LOGINBab 7
Keesokan harinya, hawa panas ibu kota terasa begitu menyengat sejak pagi. Wildan berada di bengkel milik Mario, menunduk di bawah kap mesin sebuah mobil sedan tua yang sedang dia perbaiki.
Pakaian kerjanya, kaos oblong abu-abu yang sudah pudar dan jins penuh noda oli, sudah basah oleh keringat. Namun, fokusnya sama sekali tidak bisa seratus persen tertuju pada kabel dan busi di depannya. Pikirannya masih tersangkut pada ucapan gila Maya semalam.
Tin!
Suara klakson halus yang terdengar mahal mendadak memecah deru mesin di area bengkel. Wildan menegakkan punggungnya yang pegal, menyeka peluh di dahi dengan punggung tangan yang hitam karena oli.
Sebuah mobil SUV mewah berwarna putih mengilat perlahan memasuki pelataran bengkel yang agak berantakan. Wildan langsung tahu itu adalah mobil Maya. Pria muda itu buru-buru meraih kain lap kumal di atas meja kerja, mengusap tangannya asal-asalan, lalu melangkah berdiri untuk menyambut sang Nyonya Bos.
Pintu mobil terbuka.
Maya turun dengan keanggunan yang seolah menciptakan jarak tegas dengan lingkungan sekitarnya. Wanita itu mengenakan kemeja berbahan sifon lembut berwarna krem yang dipadukan dengan rok kain slim fit pas badan.
Gaya berpakaiannya tetap elitis, anggun, dan wajahnya memasang ekspresi dingin yang menjaga jarak seperti biasanya, sangat kontras dengan sosok rapuh yang menangis tersedu-sedu di tepi ranjang semalam.
"Selamat siang, Mbak Maya," sapa Wildan, berusaha membuat suaranya terdengar seprofesional mungkin di hadapan beberapa anak magang yang sedang sibuk di sudut lain.
Maya menatap Wildan dari balik kacamata hitamnya, sebelum perlahan menurunkannya hingga bertengger di pangkal hidung. "Siang, Wildan. Mario masih di luar kota, kan?"
"Iya, Mbak. Baru lusa Mario pulang," jawab Wildan sambil mengangguk.
"Bagus. Aku kesini mau melanjutkan pembahasan yang kemarin kita bicarakan di rumah," ucap Maya tanpa basa-basi, suaranya pelan namun terdengar tegas.
Wildan menelan ludah, melirik sekilas ke sekeliling area bengkel yang untungnya sedang lengang karena jam istirahat siang sudah dimulai. "Kalau begitu, mari silakan masuk ke kantor dalam saja, Mbak. Biar lebih enak bicaranya."
Maya mengangguk singkat, lalu berjalan mendahului Wildan menuju sebuah ruangan semi permanen berdinding kaca buram di sudut belakang bengkel, ruang kerja kecil yang biasa digunakan Mario untuk mengurus administrasi.
Begitu melangkah masuk ke dalam kantor kecil tersebut, Maya langsung mengibaskan tangannya di depan wajah. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat pengap.
"Aduh, Wildan ... kenapa udaranya panas banget di dalam sini?" keluh Maya, dahinya mulai dihiasi butiran keringat tipis.
"Maaf, Mbak. AC-nya sudah seminggu ini rusak, belum sempat saya benerin karena onderdilnya belum datang," kata Wildan canggung.
Wildan berbalik dan merapatkan pintu ruang kerja tersebut, mengunci mereka berdua dalam ruangan sempit. Karena merasa terlalu gerah, Maya secara refleks mengangkat tangan lembutnya ke arah leher.
Dengan gerakan perlahan, jemarinya membuka dua kancing kemeja teratasnya agar udara bisa sedikit masuk. Dia kemudian menggunakan map kertas yang tergeletak di meja Mario untuk mengipas-ngipaskan lehernya yang jenjang.
Namun, apa yang dilakukan Maya itu justru menjadi malapetaka bagi pertahanan diri Wildan.
