Se connecter"Kalau Alesha nggak nikah dengan Bang Fatih, mending Alesha menjadi perempuan tua saja. Alesha mau melajang seumur hidup dan tinggal sendiri di dalam hutan," ancam Alesha. Muka dibuat-buat segalak mungkin. Mata di micingkan tajam sampai berdenyut. Rasanya sedikit perih. Namun masih ditahan demi anak sebelas.
"Alesha, sana kamu masuk dulu Nak. Apa kamu gak malu sama Pak Kyai dan Nyai," tegur Yasmin, ibu kandung Alesha. Pasrah dengan sikap anak gadis yang tak lebih seperti anak TK. Yasmin menghela nafas kecil dengan sikap kekanakan sang anak. Meskipun Alesha tomboy dan barbar, pikirannya masih kekanakan. Bertolak belakang dengan Fatih yang sangat dewasa. "Bang Fatih nya, Bu?" tanya Alesha sendu. Ibunya orang yang paling tidak bisa dilawan. Senakal-nakalnya dia takut dikutuk jadi kutu. Sudah tidak jaman jadi batu. "Kamu masuk dulu ya Nak. Kamu patuh sama Bapak dan Ibu," bujuk Yasmin dengan suara lembut. Suara lembut yang bisa mencairkan keras kepala Alesha. "Iya deh," jawab Alesha pasrah dengan kedua bahu turun lemas. Alesha berjalan dengan lesu. Ketika matanya bertemu dengan kedua mata sang Abang, langkahnya menjadi terhenti. "Awas saja kalau Alesha gagal nikah. Tak doain Abang tak nikah-nikah. Cintanya juga bertepuk sebelah kaki," ejek Alesha menjulurkan lidah. "Alesha!" tegur Yasmin tidak suka dengan perkataan sang anak gadis. Alesha segera melengos pergi masuk ke dalam setelah pamit pada Kyai dan Nyai dengan senyum terbaiknya. Bagaimanapun mereka adalah calon mertuanya. Jadi harus bersikap ramah walaupun sudah terlanjur berbuat tidak sopan. "Jadi bagaimana, Ustadz. Apakah lamaran kami diterima atau ditolak?" tanya Kyai untuk memastikan lagi. Kyai juga sudah mengenal bagaimana sifat Alesha. Sifat Alesha apa adanya seperti itu yang membuat dia lebih menonjol dibanding santri lain. Tidak ada kebohongan, kepuraan dan kesombongan. Dibalik sikap yang bar-bar dan bersikap semaunya, Kyai tahu jika Alesha merupakan anak yang baik dan tulus dalam pergaulan. Tidak menyeleweng dari ajaran agama. Tidak seperti …. "Muzammil, apa kamu masih keberatan dengan lamaran ini. jika keberatan, kamu harus berikan penjelasan yang jelas agar kami bisa menerima keputusan kamu," ujar Ustadz Ahmad membuyarkan pikiran sang Kyai. "Terserah Bapak saja. Intinya Muzammil sudah memperingati Bapak. Jika anak itu kekeh mau nikah dengan Fatih, dia harus siap menerima Fatih dari di luar dan dalam dari hal yang tidak diketahui," sahut Muzammil. Muzammil menyerahkan semua keputusan ditangan Bapak dan Adiknya. Alesha juga berhak memilih siapa calon suaminya. Jika memang ada yang disembunyikan oleh Fatih, Alesha harus bisa menerima semua itu. Kecurigaannya juga belum terbukti. "Jangankan luar dan dalam, bagian tengah-tengah Alesha juga ikhlas menerimanya!" sambung Alesha dengan suara menggema. Dari dalam kamar dia masih menguping pembicaraan lamaran tersebut. Bisa mati berdiri jika lamaran tersebut ditolak. Mereka sonta melirik ke arah pintu kamar Alesha yang terlihat dari ruang tamu. "Anak itu bikin malu saja. Maaf ya Pak Kyai dan Nyai," ujar Yasmin malu dengan dengan sikap tak tahu malu sangat anak. "Iya, tidak apa-apa Ustazah. Namanya juga anak muda. Jiwanya masih menggelora," sahut Nyai Aisyah terkekeh pelan. Sama dengan Kyai, Nyai juga menyukai sikap Alesha. "Jadi, keputusannya bagaimana?" tanya Kyai penuh