แชร์

Bab. 2

ผู้เขียน: Molista
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-30 15:42:02

Sudah hampir satu bulan semenjak aku mengetahui pengkhianatan suamiku, yang bermain di belakangku. Faris memaksaku untuk terus bersabar dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Anehnya aku menurut apa yang seorang ajudan katakan, hingga akhirnya aku terbiasa untuk berpura-pura. 

Atau mungkin aku sanggup melakukannya karena perasaanku pada David yang sudah hilang saat itu juga? Sekarang aku bukan lagi wanita yang bucin seperti bulan lalu. Aku juga bukan lagi seorang istri penurut apa kata suami, hingga percaya semua kebohongannya.

>>>>>>

Notifikasi ponselku tiba-tiba berbunyi saat aku menikmati sarapanku. Aku meraih ponsel di atas meja, lalu tersenyum tipis ketika nama yang muncul di layar terlihat.

Doggy Si Pelakor.

Ya, aku sengaja memberi nama itu di daftar kontak ponselku, untuk wanita selingkuhan suamiku. Bagaimana, bukankah itu nama yang bagus untuk wanita tidak tahu mau?

Aku tidak tahu darimana dan bagaimana ia mendapatkan nomor ponselku, tapi itu cukup menguntungkan bagiku, karena akhirnya aku bisa bermain-main dengannya.

Aku tahu namanya Vanessa. Salah satu staf di tempat usaha keluarga kami. Sebuah perusahaan furnitur yang kadang mengharuskannya keluar kota untuk mengecek suplai barang atau bertemu klien. 

Wanita itu cukup cantik. Tipe yang tahu bagaimana cara menarik perhatian pria, dan pantas menjadi seorang pelakor tidak tahu malu.

Dan semenjak Faris memberitahuku tentang siapa pelakor itu, aku pun mulai menyusun rencana agar permainan yang mereka mainkan berada di bawah kendaliku.

Menyimpan nomornya memang menyebalkan. Tapi aku punya cara sendiri menghadapi wanita seperti dia. Kalau dia suka bermain api, kenapa tidak sekalian kita ajak bermain mainan yang menarik, iya kan?

Aku membuka pesannya. Seperti biasa, foto tanpa wajah. Seolah ingin menghancurkan rumah tanggaku, tapi tetap bersembunyi di balik bayangan.

Lucu. Dia pikir aku bodoh hingga terjebak dalam permainannya. Padahal bagiku, anjing di rumah tetangga saja masih lebih pintar darinya.

Aku menatap foto itu. Dua tangan saling menggenggam. Terlihat manis dan romantis… kalau saja aku tidak mengenali tangan itu. Yupz, tangan siapa lagi kalau bukan tangan David – suamiku.

Tapi bukan itu yang ingin dia pamerkan. Melainkan cincin emas yang melingkar di jarinya. Modelnya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan. Kisaran belasan juta, mungkin.

Aku tidak merasa kesal, aku justru hampir tertawa melihatnya. Terlebih setiap kali aku ingat pesan Faris, agar aku membalik permainan mereka. Dan yupzzz, aku mulai menikmati permainan ini.

Aku kembali menatap layar ponselku. Di bawahnya, ada pesan panjang dari si pelakor.

>>> “Lihat ini. Suamimu membelikannya untukku sebagai tanda maaf karena kemarin malam dia tidak jadi datang untuk makan malam yang aku siapkan di rumah. Aku tahu, kamu yang melarangnya, kan? Kamu ingin suamimu itu tetap ada di sampingmu, dan menjauhiku. Sayangnya kamu gagal, karena ternyata usahamu justru membuatnya semakin lengket padaku.

Dia selalu punya cara menebus kesalahannya. Malam ini dia janji akan mengajakku makan malam. Katanya tempatnya bagus, suasananya romantis. Dan… dia juga bilang akan kasih sesuatu lagi buatku.” <<<

Aku menyandarkan punggung, menahan senyum yang mulai terasa geli di bibirku.

Mereka mau makan malam romantis? Bahkan aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali aku  makan malam berdua dengan David, dengan suasana yang romantis. Aku menatap layar beberapa detik, lalu mulai mengetik.

>>> “Ah, cuma cincin emas. Itu hanya…” <<<

Jariku berhenti. Aku menghapusnya karena tiba-tiba aku teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, suamiku memberiku sebuah kalung berlian kecil. Tidak besar, tidak mencolok. Tapi aku tahu harganya tidak murah. Sekitar tiga puluh jutaan.

