Share

Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku
Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku
Author: Loraina

Bab 1

Author: Loraina
Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan, menjadi tanda akhir dari lima tahun hubungan kami.

Salju tebal menerobos masuk ke kerah bajuku. Aku menyeret koper dengan satu roda yang sudah rusak, melangkah tertatih di jalan bersalju.

Perutku kembali melilit hebat. Aku berpegangan pada tiang lampu jalan dan membungkuk, lalu muntah keras.

Salju di tanah dipenuhi darah yang merah mencolok. Bagian kanan atas perutku terasa nyeri menekan tak tertahankan. Dengan langkah sempoyongan, aku duduk di pinggir jalan.

Salju turun berhamburan, angin dingin menyapu hatiku yang sudah kosong. Meski rasa sakit itu sudah lama membuatku mati rasa, tubuhku tetap gemetar tanpa bisa ditahan.

Air mata menggenang di pelupuk mata. Aku mendongak menatap lampu jalan di atas kepala. Cahaya kuning hangat itu sama sekali tidak terasa hangat.

Lima tahun lalu di malam badai salju seperti ini, aku menggendong Nathan berjalan semalaman di atas salju. Demi menyelamatkannya, aku berteriak sampai suaraku habis, meneguk air salju hingga lambungku rusak karena beku.

Namun kini, dia menjepit rokok di antara jemarinya dan menatapku dengan sorot mata penuh jijik. Kemudian, dia berkata pelan, "Althea nggak suka bau obat di tubuhmu. Ivory, ambil 10 miliar ini dan enyah."

Aku meraba cek itu, sudut bibirku terangkat membentuk senyum mengejek.

Sepuluh miliar. Semua cinta dan khayalanku selama lima tahun ini, ternyata cukup mahal.

Aku menyelipkan cek itu ke saku dalam bajuku. Harus kusimpan baik-baik. Ini uang peti matiku. Aku berdiri perlahan, melangkah maju dengan tertatih. Saat melewati tempat pembuangan sampah, sekilas aku langsung melihat tumpukan barang-barang milikku di sana.

Jimat keselamatan yang kuminta untuknya dengan bersujud langkah demi langkah, telah digunting hingga hancur. Sweter wol kasmir yang kubuat sendiri dengan bergadang tiga malam berturut-turut, penuh dengan bekas jejak kaki kotor.

Bagi kalangan keluarga konglomerat, benda-benda seperti itu memang tampak murah seperti sampah. Namun, semuanya adalah benda terbaik yang pernah bisa kuberikan padanya. Tanpa sadar, aku melangkah mendekat dan ingin memungutnya kembali. Namun tiba-tiba terngiang di kepalaku ucapan Althea, "Sial."

Tanganku pun ditarik kembali.

Sudahlah, tidak perlu.

Aku melepas kalung yang sudah kupakai selama tiga tahun dari leherku. Itu satu-satunya hadiah yang pernah dia berikan, sebuah barang bonus yang tidak berharga.

"Kalau sudah putus, putuskanlah sampai bersih."

Aku melemparkannya ke dalam tumpukan kotoran itu. Aku kira aku akan cukup tega. Namun saat berbalik, hatiku tetap terasa seperti disayat pisau.

Dari belakang terdengar suara mesin mobil. Maybach milik Nathan melaju kencang melewatiku. Segelas teh susu panas menghantam wajahku, boba yang lengket menempel di sweter murahku.

"Kenapa sampah ini masih ada ...."

Uap panas mengepul, mengaburkan pandanganku. Yang terdengar hanya suara manja Althea, lalu deru kendaraan yang makin menjauh.

Pada akhirnya aku tetap tidak bisa menahannya, air mata jatuh diam-diam. Kepura-puraan yang tersisa, kini hancur berkeping-keping dalam aroma manis teh susu yang bercampur angin dingin.

....

Dengan uang itu, aku menyewa sebuah apartemen tua dan sempit di dekat rumah sakit. Selain pergi ke rumah sakit untuk kemoterapi, aku hampir tidak pernah keluar.

Kemoterapi sangat menyakitkan. Cairan obat mengalir ke pembuluh darah, rambutku rontok segenggam demi segenggam. Aku tidak berani bercermin, juga tidak berani keluar rumah.

Setiap hari aku meringkuk di atas ranjang sempit, mengintip keramaian dan kebahagiaan mereka di linimasa.

