Duda Dingin Nikah Kilat, Kok Bisa Luluh?

Duda Dingin Nikah Kilat, Kok Bisa Luluh?

By:  Febriana RiriUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat Selina berada dalam keadaan terdesak dan tak punya jalan keluar, dia menyelamatkan seorang gadis kecil berusia lima tahun. Ayah gadis itu ingin membalas jasanya, tetapi Selina malah meminta mahar sebesar 576 juta. Setelah menikah, melihat sikap dingin suaminya terhadap dirinya, Selina justru menerimanya dengan lapang dada. Dia berusaha keras menabung, berniat melunasi uang itu, lalu bercerai dan pergi. Di mata Nathan, Selina sama seperti semua wanita yang matre. Demi putrinya, dia menikahi Selina. Tahun pertama setelah menikah, Nathan merasa Selina memang sangat mencintai uang. Wanita ini menikah dengannya hanya demi uang, jadi dia tidak boleh terlalu lunak terhadapnya. Tahun kedua setelah menikah, Nathan tiba-tiba merasa Selina sangat menyedihkan, dia merasa iba dan perih melihatnya. Dia pun memutuskan untuk memberinya lebih banyak uang. Toh dia memang punya banyak uang. Tahun ketiga setelah menikah, Nathan akhirnya menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta. Dia pun bersiap memberikan seluruh hartanya kepada Selina. Namun, Selina telah berhasil mengumpulkan 576 juta dan menyerahkannya kepada Nathan. "Pak Nathan, terima kasih sudah membantuku waktu itu. Ini uangnya, aku kembalikan kepadamu. Mari kita bercerai!" Pada saat itu, Nathan panik. Dia begitu panik hingga kehilangan kendali. Dia menggenggam erat tangan Selina dan matanya memerah. "Siapa yang menginginkan uangmu? Kamu kira pernikahan ini bisa kamu putuskan sesukamu? Kuberi tahu ya, dalam kamusku nggak ada kata cerai. Aku cuma akan menjadi duda kalau istriku mati." Selina hanya bisa terdiam seribu bahasa.

View More

Chapter 1

Bab 1

Selina Belawan menikahkan dirinya sendiri dengan mahar sebesar 576 juta.

Pria itu sepuluh tahun lebih tua darinya dan juga memiliki seorang putri berusia lima tahun.

Setelah menyerahkan uang mahar kepada orang tua sebagai balas jasa karena sudah membesarkannya, Selina membereskan barang bawaannya yang hanya sedikit, lalu pindah.

Ketika tiba di alamat yang diberikan suaminya, Selina menatap vila megah dan luas di hadapannya.

Selina mengira dirinya salah jalan.

Saat hendak berbalik pergi, tiba-tiba terdengar suara merdu seorang gadis kecil dari kejauhan.

"Akhirnya Kakak datang."

Sebelum Selina sempat bereaksi, gadis kecil itu langsung berlari menghampirinya dan memeluk kakinya. Dia mendongakkan kepalanya yang bulat dan tersenyum cerah.

Selina berjongkok dan memeluknya, lalu bertanya dengan sedikit tak percaya, "Ini rumahmu?"

Star mengangguk-angguk. Tangan kecilnya yang putih dan lembut menggandeng Selina masuk ke vila.

Indah, pembantu di rumah itu, pun buru-buru maju untuk membawakan barang bawaan Selina.

Selina masih merasa sedikit tak percaya.

Pria yang dinikahinya ternyata sekaya ini. Pria itu tidak hanya mampu mengeluarkan 576 juta dengan mudah, tetapi juga tinggal di rumah semewah ini.

Namun, pria itu memang terlihat luar biasa. Pakaiannya rapi dan berkelas.

Meskipun sudah berusia 32 tahun, wajahnya tetap tampan.

Setidaknya jauh lebih baik daripada pria cacat dan tua yang dipaksakan padanya oleh orang tuanya.

Mengikuti Star masuk ke vila, mata Selina langsung dimanjakan oleh kemegahan interior yang benderang. Dekorasi berlapis emas serta batu mulia tampak berkilau, memantulkan pendar cahaya ke seluruh penjuru ruangan.

Mewahnya benar-benar seperti istana.

Selina sampai terpana melihatnya.