Aku membuka galeri, mencari foto kalung itu. Tentu saja aku sempat memotretnya, sekadar iseng saat membuka kotak kecil yang diberikan David malam itu. Atau lebih tepatnya, agar aku bisa menunjukan ekspresi bahagia atas hadiah yang ia berikan.

Ketemu. Aku kirim foto itu. Karena aku malas mengetik, jadi aku melakukan voice note.

“Syukurlah. Tapi kenapa kamu tidak sekalian minta yang lebih bagus dan lebih mahal dari itu? Lihatlah, dia baru saja memberiku ini. Katanya sih cuma oleh-oleh dari luar kota. Aku juga tidak tahu kenapa dia memilih yang seperti ini. Apa mungkin karena dia tahu aku tidak suka yang terlalu mencolok? Ternyata dia begitu mengerti seleraku.

Oh ya, waktu itu dia pergi sendiri, kan? Atau… sama kamu dan kamu yang memilih kalung ini untukku?”

Aku berhenti sejenak, lalu mengirimkan emoji tertawa. Dan kembali membuat voice note.

“Kenapa aku merasa jika kamu yang memang membantunya memilih benda ini untukku?” Aku menghela nafas sebelum melanjutkan. “Tapi ya sudahlah. Mau kamu yang pilih atau bukan, yang penting sekarang kalun ini tetap jadi milikku. Terima kasih, ya. Kalau memang kamu ikut bantu memilih. Jarang-jarang loh, ada pelakor yang mau bantu beli hadiah untuk istri sah kekasihnya.”

Beres dan aku langsung mengirimnya. Aku kembali mengirimkan emoji ketawa dengan lidah yang menjulur dan mata mengerling. Tidak hanya satu, tapi lebih dari 20 emoji itu. Aku yakin pesanku pasti sangat menjengkelkan baginya, tapi aku tak peduli karena memang itu yang aku inginkan.

Aku kembali tersenyum mengingat saat minggu lalu suamiku keluar kota. kata Faris, saat itu mereka tidak bersama. Suamiku memang sempat bertemu Vanesa sebelum keluar kota, tapi hanya sebentar dan dia tidak membawa wanita itu bersamanya.

Jadi, biar saja dia berpikir. Biar saja dia panas sendiri.

Tak butuh waktu lama, tanda “dibaca” muncul. Dia sedang mengetik. Aku tersenyum sambil menunggu.

“Selamat pagi, sayang,” sapa David sambil mengecup pipiku.

Aku terkejut. Terlebih layar ponselku masih menyala saat ia menciumku tadi. Aku panik dan buru-buru mematikan layar ponselku. Apa dia sempat melihatnya…?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.26

    Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.25

    "Vanessa!” Suara David terdengar berat dan sedikit tinggi, membuat seluruh tamu di ruangan ikut menoleh.“Sayang, apa kamu akan mengejar Caroline dan memintanya untuk tetap bertahan? Kamu nggak akan meninggalkan aku, kan” tanya Vanessa yang belum menyadari jika saat ini David tengah marah padanya.David tak menjawab, tapi tatapan tajamnya membuat Vanessa tahu jika semua tidak baik-baik saja.“Jelaskan ini,” ucap David sambil memberikan ponselnya pada Vanessa, agar wanita itu melihat sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.Vanessa bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel David dan segera melihatnya. Ia terlihat mulai panik saat video mulai di putar, lalu menatap ke arah David dengan bibir bergetar."Sa-sayang, kamu jangan percaya video ini. Ini…, ini hanya editan. Aku tidak mungkin melakukan ini."David merebut ponselnya. "Editan? Kamu bilang ini editan?"Vanessa buru-buru mengangguk. "Iya. Mereka pasti sengaja menjebakku agar kamu membenciku. Dan.., dan anak ini, anak ini adalah a

