Masuk
"Gimana Pak Ustadz? Apa Pak Ustadz setuju kami meminang Nak Alesha untuk anak kami, Fatih?"
'Gila! Gila! Gila! Ini beneran Gila!' jerit seorang perempuan dari balik pintu rumah sambil gigit kain sarung. Perempuan itu mengerut kening ketika pulang bermain, ralat, lebih tepatnya baru selesai nyolong mangga orang dengan anak kampung sebelah. Kerudung hitam yang di atas kepala sudah kusut dan kotor. Blus selutut yang acak-acakan. Tidak lupa kain sarung yang sudah bertengger di sebelah bahu. Bawahannya hanya celana tidur. Bukan celana legging atau celana longgar. Perempuan itu lebih suka pakai celana tidur dibanding celana lain. Lebih praktis. Pulang bisa langsung tidur. Tidak perlu mandi. Mandi hanya saat tercium wangi tak enak dari tubuhnya. Baginya mandi adalah pemborosan. Boros artinya dosa. Dosa artinya masuk neraka. Kembali lagi saat ini, melihat mobil Pak Kyai pemilik Pesantren tempatnya belajar, sekaligus tempat Bapak dan Abangnya mengajar, kakinya otomatis berlari secepat kilat ke arah pintu rumah. Lalu nempel di tembok samping pintu masuk. Dia sudah hafal mobil dan plat nomor mobil tersebut di luar kepala. ‘Mobil calon ayah mertua atuh,’ kekeh gadis itu dalam hati. Kyai sangat jarang pergi ke rumah mereka. Hanya saat ada acara tertentu atau hal penting saja. Itupun hanya sendiri. Tidak beserta dengan istrinya. Oleh karena itu dia menguping pembicaraan Kyai bersama istrinya dengan kedua orang tua dan juga abang semata wayang yang tak disayang. Begitu namanya dan nama Fatih disebut, jantung gadis ini seakan ingin melompat ke balikpapan. Alias masuk ke dalam rumah, bukan ke kuburan. Dia masih ingin hidup bersama anak Kyai dan memiliki sebelas anak. Sesuai jumlah satu tim salah satu hobinya, sepak bola. Bukan tim catur, otaknya tidak jalan dalam berpikir. Macet, sekaligus mesinnya mati. Siapa orang yang tidak senang dilamar oleh Kyai untuk dijadikan menantu. Di mana anaknya Kyai yang bernama Fatih merupakan incarannya dan juga incaran seluruh santri di pesantren. Fatih sudah resmi dicap sebelah pihak oleh kaum hawa sebagai calon suami idaman sekebon. Alias idaman santri secara rame-rame. Bukan hanya oleh santri saja. Para ibu-ibu juga tidak kalah. Catat, bukan dijadikan suami, tapi menantu. Fatih merupakan hafiz muda dengan sikap bagaikan malaikat. Tidak pernah bersikap kasar dan selalu menjunjung tinggi agama. Apalagi dia sebagai seorang Gus penerus Pesantren yang memiliki ribuan santriwan dan santriwati. Ditambah wajahnya yang tampan rupawan bagaikan bakwan, maksudnya sesegar sayur, enak dan sehat. Kulit putih bersih bagaikan tepung. Hangat bagai mentari karena masih hidup bukan digoreng. Lalu lembut bagaikan sutra karena bukan adonan semen. Bagi siapapun yang bisa mendapatkannya, maka sangat beruntung. Termasuk gadis yang masih nempel di tembok ini yang sangat mendambakan Fatih meski sikapnya berlawanan. Cewek barbar yang tomboy meskipun berpenampilan santri. Tidak jarang berkelahi, terutama dengan anak cowok. Tidak kenal takut. Kecuali ulat bulu yang bikin gatal. Kandidat terakhir yang kemungkinan berjodoh dengan Fatih berdasarkan perhitungan santri. Kandidat pertama dan saingan terbesar santri masih di luar negeri. Jadi mereka mengambil kesempatan itu untuk berusaha menarik perhatian Kyai karena Fatih jarang ke Pesantren karena sambung S2. "Bagaimana Pak Ustadz? Apa Pak Ustadz setuju kami meminang Nak Alesha untuk anak kami, Fatih" ulang Kyai sekali lagi. 'Argh! Ini benar-benar gila. Apa aku nggak salah dengar. Tunggu, aku kan nggak tuli. Buktinya aku dengar Kyai melamarku,' batin Alesha bergelut dengan diri sendiri. Perempuan yang dimaksud Pak Kyai. 