Beranda / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 1 Memilih Janda Beranak

Share

Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi
Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi
Penulis: Ratu As

Bab 1 Memilih Janda Beranak

Penulis: Ratu As
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 17:04:19

"Memang Dokter Liam atau mantan istrinya yang mandul?"

Marfa terdiam saat mencuri dengar kedua pembantu yang sedang asyik bergosip di dapur. Mereka sedang membahas suaminya.

"Entahlah, tapi yang jelas setelah bercerai mereka saling adu pembuktian. Bahkan Pak Liam saja sengaja mencari istri yang janda beranak."

"Ah, pantas saja!" sahut Suly semakin bersemangat. "Jadi itu sebabnya Pak Liam yang seorang dokter berbakat dan berkuasa mau menikah dengan perempuan udik itu? Astaga!"

"Ya iyalah. Selain cantik, Marfa itu kan sudah teruji suburnya. Dia digunakan sebagai bahan penelitian Pak Liam, kita lihat saja kalau sampai beberapa bulan di sini Marfa tak kunjung hamil, palingan Pak Liam langsung menceraikannya!"

"Itu sih sama saja Pak Liam cuma butuh alat pencetak anak!"

Marfa meremas ujung bajunya, ia masih tidak mengerti dengan apa yang ia dengar, namun hatinya terasa perih mendengar obrolan dari beberapa pembantu itu tentang ia dan suaminya.

Benarkah suaminya menikahinya hanya untuk dijadikan bahkan pembuktian kalau suaminya tidak mandul?

Marfa seorang janda anak satu berusia dua puluh lima tahun, berasal dari desa yang terbilang pelosok dan jauh dari hingar-bingar. Ia menikah dengan Liam--seorang dokter dengan status duda tanpa anak.

Awal mereka menikah, Haris sebagai paman Marfa sekaligus seorang pebisnis yang cukup sukses di kota datang menjadi perantara di antara keduanya.

Respons pertama dari Vian--anak Marfa, saat melihat foto yang disodorkan oleh Haris anak itu langsung berjingkrak riang sembari berkata, "Aku mau dokter baik ini jadi ayahku!"

Vian menderita penyakit jantung bawaan, saat itu ia baru saja selesai dioperasi, dan anak itu mengenal jelas wajah dokter yang menjadi malaikatnya yaitu Liam.

Karena antusias Vian, dan kebutuhan anak itu pada sosok ayah, Marfa pun mempertimbangkan untuk menikah. Keluarganya sendiri sangat mendorong Marfa untuk segera mengakhiri status jandanya yang memalukan.

Marfa sendiri seorang putri dari keluarga juragan di desa, namun status jandanya membuat Marfa sering kali disudutkan, baik oleh orang luar bahkan oleh orang tua dan saudaranya.

Pernikahan itu pun terjadi begitu saja. Setelah menjadi istri Liam, Marfa masih tinggal desa selama hampir enam bulan.

Sekarang, sudah tiga minggu Marfa pindah ke kota, tinggal di rumah orang tua Liam. Namun sepanjang itu pula suaminya tidak pernah ada di rumah.

Melihat Marfa yang berdiri tak jauh, pembantu yang sebelumnya asyik bergosip mulai berhenti dan memperhatikannya. Mereka tebak pasti ia sudah mendengar apa yang mereka obrolkan sejak tadi.

"Eh, Marfa! Apa kamu dengar apa yang kita ucapkan tadi? Tolong jangan diambil hati ya," kata Tuti, pembantu yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dari tatapannya penuh cibiran.

Mendengar sapaan mereka yang kurang sopan, tentu saja Marfa cukup kaget. Mereka bahkan seolah bicara dengan orang yang setara, padahal Marfa menantu keluarga yang mempekerjakan mereka.

"Bibi, kalian panggil aku Marfa saja? Apa Bibi tidak merasa itu salah dan kurang sopan …"

"Yaelah, apa kami harus panggil Non Marfa? Atau Nyonya? Sementara posisi kamu tidak jauh beda dari kami!" sahut Tuti dengan senyum sinis penuh cibiran.

Marfa masih mematung, ia terlihat semakin syok dan membuat para pembantu itu makin mentertawakannya.

