Share

Bab 2 Madu yang Pahit

Penulis: Dhesu Nurill
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-09 16:49:04

Lusi kembali menjerit di depan Raka. 

Akan tetapi, pria itu tetap bergeming.

Tatapan Lusi teralihkan pada sahabat yang sekarang sudah menjadi musuhnya. Padahal, dia menyayangi Mila seperti saudara sendiri. Namun, malah air tuba yang Mila balas untuk susu yang telah Lusi berikan.

Senyum itu, kini tampak menjijikkan di mata Lusi. Mila masih saja tersenyum walaupun sudah ia hina. Mungkin urat malunya sudah putus sampai Mila dengan bangga mengakui kehamilan hasil dari perselingkuhan. 

Luar biasa sekali.

"Untuk kamu! Aku baru tahu kalau kamu ternyata cuma seorang jalang!"

Wajah Mila seketika berubah. Ada kemarahan yang mulai terlihat di rautnya. Entah kenapa, itu justru membuat rasa sakit Lusi pelan-pelan tersamarkan.

"Aku memberimu kepercayaaan, tapi malah disalahgunakan. Aku tidak tahu kalau selama ini kamu hanyalah barang murahan!"

Kali ini ekspresi dua orang itu menegang. Mungkin tidak menyangka jika seorang Lusi bisa mengeluarkan kata-kata pedas dan menohok.

"Kalau memang kamu mau Mas Raka, ambillah! Tapi, kamu lupa sesuatu." Lusi menyeringai. "Dia ... bukan apa-apa tanpaku." Ucapan Lusi sukses membuat wajah Raka berubah pasi.

Mila terlihat bingung dan kesal mendengar perkataan perempuan di hadapannya, dan itu membuat hatinya bergejolak hebat. 

Ada bara api yang berkobar di dalam dada Lusi. Membuat lukanya kian terbakar. 

Ini dendam. 

"Ingat, Mas. Kalau kamu mau menikahi dia, talak aku dulu! Tapi, sebelum itu, akan kubuat kalian menderita. Camkan itu!"

Lusi mengatakan hal itu dengan hati yang berapi-api. 'Kalian salah sudah membuat masalah denganku. Aku memang pendiam dan penyabar, tapi saat kemarahan mencapai ubun-ubun, kalian tak akan tahu betapa menyeramkannya kemarahan orang penyabar.' 

Sumpah serapah pun diikrarkan dalam hati Lusi.

***

Lusi menangis sejadi-jadinya, tapi sengaja ditutupi dengan bantal. Kamarnya sengaja dikunci karena dia meyakini jika Raka akan menyusul. Untunglah Alia--anak mereka--masih sekolah, jadi Lusi bisa meluapkan emosi yang begitu menyesakkan saat ini.

Entah berapa lama Lusi menangis. Hingga tiba-tiba terdengar ketukan pintu menginterupsi. Dia yang sudah kelelahan menangis hanya bisa termenung tanpa pergerakan apa pun.

Suara Raka terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu. Lusi langsung bangkit dan membuka pintu. Dia menumpahkan kesakitan yang sudah tertoreh.

"Apa ini, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Lusi kepada pria yang masih mengaku sebagai suaminya itu. "Kupikir, selama ini kita baik-baik saja. Kupikir, kamu pria baik-baik yang menjaga rumah tangga kita. Tapi, kamu tega menusukku dari belakang! Aku tidak mengerti, apa yang membuatmu berkhianat, Mas? Apa salahku?!" tuntut Lusi.

"Kamu tidak salah apa pun, aku yang salah. Aku yang berengsek. Tapi, kumohon jangan tinggalkan aku dan terimalah Mila sebagai madumu," terang Raka lirih, tapi itu membuat jantung Lusi tersentak.

Dengan cepat Lusi menarik kedua tangannya dari genggaman Raka. 

Pria itu terlihat kaget akan reaksi istrinya.

"Menerima Mila sebagai maduku? Hah, lelucon apa yang sedang kalian mainkan, heh?!" Lusi mundur selangkah, menelusuri penampilan Raka yang masih rapi, tapi tidak dengan wajah itu.

