Share

Bab 2

Author: Loraina
Aku agak iri pada bocah gila yang punya energi melimpah ini.

Katanya, nama pria ini adalah Elvano. Dia adalah tuan muda dari kalangan elite ibu kota. Saat balapan liar, kepalanya terbentur keras sehingga matanya jadi buta.

Aku baru selesai kemoterapi. Seluruh tulang di tubuhku terasa ngilu. Sambil menopang dinding, aku berjalan perlahan di koridor. Sebuah apel menggelinding tepat ke kakiku. Tak lama kemudian, seorang perawat kecil berlari keluar dari kamar sambil menangis.

Aku melirik ke dalam. Seorang remaja duduk di ranjang rumah sakit, lantai di sekitarnya berantakan.

Matanya tertutup perban. Di tangannya terangkat sebuah vas bunga yang siap dihantamkan. Nada bicaranya buruk dan amarahnya tak tertahankan.

"Pergi!"

Aku membungkuk mengambil apel itu.

Telinganya bergerak. Dia menoleh ke arahku, lalu berkata dengan suara mengancam, "Siapa? Cari mati?"

Aku merogoh saku dan mengeluarkan sebutir permen leci, yang biasa kupakai untuk menekan rasa pahit di mulut setelah kemoterapi. Aku mendekat dan merobek bungkusnya. Tepat saat dia membuka mulut untuk memaki, langsung kuselipkan permen itu ke dalam mulutnya.

Elvano terdiam. Untuk pertama kalinya, sekitarnya jadi sunyi.

"Berisik sekali."

Suaraku rusak karena terlalu sering berteriak, sehingga terdengar serak. "Kalau mau menggila, pulang saja. Ini rumah sakit. Semua orang di sini ingin hidup. Nggak ada yang mau dengar kamu melolong seperti orang mati."

Perawat kecil di depan pintu ketakutan sampai menutup mulutnya.

Elvano mengunyah permen itu sampai hancur. Alisnya berkerut, berusaha menentukan arah keberadaanku. "Siapa kamu? Berani sekali bicara begitu sama aku?"

"Si sialan dari kamar sebelah." Aku langsung berbalik dan pergi.

"Berhenti!"

Kursi rodanya meluncur mendekat. Sambil meraba-raba, dia menangkap pergelangan tanganku. Telapak tangannya panas membara. "Dasar ngeyel. Sudah datang ngoceh, mau kabur begitu saja? Kamu pikir aku orang yang gampang dipermainkan?"

Dulu Nathan juga membenci suaraku dan mengatakan suaraku jelek. Sejak itu, aku jarang bicara. Namun sekarang, mungkin karena aku sudah dekat dengan kematian, semua ini terasa tidak lagi berarti.

Aku menarik tanganku kembali. "Aku hampir mati. Uangku habis buat berobat. Nggak punya keluarga. Apa yang harus aku takuti?"

Elvano tertawa. Wajahnya yang angkuh menampilkan ekspresi penuh minat, seperti baru menemukan mainan baru. "Hidup sesial ini tapi masih bertahan. Menarik."

Sejak hari itu, entah kenapa aku mendadak menjadi anjing penuntun pribadinya. Sebenarnya, cuma dua orang bosan yang saling menemani. Aku membacakannya berita dan gosip, juga novel-novel tragis penuh darah dan air mata dari internet.

Hari ini, aku sedang membaca bagian ketika tokoh pria utama ingin mengambil ginjal tokoh perempuan demi cinta pertamanya. Tiba-tiba, terdengar bunyi derakan. Elvano meremas kaleng minuman di tangannya sampai penyok.

"Apa otak tokoh pria ini rusak, ya?" umpatnya kesal. "Kalau aku, semua orang yang menindas dia sudah kupelintir ubun-ubunnya dan kujadikan bola buat ditendang. Pria sampah begini masih dipelihara sampai tahun baru?"

Melihat wajahnya yang geram, aku tertawa. "Kalau tokoh prianya itu temanmu sendiri?"

"Bela kebenaran meski harus melawan keluarga," jawab Elvano tanpa ragu. "Aku ini buta mata, bukan buta hati. Siapa yang baik padaku, aku tahu betul."

Orang luar selalu paling paham kebenaran. Sementara orang yang terjebak di dalamnya, justru tidak pernah bisa melihat dengan jelas.

....

Kemoterapi membuat rambutku rontok parah, sampai bagian atas kepalaku mulai botak. Ini pertama kalinya aku menangis sejak memulai kemoterapi. Aku sangat menyayangi rambutku. Selalu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk merawatnya.

Dulu, Nathan tidak pernah mengerti. "Daripada repot begitu, lebih baik beli beberapa baju haute couture. Setiap hari kamu berpakaian seperti pengemis. Orang yang nggak tahu bisa mengira keluargaku memperlakukanmu dengan buruk."