'He he he …. pasti para santri akan cemburu sama aku. Berani-beraninya mereka buat aku jadi kandidat terakhir. Sekarang aku yang akan menikah dengan Fatih. Fatih akan menjadi milikku.' Alesha cengengesan sambil memeluk tembok. Masih menempel erat seperti cicak. Jika ada orang yang lewat pasti dikira orang gila. 'Oh Tuhan, apakah ini balasan atas kesabaran hamba yang setipis tisu. Rasanya hamba siap mati sekarang.' jerit Alesha gemes sambil memukul tembok tanpa suara agar tidak didengar orang yang berada di dalam rumah. 'Eh, nggak dulu deh Tuhan. Kalau hamba mati sekarang, bagaimana hamba menikah dengan Abang Fatih. Abang Fatih bisa jadi duda tanpa nikah dong,' ralat Alesha setelah menyadari doanya kecepatan. Mati sebelum ini itu dengan Fatih. "Apa, Pak Ustadz tidak setuju," ulang Nyai Nur Aisyah, istri Kyai Hasyim Maulana. 'Tentu, dengan senang hati mereka akan meneri …' "Maaf Pak Kyai, saya tidak setuju." Anggukan Alesha sontak terhenti mendengar jawaban dari Muzammil, Abang kandungnya. Abang yang tau jika dia sangat menyukai Fatih. Tapi kenapa ada kata penolakan. 'What? What is your name!' Ucap Alesha yang tidak pandai bahasa inggris. Jadi asal sebut saja. Itu pun harus dipelajari selama beberapa bulan. Orang lain yang mendengar penolakan Muzammil juga tidak kalah terkejut seperti Alesha. Namun tidak berlebihan sepertinya. Penolakan yang sama sekali tidak terduga. "Muzammil, apa maksud kamu?" tanya Ustadz Ahmad Husein, ayah Alesha. "Iya, Nak Muzammil. Kenapa kamu menolak lamaran kami?" tanya Kyai penasaran. Setau mereka Muzammil cukup dengan anaknya. Mereka berteman dengan baik sejak kecil sampai Fatih kuliah di ibukota. Mereka seumuran dan teman sepermainan. Meskipun Muzammil merupakan Ustadz di pesantrennya, tapi Muzammil sudah dianggap anak sendiri oleh Kyai. Saat pertemuan seperti ini Kyai lebih nyaman memanggil dengan sebutan Nak dibandingkan dengan kata Ustadz. "Maaf, tapi saya benar-benar keberatan Kyai," sahut Muzammil meremas kain sarung yang dikenakan. "Apa Kyai boleh tau alasan lebih jelasnya? Kamu ini teman baik Fatih. Kamu pasti lebih mengenal Fatih dibandingkan dengan siapapun." Muzammil terdiam. Masih jelas dalam ingatannya ketika pergi ke ibukota beberapa bulan yang lalu karena ada urusan. Dengan mata sendiri dia melihat Fatih masuk ke dalam diskotik sambil berpelukan dengan perempuan yang berpakaian minim. Muzammil tidak pernah bercerita kepada siapapun karena dia sendiri masih tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dia juga tidak mungkin masuk ke sana untuk memastikan apakah itu benar orang yang dikenal atau bukan. Jika itu bukan Fatih, maka itu akan menjadi fitnah. Firasatnya juga mengatakan jika Fatih seperti menyembunyikan sesuatu. Sejak kuliah di ibukota aura Fatih terlihat berbeda. Penampilan sama namun pancaran sinar tubuh terasa ada yang ganjal. Bagaimanapun, Muzammil sangat menyayangi adiknya. Meskipun Alesha suka buat onar dan cari masalah. Jadi, dia ingin agar sang adik menikah dengan laki-laki yang baik. Jangan sampai rumah tangganya kandas di tengah jalan. "Itu … sebenarnya …." "Bang Muzammil tidak berhak mengambil keputusan. Alesha hanya mau nikah dengan Bang Fatih! Titik nggak pakek seru!" Alesha menerobos masuk. Tanpa babibu dia langsung nimbrung. Tidak peduli jika terlihat tidak sopan di depan Kyai dan Nyai. Calon suami masa depannya hampir lepas. "Alesha!" tegur Ustadz Ahmad atas sikap tidak sopan sang anak. "Bapak! Bapak kan tau Alesha sangaaaat suka Bang Fatih. Alesha hanya mau dinikahkan dengan Bang Fatih, Bapak!" rengek Alesha mode manja ketika menginginkan sesuatu. Tidak lupa butiran-butiran asin mulai turun setelah matanya sedikit diunyel-unyel. Biar air mata keluar untuk lebih menyakinkan. Bapaknya lemah dengan air mata badaknya. "Alesha!" seru Ustadz Ahmad melemah. Hal paling menyakitkan dalam hidupnya melihat air mata Alesha meskipun palsu. "Saya tetap tidak setuju, Bapak! Bapak jangan tertipu lagi dengan air mata palsu Alesha " seru Muzammil sebelum ayahnya luluh dengan Alesha. 