LOGIN"Maksudnya?" Wildan mengerjapkan matanya berulang kali. Tenggorokannya mendadak terasa tersumbat batu. "Saya benar-benar nggak paham, Mbak Maya."
Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan bahunya meski tatapannya masih menyiratkan sisa-sisa air mata. "Aku ingin kamu membuatku hamil, Wildan. Menikah bertahun-tahun dengan Mas Indra tanpa anak membuatku lelah dituduh mandul. Padahal, hasil tesku selalu normal. Dia yang menolak tes kesuburan karena egonya terlalu tinggi. Belum mertuaku yang selalu nyalahin aku.”
Mendengar penjelasan blak-blakan dari bibir ranum Maya, pikiran Wildan langsung traveling ke mana-mana. Sebagai laki-laki normal yang memiliki insting primitif, tentu saja otak Wildan seketika dipenuhi gambaran aneh.
Kata 'menghamili' otomatis diterjemahkan oleh hormon prianya sebagai sebuah proses yang sangat intim, panas, dan intens di atas ranjang.
Wildan membayangkan bagaimana tubuh tegapnya yang penuh noda oli akan bersanding dengan kulit putih mulus selembut sutra milik Maya. Bagaimana rasanya menyentuh lekuk tubuh matang yang tadi sempat melekat erat di dadanya tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi?
Darah di dalam tubuh Wildan berdesir hebat, membuat miliknya di balik celana jeans yang basah kembali menegang kaku, berdenyut mengembang dan ia merasa celana jeans-nya jadi kesempitan.
"Mbak ... Mbak serius?" bisik Wildan dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat serak. "Ini ... ini gila, Mbak. Kalau suami Mbak tahu, kita berdua bisa habis."
"Aku tahu ini gila," sahut Maya, matanya menatap Wildan dengan tatapan nekat yang penuh kepasrahan. "Tapi aku sudah tidak punya pilihan lain. Aku butuh anak untuk mempertahankan posisiku, sekaligus membungkam mulut kasarnya. Belum mertuaku juga selalu menekanku untuk cepat hamil, kalau tidak Mas Indra disuruh nikah lagi.”
Wildan menelan ludahnya berkali-kali, berusaha menjernihkan pikirannya yang mulai dikuasai kabut gairah. "Tapi, kenapa harus saya, Mbak? Saya cuma montir."
"Karena kamu pria yang sehat, Wildan. Dan yang paling penting ... kamu temanya Mario dan orang yang aku kenal. Kamu juga orang asing yang tidak punya kepentingan dengan lingkaran sosial suamiku," jawab Maya, suaranya sedikit merendah. "Tapi kita tidak bisa membicarakan detailnya di sini. Besok siang, aku akan mendatangi bengkel Mario."
Kata 'bengkel Mario' seketika memukul mundur semua pikiran kotor di kepala Wildan. Ingatannya langsung terlempar pada tempat kerjanya sehari-hari.
Mario adalah adik kandung Maya, sekaligus pemilik bengkel tempat Wildan mencari nafkah. Dan yang paling krusial, bengkel itu bisa berdiri karena modal penuh dari Maya, kakak perempuannya.
"Mbak mau ke bengkel Mario?" tanya Wildan, memastikan dia tidak salah dengar.
"Iya. Mario sedang ke luar kota sampai lusa, kan? Jadi bengkel pasti sepi kalau lagi gak ada customer," kata Maya sambil merapikan gaun tidur satinnya yang sedikit tertiup angin. "Kita bisa bicara lebih bebas di sana tanpa perlu takut ada yang menguping."
Wildan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan suara yang masih sedikit bergetar karena sisa-sisa pikiran kotor tentang kata 'menghamili' yang terus berputar di otaknya, dia akhirnya mengangguk. "I-iya, Mbak. Besok siang bengkel memang agak renggang kalau jam istirahat."
