Masuk"Alesha, kenalkan, ini pacar aku, Bella. Bella, kenalkan, ini istri aku, Alesha," ucap Fatih seperti memperkenalkan dua orang sahabat.
"APA!" teriak Alesha menggema. 'Apa aku nggak salah dengar? Bang Fatih punya pacar' pikir Alesha syok berat. Tubuhnya membeku bagai patung. "Ah, telinga aku sakit Fatih. Istri kamu pita suaranya jelek sekali," hina Bella sambil mengorek telinga seakan terkontaminasi suara Alesha. "Bang Fatih, ini tidak benarkan. Bang Fatih pasti bercanda. Hahaha," Alesha tertawa garing menutupi kebenaran. Sakit mendengar kenyataan tadi. "Bang Fatih bisa aja bikin jantung Alesha hampir copot. Apa ini prank? Ini tidak lucu Bang Fatih. Alesha nggak suka," tanya Alesha terkekeh. Bella menatap Alesha dengan sinis. Dilihat dari segi manapun, dia terlihat lebih baik dibandingkan gadis yang ada di depannya. Dia tahu Fatih pulang karena mau menikah. Karena perjodohan kedua orang tua. Bella juga ingin menikah dengan Fatih. Namun melihat latar belakang keluarga Fatih, dia yakin keluarga Fatih tidak akan setuju. Menolak dengan mentah-mentah. Jadi dia setuju saja Fatih menikah dengan syarat mereka tidak putus. Tidak peduli Fatih memiliki istri. Dia yang akan mendominasi Fatih dan rumah ini. Dialah nyonya yang ada di rumah bukan gadis kampungan seperti Alesha. "Fatih, istri kamu lucu juga. Seperti badut." "Apa kamu bilang!" sontak Alesha teriak marah dikatain badut. "Fatih, aku takut. Istri kamu ini sangat galak," rengek Bella pura-pura takut dan bersembunyi di belakang lengan Fatih. "Kamu ….!" Belum selesai Alesha ngomong, Fatih memotong. Tangan yang sudah terjulur ke arah Bella diturunkan kembali. "Alesha, jaga sikap kamu," potong Fatih dengan raut wajah datar. "Bang Fatih," ucap Alesha lemah. Fatih lebih membela perempuan kekurangan bahan dibanding dia, istrinya. "Aku jelaskan sekali lagi, Bella ini pacarku. Kamu harus baik sama dia." "Bang Fatih lebih membela dia?" "Kamu dengar ya Alesha. Aku menikah dengan kamu itu karena terpaksa. Aku tidak suka sama kamu. Orang yang aku sukai adalah Bella." Bella mengangkat dagu tinggi. Pembelaan yang dilakukan Fatih membuatnya sombong. Semakin yakin jika dialah nyonya di rumah ini. "Bang Fatih!" seru Alesha kecewa. "Sejak kita menginjakkan kaki di rumah ini, aku tidak perlu berpura-pura baik lagi di depan kamu." "Apa ini sifat asli Bang Fatih. Alesha masih ngak percaya Bang," geleng Alesha. Orang yang didepannya ini bukan Bang Fatih yang Alesha kenal. Bang Fatih pasti ketinggalan di jalan saat mereka ke sini. Kesangkut di atas pohon lalu dirasuki setan. Pasti begitu. "Memangnya ada Fatih palsu?" "Diam kamu. Kamu jangan ikut campur." Bella memutuskan bola mata bosan. Tanpa ikut campur sudah tau akhir dari masalah ini. "Dasar kamu pelakor!" tuduh Alesha. "What! Pelakor? Aku? Yakin?" "Iya, kamu pelakor. Kamu mau merebut suami aku kan?" "Hei gadis kecil. Aku ini udah 2 tahun pacaran sama Fatih. Kamu itu baru seminggu nikah sama Fatih. Kalian juga baru saling kenal kan. Jadi siapa yang pelakor di sini," sindir Bella. "Ah benar juga. Pelakor kan datang setelah nya. Apa aku pelakor nya? Tapi, aku ini kan istri sah Bang Fatih. Jadi siapa pelakor nya," pikir Alesha polos sampai suara terdengar ke telinga Fatih dan Bella. Niatnya hanya ngomong sendiri. Fatih mendengus kecil dengan keluguan Alesha. Bisa-bisanya dia sepolos itu. Sedangkan Bella malah menaikkan sebelah alis, saingan tidak selevel. Sempat dia mengira jika istri Fatih sulit dihadapi. 