Ada gurat sesal dan lelah yang tergambar jelas. Mungkin sebelum mengetahui Raka selingkuh, Lusi akan memanjakannya dengan segudang perhatian. Namun, kali ini dia tidak sudi hanya untuk sekedar menawarkan minum.

"Tidak, Lus. Aku serius. Aku hanya ingin pengertianmu. Aku harus menikahi dia, tapi juga tidak bisa menceraikanmu," ujarnya membuat Lusi tertawa.

Raka menatap Lusi bingung. Tetapi, wanita itu terus tertawa dengan rasa sakit yang menggerogoti hati. Kenapa sebagian pria selalu serakah seperti ini? Mereka tega menyakiti, tapi tidak mau melepaskan. Bajingan.

"Baik sekali kamu, Mas. Saking baiknya, kamu menawarkan madu yang terasa pahit. Maaf saja, aku menolak!" seru Lusi tegas.

Raka langsung menggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali meraih tangan Lusi dengan paksa. Lusi mencoba menolak, tapi tenaganya kalah oleh pria itu.

Namun demikian, Lusi tidak patah arang. Dia tetap berusaha melepaskan diri dari Raka, sampai tiba-tiba Raka menarik istrinya ke dalam pelukan, begitu erat sampai Lusi tak bisa bergerak.

"Jangan. Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku mengaku salah, aku brengsek, aku bodoh. Tapi, aku tak berdaya. Maaf sudah mengkhianatimu. Tolong, beri aku waktu untuk menyelesaikan semua masalahku dengan Mila. Aku hanya butuh kesabaranmu, Lus."

Bibir Lusi bergetar mendengar permintaan Raka. Egois, semua kalimat yang diucapkan laki-laki itu adalah keegoisannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara  Raka dan Mila, tapi mendengarnya berkata seperti itu, dipastikan ada masalah yang menyebabkan mereka harus bersama.

Namun, Lusi tidak peduli. Terlepas dari itu semua, dia terlanjur sakit hati. Apa pun penjelasan yang akan Raka berikan, tetap tak ada pengkhianatan yang bisa dibenarkan.

Hancur, semua sudah hancur. Tak akan ada lagi yang sama meskipun sudah diperbaiki. Nalar Lusi masih belum bisa mencerna tentang kejadian hari ini. 

Dia tak bisa memaklumi penyebab  mereka berselingkuh. Jadi, untuk apa Lusi memberi kesempatan pada orang yang sudah melukai hatinya? Jawabannya tentu saja tidak.

"Cukup, Mas. Kita berpisah saja."

"Tidak, Lus. Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu," ujar  Raka tetap bersikukuh.

Dia menarik tangan Lusi untuk duduk di kasur. Tatapannya begitu dalam dan panuh arti, tapi Lusi berusaha tidak memedulikannya.

Hati wanita itu terlalu sakit untuk melihat wajah sialan milik Raka. Suami yang dikira surga, ternyata neraka yang ditutupi wajah kepalsuan. Dia tertipu oleh sikap manisnya selama ini.

Teman-teman Lusi banyak memuji keromantisannya dengan Raka, mereka mengatakan iri. Hanya Mila seorang yang bersikap biasa dan tak pernah membahas tentang rumah tangga mereka. Tetapi, Mila selalu mempertanyakan keseharian Lusi pada Bu Nur, tetangga sebelah rumah yang kebetulan kenal dengan Mila.

Lusi kira Mila adalah teman yang tidak suka membahas masalah pribadi. Ternyata, dia menaruh dengki padanya hingga akhirnya musibah ini terjadi.

Tak pernah dikira, bahkan di mimpi sekalipun kalau Raka berani main belakang, dengan temannya sendiri pula. Kata orang, Lusi cantik, putih dan ideal. Bahkan mereka mengatakan kalau Raka beruntung beristrikan dirinya.

Namun, kenapa semua itu tidak seperti menyataannya? Apa salahnya diri Lusi? Apa kurangnya dia selama ini, sampai suaminya tega berkhianat? Pertanyaan itu membuat Lusi stres.

"Lus, dengar!"