harap bisa meminang Alesha untuk anaknya. "Pak Kyai dan Bu Nyai lihat bagaimana respon Alesha. Kami bisa buat apa. Sebagai orang tua, kami ingin terbaik untuk anak kami. Kami juga sudah kenal bagaimana anak Pak Kyai dan Nyai dengan baik," sahut Ustadz Ahmad tersenyum hangat. "Syukurlah. Berarti kalian menerima pinangan kami," ucapan Kyai lega. Sang Nyai juga tidak kalah lega lamaran tersebut diterima. "Yes! Yes! Yes! Nikah dengan Bang Fatih! Nikah dengan Bang Fatih! Bang Fatih, i love you babeh!" teriak Alesha heboh. Loncat kegirangan Lagi-lagi kedua orang tua dan Muzammil malu di hadapan Kyai dan Nyai. Teriakan Alesha kini terdengar sampai keluar rumah. Diikuti dengan suara gedebak gedebuk. Yakin jika Alesha sedang melompat di atas kasur. Semoga saja kasurnya tidak patah. *** Dua bulan kemudian, Alesha dan Fatih melakukan ijab kabul di rumah pihak perempuan. Tanpa curiga sama sekali dengan proses akad nikah terlalu cepat. Pak Kyai menyakinkan agar hal baik jangan ditunda-tunda. Para santri yang mengetahui Alesha akan menikah dengan Fatih seketika hati mereka patah secara berjamaah seperti kerupuk. Mereka tidak setuju atas pernikahan tersebut. Ada beberapa santriwati yang dengan berani langsung protes ke Pak Kyai. Alesha tidak pantas-pantasnya dengan Fatih. Fatih bagaikan air yang tenang dan suci disandingkan dengan Alesha yang seperti minyak jelantah. Bagaikan langit dan tanah. Si putih bersih dengan sidebu kotor. Semua penolakan para santri dijawab tentang oleh Kyai. Menyakinkan jika Alesha memang perempuan yang baik untuh Fatih. Ditambah dengan selama ini Kyai sering menjodohkan para santri. Tidak sedikit para santriwati dan santriwan yang ingin dijodohkan oleh Pak Kyai. Perjodohan yang dipilih Pak Kyai memiliki rumah tangga yang damai. Belum pernah ada yang gagal. Semuanya hidup dengan damai dan tentram. Tidak jarang juga sifat pasangan yang dipilih bertolak belakang. *** "Alesha, pelet apa yang kamu pakai sampai kamu bisa nikah sama Gus Fatih," protes Arafah salah satu teman baik Alesha yang bertubuh sedikit kurus dan tinggi. "Iya tuh, kenapa pak Kyai malah pilih kamu sebagai istri Gus Fatih. Pelet mana yang bisa meluluhkan seorang Pak Kyai," tambah Zainab teman salah dua Alesha. Hanya mereka berdua yang bisa menerima dan terbiasa dengan Alesha. Beda dengan Arafah, tubuh Zainab lebih montok dan pendek. Dia suka makan dan malas gerak. "Hehehe rahasia dong!" jawab Alesha tertawa puas di balik gaun pengantin. Mereka bertiga saat ini sedang berada di dalam kamar Alesha atau kamar pengantin. Di luar kamar sedang proses ijab kabul. Mereka hanya menikah sederhana tanpa ada pesta pernikahan. Fatih menolak dilakukan acara besar. Alasannya karena dia masih sambung kuliah. Pestanya bisa diselenggarakan setelah selesai kuliah. Kyai dan Nyai sempat menolak tidak ada pesta pernikahan. Bagaimanapun Fatih merupakan anak satu-satunya mereka. Sudah sewajarnya mereka ingin menyelenggarakan pesta pernikahan dengan mengundang seluruh santri sebagai bentuk syukur. Namun Fatih segera memberi pilihan, jika ingin pesta diselenggarakan maka dia ingin menikah selesai kuliah. Karena tidak ada pilihan Kyai memilih menikahkan mereka dulu dan menyelenggarakan pesta pernikahan di masa mendatang. "Pelit amat sih." "Nanti kalian ikut-ikutan lagi pelet Pak Kyai." "Jadi beneran kamu pake pelet?" tanya mereka berdua