LOGINMaya tidak langsung menjawab. Dia menyeka air mata di pipinya menggunakan punggung tangan dengan terburu-buru, mencoba mengumpulkan kembali harga dirinya yang baru saja diinjak-injak oleh suaminya sendiri.
"Kamu udah lihat dan dengar sendiri kan? Jujur, aku capek, Wildan, aku capek hidup begini terus. Tapi, mau gimana lagi, aku harus berjuang, aku nggak mau dicap sebagai istri gak guna. Gak bisa punya anak. Istri mandul ….” Tanpa sadar Maya malah sedikit curhat.
Wildan kemudian membuang tisu yang sudah digunakan Maya untuk mengelap air matanya. "Mbak Maya kalau ada apa-apa, bisa cerita ke aku ya. Itupun kalau Mbak Maya udah siap buat cerita. Itung-itung, bisa nenangin Mbak Maya."
"Ma-makasih ya, Wildan, tapi aku baik-baik aja, kok, kamu nggak perlu khawatir." Maya coba tersenyum, walau dia masih sesenggukan.
"Baik aja gimana, Mbak? Mbak Maya jelas-jelas nangis loh ini. Aku juga udah ngeliat gimana Mas Indra perlakuin Mbak Maya tadi, dengan mata kepalaku sendiri. Omongan ibu mertua Mbak juga kejam banget,” ujar Wildan lirih. “Maaf ya Mbak, tadi aku gak sengaja nguping.”
Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya agar kembali tegap seperti nyonya rumah yang berkelas. "Kamu tidak usah memikirkan ucapan Mas Indra tadi. Dia memang selalu seperti itu kalau sedang stres dengan urusan pekerjaannya. Omongannya memang jadi suka nyakitin kalau dia lagi stress. Mamanya juga sama. Aku udah kebal.”
“Tapi tadi … kata Mbak Maya … Mbak capek dan gak mau dicap jadi istri gak guna, gak bisa punya anak, dan mandul. Sekarang … Mbak balik memaklumi sikap suami Mbak yang kasar itu,” ujar Wildan lirih. Netranya tetap lurus menatap bola mata Maya yang masih berkaca-kaca. “Apa … Aku bisa membantu sesuatu untuk Mbak?”
Maya terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah. Tolong perbaiki saja sisa saluran air yang mampet di luar sampai benar-benar tuntas," katanya, tatapannya beralih menghindari sepasang mata tajam Wildan yang seolah bisa membaca isi hatinya. "Setelah semuanya selesai ... kamu bisa langsung pergi dari rumah ini, Wildan. Aku akan mentransfer upahmu lewat Mario nanti."
"Baik, Mbak. Saya mengerti," sahut Wildan pendek.
Pria muda itu bangkit berdiri. Dia berjalan kembali ke arah kamar mandi, mengambil tas perkakas kainnya yang tebal, lalu mulai berkutat dengan pipa pembuangan luar selama hampir lima belas menit tanpa bersuara.
Fokusnya dipaksakan pada derit besi dan selotip pipa, berusaha keras melupakan aroma melati dari lemari pakaian dan lekuk tubuh matang Maya yang sempat singgah di pelukannya.
Setelah memastikan semua sambungan terpasang kuat dan tidak ada lagi air yang merembes di lantai marmer, Wildan membereskan peralatannya. Dia menyandang tas perkakas di bahunya, melangkah keluar dari area servis, dan berjalan melewati kamar tidur utama menuju koridor tangga untuk pulang.
Namun, baru juga beberapa langkah menjauhi pintu kamar, sebuah suara halus menghentikan pergerakannya.
"Tunggu, Wildan …," panggil Maya dari ambang pintu.
Langkah sepatu bot Wildan seketika terhenti di atas anak tangga pertama. Keheningan malam yang basah mendadak terasa kembali mencekam.
Wildan menolehkan kepalanya perlahan, menatap sosok Maya yang kini berdiri bersandar di bingkai pintu jati. Handuk yang tadi menyelimuti bahunya sudah hilang, menyisakan gaun tidur satin yang bergerak lembut mengikuti hembusan angin malam dari ventilasi.
"Ada apa lagi, Mbak? Apa ada bagian yang masih bocor?" tanya Wildan, membalikkan badannya menghadap wanita itu.
Maya menatap Wildan dengan pandangan yang sangat intens, seolah sedang menimbang-nimbang sebuah keputusan besar yang taruhannya adalah seluruh sisa hidupnya. Jemari lentiknya mencengkeram kusen pintu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Wildan ... apa kamu bisa membantuku sekali lagi?" tanya Maya, suaranya sangat pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Wildan.
Wildan mengernyitkan dahinya, sedikit bingung dengan perubahan sikap wanita di depannya. "Bantu apa, Mbak? Kalau soal pipa atau mesin mobil, selama saya bisa, pasti saya bantu."
Maya melangkah maju dua kali, memperkecil jarak di antara mereka di koridor yang remang-remang itu. Aroma tubuhnya yang harum dan hangat kembali menyergap indra penciuman Wildan, memicu denyut keperkasaan di balik celana jeansnya yang belum sepenuhnya reda.
Wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Wildan, lalu mengucapkan satu kata yang membuat seluruh pasokan udara di paru-paru Wildan seperti tersedot habis seketika.
"Menghamiliku ...."
Wildan mematung. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum akhirnya berdegup dua kali lebih cepat seperti dikejar setan.
Kunci inggris di dalam tas kainnya bergemerincing pelan karena tangannya mendadak gemetar. “Gimana Mbak …?” tanyanya canggung.
“Menghamiliku. Kamu bisa kan buat aku hamil?”
“Maksudnya?” Wildan tidak mengerti apa yang diminta oleh istri jaksa ini.