Fokus pria muda itu seketika pecah berkeping-keping. Otak prianya langsung berimajinasi nakal tanpa bisa dikendalikan. Melalui celah kemeja yang terbuka lebar itu, pandangan Wildan disuguhi pemandangan kulit sewarna susu yang berkilau karena peluh halus.
Akibat gerakan tangan Maya yang mengipas-ngipas, kerah kemejanya sesekali melambai, memperlihatkan sekilas belahan dadanya yang luar biasa padat berbalut bra renda hitam.
‘Sial ... beneran cobaan iman,’ batin Wildan berteriak frustrasi.
Darah di dalam tubuh Wildan kembali berdesir panas, mengirimkan pasokan instan ke bagian bawah perutnya. Kejantannya di balik celana jins langsung menegang kaku, menciptakan rasa sesak yang luar biasa kentara.
Wildan terpaksa menggeser posisi berdirinya, sedikit bersandar pada pinggiran meja kerja kayu agar tonjolan keras di celananya tidak terlihat oleh Maya. Otak maskulinnya sempat membayangkan hal-hal ekstrem, namun dia buru-buru menggelengkan kepala demi menjaga kewarasannya.
"Wildan, dengerin aku dulu," potong Maya tegas, seolah menyadari arah pandangan Wildan. Sikapnya mendadak kembali dingin dan profesional. "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku ke sini bukan untuk tidur denganmu."
Wildan tersentak, sedikit salah tingkah. "Maksud Mbak? Bukannya kemarin, katanya pengen aku hamili ya?”
"Aku ingin kamu membuatku hamil, tapi bukan dengan cara ... bersetubuh," jelas Maya tanpa basa-basi. "Aku ingin melakukannya lewat prosedur inseminasi mandiri. Aku hanya butuh spermamu, Wildan. Hanya itu."
Wildan melongo. "Inseminasi?" Entah kenapa hatinya jadi kecewa. Ia sendiri pun tidak tau kenapa.
"Ya. Kita buat perjanjian medis dan hukum di bawah tangan. Aku akan membayar upahmu sebesar lima ratus juta rupiah. Tapi ada syarat mutlak," lanjut Maya, matanya menatap Wildan dengan sangat dingin dan mengintimidasi.
"Begitu anak ini lahir, kamu dilarang keras untuk mencari, menemui, atau mengakui bahwa dia adalah anak kandungmu. Di mata hukum dan dunia, dia adalah anakku dan Mas Indra. Anak ini adalah anakku dan anakmu dari proses inseminasi adalah rahasia kita. Kamu paham?"
Mendengar penawaran itu, ego dan harga diri Wildan sebagai laki-laki seketika terusik. Dia merasa direndahkan, seolah dirinya hanya dianggap sebagai mesin penghasil benih murahan yang bisa dibeli dengan uang. Wildan bukan pria sebiadab itu yang rela menjual darah dagingnya sendiri demi uang.
"Maaf, Mbak Maya. Kalau begitu caranya, saya nggak bisa," tolak Wildan tegas, wajahnya menegang serius. "Uang bukan segalanya buat saya. Menjual benih saya sama aja saya jual anak sendiri ... saya nggak sebajingan itu."
“Wildan, pikirin dulu. Jangan buru-buru ambil keputusan,” ujar Maya dengan suara sedikit merendah dan terdengar memohon.
Wildan bersiap memutar tubuhnya untuk membuka pintu, namun langkahnya terhenti saat angka lima ratus juta itu mendadak terngiang-ngiang di kepalanya.
Pikiran Wildan langsung melayang ke sebuah desa kecil di pelosok desa. Wajah lelah kakak perempuannya yang bernama Wulan mendadak membayangi ingatannya.
Kakak perempuan yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Setelah ibunya meninggal dunia saat Wildan masih berusia tujuh tahun, kakaknya lah yang banting tulang, mengorbankan masa muda, pendidikan, dan kebahagiaannya sendiri demi merawat dan membesarkan Wildan hingga bisa menjadi pria dewasa seperti sekarang.
Sampai detik ini, kehidupan kakaknya di desa masih serba kekurangan, tinggal di rumah anyaman bambu yang hampir roboh.