dengan serius. Tadi mereka hanya bercanda. "Kenapa kalian jadi serius. Lagian mana ada orang yang berani pelet Pak Kyai. Boro-boro setan datang, baru Assalamualaikum setannya sudah Wassalam," decak Alesha dikira serius oleh temannya. "Yah kirain beneran. Mayan kan pelet Pak Kyai sekali lagi," canda Arafah dengan alis naik turun. "Mau nikung nih?" "Why tidak?" "Dasar anak set…." "Hut, calon pengantin nggak boleh mengumpat," tegur Zainab membungkam mulut Alesha dengan tisu agar make up tipisnya tidak rusak. "Oh aku lupa. Hari ini kan aku jadi peri. Vakum berteman dengan setan sejenak. Iyakan istri Bang Fatih yang cantik membahana di seluruh pesantren, Umuach," puji Alesha sambil memberikan kecupan manja ke arah cermin. "Iyuhhh!" Bersambung ….Si Bos pura-pura terbatuk. Dia terlalu fokus berdebat dengan ada buah. Sampai melupakan Alesha sebagai pihak yang mau diajak kerjasama. "Nah, karena itu kami ingin ajak kerjasama," ujar si bos kembali ke mode serius. "Kerjasama bagaimana?" tanya Alesha mengikuti pola pikir mereka. "Jadi, nanti kamu mengaku aja kalau kamu sudah diapa-apakan sama kami. Dengan begitu … " "Jadi, maksudnya aku harus bangga gitu telah dilecehkan," potong Alesha. "Ya bukan gitu juga. Ini kan demi kebaikan kamu juga." "Kebaikan apanya. Sekarang katakan siapa orang yang telah menyewa orang bodoh seperti kalian." "Hei! Jaga bicara kamu di depan bos kami. Jangan lancang sama bos kami." "Lancang?" tanya Alesha dengan pandangan menunduk. Berjalan ke arah mereka berempat. Kesabaran Alesha habis. Sudah sejak dari tadi dia menahan diri agar tidak terjadi kekerasan. Dengan gemas dia meremas kedua tangan sampai uratnya berbunyi. Kini dia sudah siap untuk menghajar mereka daripada mengajak mereka untuk bicara.
Di dalam ruangan, Alesha sudah tersadar dari efek obat bius. Sudah dari tadi dia berusaha untuk melepaskan diri. Namun hasil nya nihil. Ikatan sangat erat. 'Kenapa mereka menculik aku. Apa salah aku sama mereka.' Kriet. Alesha berhenti bergerak. Ketika suara pintu terdengar. Dia kembali duduk dengan tenang seolah masih belum sadar. Mengamati keadaan. Mana tau dapat petunjuk. "Ini dia," ujar Bos. Mereka bertujuh mengelilingi Alesha yang terikat di bangku. Dengan mata yang ditutupi oleh lain besar. Hampir menutupi sebagian wajah. "Kenapa kek tidak asing ya," bisik Aboy kepada Arka. "Iya. Kayaknya aku pernah lihat dia," tambah Wawan. Arka memperhatikan dengan seksama perempuan yang ada di depannya. Benar seperti kata Aboy dan Wawan, perempuan tersebut seperti tidak asing. "Apa yang kalian bisikan?" tanya si bos curiga. "Ngak ada bos," sahut Aboy gugup. "Bos, boleh kami lihat mukanya?" pinta Arka menunjuk ke arah Alesha. Ingin membuktikan apa perempuan yang ada di depannya oran
*** Alesha dibawa ke gudang kosong yang jauh dari pemukiman. Gudang yang terbengkalai. Tidak pernah ada lagi orang ke sana. Hanya mereka yang sering datang. Menjadikan tempat itu sebagai salah satu tempat markas. "Bawa dia masuk." "Oke bos." "Jangan lupa ikat dia. Nanti dia bisa kabur. Awas saja kalau dia kabur. Uang kita bisa melayang." "Bos tenang saja. Kami akan mengikatnya dengan baik. Ayo bawa dia." Mereka bertiga membawa Alesha ke ruangan di sebelahnya. Alesha diletakkan di atas kursi. Kemudian tubuhnya diikat menggunakan tali. Dari tangan hingga kaki. Setelah itu mereka kembali ke tempat tadi. Dimana