Share

Bab 4

Kulepas kau dengan ikhlas 4

Part 4

POV Arya

Namaku Arya Wiguna, suami Aira Maheswari, lebih tepatnya sekarang mantan suami. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyalur tenaga kerja ke perusahaan besar, atau bisa di bilang outsourcing. Gaji lumayan besar sepuluh juta perbulan itu aku peroleh sejak menjabat sebagai Manager cabang tempat aku bekerja.

Kehidupan pernikahan yang terkesan dingin, membosankan, membuat aku mencari seseorang yang bisa membuat aku merasa nyaman. Yang tidak aku dapat dari Aira.

Perkenalan singkat dengan Aira, saat itu yang sebagai pengisi acara di kantor tempat kerjaku. Dia tampil cantik dengan suara yang merdu, membuat aku jatuh cinta. Seusai acara ku datangi tempat para pengisi acara istirahat dan bersiap. Kudekati dia, minta nomor telepon nya, dengan alasan supaya mudah menghubungi bila ada acara di kantor lagi.

Hari berlalu, komunikasi antara kami semakin intens, aku yang dulu hanya karyawan di perusahaan, mencoba melamar langsung pada Aira dengan mengajak kencan ke daerah payung.

"Aira, sayang maukah kamu menikah dengan mas? Menjadi istri dan ibu untuk anak-anak mas nanti?" ujarku sambil berlutut di hadapan nya dengan sekotak cicin aku ulurkan kehadapannya.

"Iya, mas aku mau." jawab Aira dengan mata berkaca-kaca.

Setelah menikah kami tinggal di rumah ibu, tapi Aira selalu mengajak untuk pindah, dia punya tabungan bisa untuk DP rumah. Ibu setuju kami pindah rumah, dengan syarat gaji sepenuhnya untuk ibu, setelah di potong cicilan rumah dan uang saku buatku, kebutuhan rumah tentu Aira yang menanggung, karena gaji tak lagi cukup.

"Mas, ayo kita pindah dari rumah ini, kita rumah sendiri, aku ingin mandiri, mas." desak Aira dengan wajah memelas.

"Baiklah, kita bicarakan dengan ibu ya." jawabku singkat.

"Bu, ada yang ingin kami bicarakan, ini tentang permintaan Aira yang ingin mandiri, untuk itu kami ingin segera pindah dari rumah ini." ucap Aira mengawali pembicaraan kami.

"Iya bu, Aira juga sudah men-DP sebuah rumah tak jauh dari kantor," ucapku menjelaskan pada ibu.

"Apa?! Kalian akan pindah rumah?" tanya ibuku dengan nada tinggi.

"Iya, bu, kami ingin mandiri, supaya bisa merasakan rumah tangga yang sesungguhnya." jawab Aira lagi

"Baiklah jika itu keinginan kalian, ibu tak bisa melarang, kalian boleh pindah ke rumah baru kalian, tapi ada syaratnya." jawab ibu menyetujui keinginan kami.

"Syarat apa bu?" tanyaku dengan mengerutkan dahi.

"Apapun akan kami penuhi, bu, apa syaratnya?" ucap Aira menipali perkataanku.

"Syaratnya mudah kok, berikan seluruh gaji Arya untuk ibu seluruhnya. Bagaimana kalian setuju?" jawab dan tanya ibu dengan tegas.

"Baiklah kami setuju bu." jawab Aira dengan yakin.

"Gaji mas Arya, tujuh juta rupiah, tiga juta rupiah untuk cicilan rumah, dua juta rupiah untuk kebutuhan mas Arya, sisa dua juta rupiah untuk ibu, apa ibu setuju?" ujar Aira menjelaskan keadaan keuangan kami.

"Tidak, ibu tidak setuju, aku mau tiga juta sebulan." tegas ibu.

"Baiklah, untuk ibu tiga juta rupiah per bulan ya." ucapku menjawab ibu.

💔💔💔💔

Pertemuan dengan Lusi yang tak sengaja, dia seorang pelayan cafe tempat pertemuan dengan klien perusahaan. Dia cantik, ramah, dan ah, kenapa selalu tertarik pada orang yang baru kutemui.

Seringnya makan di cafe, membuat semakin terpesona oleh kecantikan Lusi. Langsung saja ku beranikan diri kenalan, dan minta nomor telepon, dengan sedikit gombalan nomor pun langsung ku dapatkan.

Setelah dapat nomor telepon, komunikasi antara kami semakin intens. Aku seolah lupa dengan Aira sebagai istriku, perhatian, perasaan nyaman yang aku dapat dari Lusi menjadikan semakin jauh dari Aira.