'Bagus deh. Ternyata istri Fatih rada bego. Dengan begini, aku bisa menyingkirkan dia dengan mudah saat waktunya tiba. Untuk sementara aku membuat dia berlutut di hadapanku.' "Fatih ayo kita masuk. Kamu pasti capek kan," ajak Bella. "Tunggu! Kenapa dia masuk ke dalam rumah kita Bang Fatih," cegah Alesha menarik tangan Fatih yang tidak dipegang Bella. "Rumah kita? Kamu mimpi ya. Ini rumah kami. Kami sudah tinggal bersama selama setahun lebih." "Apa? Bang Fatih, Abang kumpul kebo?" "Hei, siapa yang kamu bilang kebo," pekik Bella tersinggung. Tubuhnya memang sedikit berisi belakangan ini. Bukan berarti berat badannya seperti kebo. "Bang Fatih sudah … sudah tak …." Alesha tidak meneruskan kalimatnya. Tidak sanggup mengucapkan dan takut jika itu menjadi nyata. Dengan mata reflek terarah kebagian sensitif Fatih. Bukan karena dia mesum, hanya saja …. "Apa yang kamu lihat!" tegur Bella ikutan melihat area sensitif Fatih. "Apa yang kalian berdua lakukan." Fatih reflek melepaskan tangan mereka berdua. Lalu menutup bagian tersebut dengan jaket. Tanpa Alesha meneruskan kalimat, dia sudah tau apa yang dimaksud olehnya. "Kamu jangan berpikir macam-macam. Aku tidak pernah melakukan sampai sejauh itu," bela Fatih sebelum Alesha salah paham. "Habis Bang Fatih tinggal berdua dengan perempuan yang bukan muhrim." "Cukup Alesha. Apa kamu ngak bisa diam?" Apa yang kamu pikirkan tidak benar." "Ngak!" "Terserah. Kamu masuk atau tidur di luar. Aku tidak peduli. Ingat ya, kamu sudah menjadi istri aku. Jadi apapun yang terjadi di rumah ini, kamu harus tutup. Kalau kamu berani cerita ke orang lain, aku akan langsung menceraikan kamu. Dan aku pastikan keluarga kamu diusir dari Pesantren," ancam Fatih. "Bang Hanif mengancam Alesha?" Sudah tidak dihitung berapa kali Alesha mengalami syok hari ini. Jantungnya seperti naik roller coaster. "Aku tidak peduli. Pokoknya kamu tidak boleh cerita apapun yang terjadi di rumah ini. Baik ke keluarga kamu atau orang tua aku. Kamu bebas melakukan apapun di rumah ini, tapi jangan ganggu kehidupan aku." "Aku kan istrimu Bang Fatih. Sudah sewajarnya aku melayani Bang Fatih." "Kamu tenang gadis kecil, ada aku yang akan mengurus Fatih. Kamu cukup jadi anak manis dan urus rumah. Urusan Fatih biar aku saja." "Kamu …." "Kalau kamu nggak terima, kita bisa cerai sekarang juga. Aku tidak peduli. Peringatan tadi tetap berlalu." "Bang Fatih, Alesha nggak mau cerai," geleng Alesha. Sudah bersusah payah Alesha mendapatkan Fatih. Meskipun pake jalur orang dalam. Berkat Bapaknya yang berteman dengan Pak Kyai. Kenapa sekarang harus cerai. "Kalau nggak mau cerai, kamu diam dan jadi gadis yang penurut. Jangan sampai membuat Fatih marah. Aku yakin keluarga Fatih bisa membuat keluarga kamu tutup mulut kalau kamu berani menghancurkan reputasi Fatih." "Ayo Bella, kita masuk. Aku capek. Dari pagi aku harus nyetir sampai sore," ajak Fatih. "Iya sayang ayo." Bella kembali menggandeng tangan Fatih. Memanasi Alesha yang menatap mereka dengan tajam. "Argh! Kenapa Bang Fatih jadi seperti ini. Apa ini yang dinamakan jangan melihat isi dari sampul. Sikap Bang Fatih sangat berbeda. Dia bahkan mempunyai pacar," teriak Alesha frustasi di depan rumah. "Sekarang aku harus bagaimana" tanya Alesha pada langit senja. "Apa aku pulang dan minta cerai saja?" pikir Alesha. "Tapi kan aku sudah bersusah payah mendapatkan Bang Fatih. Mana aku terlanjur sombong bisa menikah dengan Bang Fatih. Tau gini aku tolak pernikahan ini." "Aku bisa malu sama Salma dan santri lain. Kemarin aku sombong banget dan bangga bisa nikah dengan Bang Fatih. Masak baru nikah seminggu langsung cerai. Mau taruh dimana muka aku. Mereka pasti lebih percaya sama Bang Fatih yang