Share

Bab 55 Dia Istriku

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-08-27 16:54:11

Liam kembali melanjutkan obrolan saat ia mungkin sadar jika lelaki yang bersama Marfa adalah Rayyan.

Dari kejauhan, Lisya yang mengira Marfa hanya akan diam, cukup kaget melihat menantunya itu punya seseorang yang mengajaknya bicara.

"Tunggu, Bu, biarkan saja," cegah Rusdi saat istrinya hendak pergi menghampiri Marfa. "Ayah tahu wanita itu, namanya Bu Wiwit. Kalau tidak salah beliau seorang dosen juga, dari keluarga Wijaya," lanjut Rusdi berbisik.

Mendengar itu Lisya mencebikkan bibirnya, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 60 Aku Ada di Pihakmu

    Liam tetap diam, namun lipatan di dahinya kian dalam seraya mengamati perubahan ekspresi Alena.​"Liam, tolong... aku seorang dokter," bisik Alena pasrah. Kedua tangannya terangkat melayang ragu di udara, seolah ingin menyentuh lengan Liam namun ia tahan. "Aku membangun reputasiku bertahun-tahun dengan susah payah. Nama baikku, karierku... semuanya bisa hancur hanya karena tuduhan tak berdasar ini."​Setetes air mata mengambang di sudut mata Alena, membuat parasnya terlihat makin memelas.​"Aku mohon, Liam... bantu aku," pintanya lirih, matanya menatap penuh permohonan pada Liam. "Kamu punya pengaruh, kamu kenal banyak orang. Tolong lakukan sesuatu untuk menghapus unggahan itu, atau pakai caramu sendiri untuk meredam beritanya sebelum pihak rumah sakit memanggilku."Liam menghela napas, ia tidak mungkin terus berada di sana hanya untuk mendengar Alena terus merengek padanya. "Kamu mengenal tiga wanita itu?" tanya Liam memastikan.Alena tersentak kecil saat Liam melontarkan pertanya

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 59 Alena Memohon pada Liam

    Nina terus meyakinkan Marfa. Ia begitu bersemangat membujuk sahabatnya agar tak lagi tinggal diam. Ia ingin ketiga wanita yang mempermalukan Marfa itu mendapat balasan yang setimpal.​"Begini saja, Marfa. Kalau kamu belum yakin bawa ini ke jalur hukum sekarang, kita pakai cara yang paling cepat dan berdampak dulu."​"Apa?" Marfa penasaran. Ia menggeser duduknya lebih dekat, menatap Nina lekat-lekat.​"Rayyan sudah dapat rekaman CCTV area luar toilet—momen pas ketiga wanita itu menghampirimu dan melancarkan provokasi sebelum memojokkanmu. Kita unggah potongan video itu ke media sosial. Biarkan netizen yang mengadili mereka lebih dulu."​Nina bicara dengan penuh keyakinan.​"Hukum sosial itu jauh lebih mengerikan, Fa. Dengan ini, bukan cuma Yani dan dua temannya yang kena mental, tapi nama Alena juga bisa terseret kalau publik mulai mengulik latar belakang mereka. Bukankah mereka bergerak atas suruhan Alena?"​Marfa terdiam sejenak. Apa yang diusulkan Nina terasa masuk akal. Ketimbang t

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 58 Nina Tidak Tinggal Diam

    "Kami berangkat dulu," pamit Liam saat ia dan Vian sudah selesai sarapan. Marfa mengangguk, ia mengantar sampai depan pintu lalu kembali masuk. Karena tidak mengantar Vian ke sekolah, Marfa berniat untuk menghabiskan waktunya merapikan tanaman yang ada di rooftop. Ia duduk lebih dulu sembari menikmati secangkir teh, tanaman yang kemarin dibelinya tumbuh dengan subur di pot-pot yang tertata rapi di rooftop. Sebelum ia mengotori tangannya, Marfa ingat ingin menanyakan tentang tanaman hias yang ada di kampung pada neneknya. Jadi Marfa melakukan panggilan. "Marfa, ya ampun Nduk, bagaimana kabarmu baik? Sampai di kota jam berapa waktu itu?" Wati langsung memberondong cucunya dengan banyak pertanyaan setelah mengucapkan salam. Marfa tersenyum, ia menjawab pertanyaan hangat neneknya dengan senang hati. "Nenek, aku dengar Mang Santo sering ke kota buat antar-antar barang ya? Misal Marfa mau titip tanaman hias yang ada di rumah Nenek buat dibawa kemari apa bisa?""Loh, tentu bisa. Ada te

