Home / Urban / Kuli Gagah Spesialis / 6. Bayangan gila

Share

6. Bayangan gila

Author: Risya Petrova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-10 17:34:43

"Maksudnya?" Wildan mengerjapkan matanya berulang kali. Tenggorokannya mendadak terasa tersumbat batu. "Saya benar-benar nggak paham, Mbak Maya."

Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan bahunya meski tatapannya masih menyiratkan sisa-sisa air mata. "Aku ingin kamu membuatku hamil, Wildan. Menikah bertahun-tahun dengan Mas Indra tanpa anak membuatku lelah dituduh mandul. Padahal, hasil tesku selalu normal. Dia yang menolak tes kesuburan karena egonya terlalu tinggi. Belum mertuaku yang selalu nyalahin aku.”

Mendengar penjelasan blak-blakan dari bibir ranum Maya, pikiran Wildan langsung traveling ke mana-mana. Sebagai laki-laki normal yang memiliki insting primitif, tentu saja otak Wildan seketika dipenuhi gambaran aneh. 

Kata 'menghamili' otomatis diterjemahkan oleh hormon prianya sebagai sebuah proses yang sangat intim, panas, dan intens di atas ranjang. 

Wildan membayangkan bagaimana tubuh tegapnya yang penuh noda oli akan bersanding dengan kulit putih mulus selembut sutra milik Maya. Bagaimana rasanya menyentuh lekuk tubuh matang yang tadi sempat melekat erat di dadanya tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi?

Darah di dalam tubuh Wildan berdesir hebat, membuat miliknya di balik celana jeans yang basah kembali menegang kaku, berdenyut mengembang dan ia merasa celana jeans-nya jadi kesempitan.

"Mbak ... Mbak serius?" bisik Wildan dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat serak. "Ini ... ini gila, Mbak. Kalau suami Mbak tahu, kita berdua bisa habis."

"Aku tahu ini gila," sahut Maya, matanya menatap Wildan dengan tatapan nekat yang penuh kepasrahan. "Tapi aku sudah tidak punya pilihan lain. Aku butuh anak untuk mempertahankan posisiku, sekaligus membungkam mulut kasarnya. Belum mertuaku juga selalu menekanku untuk cepat hamil, kalau tidak Mas Indra disuruh nikah lagi.”

Wildan menelan ludahnya berkali-kali, berusaha menjernihkan pikirannya yang mulai dikuasai kabut gairah. "Tapi, kenapa harus saya, Mbak? Saya cuma montir."

"Karena kamu pria yang sehat, Wildan. Dan yang paling penting ... kamu temanya Mario dan orang yang aku kenal. Kamu juga orang asing yang tidak punya kepentingan dengan lingkaran sosial suamiku," jawab Maya, suaranya sedikit merendah. "Tapi kita tidak bisa membicarakan detailnya di sini. Besok siang, aku akan mendatangi bengkel Mario."

Kata 'bengkel Mario' seketika memukul mundur semua pikiran kotor di kepala Wildan. Ingatannya langsung terlempar pada tempat kerjanya sehari-hari. 

Mario adalah adik kandung Maya, sekaligus pemilik bengkel tempat Wildan mencari nafkah. Dan yang paling krusial, bengkel itu bisa berdiri karena modal penuh dari Maya, kakak perempuannya.

"Mbak mau ke bengkel Mario?" tanya Wildan, memastikan dia tidak salah dengar.

"Iya. Mario sedang ke luar kota sampai lusa, kan? Jadi bengkel pasti sepi kalau lagi gak ada customer," kata Maya sambil merapikan gaun tidur satinnya yang sedikit tertiup angin. "Kita bisa bicara lebih bebas di sana tanpa perlu takut ada yang menguping."

Wildan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan suara yang masih sedikit bergetar karena sisa-sisa pikiran kotor tentang kata 'menghamili' yang terus berputar di otaknya, dia akhirnya mengangguk. "I-iya, Mbak. Besok siang bengkel memang agak renggang kalau jam istirahat."