Asisten pribadi Nathan mengunggah sebuah video. Di bawah langit penuh kembang api, Nathan memeluk Althea, menunduk mencium rambutnya dengan lembut.

Cincin berlian merah muda di jari Althea tampak sangat menyilaukan. Wajar saja, Nathan dulu merancangnya sendiri segores demi segores selama hampir tiga bulan.

Saat itu, aku yang tidak tahu apa-apa sempat ingin melihat gambar desainnya. Dia langsung bereaksi berlebihan, "Jangan sentuh!"

Baru sekarang aku mengerti, nada kasarnya waktu itu bukan karena kesal aku masuk ke ruang kerjanya tanpa izin, melainkan karena takut aku menodai cintanya pada Althea.

Komentar di bawahnya sebagian besar adalah ucapan selamat dari teman-teman dekat mereka.

[ Memang cuma Kak Althea yang pantas buat Nathan! ]

[ Si bisu itu bahkan nggak bisa dibandingkan dengan sehelai rambut Kak Althea! ]

Mungkin dulu aku akan merasa sakit hati saat melihat semua ini. Namun bagi diriku yang sekarang, semua itu sudah tidak penting.

Aku yang hidup dengan menghitung mundur sisa waktuku, benar-benar tidak punya energi untuk dihabiskan pada emosi seperti itu. Dengan ekspresi datar, aku mematikan ponsel. Perawat mencabut jarum infus di tanganku.

Dari kamar sebelah kembali terdengar suara benda dibanting, disusul teriakan kasar seorang remaja laki-laki. "Pergi! Kalian semua keluar!"

Ini sudah keributan ketiga hari ini. Tetangga baruku sepertinya orang gila yang bahkan lebih tidak ingin hidup dibandingkan diriku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 10

    Hari aku keluar dari rumah sakit, cuacanya cerah.Elvano mendorong kursi roda, membawaku keluar dari pintu utama rumah sakit. Yang tidak kuketahui adalah di sudut jalan seberang rumah sakit, terparkir sebuah Maybach hitam. Kaca mobilnya diturunkan sedikit.Nathan duduk di dalam mobil, menatap sosok mungil kurus yang dibungkus rapat dengan selimut kasmir oleh Elvano.Baru setengah bulan berlalu, di kedua pelipisnya sudah tumbuh uban tipis. Dia melihat Elvano menggendongku ke dalam mobil, melihat mobil itu membawa pergi diriku, melaju semakin jauh, hingga akhirnya menyatu dengan arus lalu lintas dan menghilang.Dia terus menatap seperti itu, sampai pandangannya mengabur, sampai matahari terbenam. Dengan tangannya sendiri, dia menyerahkan penebusannya kepada orang lain. Dalam hidup ini, tak ada lagi jalan pulang.Setahun kemudian, di Kota Dali.Sinar matahari di kota tua itu selalu membawa perasaan culas tetapi hangat. Pohon bougenvil besar di halaman bermekaran lebat, tampak menyala sepe

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 9

    Kedua pria yang sama-sama berasal dari puncak kesuksesan itu, kini saling berkelahi di atas hamparan rumput rumah perawatan. Tinju demi tinju menghantam tubuhnya dan darah berceceran."Apa hakmu bawa dia pergi! Akulah yang berutang padanya! Aku ingin menebusnya!"Nathan sudah dipukuli hingga sudut bibirnya berdarah, tetapi dia tetap mati-matian melindungi pintu di belakangnya."Menebus?"Elvano menendang lututnya dengan keras, lalu mencengkeram kerah bajunya. "Kamu sudah menyiksanya sampai tinggal setengah nyawa, sekarang masih berani bicara soal penebusan denganku? Penebusan terbaikmu adalah lenyap sepenuhnya dari dunianya!"Saat keduanya saling berhadapan, suasana terasa begitu tegang."Uhuk ... uhuk ...."Dari balkon lantai dua vila, tiba-tiba terdengar suara batuk yang lemah. Aku berpegangan pada pagar balkon, menatap dua pria yang saling memukul di bawah sana. Pandanganku mulai menggelap berulang kali."Jangan ... jangan bertengkar lagi ...."Baru tiga kata terucap, tiba-tiba rasa