Setiap kali aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan pada tuan muda seperti dia.

Sebab, obsesiku pada rambut berasal dari masa kecil. Demi menghemat tenaga dan sampo, Nenek tidak pernah membiarkanku memanjangkan rambut, meski aku berkali-kali memohon. Sejak kecil aku mulai mengerti, cinta adalah tumpukan uang, waktu, dan tenaga.

Dengan potongan rambut seperti anak laki-laki, aku sangat iri pada gadis-gadis lain yang memiliki rambut panjang dan halus. Perlahan-lahan, aku jadi tidak suka mendongak dan refleks menghindari topik apa pun yang berkaitan dengan gaya rambut.

Aku tidak tahu apakah rasa rendah diriku berasal dari model rambut yang berbeda, atau dari kekurangan kasih sayang. Apa yang tidak kudapatkan saat muda, akan terasa jauh lebih penting ketika dewasa.

Namun, sekarang ....

Aku melihat wajahku yang kurus dan pucat di cermin, dengan hanya beberapa helai rambut tersisa. Aku membalikkan cermin menghadap meja, tidak berani menatap wujud diriku yang sekarang.

Rasa rendah diri dalam diriku seolah ikut tumbuh kembali, seiring rambut yang terus rontok.

Sejak hari itu, aku makin menolak keluar rumah, terutama ke tempat ramai. Sampai akhirnya Elvano bersikeras ingin pergi ke mal untuk membeli stik gim edisi terbatas. Kupikir, daripada terus bersembunyi di rumah, sekalian saja aku membeli wig. Jadi, aku pun menemaninya.

Benar-benar sial.

Di lantai teratas pusat perbelanjaan, baru saja aku menuntun Elvano keluar dari lift, aku langsung berhadapan dengan Nathan dan Althea. Nathan menunduk dengan serius mengenakan kalung untuk Althea. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan.

"Nathan, kalung ini terlalu mahal ...."

"Aku malah merasa masih kurang. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini." Suara Nathan begitu lembut sampai membuat telingaku terasa sakit.

Refleks, aku ingin segera mendorong Elvano pergi dengan cepat, tapi sudah terlambat.

Penglihatan Althea tajam. Sepasang mata dengan riasan sempurna itu langsung tertuju pada kami. Dengan ekspresi terkejut, dia menarik lengan Nathan.

"Nathan, itu Ivory, 'kan? Orang yang dia dorong itu siapa? Cepat sekali dia langsung ganti pasangan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 10

    Hari aku keluar dari rumah sakit, cuacanya cerah.Elvano mendorong kursi roda, membawaku keluar dari pintu utama rumah sakit. Yang tidak kuketahui adalah di sudut jalan seberang rumah sakit, terparkir sebuah Maybach hitam. Kaca mobilnya diturunkan sedikit.Nathan duduk di dalam mobil, menatap sosok mungil kurus yang dibungkus rapat dengan selimut kasmir oleh Elvano.Baru setengah bulan berlalu, di kedua pelipisnya sudah tumbuh uban tipis. Dia melihat Elvano menggendongku ke dalam mobil, melihat mobil itu membawa pergi diriku, melaju semakin jauh, hingga akhirnya menyatu dengan arus lalu lintas dan menghilang.Dia terus menatap seperti itu, sampai pandangannya mengabur, sampai matahari terbenam. Dengan tangannya sendiri, dia menyerahkan penebusannya kepada orang lain. Dalam hidup ini, tak ada lagi jalan pulang.Setahun kemudian, di Kota Dali.Sinar matahari di kota tua itu selalu membawa perasaan culas tetapi hangat. Pohon bougenvil besar di halaman bermekaran lebat, tampak menyala sepe

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 9

    Kedua pria yang sama-sama berasal dari puncak kesuksesan itu, kini saling berkelahi di atas hamparan rumput rumah perawatan. Tinju demi tinju menghantam tubuhnya dan darah berceceran."Apa hakmu bawa dia pergi! Akulah yang berutang padanya! Aku ingin menebusnya!"Nathan sudah dipukuli hingga sudut bibirnya berdarah, tetapi dia tetap mati-matian melindungi pintu di belakangnya."Menebus?"Elvano menendang lututnya dengan keras, lalu mencengkeram kerah bajunya. "Kamu sudah menyiksanya sampai tinggal setengah nyawa, sekarang masih berani bicara soal penebusan denganku? Penebusan terbaikmu adalah lenyap sepenuhnya dari dunianya!"Saat keduanya saling berhadapan, suasana terasa begitu tegang."Uhuk ... uhuk ...."Dari balkon lantai dua vila, tiba-tiba terdengar suara batuk yang lemah. Aku berpegangan pada pagar balkon, menatap dua pria yang saling memukul di bawah sana. Pandanganku mulai menggelap berulang kali."Jangan ... jangan bertengkar lagi ...."Baru tiga kata terucap, tiba-tiba rasa