"Bagus. Berarti kita sepakat," ucap Maya, ada sedikit kelegaan yang terselip di wajah pucatnya. "Sekarang kamu pulanglah. Sebelum Mas Indra mendadak memutar balik mobilnya karena restorannya penuh."
"Baik, Mbak. Saya permisi dulu. Saluran yang di dalam dan di luar sudah aman semua," pamit Wildan.
"Terima kasih untuk semuanya, Wildan. Termasuk yang di kamar mandi tadi," lirih Maya dengan senyuman tipis yang mendadak terlihat sangat manis di mata Wildan.
"Sama-sama, Mbak. Sampai jumpa lagi besok.”
Wildan segera membalikkan badannya, melangkah cepat menuruni anak tangga marmer yang megah. Dia menyandang tas perkakas kainnya yang berat, berjalan terburu-buru keluar menembus sisa-sisa rintik hujan sore yang mulai reda di halaman depan.
Wildan menyalakan mesin sepeda motor tuanya. Suara deru knalpot yang bising memecah keheningan kompleks perumahan elite tersebut. Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan ibu kota yang basah dan dingin, pikiran Wildan sama sekali tidak bisa tenang.
Kata-kata Maya terus terngiang-ngiang di telinganya seperti kaset rusak. 'Menghamiliku. Kamu bisa kan buat aku hamil?'
"Gila ... ini beneran gila," gumam Wildan di balik helmnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan siluet tubuh Maya yang dibalut sutra putih basah kuyup dari pelupuk matanya. Buahnya yang mengkal, ranum, dan kencang itu tak bisa luput dari ingatan.
Tapi semakin dia mencoba melupakan, bayangan dada padat dan pinggang ramping wanita itu justru semakin tercetak jelas di otaknya.
Wildan terkekeh sendiri, menertawakan apa yang terjadi hari ini. Dia memacu motornya membelah kemacetan, sambil sesekali berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau mbak Maya ingin dihamili sama aku sih … sebetulnya aku mau aja. Tapi masalahnya, kalau ketahuan, bisa mati aku.”
Bersambung
"Sakit, May? Ada yang luka?" tanya Wildan buru-buru, memperlambat langkahnya karena cemas.Maya menggeleng pelan. Tangannya meremas kemeja Wildan yang basah oleh darah. "Enggak, Wil. Aku cuma lemas ... perutku rasanya agak kencang.""Tahan sebentar ya, May. Kita keluar dari sini sekarang," bisik Wildan lembut.Angin malam pesisir terasa menusuk kulit saat Wildan menggendong Maya keluar dari lambung kapal kargo yang berantakan itu. Maya menyembunyikan wajahnya di dada Wildan, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa takut dan tekanan mental yang ia tahan sejak semalam."Bos! Ambulans bawah tanah kita udah standby di pelabuhan," lapor Beno yang berlari menghampiri. Bajunya kotor oleh debu dan noda darah, tapi raut wajahnya tampak lega melihat nyonya besarnya selamat."Bawa kita ke rumah sakit VVIP sekarang, Ben. Kosongkan satu lantai penuh. Gue nggak mau ada orang luar yang bisa masuk atau liat kondisi Maya," perintah Wildan tegas sambil terus melangkah cepat."Siap, Bos. Anggota k
BRAK!!Pintu besi ruang penyekapan di ujung lorong paling gelap dari lambung kapal itu akhirnya ditendang hancur hingga terlepas sepenuhnya dari engsel. Suara benturan besi menghantam lantai bergema sangat keras, memecah kesunyian di dalam ruangan pengap tersebut.Sosok Wildan yang bermandikan darah melangkah masuk menembus kepulan asap tebal. Kemejanya yang terkoyak basah oleh campuran darahnya sendiri dan darah musuh. Tatapan matanya lurus, dingin, dan memancarkan aura kematian pekat layaknya dewa penjemput nyawa.Di dalam ruangan sempit berbau karat tersebut, Indra Wiguna berdiri mematung. Wajah cacatnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Senjata api yang berada di tangan kanannya bergetar hebat sebelum akhirnya terlepas dan jatuh menatap lantai besi."Nggak ... nggak mungkin …," bisik Indra dengan suara bergetar tak percaya. Matanya terbelalak menatap rivalnya. "Kamu udah mati! Aku lihat sendiri foto tubuhmu bersimbah darah semalam!""Gue nggak bakal mati sebelum potong leher lo,