'Cih! Bang Muzammil sudah tidak bisa ditipu lagi. Gimana ini? Bagaimana jika Bapak setuju dengan Bang Muzammil. Bisa gagal aku memiliki tim sepak bola dengan Bang Fatih,' decak Alesha dibalik bahu Ustadz Ahmad. Bersambung ….“Bella, dengerin aku. Sejak awal aku membiarkan kamu tinggal di sini karena kamu sudah menyelamatkan aku. Sekarang aku tidak bisa menerima kamu di sini lagi.”“Kamu yang bilang aku bisa tinggal di sini sampai kamu selesai kuliah.”“Iya, saat itu aku memang bilang seperti itu. Namun sekarang kondisinya sudah berubah. Aku sudah menikah.”“Jadi karena perempuan itu kamu ngusir aku. Dia pasti menjelek-jelekan aku selama aku nggak bersama kamu.”“Siapa yang jelek-jelekin kamu. Dasarnya aja kamu sudah jelek.”“Kamu sudah berani sama aku.”“Bella, cukup!” tegur Fatih sebelum mereka memulai masalah baru.“Kamu lebih membela dia dari aku?”“Sudah sewajarnya. Alesha adalah istriku. Apa aku salah membela dia?’“Fatih, kenapa kamu berubah seperti ini. Ini bukan Fatih yang kukenal.”Bella melembutkan suara. Bukan saatnya dia menaikkan ego. Fatih tidak bisa dipaksa dengan kekerasan.“Bukan aku yang berubah Bella, tapi aku sudah kembali kepada aku yang dulu. Fatih sebelum kita bertemu.”“Terus aku b
“Assalamualaikum Gus Fatih, Alesha,” sapa Arafah dan Zainab.Arafah dan Zainab sontak melihat ke arah yang memanggil nama mereka. Mereka masih bisa melihat gerak gerik Alesha di dalam mobil. Tanpa dipanggil dua kali mereka mendekat.“Waalaikumsalam,” sahut Alesha dan Fatih berbarengan. “Bang Fatih, aku mau ngomong sama mereka sebentar ya. Sebelum kita pergi. Kumohon. Nanti kami jarang ketemu,” mohon Alesha.“Iya, jangan lama-lama.”Fatih tidak mungkin setega itu. Apa salahnya jika hanya sebentar. Asal nanti mereka tidak bertemu dengan yang lain saja. Kapan bisa sampai jika setiap ketemu orang berhenti.Alesha melepas kembali sabuk pengaman. Lalu keluar dari mobil menghampiri kedua temannya. Biar lebih enak ngomong daripada dia duduk d mobil dan kedua temannya berdiri diluar.“Kamu mau ke mana sama Gus Fatih?” tanya Arafah melirik sekilas ke arah dalam mobil.“Kami mau berangkat ke kota.”“Ke kota lagi? Baru kamu kemarin kamu tiba,” ujar Zainab. “Iya, soalnya kemarin ada sedikit mas
*** Mereka semua duduk di ruang tamu. Posisinya seperti kemarin. Bedanya, kali ini ada Alesha yang duduk antara kedua orang tuanya yang berhadapan dengan Nyai dan Kyai. Sedangkan Fatih dan Muzammil duduk berhadapan. “Kita langsung saja. Tidak perlu basa basi,” ujar Ustadz Ahmad buka suara. “Kami juga setuju,” sahut Nyai. “Fatih, ayo katakan keputusan kalian,” suruh Ustadz Ahmad. “Sebelumnya saya benar-benar minta maaf kepada semuanya. Terutama kepada Alesha.” Semua mengangguk memaafkan kesalahan Fatih. Terutama Alesha yang mengangguk paling semangat. Sampai ditepuk paha oleh sang ibu. Peringatan jika mereka sedang serius. Bukan bercanda. “Saya sudah berpikir ulang dan juga berkompromi dengan Alesha. Pernikahan kami adalah pernikahan perjodohan, sehingga kami belum mengenal satu sama lain dengan baik. Oleh karena itu, selama saya kuliah di kota selama satu lagi, kami berdua berencana untuk memulai kehidupan baru. Memulai semua dari awal.” “Syukurlah jika itu keputusan kalian.