Wildan mengepalkan tinjunya erat-erat di dalam saku jins. ‘Lima ratus juta ... Aku bisa membalas budi kasih sayang Mbakku di desa. Aku bisa membelikan rumah yang layak dan menjamin masa tuanya,’ batin Wildan bergejolak hebat, bertarung sengit dengan moralitasnya sendiri.
Setelah keheningan panjang yang menyiksa, Wildan akhirnya menghembuskan nafas pasrah. Tembok pertahanannya runtuh demi wanita yang telah merawat dan menghidupinya. Bahkan rela mengorbankan masa mudanya untuk membesarkannya selayaknya ibu kandung.
"Kapan ... Mbak Maya membutuhkan sperma saya?" tanya Wildan dengan suara yang agak bergetar dan canggung.
Maya tidak tampak terkejut. Dia justru sudah menduga bahwa uang sebesar itu akan meruntuhkan prinsip montir miskin di hadapannya. Wanita itu membuka tas jinjing mahalnya, lalu mengeluarkan sebuah tas kecil penahan es dingin (cooler bag), lengkap dengan wadah tabung steril berbahan kaca di dalamnya.
"Sekarang," jawab Maya pendek. "Hari ini adalah puncak masa suburku. Aku sudah menyiapkan semuanya agar sampelnya tetap segar sampai aku ke rumah sakit."
Wildan menatap tabung plastik itu dengan perasaan campur aduk. Dia mengambil wadah tersebut dari tangan Maya, merasakan permukaannya yang dingin. ‘Jadi yang Maya maksud menghamili itu inseminasi? Aku pikir aku langsung main sama dia,’ ucapnya di dalam hati.
"Jangan di sini, Mbak. Di kantor kecil ini AC-nya mati dan panas banget, nanti sampelnya malah rusak karena hawa gerah," kata Wildan, mencoba mencari solusi logis di tengah situasi yang mendadak canggung luar biasa. "Ikut saya ke lantai atas."
Maya sempat mengernyitkan dahi ragu. "Atas?"
"Iya, di atas ada mes kecil. Cuma ada satu ruangan yang berisi ranjang tempat saya tinggal selama ini di bengkel. Di sana AC-nya dingin dan lebih tertutup," jelas Wildan.
Maya terdiam sejenak, menimbang-nimbang risiko, sebelum akhirnya memberikan anggukan lemah tanda setuju. “Oke. Ayo kita ke atas.”
Bersambung
"Sakit, May? Ada yang luka?" tanya Wildan buru-buru, memperlambat langkahnya karena cemas.Maya menggeleng pelan. Tangannya meremas kemeja Wildan yang basah oleh darah. "Enggak, Wil. Aku cuma lemas ... perutku rasanya agak kencang.""Tahan sebentar ya, May. Kita keluar dari sini sekarang," bisik Wildan lembut.Angin malam pesisir terasa menusuk kulit saat Wildan menggendong Maya keluar dari lambung kapal kargo yang berantakan itu. Maya menyembunyikan wajahnya di dada Wildan, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa takut dan tekanan mental yang ia tahan sejak semalam."Bos! Ambulans bawah tanah kita udah standby di pelabuhan," lapor Beno yang berlari menghampiri. Bajunya kotor oleh debu dan noda darah, tapi raut wajahnya tampak lega melihat nyonya besarnya selamat."Bawa kita ke rumah sakit VVIP sekarang, Ben. Kosongkan satu lantai penuh. Gue nggak mau ada orang luar yang bisa masuk atau liat kondisi Maya," perintah Wildan tegas sambil terus melangkah cepat."Siap, Bos. Anggota k
BRAK!!Pintu besi ruang penyekapan di ujung lorong paling gelap dari lambung kapal itu akhirnya ditendang hancur hingga terlepas sepenuhnya dari engsel. Suara benturan besi menghantam lantai bergema sangat keras, memecah kesunyian di dalam ruangan pengap tersebut.Sosok Wildan yang bermandikan darah melangkah masuk menembus kepulan asap tebal. Kemejanya yang terkoyak basah oleh campuran darahnya sendiri dan darah musuh. Tatapan matanya lurus, dingin, dan memancarkan aura kematian pekat layaknya dewa penjemput nyawa.Di dalam ruangan sempit berbau karat tersebut, Indra Wiguna berdiri mematung. Wajah cacatnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Senjata api yang berada di tangan kanannya bergetar hebat sebelum akhirnya terlepas dan jatuh menatap lantai besi."Nggak ... nggak mungkin …," bisik Indra dengan suara bergetar tak percaya. Matanya terbelalak menatap rivalnya. "Kamu udah mati! Aku lihat sendiri foto tubuhmu bersimbah darah semalam!""Gue nggak bakal mati sebelum potong leher lo,