"Tugas kami bekerja melayani majikan untuk memasak dan beres-beres rumah! Sedangkan kamu bekerja melayani Pak Liam di ranjang sebagai mesin pencetak anaknya... jadi, sebenarnya kamu malah lebih mirip LC!" sahut Suly yang ikut bersuara nyaring.

Bibir Marfa bergetar, namun tidak ada satu pun kalimat yang bisa ia ucapkan. Lidahnya terlalu kelu dengan tenggorokan yang terasa tercekat. Memang bukan fakta baru jika ia bukan siapa-siapa di sini.

Mereka tertawa merasa Marfa sangat bodoh dan terlalu tidak sadar diri. Dinikahi hanya untuk jadi mesin pencetak anak, apa yang bisa dibanggakan?!

"Pernikahan bahagia? Itu hanya mimpi," lanjut Tuti penuh ejekan.

Marfa tidak ingin mendengar apa pun lagi, panggilan putranya membuatnya buru-buru menjauh dari tempat itu.

***

Malam ini jadwal Liam pulang. Lelaki itu sudah memberi tahu sebelumnya. Namun tidak ada antusias di wajah Marfa sedikit pun.

Padahal malam-malam sebelumnya Marfa selalu menantikannya, membayangkan bagaimana bertemu suaminya di saat sekarang mereka berada di kota, di tempat Liam seharusnya tinggal.

Wanita itu berbaring di ranjang lebih awal.

Marfa termenung, ia ingat jelas sebagai dokter yang masih aktif bertugas, Liam hanya pulang sebulan sekali saat Marfa masih ada di kampung. Itu pun tidak lama, hanya satu malam. Setelahnya Liam akan kembali pergi keesokan harinya.

Suara derit pintu terdengar saat hampir tengah malam.

Marfa menyambutnya dengan senyum getir di balik selimut yang menutupi tubuh sepenuhnya, saat teringat dengan ucapan para pembantu siang tadi.

Sekarang ia tahu alasan kenapa suaminya menikahinya. Seorang dokter terhormat yang tampan dan mapan, memang tidak mungkin tiba-tiba mau menikahi janda desa tanpa alasan yang jelas.

Mungkin itu sebabnya, selama ini suaminya selalu datang di saat jam malam begini, hanya untuk menidurinya.

Selama pernikahan itu bisa dibilang Liam dan Marfa bahkan tidak pernah duduk bersama untuk mengobrol. Komunikasi intens mereka hanya terjadi saat kegiatan ranjang.

Kalau begini, apa sudah bisa dipastikan jika ucapan para pembantu siang tadi benar? Marfa hanya dijadikan bahkan uji coba suaminya untuk memastikan lelaki itu tidak mandul.

"Kamu tertidur?" Suara berat suaminya terdengar tepat di telinga Marfa.

Lelaki itu sudah naik ke ranjang, berbaring tepat di sebelah Marfa dan menyentuh pundaknya.

Marfa tetap memunggungi Liam.

"Aku tahu kamu hanya pura-pura memejamkan mata."

Liam mendengus saat melihat Marfa berpura-pura tidak mendengar dan tetap memunggunginya. Tanpa respons dari wanita itu, Liam mulai bergerak lebih berani.

​Ia menyingkirkan rambut panjang Marfa yang menghalangi, lalu tanpa izin mendaratkan kecupan di pundak wanita itu.

Bibirnya terus menyusuri kulit halus Marfa hingga sampai ke tengkuk. Ia mengendus aroma tubuh Marfa yang lembut, menikmati kehalusan dan kehangatan milik wanitanya.

Untuk beberapa saat ia hanya mengecup, sebelum akhirnya kecupan itu berganti dengan gigitan kecil yang membuat Marfa terkejut dan melenguh.

"Pak Liam, berhenti!" Marfa terduduk dan membalik badan dengan menahan dada Liam.

Liam tersentak dengan repson Marfa yang biasanya patuh. Ia terduduk, lalu menyalakan lampu tidur yang sebelumnya gelap gulita karena dimatikan Marfa.

"Ada apa?" Liam bertanya dengan suaranya yang tetap tenang, ia menatap Marfa dengan sebelah alisnya terangkat.

