Masuk“Kenapa dokter Sisca selalu terlihat perhatian ya ke kamu …?” tanya Maya pelan, matanya menyipit menatap Wildan dengan sorot penuh selidik di balik keremangan kamar VVIP.Wildan menghela napas pendek, sedikit terkejut dengan arah pertanyaan istrinya di tengah situasi genting seperti ini. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke ranjang, lalu merapikan selimut Maya."Jangan mulai mikir yang aneh-aneh, May," jawab Wildan dengan nada suara tenang dan sabar. "Dia cuma dokter yang biasa nanganin luka-luka di jaringan kita. Nggak lebih.""Tapi cara dia natap kamu ... beda," desis Maya, nada cemburu tipis terselip di balik suaranya yang parau. "Waktu kamu sekarat kemarin, dia kelihatan panik banget kayak kehilangan orang penting."Wildan tersenyum tipis, lalu mencubit hidung mancung istrinya pelan. "Dia panik karena kalau aku mati, dia tidak akan bisa menemukan seseorang yang bisa tetap hidup walau sudah babak belur parah. … Dan hubunganku dengannya hanya rasa terima kasih karena dia bisa nyemb
"Sakit, May? Ada yang luka?" tanya Wildan buru-buru, memperlambat langkahnya karena cemas.Maya menggeleng pelan. Tangannya meremas kemeja Wildan yang basah oleh darah. "Enggak, Wil. Aku cuma lemas ... perutku rasanya agak kencang.""Tahan sebentar ya, May. Kita keluar dari sini sekarang," bisik Wildan lembut.Angin malam pesisir terasa menusuk kulit saat Wildan menggendong Maya keluar dari lambung kapal kargo yang berantakan itu. Maya menyembunyikan wajahnya di dada Wildan, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa takut dan tekanan mental yang ia tahan sejak semalam."Bos! Ambulans bawah tanah kita udah standby di pelabuhan," lapor Beno yang berlari menghampiri. Bajunya kotor oleh debu dan noda darah, tapi raut wajahnya tampak lega melihat nyonya besarnya selamat."Bawa kita ke rumah sakit VVIP sekarang, Ben. Kosongkan satu lantai penuh. Gue nggak mau ada orang luar yang bisa masuk atau liat kondisi Maya," perintah Wildan tegas sambil terus melangkah cepat."Siap, Bos. Anggota k
BRAK!!Pintu besi ruang penyekapan di ujung lorong paling gelap dari lambung kapal itu akhirnya ditendang hancur hingga terlepas sepenuhnya dari engsel. Suara benturan besi menghantam lantai bergema sangat keras, memecah kesunyian di dalam ruangan pengap tersebut.Sosok Wildan yang bermandikan darah melangkah masuk menembus kepulan asap tebal. Kemejanya yang terkoyak basah oleh campuran darahnya sendiri dan darah musuh. Tatapan matanya lurus, dingin, dan memancarkan aura kematian pekat layaknya dewa penjemput nyawa.Di dalam ruangan sempit berbau karat tersebut, Indra Wiguna berdiri mematung. Wajah cacatnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Senjata api yang berada di tangan kanannya bergetar hebat sebelum akhirnya terlepas dan jatuh menatap lantai besi."Nggak ... nggak mungkin …," bisik Indra dengan suara bergetar tak percaya. Matanya terbelalak menatap rivalnya. "Kamu udah mati! Aku lihat sendiri foto tubuhmu bersimbah darah semalam!""Gue nggak bakal mati sebelum potong leher lo,
Bab 177DOR! DOR! DOR!Dua granat kejut dilempar masuk ke dalam lorong bawah lambung kapal, disusul dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal seketika memenuhi lorong besi yang sempit dan pengap tersebut.Anak buah Kohar yang berjaga di balik barikade peti kayu panik luar biasa. Mereka mencoba membalas tembakan secara membabi buta ke arah pintu masuk, namun arah peluru mereka berantakan karena mata mereka perih dan telinga mereka berdengung."Maju! Bantai mereka semua!" teriak Wildan memberikan komando.Pasukan Black Wolf bersama para tentara bayaran merangsek masuk tanpa takut. Rentetan tembakan senapan otomatis seketika menggema memekakkan telinga di seluruh lorong bawah kapal. Suara pecahan kaca, desingan peluru yang memantul di dinding besi, dan jeritan histeris musuh menyatu dalam kekacauan massal.Sebab komplotan preman bayaran milik Kohar pada dasarnya hanyalah sekumpulan bajingan jalanan yang bertarung murni demi bayaran uang, moral tempur mereka langsung hancur
Sesampainya di geladak atas, Wildan menarik napas pelan dan melompat melewati pagar pembatas kapal. Ia langsung berjongkok di balik tumpukan tong besi.Kondisi area penjagaan luar benar-benar menguntungkan Wildan. Para penjaga pesisir dan pembunuh bayaran yang disewa oleh Kohar terlihat sangat lengah menjaga perimeter luar. Mereka sedang duduk melingkar di atas peti kayu, mabuk oleh euforia kemenangan palsu setelah menghancurkan mansion Wildan malam sebelumnya.Di titik itu, terdapat empat orang penjaga bersenjata laras panjang. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar sangat santai."Kohar berani bayar kita dobel cuma buat jaga kapal rongsokan ini. Enak banget kerjaan kita malam ini," ucap salah satu penjaga berambut gondrong sambil menenggak bir kalengnya."Iyalah santai, musuh utamanya aja udah mampus semalam," balas temannya yang memakai jaket kulit. "Si Wildan itu pasti udah mati kehabisan darah di rumahnya sendiri. Gue lihat sendiri perutnya robek. Si Indra juga nekat, istri oran
Karena dikurunng dan dikekang oleh Indra, menyebabkan isa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangkat wajahnya yang masih basah.T