bermuka dua itu," rengek Alesha dilema antara mau pulang atau masuk ke dalam rumah. Kalau pulang pun dia tidak tahu jalan pulang. Hari sudah mulai gelap. Alesha duduk diteras menimbang cerai atau masuk ke dalam rumah. Jika masuk kedalam rumah, artinya dia mengaku kalah. Harus menerima pacar dari suaminya. "Bu! Bapak! Alesha kangen!" Saat putus asa, Alesha terbayang lagi percakapan antaranya dengan Nyai dua hari yang lalu. Percakapan mereka berdua tanpa seorangpun tau. Pantesan saat itu Nyai memaksanya berjanji. Ternyata ini maksudnya. "Sial!" umpat Alesha mengingat janji tersebut. Bersambung ….“Bella, dengerin aku. Sejak awal aku membiarkan kamu tinggal di sini karena kamu sudah menyelamatkan aku. Sekarang aku tidak bisa menerima kamu di sini lagi.”“Kamu yang bilang aku bisa tinggal di sini sampai kamu selesai kuliah.”“Iya, saat itu aku memang bilang seperti itu. Namun sekarang kondisinya sudah berubah. Aku sudah menikah.”“Jadi karena perempuan itu kamu ngusir aku. Dia pasti menjelek-jelekan aku selama aku nggak bersama kamu.”“Siapa yang jelek-jelekin kamu. Dasarnya aja kamu sudah jelek.”“Kamu sudah berani sama aku.”“Bella, cukup!” tegur Fatih sebelum mereka memulai masalah baru.“Kamu lebih membela dia dari aku?”“Sudah sewajarnya. Alesha adalah istriku. Apa aku salah membela dia?’“Fatih, kenapa kamu berubah seperti ini. Ini bukan Fatih yang kukenal.”Bella melembutkan suara. Bukan saatnya dia menaikkan ego. Fatih tidak bisa dipaksa dengan kekerasan.“Bukan aku yang berubah Bella, tapi aku sudah kembali kepada aku yang dulu. Fatih sebelum kita bertemu.”“Terus aku b
“Assalamualaikum Gus Fatih, Alesha,” sapa Arafah dan Zainab.Arafah dan Zainab sontak melihat ke arah yang memanggil nama mereka. Mereka masih bisa melihat gerak gerik Alesha di dalam mobil. Tanpa dipanggil dua kali mereka mendekat.“Waalaikumsalam,” sahut Alesha dan Fatih berbarengan. “Bang Fatih, aku mau ngomong sama mereka sebentar ya. Sebelum kita pergi. Kumohon. Nanti kami jarang ketemu,” mohon Alesha.“Iya, jangan lama-lama.”Fatih tidak mungkin setega itu. Apa salahnya jika hanya sebentar. Asal nanti mereka tidak bertemu dengan yang lain saja. Kapan bisa sampai jika setiap ketemu orang berhenti.Alesha melepas kembali sabuk pengaman. Lalu keluar dari mobil menghampiri kedua temannya. Biar lebih enak ngomong daripada dia duduk d mobil dan kedua temannya berdiri diluar.“Kamu mau ke mana sama Gus Fatih?” tanya Arafah melirik sekilas ke arah dalam mobil.“Kami mau berangkat ke kota.”“Ke kota lagi? Baru kamu kemarin kamu tiba,” ujar Zainab. “Iya, soalnya kemarin ada sedikit mas
*** Mereka semua duduk di ruang tamu. Posisinya seperti kemarin. Bedanya, kali ini ada Alesha yang duduk antara kedua orang tuanya yang berhadapan dengan Nyai dan Kyai. Sedangkan Fatih dan Muzammil duduk berhadapan. “Kita langsung saja. Tidak perlu basa basi,” ujar Ustadz Ahmad buka suara. “Kami juga setuju,” sahut Nyai. “Fatih, ayo katakan keputusan kalian,” suruh Ustadz Ahmad. “Sebelumnya saya benar-benar minta maaf kepada semuanya. Terutama kepada Alesha.” Semua mengangguk memaafkan kesalahan Fatih. Terutama Alesha yang mengangguk paling semangat. Sampai ditepuk paha oleh sang ibu. Peringatan jika mereka sedang serius. Bukan bercanda. “Saya sudah berpikir ulang dan juga berkompromi dengan Alesha. Pernikahan kami adalah pernikahan perjodohan, sehingga kami belum mengenal satu sama lain dengan baik. Oleh karena itu, selama saya kuliah di kota selama satu lagi, kami berdua berencana untuk memulai kehidupan baru. Memulai semua dari awal.” “Syukurlah jika itu keputusan kalian.