Kali ini, Marfa punya kesempatan menatap cukup lama lelaki yang sudah jadi suaminya. Biasanya mereka bergelut dalam cahaya yang sangat minim dan redup, bahkan untuk melihat seperti apa lekuk wajah suaminya pun sulit.

Ternyata Liam memang tampan, sangat tampan dengan tubuh yang kekar dan berotot. Performanya di ranjang selama ini pun bisa dibilang bagus, lalu apa mungkin Liam mandul?

Mereka sudah melakukan hubungan badan beberapa kali, tapi memang belum ada tanda-tanda Marfa hamil.

"Aku sedang datang bulan,” ucap Marfa sedikit gemetar, ucapannya membuat kening suaminya berkerut.

"Belum selesai?"

Marfa menggeleng, jadwal datang bulannya selama ini memang selalu konsisten, Liam pasti sudah menghafalnya karena lelaki itu selalu datang hanya di saat masa subur Marfa.

"Bukankah harusnya tidak lebih dari ini?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
oke, lanjut seru banget ceritanya...
goodnovel comment avatar
Hydragea
Tahan... mau lanjut baca. Kalo Liam ternyata brengsek, mati aja Liam!
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
ceritanya baguuuus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 103 Teduh dan Hangat

    Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Marfa dan Vian saling tatap kemudian menunduk bingung, sedangkan Leo duduk santai di sebelah kemudi seolah tidak tahu apa pun, padahal di acara tadi ia sangat memperhatikan ayahnya. Sampai rumah, Liam menyuruh Ratih untuk menidurkan anak-anak sedangkan Marfa ia suruh untuk istirahat. "Tidur dan istirahatlah, sudah malam," kata Liam sembari berbalik hendak keluar, reflek Marfa meraih tangannya. Wanita itu duduk di tepi ranjang, menahan Liam dengan genggaman tangan dan wajah yang mendongak. "Mas, marah padaku?" tanya Marfa tanpa basa-basi, ekspresinya penuh rasa takut dan cemas. Liam menghela napas, sebelum menjawab ia sempat menatap Marfa cukup lama. "Maaf membuatmu takut," jawab Liam dengan suara rendah, ia mengusap pelan punggung tangan Marfa. "Aku tidak marah, hanya saja tadi terlalu cemas kamu kelelahan." Kening Marfa berkerut, ia menatap Liam dengan perasaan yang rumit antara percaya dan tidak percaya dengan alasan Liam yang sesed

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 102 Liam yang Tiba-tiba Marah

    Rusdi menuntun Angger melintasi kerumunan tamu menuju tempat Liam berdiri. Namun, sebelum sempat mempertemukan kedua pria muda itu, langkah Angger terhenti saat Vian yang sedang asyik berlarian mengejar Lio kehilangan keseimbangan dan menabrak kakinya.​Anak kecil itu hampir terjungkal jika saja Angger tidak dengan sigap menahan bahunya.​Vian perlahan mendongak, menatap pria di hadapannya dengan mata bulat yang mengerjap kaget. Rasa terkejut itu berubah menjadi binar gembira.​"Om Tyo?" panggil Vian antusias.​Angger sempat tertegun. Namun, raut herannya dengan cepat berganti senyuman hangat. Ia berlutut kecil lalu mengusap kepala Vian. "Vian? Kamu ada di sini? Apa kamu—"​"Itu anak saya," sahut sebuah suara berat mendahului pertanyaan Angger.​Liam mendekat seorang diri, meninggalkan Marfa sejenak di area yang lebih tenang. Pandangan tajamnya tertuju pada Angger, menilai pria muda yang begitu mengenali putranya.​Mendengar celetukan Vian dan interupsi dingin Liam, suasana mendadak t

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 101 Pertemuan Angger dan Keluarga Liam