bos berada. *** "Gimana? Sudah beres?" "Sudah bos." "Bos, apa bos yakin akan menerima pekerjaan ini?" tanya salah satu anak buah yang mengangkat tubuh Alesha. "Iya bos. Aku takut melakukan ini," sambung anak buah yang mengangkat tubuh Alesha satu lagi. "Udah, kalian jangan banyak tanya. Yang penting kita dapat banyak uang. Urusan itu serahkan sama aku. Aku tahu apa ya
"Alesha …." Alesha dan Furqan kompak melihat ke arah Fatih yang tiba muncul dan hampir memanggil nama Alesha. Fatih berhenti memanggil Alesha ketika menyadari yang dicari sedang bersama Furqan. Lantaran saat ini penampilannya seperti di kampus. Karena berjaga-jaga jika bertemu dengan teman-temannya. Tempat yang sering dikunjungi oleh mahasiswa. Bukan teman-teman malamnya. Furqan melirik secara bergantian antara Fatih dan Alesha. Sontak dia teringat kembali jika Alesha sudah menikah. Terutama dengan suami Alesha yang sedikit tidak asing. "Apa dia pacar kamu?" tanya Fatih menutupi kecurigaan Furqan dengan pura-pura tidak kenal dengan Alesha. Alesha memiringkan kepala. Kebingungan dengan pertanyaan Fatih. Dia adalah istrinya. Kenapa malah dia pacaran dengan orang di sampingnya. 'Kenapa Mas Fatih malah bilang aku pacarnya orang ini. Apa jangan-jangan orang ini kenal sama Mas Fatih ya,' tebak Alesha yang cepat peka dengan keadaan. "Bukan. Dia bukan pacar saya. Saya hanya bantu dia
"Jadi, hanya karena itu kamu marah lagi. Kamu jangan panik. Nanti kita kerjain balik.""Bukan hanya itu, tau.""Apalagi? Kok hidup kamu ribet amat.""Kamu tahu ibunya Fatih?""Nggak tuh," sahut Cindy cuek. Mana dia kenal kedua orang tua Fatih. Sama Fatih saja tidak akrab. Tau Fatih karena pacar Bella doang."Kamu yang serius dong," kata Bella naik pitam diabaikan."Aku beneran nggak kenal. Silahkan kamu lanjutkan omongan kamu," ucap Cindy duduk dengan tegak. Bella menatapnya dengan tajam. Tidak bercanda lagi."Jadi, dia ingin Alesha segera hamil. Jika sampai gadis tengik itu hamil, maka posisiku bisa terancam.""Iya sih. Kemungkinan besar kamu bisa ditinggal sama Fatih.""Oleh karena itu, aku sudah ada acara biar dia tidak mengandung anak Fatih," ujar Bella tersebut licik."Apa?" tanya Cindy penasaran."Akan aku buat dia mengandung anak orang lain.""Maksudnya kamu?""Aku akan menyewa orang agar gadis tengik itu hamil.""Apa kamu gila! Nggak! Kali ini aku nggak setuju sama kamu dan ak
Pada pagi hari Alesha dan Fatih sudah berada di meja makan. Hubungan Fatih dan Alesha kembali seperti semula. Alesha sudah tidak marah lagi kepada Fatih. Tidak baik marah terlalu lama. Fatih pun tidak menyinggung sama sekali tentang masalah kemarin. Itu sama saja dengan mencari gara-gara. Mereka berdamai tanpa ucapan kata maaf. Baik begitu saja. Seperti masalah kemarin tidak terjadi."Aaa!"Ketika mereka sedang sarapan, mereka mendengar suara teriakan dari Bella yang menggema. Keduanya tersentak kaget."Kenapa dengan Bella?" tanya Fatih melirik ke arah pintu ruang makan."Nggak tahu tuh. Mungkin dia dapat jackpot," sahut Alesha cuek mengangkat kedua bahu.Beda terlihat dari luar, dalam hati Alesha tertawa girang. Puas dengan reaksi dari Bella. Walaupun sedikit sayang tidak bisa melihat wajah Bella secara langsung."Alesha!" teriak Bella yang sudah berdiri di depan pintu ruang makan.Alesha dan Fatih sontak melihat ke arah Bella. Kedua mata itu melirik tubuh Bella dari atas sampai baw