"Bagus. Berarti kita sepakat," ucap Maya, ada sedikit kelegaan yang terselip di wajah pucatnya. "Sekarang kamu pulanglah. Sebelum Mas Indra mendadak memutar balik mobilnya karena restorannya penuh."

"Baik, Mbak. Saya permisi dulu. Saluran yang di dalam dan di luar sudah aman semua," pamit Wildan.

"Terima kasih untuk semuanya, Wildan. Termasuk yang di kamar mandi tadi," lirih Maya dengan senyuman tipis yang mendadak terlihat sangat manis di mata Wildan.

"Sama-sama, Mbak. Sampai jumpa lagi besok.”

Wildan segera membalikkan badannya, melangkah cepat menuruni anak tangga marmer yang megah. Dia menyandang tas perkakas kainnya yang berat, berjalan terburu-buru keluar menembus sisa-sisa rintik hujan sore yang mulai reda di halaman depan.

Wildan menyalakan mesin sepeda motor tuanya. Suara deru knalpot yang bising memecah keheningan kompleks perumahan elite tersebut. Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan ibu kota yang basah dan dingin, pikiran Wildan sama sekali tidak bisa tenang.

Kata-kata Maya terus terngiang-ngiang di telinganya seperti kaset rusak. 'Menghamiliku. Kamu bisa kan buat aku hamil?'

"Gila ... ini beneran gila," gumam Wildan di balik helmnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan siluet tubuh Maya yang dibalut sutra putih basah kuyup dari pelupuk matanya. Buahnya yang mengkal, ranum, dan kencang itu tak bisa luput dari ingatan.

Tapi semakin dia mencoba melupakan, bayangan dada padat dan pinggang ramping wanita itu justru semakin tercetak jelas di otaknya.

Wildan terkekeh sendiri, menertawakan apa yang terjadi hari ini. Dia memacu motornya membelah kemacetan, sambil sesekali berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau mbak Maya ingin dihamili sama aku sih … sebetulnya aku mau aja. Tapi masalahnya, kalau ketahuan, bisa mati aku.”

Bersambung

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 191. Kebetulan

    Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 190. Hardikan belakang

    Debu sisa ledakan masih melayang di udara ruang kerja yang porak-poranda. Jenderal Soebroto tidak bergeming di balik meja kerjanya. Tongkat kayu tua digenggamnya erat, bukan untuk menopang tubuhnya yang sudah mulai menua, melainkan untuk menahan amarah yang hampir meledak.​Di hadapannya, Wildan berdiri tegak. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Laras senjatanya dibiarkan menunjuk ke lantai, tetapi sorot matanya jauh lebih mematikan dari peluru mana pun.​"Kenapa Anda terus cari mati, Jenderal?" suara Wildan memecah sunyi, rendah namun bergetar penuh tekanan.​Soebroto mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis. "Cari mati? Kau hanya anak kemarin sore yang kebetulan memegang senjata di atas runtuhannya dinasti orang lain, Wildan."​"Dinasti?" Wildan terkekeh pelan, tawa tanpa rasa humor. Ia melangkah maju satu langkah, memangkas jarak hingga meja kerja menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka. "Yang tersisa dari dinasti Anda malam ini cuma debu dan bangkai pengawal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 189. Kembali

    ​Suara letupan senjata api dan deru mesin kendaraan taktis yang menggema di kediaman Jenderal Soebroto tampaknya berada di dunia yang sangat berbeda dengan tempat pelarian Indra saat ini. Di sebuah kamp latihan militer rahasia yang terletak di wilayah terpencil di seberang lautan, suasana sore itu tampak terik dan dipenuhi bau mesiu serta debu jalanan.​Indra berdiri tegak di lapangan tembak terbuka dengan postur tubuh yang mulai pulih sepenuhnya. Meskipun tangan dan sebagian fisiknya masih menyisakan sisa-sisa luka akibat insiden pelarian di laut lepas beberapa waktu lalu, sorot mata beringas dan ambisi gelapnya tidak pernah surut sedikit pun. Di hadapannya, target sasaran berupa siluet manusia berlubang-lubang akibat terjangan peluru kaliber besar.​Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, sekutu baru sekaligus pemimpin faksi militer bayaran lokal yang menampung pelariannya—seorang gembong senjata bernama Victor.​Victor menurunkan senapan serbunya, melirik ke arah Indra