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.24

    Vanessa mengangkat pecahan gelas itu tinggi-tinggi. Wajahnya dipenuhi amarah. Matanya memerah, napasnya memburu. Ia melangkah cepat ke arah Caroline."Vanessa! Hentikan!" teriak ayahnya.Namun wanita itu sudah tak mampu berpikir jernih. "Semua ini gara-gara kamu!" teriaknya sambil mengayunkan pecahan gelas itu ke arah Caroline.Caroline merasa takut dan berusaha menghindar, tapi detik itu juga Faris segera pasang badan untuknya. Faris berdiri tepat di hadapan Caroline, dan tangannya dengan cepat menahan tangan Vanessa."Kamu benar-benar mencari masalah baru,” ucap Faris pelan tapi terdengar berat.Vanessa mencoba mendorong tubuh Faris, tetapi pria itu sama sekali tidak bergeming. "Menyingkir dari hadapanku!" bentaknya.Faris tak memberi reaksi, hanya tatapan datar ke arah Vanessa."Dia menghancurkan acaraku! Dia menghancurkan hidupku! Semuanya!"Faris menekan pergelangan tangan Vanessa hingga wanita itu meringis kesakitan, dan akhirnya melepaskan pecahan gelas itu. Lalu dengan kasar

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.23

    Semua orang menoleh ke arah suara itu. Terutama Vanessa. Senyum di bibirnya seketika hilang saat melihat siapa yang berani mengganggu acaranya.Tatapan mata tajam, dan tangannya pun mengepal kuat. “Lina, bukankah kemarin kamu bilang nggak akan datang ke sini?” tanyanya.Lina tersenyum, lalu berhenti di tengah aula. Ia menghela nafas sebelum memberikan jawaban. “Aku dengar akan ada pertunjukan seru, jadi aku putuskan untuk datang.”“Pertunjukan apa maksudmu?” tanya Vanessa bingung.Lina mengangkat bahunya, lalu ia menatap sekeliling. Ia mencari keberadaan Nadia, dan saat ia melihat wanita itu, Lina pun langsung tersenyum sambil melambaikan tangan. “Kak Nadia, tolong souvenir titipan dari bos milliadernya di bagikan, ya!”Nadia sempat bingung, karena Caroline tak memberitahunya tentang hal ini. Namun detik itu juga ia menerima pesan dari Caroline, yang memintanya untuk mengikuti arahan Lina.“Apa mungkin Caroline mengenal wanita itu?” tanya Daren.“Aku nggak tahu, tapi Caroline sudah me

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.22

    Ia menarik napas panjang sebelum mengambil ponselnya, lalu mengatur nada suaranya. Setelah memastikan terdengar sedikit serak seperti baru bangun tidur, ia mengangkat panggilan itu."Halo Sayang?""Kamu sudah tidur?” tanya Carolin dalam sambungannya. Suaranya terdengar lembut seperti biasa.“Hm.” Sementara David dengan suara malasnya, seakan ia benar-benar baru bangun tidur.“Maaf kalau aku membangunkanmu. Soalnya aku susah tidur, kepikiran kamu terus nggak kayak biasanya.”"Nggak kok, sayang. Aku memang baru saja ketiduran setelah selesai mandi, tapi aku nggak merasa keganggu sedikitpun. Aku malah senang kamu telepon karena kepikiran aku."“Di sini hujan terus dari sore, makannya aku kangen banget sama kamu. Di Surabaya hujan nggak, sayang”Jantung David seakan berhenti berdetak sesaat. Surabaya? Ia bahkan sama sekali tidak berada di Surabaya seperti yang ia katakan pada Caroline sebelumnya. Sekarang ia sedang berada di rumah keluarga Vanessa, di sebuah kawasan Bogor.Beberapa detik

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.21

    Vanessa mondar-mandir di ambang pintu rumahnya menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sesekali ia melihat waktu di layar ponselnya dengan perasaan gelisah.“Kenapa dia tidak datang-datang? apa istrinya menahannya?” gumamnya pelan.“Kamu yakin dia akan datang?” tanya seoerang wanita dari belakangnya.Vanessa menoleh. “David pasti akan datang. Dia tidak akan membohongiku,” jawab Vanessa angkuh.“Oh, tapi kita sudah lama menunggu, loh? Nanti kalau ternyata calon suamimu yang kaya itu nggak jadi datang, gimana?”Vanessa menghela nafas. Ia merasa kesal dengan nada bicara dan tatapan dari sepupunya itu. “Lin, sebaiknya kamu masuk dan bantu ibumu cuci piring bekas kalian makan, daripada ganggu aku.”“Ck, galak amat sih,” ucap Lina yang langsung melangkah pergi. Vanessa menatapnya dengan kesal.‘Kalau saja kamu bukan saudara ibu yang sombong, nggak bakal aku undang kamu kemari untuk lihat calon suamiku yang akan membungkam mulut julidmu itu,’ batin Vanessa.Tak berapa lama suara mobil be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status