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 57 Merasa Asing

    "Apa yang kamu inginkan Marfa?" Liam mencekal kedua tangan istrinya. "Hanya karena tidak memarahi mereka secara terang-terangan lalu kamu berpikir sepicik itu?" Marfa mendengus, dadanya naik-turun dengan napas memburu. "Memang apa? Nyatanya kamu tidak peduli padaku!" Liam menghela napas, tatapannya pada Marfa seakan begitu lelah menghadapi sikap wanita itu, padhaal Marfa baru saja meledak. Dan ia belum mendapat solusi apa pun. "Tidak peduli? Aku membawamu pulang, aku merawatmu--" Tatapan Liam menajam, seakan kecewa apa yang ia lakukan tidak dinilai oleh istrinya. Marfa terdiam dalam posisinya. Ingatan itu berputar kembali di kepalanya.​Ia ingat jelas bagaimana Liam membopong tubuhnya yang basah kuyup, mendekapnya erat, dan memegang jemarinya yang gemetar. Sampai di rumah pun, Liam yang membantunya mengganti pakaian lalu membaringkannya di kasur hingga ia merasa hangat dan aman. ​"Kenapa? Lupa?" bisik Liam rendah.​Marfa menunduk, tenggorokannya terasa kaku dan kelu. Pada akhirn

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 56 Tidak Membela

    Liam tidak menggubris ucapan Rayyan, ia tetap melangkah cepat. Rayyan mengikuti langkah Liam, keduanya menghentikan perdebatan dan fokus mencari Marfa. Sampai di depan toilet wanita mereka berhenti sejenak. Suasana sekitar sepi, namun terdengar suara dari dalam toilet. "Pak Liam hanya pantas untuk dokter Alena! Lebih baik setelah ini kamu minta cerai saja!" Suara dari dalam terdengar keras diiringi dengan guyuran air. Liam yang mendengarnya langsung mendobrak pintu, sedangkan Rayyan masih mencerna situasi. "Berhenti!" bentak Liam saat ia melihat Marfa tersungkur di lantai dengan pakaian basah kuyup. Istrinya tidak hanya dirundung tapi juga mendapat kekerasan. "Pak Liam--" Tiga wanita itu kaget, tentu saja tidak menyangka dengan kedatangan Liam yang tiba-tiba memergoki mereka. Nyali mereka seketika menciut, tangannya gemetar mereka hendak kabur namun gerakan Liam membuat mereka membeku. Liam langsung membungkuk, membopong tubuh Marfa keluar sembari menatap satu per satu wanita

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 55 Dia Istriku

    Liam kembali melanjutkan obrolan saat ia mungkin sadar jika lelaki yang bersama Marfa adalah Rayyan. Dari kejauhan, Lisya yang mengira Marfa hanya akan diam, cukup kaget melihat menantunya itu punya seseorang yang mengajaknya bicara. "Tunggu, Bu, biarkan saja," cegah Rusdi saat istrinya hendak pergi menghampiri Marfa. "Ayah tahu wanita itu, namanya Bu Wiwit. Kalau tidak salah beliau seorang dosen juga, dari keluarga Wijaya," lanjut Rusdi berbisik. Mendengar itu Lisya mencebikkan bibirnya, ia urung menarik Marfa keluar. Tampaknya mereka mengobrol dengan seru. "Aku memang suka merawat bonsai karena almarhum Kakek yang mengajari. Beliau punya beberapa koleksi, bahkan ada yang usianya sudah puluhan tahun. Setelah Kakek meninggal, aku yang melanjutkan merawatnya, tapi semua tanamannya masih ada di kampung," tutur Marfa.​Wiwit mendengarkan dengan mata berbinar antusias. Sejak awal berbincang, ia sudah terkesan dengan pemahaman Marfa. Kendati Marfa bersikap rendah hati, wawasannya tenta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status