LOGINCincin berlian di jari manis Maya kini terasa sangat berat dan mencekik. Maya mencoba menarik cincin itu, namun ukurannya yang terlampau pas membuatnya sulit dilepas. Ia akhirnya hanya bisa menangis sesenggukan, terjebak dalam sangkar pria yang ternyata menyimpan dendam paling mematikan pada keluarganya.Sementara itu, di luar pintu kamar yang terkunci rapat, Wildan tidak beranjak satu sentimeter pun. Pria itu terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. Punggung lebarnya bersandar kaku pada daun pintu kayu jati. Perasaan frustrasi yang mendidih membakar dadanya.Langkah kaki terdengar mendekat. Wulan berjalan menghampiri adiknya dengan raut wajah yang sama hancurnya. Mata wanita paruh baya itu sembab sehabis menangis."Wil ... kamu mau sampai kapan ngurung Maya di dalam sana? Kasihan dia, Wil. Kondisi mentalnya lagi nggak stabil, apalagi dia lagi hamil," tegur Wulan pelan, ikut duduk berjongkok di sebelah adiknya.Wildan mendongak, menatap kakaknya dengan mata merah yang memanc
Bab 122 "Nggak," jawab Wildan cepat. “Aku nggak akan keluar dari sini.” Ia melangkah maju dan berdiri menjulang di depan ranjang. Matanya menatap Maya dengan nanar dan juga penuh penyesalan. "Dengerin aku baik-baik, Maya,” ucap Wildan, sengaja mengubah nada bicaranya menjadi lebih tinggi, untuk menunjukkan ketegasannya. "Aku nggak peduli kamu mau nangis, kamu mau mukul aku, atau kamu mau teriak benci sama aku tiap hari. Kamu tetep bakal ada di rumah ini. Kamu nggak akan aku biarin keluar satu langkah pun dari kamar ini.""Kamu egois! Kamu nyekap aku sama persis kayak yang dilakuin Mas Indra!" balas Maya dengan suara bergetar menahan marah."Iya, aku egois!" potong Wildan tanpa ragu. "Karena kalau aku biarin kamu keluar, Indra bakal langsung nyulik kamu. Dia yang kirim email arsip pengadilan itu ke tablet kamu buat misahin kita dengan salah paham. Kamu pikir aku bakal ngebiarin rencana bajingan itu berhasil? Nggak akan pernah."Maya menatap nanar wajah pria di hadapannya. Hatinya ben
Penolakan kasar dan tamparan keras dari Maya menciptakan keheningan yang luar biasa mencekam di dalam ruang tengah tersebut. Suara tamparan itu seolah memekakkan telinga. Wulan yang masih duduk berlutut di atas karpet menahan napasnya, tidak berani bersuara atau bergerak sedikit pun.Wildan, pria yang biasanya selalu memiliki kendali atas segala situasi di jalanan maupun di dalam bengkelnya, kini hanya bisa terdiam membeku. Rahangnya mengeras tajam. Urat-urat di lehernya menonjol menahan gejolak emosi yang tertahan di dada."May, aku mohon. Dengerin penjelasanku dulu," ucap Wildan dengan suara bariton yang parau."Penjelasan apa lagi?!" jerit Maya. Matanya menatap Wildan dengan sorot penuh rasa jijik. "Semua bukti udah ada di depan mata kamu! Kamu sengaja jadi montir di bengkel Mario. Kamu sengaja nolongin aku. Kamu nyembunyiin identitas ayahku yang ternyata jadi saksi palsu buat ibumu! Semuanya cuma rencana balas dendam, kan?!"Wildan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tub
Mata Maya terpaku pada deretan nama yang tertulis di layar tabletnya. Tepat di bawah nama Indra Wiguna, deretan nama saksi-saksi persidangan itu memuat satu nama yang sangat ia kenal. Nama yang membuat aliran darah di sekujur tubuhnya berhenti berdesir.Saksi-saksi: Surya Kusuma.Itu adalah nama mendiang ayah kandungnya.Menyadari fakta bahwa salah satu saksi pemberat hukuman ibu kandung Wildan adalah ayahnya sendiri, dunia Maya seketika runtuh berkeping-keping. Tablet pintar di tangannya terlepas hingga jatuh membentur lantai karpet akibat jari-jarinya yang bergetar hebat kehilangan tenaga.Napas Maya menjadi sangat sesak. Ia meraup udara dengan mulut terbuka, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan luas itu tiba-tiba tersedot habis tak tersisa. Rentetan kebetulan yang selama ini ia anggap sebagai takdir mendadak menjelma menjadi sebuah konspirasi yang sangat kejam. Ia akhirnya menyadari bahwa seluruh awal mula hubungannya dengan Wildan murni didasari oleh motivasi balas dendam yang
Jari telunjuk Indra baru saja menekan tombol kirim di layar laptopnya. Seringai mematikan tercetak jelas di wajah lebam mantan jaksa tersebut. Kegagalan mengirimkan paket teror fisik melalui kurir jalanan kemarin nyatanya sama sekali tidak menyurutkan niat busuknya. Ia tahu betul penjagaan fisik di gerbang utama kediaman bos Black Wolf luar biasa ketat terhadap setiap barang atau kurir tak dikenal. Beno dan anak buahnya tidak akan membiarkan satu celah pun terbuka."Kamu pikir, kamu bisa ngurung Maya di dalam sangkar emas mu, Wildan?" kekeh Indra sendirian di dalam penthouse mewahnya, menatap layar dengan kilat mata penuh kebencian. "Keamanan fisik lo mungkin nggak bisa ditembus, tapi kamu lupa kalau istri kamu masih terhubung sama dunia luar."Sebab ia kini memegang senjata psikologis paling mematikan berupa rahasia masa lalu Wildan, sang mantan jaksa memutar otaknya untuk mencari celah pengiriman yang tidak mungkin terdeteksi oleh radar keamanan Beno. Indra memutuskan untuk beralih
Wildan memastikan wanitanya bisa melupakan sejenak segala beban dari dunia luar. Di atas ranjang king size yang empuk, Wildan menindih tubuh Maya dengan tumpuan kedua sikunya, menatap lekat ke dalam mata bulat yang kini menatapnya penuh damba."Nggak usah mikirin Indra atau pengacaranya malam ini, May. Sekarang cuma ada aku sama kamu," bisik Wildan dengan suara bariton yang serak.Tangan besar pria itu bergerak mengusap rahang Maya, lalu turun menyusuri leher dan pundak wanitanya yang sudah terbuka. Wildan menunduk, melumat bibir Maya dengan sangat lembut namun menuntut. Ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan basah yang saling memabukkan.Maya mengalungkan kedua lengannya di leher tegap sang bos besar, membalas ciuman itu dengan napas yang mulai memburu. "Wil …," desah Maya tertahan saat bibir Wildan berpindah mengecupi area sensitif di leher dan tulang selangkanya.Sentuhan panas itu merasuki seluruh indra mereka. Sadar bahwa Maya sedang mengandung, Wildan mengendalikan tempo pe