Indah maju dan berkata, "Nyonya, silakan ke atas. Saya antar Nyonya ke kamar dulu."

Selina mengangguk, lalu menggandeng Star dan mengikuti Indah dengan sedikit canggung.

Indah mengantarnya ke kamar, menaruh barang-barangnya, lalu meninggalkan beberapa pesan sebelum membawa Star pergi.

Selina berdiri di kamar yang mewah dengan desain minimalis, lalu menunduk melihat pakaiannya sendiri.

Sepatu putih, celana jeans, kaus putih. Penampilannya benar-benar jomplang dengan lingkungan semewah ini.

Kemudian, dia teringat Indah berpesan bahwa pakaian untuknya sudah disiapkan dan kamar mandi juga ada di samping.

Demi secepatnya menyesuaikan diri dengan keluarga ini, merawat Star dengan baik, dan menjalankan tanggung jawab sebagai seorang istri, Selina mengambil pakaian rumah dari dalam lemari, lalu masuk ke kamar mandi.

Ketika berbaring di dalam bathtub yang hangat dan nyaman, Selina kembali teringat kejadian tiga hari lalu. Sampai sekarang, dia masih merasa semuanya seperti mimpi.

Tahun ini, dia baru berusia 22 tahun. Dia baru saja lulus kuliah dan sedang menjalani masa magang di rumah sakit.

Namun, orang tuanya sudah memaksanya pulang ke kampung halaman untuk dijodohkan dan menikah.

Saat dia menolak, orang tuanya bahkan mengancam akan bunuh diri dan mengatakan bahwa mereka sudah menerima mahar sebesar 576 juta dari pihak pria.

Uang mahar itu sudah digunakan untuk membelikan rumah bagi adik laki-lakinya.

Selina tidak punya pilihan selain pulang untuk bertemu dengan pria yang akan menikahinya itu.

Pria itu ternyata sudah berusia lebih dari 40 tahun dan bahkan kehilangan satu kaki.

Saat melihat pria itu, hanya ada satu pikiran di benak Selina. Dia ingin mati.

Setelah kembali ke kota dan pulang dari magang, dia mencari tempat yang sepi untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, dia malah melihat Star terjatuh ke dalam air.

Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, dia langsung melompat ke danau untuk menyelamatkannya.

Selina belajar keperawatan. Dengan usahanya, dia berhasil menarik Star kembali dari ambang kematian.

Keesokan harinya, ayah Star mencarinya dan menanyakan apa yang dia inginkan sebagai imbalan. Dia bisa memberinya uang atau memenuhi satu permintaannya tanpa syarat.

Selina menatap pria itu dengan mulut ternganga.

Dengan spontan, dia bertanya, "Putri Bapak bilang, Bapak masih lajang? Kalau begitu, maukah Bapak menikahi aku? Tapi Bapak harus memberiku mahar 576 juta."

Selina tahu, tidak ada pria yang akan menyetujuinya.

Namun, ayah Star menyetujuinya.

Saat itu juga dia mentransfer 576 juta kepada Selina, lalu mengajaknya ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan.

Selina juga tahu bahwa alasan pria itu bersedia menikahinya hanyalah karena dia ingin mencarikan ibu sambung untuk putrinya.

Dia tidak tahu ke mana ibu Star pergi, juga tidak tahu bagaimana kedua orang tua Star sampai bercerai.

Mungkin karena terlalu lelah, Selina bersandar di dalam bathtub dan tertidur.

Akhirnya, Indah datang untuk membangunkan dan mengingatkannya, "Nyonya, Tuan sudah pulang. Cepat siap-siap dan turun untuk makan bersama Tuan dan Nona."

Selina tidak berani menunda-nunda. Dia segera keluar dari bathtub, berganti pakaian, lalu mengenakan sandal berbahan katun dan turun dengan langkah ringan.

Di ruang tamu ....

Pria yang mengenakan setelan jas desainer itu tampak gagah, tenang, dan berwibawa.

Mungkin karena usianya lebih tua, setiap kali berhadapan dengannya, Selina selalu merasa aura pria itu terlalu kuat.

Napasnya pun sampai terasa sedikit sesak.

Selina menggigit bibir, lalu berjalan mendekat dan menyapa dengan canggung, "Kamu sudah pulang."

Nathan Hartono mengangkat kepala.