“Bagaimana Nak Fatih?” “Sudah mendingan Bu.” Fatih menggerakkan kaki yang sudah diurut Ibu mertua. Sekarang kondisi kaki tidak sesakit tadi. Sudah berkurang meski belum bisa digunakan untuk jalan normal. “Pinggangnya bagaimana? Apa mau Ibu urut juga nggak?” tarar Yasmin. “Nggak usah Bu. Pinggang nggak seberapa sakit,” bohong Fatih. Urut kaki masih bisa dimaklumi. Tapi jika urut pinggang sedikit kurang sopan, agak privasi. Mana ada Alesha yang masih ngintip yang nempel di tembok. “Lebih baik Fatih malam ini tidur di kamar aku aja,” ujat Muzammil kasihan melihat sahabat. Baru malam pertama menginap di sini Fatih sudah sakit pinggang. Kaki dibikin terkilir. Seperti firasat Fatih sangat kuat. Dia sudah memohon untuk tidur di kamarnya. “Lah, nggak bisa gitu. Fatih kan suami aku. Bukan suami Abang,” protes Alesha melepaskan tembok dan menghadap sang abang. “Kamu mau apain suami kamu lagi. Tahu kini, tadi Abang biarkan Fatih tidur di kamar Abang sejak kamu nyanyi nggak jelas di dal
*** Kembali beberapa menit yang lalu Fatih masuk ke dalam kamar dengan pasrah. Dilihatnya sang istri yang sudah mengeringkan rambut. Di dalam kamar tidak ada kursi selain kursi yang diduduki oleh Alesha untuk berhias. Oleh karena itu dia langsung duduk di atas kasur. Tidak mungkin kan dia lesehan di lantai yang dingin. Fatih menghela nafas berat. Semoga saja malam ini dia bisa tidur dengan aman. Tanpa gangguan dari …. “Bang Fatih kenapa?” tanya Alesha berjalan ke arah Fatih. “Nggak apa-apa. Aku cuma capek aja.” “Bagaimana kalau aku pijit,” tawar Alesha mempraktekkan pijat dengan kedua tangan. “Nggak, nggak usah. Aku mau tidur aja,” tolak Fatih langsung berbaring di atas kasur. Alesha segera berputar ke arah sisi kasur satu lagi. Lalu naik ke atas tempat tidur. Duduk di atas dua kaki menghadap Fatih yang berbaring. “Aku pandai pijit loh. Pijit plus plus juga bisa,” bujuk Alesha. “Nggak mau. Kamu jangan pikir macam-macam. Aku capek. Aku mau istirahat,” tolak Fatih menarik se
Di dalam kamar mandi seorang perempuan membersihkan tubuh sambil bersenandung. Suara air keran tidak bisa mendengar suara jelas dari luar. Seolah suaranya juga tidak bisa terdengar orang lain. “Malam ini ~. Malam yang kutunggu ~. Tidur bersama ~. Bersama Bang Fatih ~. Yeahhh ~. Malam ini ~. Bang Fatih nginap ~. Nginap bersama ~. Bersama akuuuhhh ~. Malam ini ~. Mandi yang bersih ~. Sebersih cinta ~. Cintaku ke Bang Fatih ~. Malam ini ~. Aku ingin ~. Ingin begini begitu dengan Bang Fatih ~~. Yeahhhhhhh.” “Kamu sudah selesai mandi,” ejek Muzammil duduk di meja makan melihat sang adik yang baru keluar dari kamar mandi. Sudah berganti pakaian dengan handuk di atas kepala. Alesha di rumah sesekali tidak menggunakan kerudung. Tidak ada yang bukan mahram. Jati tidak ada masalah. “Apaan sih. Orang lagi enak-enak mandi juga,” sewot Alesha mengusap rambut dengan handuk. “Sambil nyanyi tidak ndak jelas. Kayak suaranya bagus aja,” ujar Muzammil mengambil segelas air. “Suka-suka aku dong. Mu