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 8

    "Ivory! Aku akan membawamu ke rumah sakit! Jangan menakut-nakutiku!"Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorongnya menjauh. Kemudian, aku bersandar pada pohon di sampingku, lalu menatap dingin pria yang panik dan kehilangan kendali itu."Nathan, dengarkan baik-baik.""Aku lebih memilih membusuk sendirian di kamar kontrakan, hancur, menjadi abu, daripada menerima penyelamatan munafik darimu. Karena setiap inci udara yang pernah kamu sentuh, membuatku merasa mual."Nathan berdiri di sana, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat aku "dipersilakan" masuk ke mobil oleh para pengawal yang dia kirim.Pada detik pintu mobil itu tertutup, aku mendengar teriakannya yang menyayat hati.Begitulah caranya, dia merenggutku dari sisi Elvano dengan cara paling hina, lalu mengurungku di sebuah vila perawatan pribadi di pinggiran kota.Di tempat ini, ada tim medis kelas dunia yang bersiaga 24 jam. Ada obat-obatan kanker termahal, yang setiap hari diterbangkan langsung dari luar negeri.Namun,

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 7

    Aku menatapnya, mengucapkan kata demi kata dengan suara serakku. Itu adalah kata-kata paling jelas yang pernah kuucapkan seumur hidupku."Sedangkan nyawamu ... terlalu kotor. Aku nggak menginginkannya."Tubuh Nathan terguncang hebat. Dia berlutut di hadapan semua orang. Pria yang dulunya begitu arogan dan meremehkanku, kini berlutut di hadapanku."Ivory, jangan perlakukan aku seperti ini ... kumohon, beri aku satu kesempatan lagi ...." Dia merangkak berlutut hendak memeluk kakiku, tetapi diadang oleh Elvano.Elvano melepas jasnya dan menyampirkannya ke gaun pestaku yang tipis, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Ivory, kita pulang." Dia membawaku berbalik tanpa memedulikan siapa pun, meninggalkan pria di belakang sana yang hancur. "Mulai hari ini, Ivory adalah milikku, Elvano. Siapa pun yang berani membuatnya menderita sedikit saja, akan kubuat seluruh keluarganya ikut terkubur."Suara Elvano bergema sebagai sebuah pernyataan di seluruh aula.Aku meringkuk di pelukannya yang hangat

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 6

    Aku menekan tombol putar.Setelah suara deru angin dan salju yang riuh, sebuah suara gadis yang serak terdengar dari pengeras suara dan menggema di aula pesta yang sunyi senyap."Nathan ... Nathan, bangun ... jangan tidur ...."Itu suaraku sendiri. Serak, rusak, tetapi menyiratkan keteguhan saat putus asa. Lalu, terdengar potongan lagu nina bobo yang terputus-putus dan sangat fals.Setiap nadanya dipenuhi kelelahan. Terutama di bagian ketiga, nada yang pecah itu terdengar seperti jeritan yang menembus gendang telinga semua orang yang hadir.Di akhir rekaman, terdengar teriakan minta tolong yang dikeluarkan dengan sisa tenaga terakhir, disusul raungan baling-baling helikopter yang kian mendekat.Itulah rekaman terakhir yang dulu mati-matian kubuat dengan ponsel tua yang hampir kehabisan baterai. Aku berpikir, kalau kami benar-benar mati, setidaknya masih ada sesuatu yang tersisa. Aku tidak pernah menyangka, rekaman itu akan menjadi bukti krusial yang mengungkap kebenaran.Tatapan semua

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 5

    Tatapanku membeku, hatiku perlahan mencelos. Setelah turun dari gunung salju waktu itu, Althea adalah perawat yang menjagaku.Saat itu aku tidak punya keluarga, dan karena pita suaraku rusak, aku tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu. Di sisiku hanya ada dia. Melihatku bosan, dia sering bercerita tentang berbagai hal sepele sejak mulai bekerja. Aku pun menceritakan kepadanya semua yang terjadi di gunung salju.Sampai akhirnya dia tahu, pria yang terbaring di ICU itu ternyata adalah Nathan, tuan muda Keluarga Lucarno di ibu kota. Pada hari aku dijemput Keluarga Lucarno untuk keluar dari rumah sakit, dia mencuri tali merah milikku dan menemui Nathan.Dia berkata, gadis bisu sepertiku mana mungkin bisa menyanyikan lagu nina bobo.Althea mengulang semua yang kuceritakan kepadanya kepada Nathan, sementara tatapan Nathan padaku kian lama kian dingin."Aku menganggap Ivory sebagai teman, makanya aku menceritakan semua ini padanya. Aku nggak menyangka dia malah ingin meraup uang dengan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status