Tatapannya menyapu gadis itu, tetapi dia sama sekali tidak memedulikannya.

Wanita yang menikah dengannya demi uang ini, apa bedanya dengan wanita-wanita di luar sana yang berusaha dengan segala cara untuk naik ke tempat tidurnya?

Kalau bukan karena dia sudah menyelamatkan putrinya, posisi sebagai Nyonya Hartono tidak mungkin jatuh kepadanya.

"Makan."

Nathan bergegas dan meninggalkan sepatah kata itu, lalu pergi ke ruang makan.

Melihat sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh, Selina mencemooh dirinya sendiri dalam hati.

Bagaimana mungkin Nathan menyukainya?

Dia memang sudah menyelamatkan putri Nathan, tetapi juga meminta 576 juta darinya.

Sekarang dia bahkan pindah ke rumahnya dengan status sebagai istri.

Siapa pun pasti akan merasa dirinya sudah dimanfaatkan jika berada dalam situasi seperti ini.

Selina sendiri juga memandang rendah dirinya yang sudah bertindak tanpa pikir panjang.

Namun, dia memang membutuhkan seorang suami.

Kalau tidak, orang tuanya pasti akan kembali memaksanya menikah dengan pria lain.

Daripada menikah dengan pria-pria aneh di kampung halamannya, lebih baik dia tinggal di sini dan menjadi ibu sambung Star.

Setidaknya, suaminya ini enak dipandang dan Star juga menyukainya.

"Kak, kata Papa, Kakak akan terus tinggal di sini untuk menemaniku dan juga bisa menjadi mamaku. Benarkah?"

Gadis kecil itu mendongak, menatap Selina dengan mata besar yang cerah, penuh kegembiraan, dan kepolosan.

Selina menggenggam tangannya. Senyuman anak itu ikut membuatnya tersenyum.

"Iya, mulai sekarang aku akan tinggal di sini untuk menjagamu."

"Hore! Berarti Kakak bisa terus menemani aku!"

Star kembali bertanya, "Papa bilang Kakak bisa jadi mamaku. Kalau begitu, mulai sekarang aku boleh manggil mama?"

Selina mengangguk dan mengusap kepalanya. "Boleh."

Dia sudah menikah dengan Nathan dan menjadi ibu sambung Star, jadi kenapa tidak membiarkan anak itu memanggilnya mama?

Selina menggendong anak itu dan duduk di kursi, lalu duduk berhadapan dengan Nathan.

Pria itu tidak bersuara. Selina juga tidak tahu harus mengatakan apa. Saat menunduk untuk makan, tatapannya tanpa sadar sesekali melirik ke arah pria itu.

Nathan tetap tanpa ekspresi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah selesai makan, dia langsung bangkit dan pergi.

Selina menatap punggungnya yang perlahan menjauh dan merasa sedikit tidak nyaman.

Namun, mungkin seperti ini juga lebih baik.

Suaminya tidak menyukainya dan tidak ingin berinteraksi dengannya. Kemungkinan besar dia juga tidak akan menyentuhnya atau memintanya menjalankan kewajiban sebagai istri.

Setelah berhasil mengumpulkan 576 juta, dia akan mengembalikan uang itu kepada Nathan dan mengajukan perceraian.

Malam harinya, setelah menidurkan Star, Selina berniat tidur bersama anak itu.

Namun, Nathan muncul di depan pintu kamar dan berkata kepadanya, "Kamu keluar. Kita bicara."

Selina tidak berani menunda. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan mengikutinya ke kamar utama.

Pria itu berjalan ke ruang santai dan duduk di sofa, lalu menunjuk benda-benda di atas meja.

"Surat perjanjian di sana. Tanda tangani."

Selina menatap perjanjian pranikah dan perjanjian kerahasiaan itu, tetapi tidak ragu sedikit pun. Dia mengambil pena dan menandatanganinya dengan patuh.

Dia tidak membaca isinya, jadi tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya.

Melihat tindakannya, Nathan mengingatkannya, "Kamu nggak mau baca dulu?"

Barulah Selina menatapnya.

"Aku tahu maksud Pak Nathan. Tenang saja, aku nggak akan membiarkan orang lain tahu aku adalah istrimu. Aku juga nggak akan menghabiskan uangmu sepeser pun."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status