ログインDaniel merasa sedikit puas. Dia menerima cangkir kopi itu dengan elegan sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian, dia kembali menatap Susan dengan tatapan meremehkan. "Temanmu ini nggak buruk."Susan menatap tajam ke arah Sherra, sementara suaranya hampir tercekat di tenggorokan, "Sebenarnya kamu ada di pihak siapa?"Sherra mengedipkan mata sambil tersenyum manis. "Aku ada di pihak gosip."Kemudian, Sherra menatap Susan dengan ekspresi berpura-pura tersinggung. "Kamu sendiri belum menceritakannya padaku. Sejak kapan kamu mengenal pria setampan ini? Kenapa nggak memberitahuku? Kamu yang sebenarnya nggak menganggapku teman!"Susan membuka mulut, hendak membela diri, tetapi Daniel sudah mendahuluinya."Aku tetangga di depan rumahnya."Mata Sherra langsung berbinar. "Benarkah? Berarti aku juga tetanggamu!"Daniel mengernyitkan kening dengan bingung. "Apa maksudnya?"Sherra menjelaskan, "Aku juga tinggal di sana, tapi belakangan ini aku sedang sibuk dan belum sempat pulang. Seandainya aku
Daniel melangkah mendekat dengan wajah muram, lalu berdiri di samping Vandi. Tanpa basa-basi, dia berujar dengan kasar, "Berdiri, aku mau duduk di sini."Susan terdiam."Tunggu dulu." Susan mencibir, "Daniel, apa kamu sudah gila?"Daniel mendongak, langsung menatap Susan dengan tatapan tajam. Wajahnya tampak makin masam, sementara suaranya makin tidak bersahabat, "Cepat berdiri."Vandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menoleh ragu pada Susan. "Apa aku harus berdiri?"Susan mengerucutkan bibirnya. "Abaikan saja dia."Vandi mengangguk dengan mantap. "Baiklah."Daniel benar-benar hampir meledak karena amarah.Dia tertawa dingin, lalu berkata, "Susan, jadi begini sikapmu padaku?"Susan mengabaikannya.Namun, kalimat Daniel berikutnya benar-benar mengejutkan semua orang, "Apa kamu sudah lupa kalau kamu baru saja menyatakan cinta padaku beberapa hari lalu? Kamu begitu cepat melupakannya, ya?"Seketika itu juga, Vandi dan Sherra tercengang.Susan pun ikut terkejut ketika mendengar u
Ketika melihat tempat sampah yang hanya berjarak beberapa senti darinya, wajah Daniel langsung menunjukkan ekspresi muak. Dia mengerutkan kening sambil menutup hidungnya, sementara wajah tampannya tampak sangat tersiksa.Dia memalingkan wajah dengan muak, lalu menunggu sejenak.Daniel mencoba memperkirakan kecepatan langkah kedua pria itu, lalu memberanikan diri untuk mengintip sedikit.Begitu mengintip, keningnya kembali berkerut.Kedua pria itu masih berdiri di samping kedai kopi, tampak melihat sekeliling untuk mencari keberadaannya.Sayangnya, Daniel baru menampakkan kepalanya sejenak, tetapi mata tajam kedua pria itu langsung menangkap sosoknya.Pandangan mereka bertemu.Tanpa menunggu lebih lama, Daniel segera berlari kencang. Dari sudut matanya, dia bisa melihat kedua pria itu langsung mengejarnya dengan kecepatan penuh.Kedua pengejar itu telah mendapatkan pelatihan khusus. Stamina dan fisik mereka sangat luar biasa. Kaki mereka lincah, sementata daya tahan tubuh mereka sangat
Tepat pada saat itu, seorang pelayan kedai kopi datang membawakan tiga cangkir kopi. Susan mengulurkan tangan untuk mengambil pesanannya. Ketika menunduk, Susan melewatkan pergerakan yang terjadi di luar sana.Di seberang jalan, wajah Daniel yang semula muram langsung berubah kaku saat melihat sosok Susan.Namun, tepat ketika Susan mengalihkan pandangan, Daniel pun segera menarik pandangannya.Saat itulah Daniel menyadari ada dua pria yang berjarak seratus meter darinya tengah mencarinya.Raut wajah Daniel seketika menjadi lebih muram.Daniel berbalik, langsung berjalan ke tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang untuk menyembunyikan diri. Matanya bergerak dengan cepat untuk mencari tempat persembunyian yang tepat, tempat yang bisa benar-benar membuatnya lolos dari kejaran kedua pria itu.Beberapa hari ini, dia terus diikuti oleh kedua orang itu. Ini membuatnya merasa sangat muak.Karena enggan tertangkap dengan terlalu cepat, Daniel terpaksa menyewa rumah di kawasan kumuh pinggiran
Susan mencengkeram ponselnya, kedua tangannya mencengkeram seprai dengan erat.Susan mengembuskan napas perlahan.Dia berpikir dia harus mempercepat prosesnya.Vandi menganggapnya dan Sherra sebagai murid yang sangat baik dan kemajuan belajar mereka begitu pesat. Vandi tidak hanya harus berurusan dengan pekerjaannya, serta para bos dan kolega yang menyebalkan itu, tetapi juga harus khawatir tentang apa yang akan dia ajarkan kepada Sherra dan Susan keesokan harinya setelah pulang kerja. Dia sibuk sepanjang hari.Berdasarkan kecepatan ini, Susan merasa bahwa dia dapat mendiskusikan memulai bisnis dengan Sherra dan Vandi setelah ujian masuk perguruan tinggi.Setelah hari itu, Susan tidak pernah melihat Daniel lagi. Dia juga tidak mendengar suara apa pun dari rumah di seberang jalan. Sepertinya Daniel sudah pergi dan tidak pernah kembali.Susan ingat saat hari itu Daniel diberikan obat perangsang.Daniel bukanlah orang sembarangan.Dari raut wajah dan pembawaannya yang berwibawa itu, Susan
Kebetulan sekali, topiknya tentang Ryan dan Yunda.【Ryan dan Yunda sedang makan malam bersama keluarga mereka.】Topik ini tidak menjadi tren di media sosial, tetapi tetap menarik banyak perhatian. Ada banyak penggemar Yunda yang menyampaikan ucapan selamat di kolom komentar.Susan mengklik tautan itu untuk melihatnya. Ternyata itu hanya Ryan, Yunda, Keluarga Sutedja dan Keluarga Wirya yang sedang makan bersama. Foto-foto tersebut diunggah secara daring dan menerima banyak komentar positif.Ryan selalu menjaga profil rendah selama bertahun-tahun dan tidak banyak informasi pribadi tentang dirinya yang tersedia secara daring. Namun, dia selalu melanggar aturan kalau sudah menyangkut Yunda. Ryan jadi sering muncul di berbagai tempat bersama Yunda dengan cara yang mencolok.Siapa Ryan? Tidak ada media yang berani mempublikasikan foto dan informasinya secara daring tanpa seizin pria itu. Oleh karena itu, skandal ini pasti dilakukan dengan persetujuan Ryan.Setelah berpikir panjang, Susan men