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 8

    "Ivory! Aku akan membawamu ke rumah sakit! Jangan menakut-nakutiku!"Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorongnya menjauh. Kemudian, aku bersandar pada pohon di sampingku, lalu menatap dingin pria yang panik dan kehilangan kendali itu."Nathan, dengarkan baik-baik.""Aku lebih memilih membusuk sendirian di kamar kontrakan, hancur, menjadi abu, daripada menerima penyelamatan munafik darimu. Karena setiap inci udara yang pernah kamu sentuh, membuatku merasa mual."Nathan berdiri di sana, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat aku "dipersilakan" masuk ke mobil oleh para pengawal yang dia kirim.Pada detik pintu mobil itu tertutup, aku mendengar teriakannya yang menyayat hati.Begitulah caranya, dia merenggutku dari sisi Elvano dengan cara paling hina, lalu mengurungku di sebuah vila perawatan pribadi di pinggiran kota.Di tempat ini, ada tim medis kelas dunia yang bersiaga 24 jam. Ada obat-obatan kanker termahal, yang setiap hari diterbangkan langsung dari luar negeri.Namun,

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 7

    Aku menatapnya, mengucapkan kata demi kata dengan suara serakku. Itu adalah kata-kata paling jelas yang pernah kuucapkan seumur hidupku."Sedangkan nyawamu ... terlalu kotor. Aku nggak menginginkannya."Tubuh Nathan terguncang hebat. Dia berlutut di hadapan semua orang. Pria yang dulunya begitu arogan dan meremehkanku, kini berlutut di hadapanku."Ivory, jangan perlakukan aku seperti ini ... kumohon, beri aku satu kesempatan lagi ...." Dia merangkak berlutut hendak memeluk kakiku, tetapi diadang oleh Elvano.Elvano melepas jasnya dan menyampirkannya ke gaun pestaku yang tipis, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Ivory, kita pulang." Dia membawaku berbalik tanpa memedulikan siapa pun, meninggalkan pria di belakang sana yang hancur. "Mulai hari ini, Ivory adalah milikku, Elvano. Siapa pun yang berani membuatnya menderita sedikit saja, akan kubuat seluruh keluarganya ikut terkubur."Suara Elvano bergema sebagai sebuah pernyataan di seluruh aula.Aku meringkuk di pelukannya yang hangat

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 6

    Aku menekan tombol putar.Setelah suara deru angin dan salju yang riuh, sebuah suara gadis yang serak terdengar dari pengeras suara dan menggema di aula pesta yang sunyi senyap."Nathan ... Nathan, bangun ... jangan tidur ...."Itu suaraku sendiri. Serak, rusak, tetapi menyiratkan keteguhan saat putus asa. Lalu, terdengar potongan lagu nina bobo yang terputus-putus dan sangat fals.Setiap nadanya dipenuhi kelelahan. Terutama di bagian ketiga, nada yang pecah itu terdengar seperti jeritan yang menembus gendang telinga semua orang yang hadir.Di akhir rekaman, terdengar teriakan minta tolong yang dikeluarkan dengan sisa tenaga terakhir, disusul raungan baling-baling helikopter yang kian mendekat.Itulah rekaman terakhir yang dulu mati-matian kubuat dengan ponsel tua yang hampir kehabisan baterai. Aku berpikir, kalau kami benar-benar mati, setidaknya masih ada sesuatu yang tersisa. Aku tidak pernah menyangka, rekaman itu akan menjadi bukti krusial yang mengungkap kebenaran.Tatapan semua

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 5

    Tatapanku membeku, hatiku perlahan mencelos. Setelah turun dari gunung salju waktu itu, Althea adalah perawat yang menjagaku.Saat itu aku tidak punya keluarga, dan karena pita suaraku rusak, aku tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu. Di sisiku hanya ada dia. Melihatku bosan, dia sering bercerita tentang berbagai hal sepele sejak mulai bekerja. Aku pun menceritakan kepadanya semua yang terjadi di gunung salju.Sampai akhirnya dia tahu, pria yang terbaring di ICU itu ternyata adalah Nathan, tuan muda Keluarga Lucarno di ibu kota. Pada hari aku dijemput Keluarga Lucarno untuk keluar dari rumah sakit, dia mencuri tali merah milikku dan menemui Nathan.Dia berkata, gadis bisu sepertiku mana mungkin bisa menyanyikan lagu nina bobo.Althea mengulang semua yang kuceritakan kepadanya kepada Nathan, sementara tatapan Nathan padaku kian lama kian dingin."Aku menganggap Ivory sebagai teman, makanya aku menceritakan semua ini padanya. Aku nggak menyangka dia malah ingin meraup uang dengan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status