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 188. Tidak terima

    Suara ledakan susulan yang menggema di luar jendela membuat debu dan serpihan plester langit-langit berjatuhan ke lantai ruang kerja. Jenderal Soebroto, meskipun usianya sudah senja, masih menunjukkan ketegasan seorang perwira tinggi militer yang terbiasa menghadapi medan perang. Namun di balik tatapan kerasnya, terselip kepanikan luar biasa saat ia melihat situasi di luar sudah benar-benar di ambang kehancuran total.Ia dengan cepat mencengkeram kedua bahu istrinya yang sedang syok berat. Wajah Ibu Ratna pucat pasi, air matanya meleleh deras membasahi pipi, menatap suaminya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab."Ratna, dengar baik-baik apa kataku sekarang!" suara Soebroto terdengar tegas, berusaha menerobos suara bising di luar. "Masuklah ke dalam kamar tidur utama, kunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah keluar apa pun yang terjadi di luar sana! Paham?!"Ibu Ratna tidak langsung menjawab. Netranya yang basah hanya menatap nanar suaminya, seolah sedang membaca akhir dar

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 187. Hancur

    Konvoi kendaraan taktis Black Wolf melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu depan kendaraan dimatikan, hanya menyisakan sorot inframerah dan kegelapan total yang menyelimuti barisan mobil SUV hitam pekat tersebut. Di kursi kemudi kendaraan utama, Wildan duduk dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapan matanya lurus ke depan, memantulkan nyala api dendam yang tidak akan padam sebelum seluruh sisa pertahanan musuhnya benar-benar runtuh. Di belakangnya, dua puluh unit kendaraan taktis bermuatan pasukan elit mengikuti dalam formasi tempur yang sangat rapi dan senyap, bagaikan bayangan maut yang siap menerkam mangsanya kapan saja.Sementara itu, di sebuah kediaman mewah namun terisolasi di kawasan pinggiran kota yang menjadi tempat persembunyian terakhir Jenderal Soebroto, suasana malam terasa begitu sunyi dan mencekam. Di ruang kerja utamanya yang luas, Jenderal Soebroto duduk di kursi kebesarannya sambil memegang segelas wiski. Pria tua itu mencoba menenan

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 186. Marah

    Wildan berdiri tegak di hadapan pembunuh bayaran yang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara sebelah lengannya tetap mendekap erat sang buah hati. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, namun sorot matanya memancarkan aura haus darah yang sanggup membuat siapa pun merinding ketakutan.Agar tidak menarik perhatian keamanan rumah sakit atau memicu kepanikan di area VVIP, dengan isyarat tangan singkat, Beno langsung menyeret tubuh sang pembunuh bayaran menuju ruang utilitas servis bawah tanah yang kedap suara.Di ruangan remang-remang itulah interogasi dingin tanpa ampun dilangsungkan."Siapa yang suruh kalian?" tanya Wildan dengan suara yang sangat dingin, datar, dan berbisik, namun terdengar bagaikan vonis mati di telinga sang penyusup. "A-ampun, Bos ... ampun…," rintih pembunuh itu terbata-bata, meraba ujung sepatu Wildan dengan tangan gemetar. "Tulang rusuk sayav ..." "Gue nggak nanya kondisi tulang lo," potong Wildan cepat, suaranya makin menekan penuh ancaman. "Sekali lagi lo buang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status