Bersambung
"Sakit, May? Ada yang luka?" tanya Wildan buru-buru, memperlambat langkahnya karena cemas.Maya menggeleng pelan. Tangannya meremas kemeja Wildan yang basah oleh darah. "Enggak, Wil. Aku cuma lemas ... perutku rasanya agak kencang.""Tahan sebentar ya, May. Kita keluar dari sini sekarang," bisik Wildan lembut.Angin malam pesisir terasa menusuk kulit saat Wildan menggendong Maya keluar dari lambung kapal kargo yang berantakan itu. Maya menyembunyikan wajahnya di dada Wildan, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa takut dan tekanan mental yang ia tahan sejak semalam."Bos! Ambulans bawah tanah kita udah standby di pelabuhan," lapor Beno yang berlari menghampiri. Bajunya kotor oleh debu dan noda darah, tapi raut wajahnya tampak lega melihat nyonya besarnya selamat."Bawa kita ke rumah sakit VVIP sekarang, Ben. Kosongkan satu lantai penuh. Gue nggak mau ada orang luar yang bisa masuk atau liat kondisi Maya," perintah Wildan tegas sambil terus melangkah cepat."Siap, Bos. Anggota k
BRAK!!Pintu besi ruang penyekapan di ujung lorong paling gelap dari lambung kapal itu akhirnya ditendang hancur hingga terlepas sepenuhnya dari engsel. Suara benturan besi menghantam lantai bergema sangat keras, memecah kesunyian di dalam ruangan pengap tersebut.Sosok Wildan yang bermandikan darah melangkah masuk menembus kepulan asap tebal. Kemejanya yang terkoyak basah oleh campuran darahnya sendiri dan darah musuh. Tatapan matanya lurus, dingin, dan memancarkan aura kematian pekat layaknya dewa penjemput nyawa.Di dalam ruangan sempit berbau karat tersebut, Indra Wiguna berdiri mematung. Wajah cacatnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Senjata api yang berada di tangan kanannya bergetar hebat sebelum akhirnya terlepas dan jatuh menatap lantai besi."Nggak ... nggak mungkin …," bisik Indra dengan suara bergetar tak percaya. Matanya terbelalak menatap rivalnya. "Kamu udah mati! Aku lihat sendiri foto tubuhmu bersimbah darah semalam!""Gue nggak bakal mati sebelum potong leher lo,
Bab 177DOR! DOR! DOR!Dua granat kejut dilempar masuk ke dalam lorong bawah lambung kapal, disusul dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal seketika memenuhi lorong besi yang sempit dan pengap tersebut.Anak buah Kohar yang berjaga di balik barikade peti kayu panik luar biasa. Mereka mencoba membalas tembakan secara membabi buta ke arah pintu masuk, namun arah peluru mereka berantakan karena mata mereka perih dan telinga mereka berdengung."Maju! Bantai mereka semua!" teriak Wildan memberikan komando.Pasukan Black Wolf bersama para tentara bayaran merangsek masuk tanpa takut. Rentetan tembakan senapan otomatis seketika menggema memekakkan telinga di seluruh lorong bawah kapal. Suara pecahan kaca, desingan peluru yang memantul di dinding besi, dan jeritan histeris musuh menyatu dalam kekacauan massal.Sebab komplotan preman bayaran milik Kohar pada dasarnya hanyalah sekumpulan bajingan jalanan yang bertarung murni demi bayaran uang, moral tempur mereka langsung hancur
Sesampainya di geladak atas, Wildan menarik napas pelan dan melompat melewati pagar pembatas kapal. Ia langsung berjongkok di balik tumpukan tong besi.Kondisi area penjagaan luar benar-benar menguntungkan Wildan. Para penjaga pesisir dan pembunuh bayaran yang disewa oleh Kohar terlihat sangat lengah menjaga perimeter luar. Mereka sedang duduk melingkar di atas peti kayu, mabuk oleh euforia kemenangan palsu setelah menghancurkan mansion Wildan malam sebelumnya.Di titik itu, terdapat empat orang penjaga bersenjata laras panjang. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar sangat santai."Kohar berani bayar kita dobel cuma buat jaga kapal rongsokan ini. Enak banget kerjaan kita malam ini," ucap salah satu penjaga berambut gondrong sambil menenggak bir kalengnya."Iyalah santai, musuh utamanya aja udah mampus semalam," balas temannya yang memakai jaket kulit. "Si Wildan itu pasti udah mati kehabisan darah di rumahnya sendiri. Gue lihat sendiri perutnya robek. Si Indra juga nekat, istri oran
Karena dikurunng dan dikekang oleh Indra, menyebabkan isa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangkat wajahnya yang masih basah.T
Dokter Sisca langsung menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke lengan Wildan. Wajah dokter cantik itu memerah karena marah sekaligus khawatir."Otot perutmu robek parah, Wildan! Tubuhmu kehabisan banyak darah!" bentak Sisca tegas. "Kalau kamu nekat jalan sekarang, jahitanmu bakal jebol total. Kamu bisa mati konyol di tengah jalan sebelum sempat ketemu Maya! Paham nggak?!"Wildan memukul lantai beton dengan kepalan tangannya yang bergetar. Frustrasi absolut menghancurkan egonya. Ia adalah raja jalanan, tapi saat ini ia bahkan tidak sanggup berdiri untuk menyelamatkan istrinya sendiri."Maya lagi disekap sama psikopat, Dok! Gue nggak bisa cuma diam tidur di sini!" jerit Wildan tertahan, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya."Gue paham, Bos. Kita semua juga mau selamatin Mbak Maya," bujuk Beno, memapah Wildan kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. "Tapi Dokter Sisca benar. Fisik lo hancur lebur. Kasih waktu dua hari buat penyembuhan awal. Kalau lo mati, siapa y