“Bagaimana Nak Fatih?” “Sudah mendingan Bu.” Fatih menggerakkan kaki yang sudah diurut Ibu mertua. Sekarang kondisi kaki tidak sesakit tadi. Sudah berkurang meski belum bisa digunakan untuk jalan normal. “Pinggangnya bagaimana? Apa mau Ibu urut juga nggak?” tarar Yasmin. “Nggak usah Bu. Pinggang nggak seberapa sakit,” bohong Fatih. Urut kaki masih bisa dimaklumi. Tapi jika urut pinggang sedikit kurang sopan, agak privasi. Mana ada Alesha yang masih ngintip yang nempel di tembok. “Lebih baik Fatih malam ini tidur di kamar aku aja,” ujat Muzammil kasihan melihat sahabat. Baru malam pertama menginap di sini Fatih sudah sakit pinggang. Kaki dibikin terkilir. Seperti firasat Fatih sangat kuat. Dia sudah memohon untuk tidur di kamarnya. “Lah, nggak bisa gitu. Fatih kan suami aku. Bukan suami Abang,” protes Alesha melepaskan tembok dan menghadap sang abang. “Kamu mau apain suami kamu lagi. Tahu kini, tadi Abang biarkan Fatih tidur di kamar Abang sejak kamu nyanyi nggak jelas di dal
*** Kembali beberapa menit yang lalu Fatih masuk ke dalam kamar dengan pasrah. Dilihatnya sang istri yang sudah mengeringkan rambut. Di dalam kamar tidak ada kursi selain kursi yang diduduki oleh Alesha untuk berhias. Oleh karena itu dia langsung duduk di atas kasur. Tidak mungkin kan dia lesehan di lantai yang dingin. Fatih menghela nafas berat. Semoga saja malam ini dia bisa tidur dengan aman. Tanpa gangguan dari …. “Bang Fatih kenapa?” tanya Alesha berjalan ke arah Fatih. “Nggak apa-apa. Aku cuma capek aja.” “Bagaimana kalau aku pijit,” tawar Alesha mempraktekkan pijat dengan kedua tangan. “Nggak, nggak usah. Aku mau tidur aja,” tolak Fatih langsung berbaring di atas kasur. Alesha segera berputar ke arah sisi kasur satu lagi. Lalu naik ke atas tempat tidur. Duduk di atas dua kaki menghadap Fatih yang berbaring. “Aku pandai pijit loh. Pijit plus plus juga bisa,” bujuk Alesha. “Nggak mau. Kamu jangan pikir macam-macam. Aku capek. Aku mau istirahat,” tolak Fatih menarik se
Di dalam kamar mandi seorang perempuan membersihkan tubuh sambil bersenandung. Suara air keran tidak bisa mendengar suara jelas dari luar. Seolah suaranya juga tidak bisa terdengar orang lain. “Malam ini ~. Malam yang kutunggu ~. Tidur bersama ~. Bersama Bang Fatih ~. Yeahhh ~. Malam ini ~. Bang Fatih nginap ~. Nginap bersama ~. Bersama akuuuhhh ~. Malam ini ~. Mandi yang bersih ~. Sebersih cinta ~. Cintaku ke Bang Fatih ~. Malam ini ~. Aku ingin ~. Ingin begini begitu dengan Bang Fatih ~~. Yeahhhhhhh.” “Kamu sudah selesai mandi,” ejek Muzammil duduk di meja makan melihat sang adik yang baru keluar dari kamar mandi. Sudah berganti pakaian dengan handuk di atas kepala. Alesha di rumah sesekali tidak menggunakan kerudung. Tidak ada yang bukan mahram. Jati tidak ada masalah. “Apaan sih. Orang lagi enak-enak mandi juga,” sewot Alesha mengusap rambut dengan handuk. “Sambil nyanyi tidak ndak jelas. Kayak suaranya bagus aja,” ujar Muzammil mengambil segelas air. “Suka-suka aku dong. Mu







