LOGIN"Saya tadinya sempat berpikir harus mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menuntaskan urusan kami. Ternyata, dia sendiri yang mengantarkan nyawanya ke mulut singa."Ibu Ratna membelalakkan matanya, napasnya tak beraturan di balik rangkulan suaminya. "Jangan sombong kamu, bajingan! Indra tidak sendiri! Dia bersama pasukan bayaran internasional dan dipersenjatai perlengkapan militer mutakhir! Kali ini kamu pasti mati!" teriak wanita paruh baya itu dengan sisa-sisa tenaga dan kebencian yang meluap-luap.Wildan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah Ibu Ratna tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Silakan pegang keyakinan itu erat-erat, Bu Ratna. Nikmati setiap detik harapan palsu sebelum anak kebanggaan Ibu itu berlutut di hadapan saya dengan kepala tertunduk."Wildan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jenderal Soebroto. Pria tua yang dulunya disegani sebagai perwira tinggi bintang dua itu kini tampak begitu rapuh, terseret dalam pusaran kehancuran total yang diciptakan oleh kebodo
Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal
Debu sisa ledakan masih melayang di udara ruang kerja yang porak-poranda. Jenderal Soebroto tidak bergeming di balik meja kerjanya. Tongkat kayu tua digenggamnya erat, bukan untuk menopang tubuhnya yang sudah mulai menua, melainkan untuk menahan amarah yang hampir meledak.Di hadapannya, Wildan berdiri tegak. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Laras senjatanya dibiarkan menunjuk ke lantai, tetapi sorot matanya jauh lebih mematikan dari peluru mana pun."Kenapa Anda terus cari mati, Jenderal?" suara Wildan memecah sunyi, rendah namun bergetar penuh tekanan.Soebroto mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis. "Cari mati? Kau hanya anak kemarin sore yang kebetulan memegang senjata di atas runtuhannya dinasti orang lain, Wildan.""Dinasti?" Wildan terkekeh pelan, tawa tanpa rasa humor. Ia melangkah maju satu langkah, memangkas jarak hingga meja kerja menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka. "Yang tersisa dari dinasti Anda malam ini cuma debu dan bangkai pengawal
Suara letupan senjata api dan deru mesin kendaraan taktis yang menggema di kediaman Jenderal Soebroto tampaknya berada di dunia yang sangat berbeda dengan tempat pelarian Indra saat ini. Di sebuah kamp latihan militer rahasia yang terletak di wilayah terpencil di seberang lautan, suasana sore itu tampak terik dan dipenuhi bau mesiu serta debu jalanan.Indra berdiri tegak di lapangan tembak terbuka dengan postur tubuh yang mulai pulih sepenuhnya. Meskipun tangan dan sebagian fisiknya masih menyisakan sisa-sisa luka akibat insiden pelarian di laut lepas beberapa waktu lalu, sorot mata beringas dan ambisi gelapnya tidak pernah surut sedikit pun. Di hadapannya, target sasaran berupa siluet manusia berlubang-lubang akibat terjangan peluru kaliber besar.Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, sekutu baru sekaligus pemimpin faksi militer bayaran lokal yang menampung pelariannya—seorang gembong senjata bernama Victor.Victor menurunkan senapan serbunya, melirik ke arah Indra
Suara ledakan susulan yang menggema di luar jendela membuat debu dan serpihan plester langit-langit berjatuhan ke lantai ruang kerja. Jenderal Soebroto, meskipun usianya sudah senja, masih menunjukkan ketegasan seorang perwira tinggi militer yang terbiasa menghadapi medan perang. Namun di balik tatapan kerasnya, terselip kepanikan luar biasa saat ia melihat situasi di luar sudah benar-benar di ambang kehancuran total.Ia dengan cepat mencengkeram kedua bahu istrinya yang sedang syok berat. Wajah Ibu Ratna pucat pasi, air matanya meleleh deras membasahi pipi, menatap suaminya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab."Ratna, dengar baik-baik apa kataku sekarang!" suara Soebroto terdengar tegas, berusaha menerobos suara bising di luar. "Masuklah ke dalam kamar tidur utama, kunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah keluar apa pun yang terjadi di luar sana! Paham?!"Ibu Ratna tidak langsung menjawab. Netranya yang basah hanya menatap nanar suaminya, seolah sedang membaca akhir dar
Konvoi kendaraan taktis Black Wolf melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu depan kendaraan dimatikan, hanya menyisakan sorot inframerah dan kegelapan total yang menyelimuti barisan mobil SUV hitam pekat tersebut. Di kursi kemudi kendaraan utama, Wildan duduk dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapan matanya lurus ke depan, memantulkan nyala api dendam yang tidak akan padam sebelum seluruh sisa pertahanan musuhnya benar-benar runtuh. Di belakangnya, dua puluh unit kendaraan taktis bermuatan pasukan elit mengikuti dalam formasi tempur yang sangat rapi dan senyap, bagaikan bayangan maut yang siap menerkam mangsanya kapan saja.Sementara itu, di sebuah kediaman mewah namun terisolasi di kawasan pinggiran kota yang menjadi tempat persembunyian terakhir Jenderal Soebroto, suasana malam terasa begitu sunyi dan mencekam. Di ruang kerja utamanya yang luas, Jenderal Soebroto duduk di kursi kebesarannya sambil memegang segelas wiski. Pria tua itu mencoba menenan