    Marfa tertegun sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa ragu. Mengingat teguran dan tekanan dari Lisya sebelumnya, Marfa merasa pakaian pilihan pribadinya mungkin tidak akan pernah cukup mewah di mata ibu mertuanya itu.​"Terserah kamu saja, Mas," jawab Marfa pelan, mengusap jemarinya canggung. "Pilihanmu pasti lebih baik."​Liam memperhatikan keraguan yang tersirat di wajah pias istrinya. ​"Baiklah, nanti aku yang atur," sahut Liam. Tatapannya menajam lembut menatap layar. "Sekarang hentikan aktivitasmu di dapur. Tinggalkan adonan itu, minta Bi Ratih yang lanjutkan, dan masuk kamar untuk istirahat. Itu perintah."​Marfa terkekeh kecil, baru kali ini mendengar Liam bicara panjang karena memperhatikan kesehatannya. "Iya, Mas Dokter. Setelah ini aku langsung istirahat."Liam tersenyum tipis, dari layar itu tampak wajah tampannya semakin manis. ​"Bagus. Aku matikan teleponnya."​Setelah sambungan video call terputus, pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetukkan jarinya di at

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 100 Suami Perhatian

    ​"Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu lelah," pesan Liam sebelum berangkat ke rumah sakit. ​Marfa mengekor di belakang Liam hingga sampai di depan pintu utama. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Liam menghentikan langkah dan menoleh lagi pada Marfa. ​"Jangan sungkan menelepon jika ada apa-apa. Sekecil apa pun itu," tambah Liam lagi, memastikan istrinya paham bahwa ia selalu bisa diandalkan.Marfa tersenyum, kalimat itu sekarang sangat akrab di telinganya. Liam selalu mengingatkannya untuk menghubungi jika ada masalah. Begitu Liam berangkat ke rumah sakit, kekacauan pagi hari pun dimulai. Sejak kemarin Lio berubah jadi sangat manja dan penuh tuntutan, terutama di jam-jam sibuk saat bersiap-siap ingin berangkat sekolah. Sikapnya yang dulu mandiri kini berubah menjadi sangat sulit diatur dan kerap membuat Marfa kewalahan.​"Tante Marfa! Lio tidak mau pakai baju yang ini! Mau baju olahraga yang warna biru!" seru Lio dari dalam kamarnya, melempar seragam sekolah yang sudah rapi disetr

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 99 Ngidam

    ​Pertanyaan itu sempat melintas, namun Marfa tak ingin merusak momen indah ini dengan keraguan. Terlepas dari apa pun alasannya, Marfa tetap mengulas senyum bahagia. Ia makin menyusupkan wajahnya ke dada bidang Liam, menikmati hangatnya dekapan sang suami sebelum pagi benar-benar menyapa. * Liam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya,ia tampak segar ada tetesan air yang membasahi rambut hitamnya. Begitu membuka pintu, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Marfa yang sudah duduk di tepi ranjang dengan seulas senyum ke arahnya. ​"Mas, bajunya sudah kusiapkan," ucap Marfa dengan wajah yang jauh lebih berseri, meski rona di bibirnya masih terlihat agak pias. ​Mata tajam Liam langsung tertuju pada selang infus yang masih menggantung dan menempel di punggung tangan istrinya. Pria itu menghela napas pendek, tatapannya menyirat sedikit ketegasan. ​"Kalau masih pusing dan lemas, jangan banyak bergerak dulu, Marfa," tegurnya tenang namun sarat peringa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 98 Sikap Lembut Suami

    Tak lama kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar mendekati kamar. Liam kembali dengan membawa kantong plastik berisi bubur manis yang diminta Marfa. Tanpa banyak bicara, pria itu memindahkan bubur tersebut ke mangkuk, lengkap dengan sendoknya.​Liam duduk di tepi ranjang. Suasana kaku dan dingin yang biasa melingkupinya mendadak luluh oleh raut cemas yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia mengaduk bubur itu, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengulurkan suapan ke hadapan Marfa.​"Buka mulutmu," ujar Liam, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan.​Marfa menatap sendok itu ragu. Pening di kepalanya memang sedikit mereda setelah infus terpasang, tetapi rasa mual masih bersarang kaku di kerongkongannya. "Mas, aku bisa makan sendiri..."​"Kamu bahkan tidak punya tenaga untuk memegang sendok," potong Liam tegas. Tangannya tetap bertahan di udara. "Makan sedikit, Marfa. Jangan buat aku bersikap lebih keras dari ini."​Sikap bersikeras Liam membuat Marfa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status