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.26

    Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status