Lusi tersentak dari lamunan kala  Raka berseru dan menggenggam tangannya dengan erat. Sorot mata memohon itu membuat Lusi muak. Jika ini bukan masalah perselingkuhan, dia akan memaafkan kesalahannya. Apa pun itu.

Lantas, apa yang akan Raka lakukan agar Lusi percaya padanya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Alika Nayla
gak lus jangan mau deh di kasih madu, apalagi madunya sahabat sendiri,udah gak bakalan bener itu mah
goodnovel comment avatar
Rani Saidah
jadi ikut sedih dan terbawa emosi
goodnovel comment avatar
Fifi Irawati
sedih kalau baca novel beginj
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 701 Bersilat Lidah

    Maura melihat ke sekeliling. Ruangan ini cukup rapi untuk ukuran kantor yang isinya penuh dengan pakaian. Tetapi, bukan itu tujuan utama Maura datang ke sini. Dia hanya mengedarkan pandangan, memeriksa apakah kantor ini benar-benar sebuah kantor atau hanya tempat Mila untuk melakukan hal kejahatan."Ternyata tempat ini rapi juga, ya. Aku enggak nyangka Mbak Mila bisa seresik ini," ucap Maura, membuat Raka tergelak."Tentu saja, karena di sini ada OB yang membereskan semuanya. Di rumah juga, kalau bukan karena Bibi, dia pasti tidak akan beres-beres," sahut Raka.Semua ini sesuai dengan kenyataan. Sewaktu Maura dan Mila satu rumah dulu pun, Mila memang tidak mau menyentuh pekerjaan rumah. Selalu saja Maura yang dijadikan babu gratisan di rumahnya sendiri. Tentu saja itu karena dia tidak pernah dianggap oleh ayah mereka, yang tidak lain adalah ayah tiri Maura."Baiklah, Mas. Aku tidak berniat untuk berkomentar. Langsung saja, aku datang ke sini untuk melamar pekerjaan," ucap Maura tanpa

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 700 Malah Terpojok

    Saat melangkah keluar, Raka melihat ada Sari dan juga Maura. Pria itu sempat tersentak karena tiba-tiba saja wanita ini ada di depan ruangannya. "Maura, kamu ngapain di sini?"Melihat kehadiran Raka yang ada di belakangnya, Maura terkesiap. Namun, amarahnya kembali meletup. Sambil menunjuk-nunjuk wajah Sari, ia berseru, "Mas, kamu yang bener aja, dong! Masa mempekerjakan wanita yang sembarangan kayak gini? Mulutnya itu tidak bisa dijaga. Sama orang baru saja seperti ini!"Mendengar Maura memanggil "Mas" kepada Raka, Sari semakin yakin kalau wanita ini adalah simpanan bosnya. "Loh, saya tidak sembarangan! Kamu memang orang yang tidak diharapkan di sini. Apalagi kalau bukan wanita penggoda yang tiba-tiba saja datang dan sembarangan mau masuk ke ruang bos kami?" ujar Sari, masih membela diri.Mendengar itu, Raka malah kaget. Dia melihat Sari dengan tatapan tajam. "Apa maksud kamu dia wanita penggoda?" tanya Raka, membuat Sari terdiam. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering mendeng

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 699 Perkenalan Anti-Mainstream

    Maura langsung menoleh dan alisnya bertautan melihat siapa yang tiba-tiba saja menepuk pundaknya dan bertanya dengan nada ketus. "Siapa, ya?" tanya Maura dengan gelagat biasa saja, tidak menunjukkan rasa penasaran yang terlalu berarti. "Loh, harusnya aku yang tanya, kamu siapa?! Kenapa tiba-tiba saja ada di depan ruangan bos kami?" Dari perkataan itu, Maura sudah menyimpulkan kalau yang di depannya ini adalah karyawannya Raka dan Mila. Maura menyunggingkan senyuman miring sembari melipat tangan di depan dada. Dia lalu melihat name tag yang terpasang di baju karyawan milik orang itu, Sari. "Sari." Senior yang selalu saja ingin terlihat menonjol dan tidak mau terkalahkan oleh siapapun. Beruntung Imel saat itu tidak berurusan dengan Sari, dan ditarik langsung oleh Mila untuk bekerja secara pribadi di rumah. Entah bagaimana jadinya kalau Imel berurusan dengan orang yang seperti ini. "Sari, kamu karyawan di sini, ya?" Mendengar pertanyaan itu, Sari malah merasa kesal. Bukannya menja