Bab 177DOR! DOR! DOR!Dua granat kejut dilempar masuk ke dalam lorong bawah lambung kapal, disusul dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal seketika memenuhi lorong besi yang sempit dan pengap tersebut.Anak buah Kohar yang berjaga di balik barikade peti kayu panik luar biasa. Mereka mencoba membalas tembakan secara membabi buta ke arah pintu masuk, namun arah peluru mereka berantakan karena mata mereka perih dan telinga mereka berdengung."Maju! Bantai mereka semua!" teriak Wildan memberikan komando.Pasukan Black Wolf bersama para tentara bayaran merangsek masuk tanpa takut. Rentetan tembakan senapan otomatis seketika menggema memekakkan telinga di seluruh lorong bawah kapal. Suara pecahan kaca, desingan peluru yang memantul di dinding besi, dan jeritan histeris musuh menyatu dalam kekacauan massal.Sebab komplotan preman bayaran milik Kohar pada dasarnya hanyalah sekumpulan bajingan jalanan yang bertarung murni demi bayaran uang, moral tempur mereka langsung hancur
Sesampainya di geladak atas, Wildan menarik napas pelan dan melompat melewati pagar pembatas kapal. Ia langsung berjongkok di balik tumpukan tong besi.Kondisi area penjagaan luar benar-benar menguntungkan Wildan. Para penjaga pesisir dan pembunuh bayaran yang disewa oleh Kohar terlihat sangat lengah menjaga perimeter luar. Mereka sedang duduk melingkar di atas peti kayu, mabuk oleh euforia kemenangan palsu setelah menghancurkan mansion Wildan malam sebelumnya.Di titik itu, terdapat empat orang penjaga bersenjata laras panjang. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar sangat santai."Kohar berani bayar kita dobel cuma buat jaga kapal rongsokan ini. Enak banget kerjaan kita malam ini," ucap salah satu penjaga berambut gondrong sambil menenggak bir kalengnya."Iyalah santai, musuh utamanya aja udah mampus semalam," balas temannya yang memakai jaket kulit. "Si Wildan itu pasti udah mati kehabisan darah di rumahnya sendiri. Gue lihat sendiri perutnya robek. Si Indra juga nekat, istri oran
Karena dikurunng dan dikekang oleh Indra, menyebabkan isa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangkat wajahnya yang masih basah.T
Dokter Sisca langsung menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke lengan Wildan. Wajah dokter cantik itu memerah karena marah sekaligus khawatir."Otot perutmu robek parah, Wildan! Tubuhmu kehabisan banyak darah!" bentak Sisca tegas. "Kalau kamu nekat jalan sekarang, jahitanmu bakal jebol total. Kamu bisa mati konyol di tengah jalan sebelum sempat ketemu Maya! Paham nggak?!"Wildan memukul lantai beton dengan kepalan tangannya yang bergetar. Frustrasi absolut menghancurkan egonya. Ia adalah raja jalanan, tapi saat ini ia bahkan tidak sanggup berdiri untuk menyelamatkan istrinya sendiri."Maya lagi disekap sama psikopat, Dok! Gue nggak bisa cuma diam tidur di sini!" jerit Wildan tertahan, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya."Gue paham, Bos. Kita semua juga mau selamatin Mbak Maya," bujuk Beno, memapah Wildan kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. "Tapi Dokter Sisca benar. Fisik lo hancur lebur. Kasih waktu dua hari buat penyembuhan awal. Kalau lo mati, siapa y