Entah, kenapa aku selalu mudah jatuh cinta sama perempuan cantik ya wajarlah, aku lelaki normal wajah juga tampan. Banyak karyawan wanita di kantor yang selalu tebar pesona agar dapat perhatian dariku.

Malam itu, ketika hasrat tak bisa di bendung, Aira tak kunjung pulang, aku putuskan mengajak kencan Lusi, hingga akhirnya bisa ku lampiaskan hasrat yang tadi mengebu pada Lusi, dan kami melakukan sesuatu yang biasa di lakukan suami istri. Ternyata Lusi sangat padai di ranjang, membuatku puas, seperti mendapat oase di padang pasir, diri ini yang sudah lama tak dapat nafkah batin dari istri, meskipun Lusi sudah tak perawan lagi saat aku menyentuhnya.

"Terima kasih, ya sayang, aku puas banget sama permainanmu." ucapku setelah selesai percintaan kami, sambil mengecup keningnya.

"Sama-sama mas, yang penting besok mas harus turuti apa mauku ya." dengan manja Lusi memintaku menuruti maunya.

"Tenang aja, sayang apapun itu, pasti mas turuti, tapi satu kali lagi ya." ucapku dan mulai mencium bibir mungil itu, dan ronde kedua pun terjadi.

Sejak malam itu, aku dan Lusi semakin sering bertemu dan berakhir di ranjang tentunya. Hingga suatu hari, dia memberi kabar yang sangat aku tunggu, dia hamil dan aku akan jadi seorang ayah, senang nya hatiku.

"Mas, aku mau kasih kamu kabar gembira." ucapnya manja sambil menyerahkan benda tipis dengan dua garis tercetak disana.

"Apa ini, sayang?" tanyaku sambil mengambil benda tipis itu.

"Itu testpack mas, alat test kehamilan, aku hamil, mas." ucapnya dengan tersenyum manis.

"Kapan mas akan nikahi, aku?" tanyanya dengan lesu. Mungkin dia takut aku tinggalkan.

"Tenang saja sayang, mas akan datang ke rumah orang tuamu, dan akan segera melamarmu, tunggu saja ya, percaya sama mas ya." ujarku meyakinkannya.

Seminggu setelah pertemuan dengan Lusi yang menyampaikan kabar gembira itu, aku katakan pada ibu, dan juga memperkenalkan Lusi pada ibu. Ibu setuju dan senang bertemu dan bersama Lusi, dia yang mudah akrab sangat cepat mendekati dan mengambil hati ibu.

Seminggu setelah perkenalan ibu dan Lusi, lamaran pun kulakukan, dan dua minggu kedepan adalah pernikahanku dan Lusi. Meskipun hanya pernikahan siri, tapi masalah pesta pernikahan, mereka keluarga Lusi minta diadakan dengan cukup mewah.

Pagi ini, aku dan seluruh keluarga, bersiap ke gedung pernikahan melakukan akad nikah kedua dengan Lusi.

"Saya terima nikah dan kawinnya, Lusi Rahmawati binti Rahmad Dermawan, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat 15 gram di bayar tunai." ucapku lantang

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.

"Sah... Sah... Sah...." jawab para saksi serempak.

Setelah menyelesaikan ijab kabul, kamipun menuju ruang resepsi. Saat asyik bercengkerama dengan Lusi di pelaminan, suara Aira.

"Lagu ini aku persembahkan untuk mempelai pria Mas Arya Wiguna suamiku yang telah menikah lagi dengan mbak Lusi Rahmawati aku ucapkan selamat ya lagu ini buat kado pernikahan kalian." ucap Aira sebelum menyanyikan lagu.

Betapa terkejut nya aku, panik bagaimana ini, apa yang akan aku jelaskan pada Aira, pada keluarga nya.

Plak

Tepukan Lusi di bahuku, meyadarkan dari lamunan tentang Aira.

"Mas, ternyata istrimu, mbak Aira penyanyi terkenal di kota ini ya." tanya Lusi dengan wajah cemberut.

"Iya, kamu juga sudah tahu aku suami orang kan, jadi jangan marah dong, mas pasti lebih perhatian sama kamu bukan ke istri pertamaku itu." ujarku membujuk Lusi.

"Kulepas dengan ikhlas Mas Arya Wiguna, untuk mu mbak Lusi Rahmawati selamat untuk kalian berdua. Dan tunggu surat sidang cerai kita ya mas, terima kasih untuk lima tahun kebersamaan kita." pamit Aira sambil berjalan menuruni panggung.

"Akh, kacau semua, tapi besok saja aku urus Aira, hari ini ku nikmati dulu pernikahan yang telah menghabiskan sebagian besar uang tabungan."

TBC

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status