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 698 Mulai Tak Nyaman

    Melihat gelagat Imel yang tampak bingung, Maura menautkan kedua alis. Aneh aja jika tiba-tiba gadis itu bersikap seperti kaget dan bingung. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" "Ah, nggak. Nggak apa-apa. Aku cuma agak kaget aja. Kenapa tiba-tiba Mbak mau kerja di sini?""Ya, memang salah?" "Nggak sih, nggak salah. Cuman nggak seperti biasanya." Maura menghela napas panjang. "Tidak seperti biasanya, karena kamu belum pernah lihat aku ke sini, begitu? Padahal aku serumah sama pemiliknya, loh." Imel menganggukkan kepala. Dia langsung melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek barang yang akan dikirim. Melihat sikap gadis itu yang terlihat cuek, Maura melipat tangan di depan dada dengan mata sinis."Kenapa kamu cuek padaku?" "Apa? Bukan, Mbak. Bukan seperti itu, tapi aku kan sedang kerja. Kalau sampai ada satu data yang hilang, takutnya Pak Raka malah marah-marah sama saya," ungkap Imel memberi penjelasan. Padahal sebenarnya dia malas saja berurusan dengan wanita ini. Meskipun dia t

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 697 Cara Kotor

    Saat ini, Maura sedang menuju butik Mila. Awalnya dia ingin pergi ke supermarket milik Winda, tetapi mengingat kalau dia sudah diperlakukan tidak baik dan dipecat secara sepihak, membuat wanita itu yakin kalau Winda tidak mungkin akan menerimanya kembali. Jadi, cara satu-satunya adalah mengukuhkan niat dan tujuannya untuk mengambil hak yang harus dipunya, yaitu sebagian harta milik Mila. Namun, sekarang bagaimana caranya dia agar Raka mau menerimanya di sana? Kalau Maura sampai terang-terangan akan mengambil hak secara penuh atas harta Mila, dia yakin Raka bisa mempunyai 100 atau bahkan 1000 cara untuk menjatuhkannya. Pria itu materialistis, dia juga bergantung hidup kepada wanita kaya, jadi sudah dipastikan kalau mereka tidak mau begitu saja memberikan haknya kepada Maura. Apalagi selama ini dia sudah membohongi Raka tentang identitas diri. Yang ada pria itu akan balas dendam dan lebih menyakitinya. "Nggak! Pokoknya aku harus susun rencana rapi. Mungkin dengan menjadi karyawan di

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 696 Tiga Pemikiran

    Selama perjalanan keluar dari rumah megah itu, Mila tidak bersuara. Dia mengikuti apa saja yang dilakukan oleh David dan juga Aldo. Wanita itu dituntun oleh Aldo untuk masuk ke mobil, lagi-lagi Mila hanya diam. Dia masih ketakutan jika tiba-tiba saja David melakukan kekerasan lagi kepadanya. Yang dipikirkannya kali ini adalah sang bayi.Saat kejadian tadi, bayinya terus saja meronta-rontak dalam perut. Mungkin ikut merasakan kalau ibunya sedang ketakutan. Selama perjalanan itu pula tak ada yang bersuara, mereka bertiga fokus ke depan.Mila berada di jok belakang sendirian, sementara Aldo menyetir dan David di sebelah pria itu. Mereka bertiga sama-sama sedang bergelut dengan pemikirannya masing-masing.David sendiri berpikir apakah benar apa yang dikatakan oleh Mila, kalau Lusi bisa membencinya jika tahu masa lalu David? Dia begitu buruk, tapi David tidak bisa menyalahkan atau mengubah masa lalu yang sudah terjadi. Yang ada dia hanya bisa memperbaiki dan berusaha untuk tetap menjadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status