MasukSusan memperhatikan kedua pria itu menjauh, lalu menepuk punggung tangan Daniel dengan keras. "Bangun, mereka sudah pergi."Daniel segera menegakkan tubuhnya, lalu menatap Susan dengan wajah masam. "Kamu kecanduan memukulku, ya?"Susan melirik ujung telinga Daniel yang makin memerah, lalu mengingatkannya, "Apa kamu masih ingat apa yang baru saja kamu janjikan padaku?"Daniel meliriknya sekilas, lalu mendengus pelan. "Aku ingat. Ingatanku sangat tajam."Susan merasa puas. "Baiklah, nanti aku akan mengabarimu lagi. Saat itu kamu harus menuruti permintaanku. Tapi kamu harus memastikan kalau kamu memang memiliki kemampuan untuk mengajariku."Daniel menaikkan alisnya dengan angkuh. "Pelajaran pertama dariku untukmu adalah jangan pernah meragukan kemampuan gurumu. Apa kamu mengerti?""Terserah kamu saja," sahut Susan dengan santai.Sherra memiringkan kepalanya, menatap keduanya dengan bingung. "Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian sedang bersembunyi dari seseorang? Aku benar-benar ngga
Suasana di ruangan itu seolah membeku seketika. Daniel terdiam seperti patung yang bernyawa. Setelah mendengar ucapan Sherra, dia menoleh, lalu menatap Susan dengan cermat untuk waktu yang lama."Siswi kelas tiga SMA?" tanya Daniel.Sherra mengangguk dengan mantap.Daniel beralih menatap Vandi, yang juga mengangguk dengan tulus.Daniel mengerutkan kening, lalu menatap Susan dengan tidak percaya. "Kamu baru kelas tiga SMA?"Susan mengangkat alisnya. "Nggak boleh?"Tiba-tiba, Daniel mengangkat ponselnya untuk melihat jam, sementara keningnya berkerut makin dalam."Sekarang hari Rabu, juga masih jam sekolah. Kenapa kamu bukannya belajar di sekolah, tapi malah berkeliaran di sini?" ujar Daniel.Susan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Bukan urusanmu. Aku akan berada di mana pun aku mau."Sherra segera menyahut sebagai juru bicara, "Nilai-nilainya sangat bagus, jadi sekolah sudah memberinya izin khusus untuk nggak perlu masuk kelas setiap hari."Tatapan Daniel menjadi makin rumit. "Lalu
Jelas sekali bahwa kesetiaan Sherra, sahabat seperjuangan Susan ini, telah hancur di hadapan ketampanan Daniel.Ketampanan benar-benar membuat akal sehat menghilang.Sherra sama sekali tidak memperhatikan penjelasan Susan, justru menaruh kepercayaan penuh pada setiap kata yang keluar dari mulut Daniel.Susan mengerutkan kening, menatap Sherra, lalu memanggilnya dengan ketus.Sherra segera mengibaskan tangannya. "Berhentilah membuat keributan. Aku ingin mendengar penjelasan pria tampan ini."Daniel menaikkan alisnya dengan puas sekaligus angkuh. "Karena dia terlalu malu untuk mengakuinya, aku nggak akan menceritakan apa pun."Sherra memuji, "Wah, kamu pria yang sangat sopan, ya!""Tentu saja," sahut Daniel. "Aku bukan tipe orang yang suka melayangkan tendangan pada orang lain tanpa alasan."Pandangan Susan seketika menjadi gelap.Vandi yang sejak tadi menciut, memberanikan diri untuk angkat bicara dengan suara rendah yang gemetaran, "Uh, Kak, aku dan Susan benar-benar hanya teman. Hubun
Susan tertawa karena kesal. "Nggak perlu menjelaskan padanya. Dia itu sakit jiwa."Wajah Daniel yang sedikit melunak setelah mendengar penjelasan Sherra, langsung kembali murum begitu mendengar ucapan Susan. Bahkan ekspresinya sekarang tampak jauh lebih masam daripada tempat sampah tadi.Daniel mendengus dingin. "Apa ucapanku barusan tepat mengenai lukamu?"Daniel beralih menatap Vandi yang sedari tadi meringkuk sambil menyimak drama mereka. Dia berkata dengan nada dingin, "Aku punya saran untukmu."Vandi mengangkat pandangannya dengan hati-hati. "Saran … saran apa?"Daniel mencibir, "Baru beberapa hari yang lalu Susan menyatakan cinta padaku. Gara-gara aku menolaknya, dia sampai membenturkan kepalanya ke dinding. Jadi, saranku sebaiknya kamu jangan …."Ketika mendengar arah pembicaraan ini, kulit kepala Susan terasa kesemutan karena malu. Dia bangkit berdiri dengan geram, lalu menyambar mulut Daniel untuk membungkamnya. "Jangan bicara omong kosong! Jaga sopan santunmu sedikit!"Vandi
Daniel merasa sedikit puas. Dia menerima cangkir kopi itu dengan elegan sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian, dia kembali menatap Susan dengan tatapan meremehkan. "Temanmu ini nggak buruk."Susan menatap tajam ke arah Sherra, sementara suaranya hampir tercekat di tenggorokan, "Sebenarnya kamu ada di pihak siapa?"Sherra mengedipkan mata sambil tersenyum manis. "Aku ada di pihak gosip."Kemudian, Sherra menatap Susan dengan ekspresi berpura-pura tersinggung. "Kamu sendiri belum menceritakannya padaku. Sejak kapan kamu mengenal pria setampan ini? Kenapa nggak memberitahuku? Kamu yang sebenarnya nggak menganggapku teman!"Susan membuka mulut, hendak membela diri, tetapi Daniel sudah mendahuluinya."Aku tetangga di depan rumahnya."Mata Sherra langsung berbinar. "Benarkah? Berarti aku juga tetanggamu!"Daniel mengernyitkan kening dengan bingung. "Apa maksudnya?"Sherra menjelaskan, "Aku juga tinggal di sana, tapi belakangan ini aku sedang sibuk dan belum sempat pulang. Seandainya aku
Daniel melangkah mendekat dengan wajah muram, lalu berdiri di samping Vandi. Tanpa basa-basi, dia berujar dengan kasar, "Berdiri, aku mau duduk di sini."Susan terdiam."Tunggu dulu." Susan mencibir, "Daniel, apa kamu sudah gila?"Daniel mendongak, langsung menatap Susan dengan tatapan tajam. Wajahnya tampak makin masam, sementara suaranya makin tidak bersahabat, "Cepat berdiri."Vandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menoleh ragu pada Susan. "Apa aku harus berdiri?"Susan mengerucutkan bibirnya. "Abaikan saja dia."Vandi mengangguk dengan mantap. "Baiklah."Daniel benar-benar hampir meledak karena amarah.Dia tertawa dingin, lalu berkata, "Susan, jadi begini sikapmu padaku?"Susan mengabaikannya.Namun, kalimat Daniel berikutnya benar-benar mengejutkan semua orang, "Apa kamu sudah lupa kalau kamu baru saja menyatakan cinta padaku beberapa hari lalu? Kamu begitu cepat melupakannya, ya?"Seketika itu juga, Vandi dan Sherra tercengang.Susan pun ikut terkejut ketika mendengar u