Bab 177DOR! DOR! DOR!Dua granat kejut dilempar masuk ke dalam lorong bawah lambung kapal, disusul dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal seketika memenuhi lorong besi yang sempit dan pengap tersebut.Anak buah Kohar yang berjaga di balik barikade peti kayu panik luar biasa. Mereka mencoba membalas tembakan secara membabi buta ke arah pintu masuk, namun arah peluru mereka berantakan karena mata mereka perih dan telinga mereka berdengung."Maju! Bantai mereka semua!" teriak Wildan memberikan komando.Pasukan Black Wolf bersama para tentara bayaran merangsek masuk tanpa takut. Rentetan tembakan senapan otomatis seketika menggema memekakkan telinga di seluruh lorong bawah kapal. Suara pecahan kaca, desingan peluru yang memantul di dinding besi, dan jeritan histeris musuh menyatu dalam kekacauan massal.Sebab komplotan preman bayaran milik Kohar pada dasarnya hanyalah sekumpulan bajingan jalanan yang bertarung murni demi bayaran uang, moral tempur mereka langsung hancur
Sesampainya di geladak atas, Wildan menarik napas pelan dan melompat melewati pagar pembatas kapal. Ia langsung berjongkok di balik tumpukan tong besi.Kondisi area penjagaan luar benar-benar menguntungkan Wildan. Para penjaga pesisir dan pembunuh bayaran yang disewa oleh Kohar terlihat sangat lengah menjaga perimeter luar. Mereka sedang duduk melingkar di atas peti kayu, mabuk oleh euforia kemenangan palsu setelah menghancurkan mansion Wildan malam sebelumnya.Di titik itu, terdapat empat orang penjaga bersenjata laras panjang. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar sangat santai."Kohar berani bayar kita dobel cuma buat jaga kapal rongsokan ini. Enak banget kerjaan kita malam ini," ucap salah satu penjaga berambut gondrong sambil menenggak bir kalengnya."Iyalah santai, musuh utamanya aja udah mampus semalam," balas temannya yang memakai jaket kulit. "Si Wildan itu pasti udah mati kehabisan darah di rumahnya sendiri. Gue lihat sendiri perutnya robek. Si Indra juga nekat, istri oran
Karena dikurunng dan dikekang oleh Indra, menyebabkan isa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangkat wajahnya yang masih basah.T
Dokter Sisca langsung menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke lengan Wildan. Wajah dokter cantik itu memerah karena marah sekaligus khawatir."Otot perutmu robek parah, Wildan! Tubuhmu kehabisan banyak darah!" bentak Sisca tegas. "Kalau kamu nekat jalan sekarang, jahitanmu bakal jebol total. Kamu bisa mati konyol di tengah jalan sebelum sempat ketemu Maya! Paham nggak?!"Wildan memukul lantai beton dengan kepalan tangannya yang bergetar. Frustrasi absolut menghancurkan egonya. Ia adalah raja jalanan, tapi saat ini ia bahkan tidak sanggup berdiri untuk menyelamatkan istrinya sendiri."Maya lagi disekap sama psikopat, Dok! Gue nggak bisa cuma diam tidur di sini!" jerit Wildan tertahan, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya."Gue paham, Bos. Kita semua juga mau selamatin Mbak Maya," bujuk Beno, memapah Wildan kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. "Tapi Dokter Sisca benar. Fisik lo hancur lebur. Kasih waktu dua hari buat penyembuhan awal. Kalau lo mati, siapa y







