MasukSuasana pagi di dalam kamar kontrakan petak itu terasa sangat damai. Sinar matahari pagi yang mengintip dari celah jendela berdebu jatuh menyinari wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada suara bantingan pintu atau makian kasar yang biasanya mengawali paginya di rumah mewah sang jaksa.Terbuai oleh rasa aman yang diberikan oleh Wildan semalam, Maya menggeliat pelan di balik selimut tipisnya. Pandangan matanya yang masih sayu menangkap sosok tinggi besar di sudut ruangan.Wildan sudah bangun. Pria itu sudah mandi dan kini tengah sibuk mengancingkan kemeja seragam bengkelnya yang berwarna biru pudar. Wajah pria itu tampak serius, bersiap untuk kembali menghadapi hari yang penuh risiko di luar sana.Tanpa mengeluarkan suara, Maya beranjak dari ranjang kasur busa. Ia merapatkan kemeja kebesaran yang membungkus tubuhnya, lalu melangkah pelan menghampiri sang montir dari belakang."Sini, biar aku saja yang pasang," ucap Maya pelan.Tangannya yang lembut menepis pelan tanga
Wildan menarik tubuh Maya semakin merapat ke dadanya. Tangan besar dan kasar sang montir menyusup ke balik tengkuk wanita itu, sementara tangan kirinya memeluk pinggang ramping Maya dengan posesif.Tanpa aba-aba, Wildan semakin menundukkan wajahnya. Bibirnya menyapu bibir ranum Maya dengan sangat lembut. Ciuman itu tidak lagi didorong oleh dominan nafsu seperti malam sebelumnya, melainkan sebuah cumbuan mesra yang sarat akan kasih sayang dan rasa syukur karena mereka berdua berhasil melewati hari yang gila ini dengan selamat.Maya membalas pagutan itu perlahan. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Wildan, mendesah pelan saat lidah pria itu membelai rongga mulutnya. Setelah beberapa menit saling bertukar napas hangat, Wildan melepaskan ciumannya dan mengecup kening Maya cukup lama."Kamu beneran nggak luka, kan, Wil?" bisik Maya, masih mengelus rahang tegas pria itu."Nggak, Mbak. Saya aman," jawab Wildan dengan senyum tipis.Wildan menyandarkan punggungnya ke tembok, membiarkan Ma
Jam dinding usang di bengkel menunjuk angka lima sore. Suara bising kompresor dan dentingan kunci pas perlahan mereda. Waktu operasional telah berakhir.Wildan mencuci tangannya yang hitam terkena oli di wastafel belakang. Setelah mengeringkan tangannya, ia berjalan menuju loker, mengambil tas ransel bututnya, dan bersiap pulang."Gue balik duluan ya, Wil!" pamit Diki, rekan sesama montir, sambil memanaskan motornya."Yoi, hati-hati di jalan lo," balas Wildan santai.Wildan melangkah menuju pelataran parkir dan menaiki sepeda motor tuanya. Ia memasukkan kunci dan menekan starter. Deru mesin yang sedikit kasar memecah keheningan sore. Sebelum memutar gas, insting jalanan Wildan secara refleks membuatnya melirik ke arah kaca spion.Matanya seketika menyipit tajam.Di seberang jalan, sekitar lima puluh meter dari gerbang bengkel, sebuah mobil sedan mewah terparkir dengan mesin menyala. Kaca filmnya sangat gelap, tapi Wildan hafal betul pelat nomor itu. Itu adalah mobil sedan milik Mario.
Mobil SUV hitam milik orang suruhan Indra baru saja menghilang dari ujung jalan. Para montir kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mencoba melupakan ketegangan barusan. Namun, bagi Wildan, bahaya sesungguhnya baru saja dimulai.Dari balik dinding kaca ruang kantor, tatapan Mario menancap tajam ke arah Wildan. Bos muda itu mengedikkan dagunya, memberi isyarat keras agar sang montir masuk ke ruangannya.Wildan meletakkan kunci inggrisnya perlahan. Ia menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya agar senormal mungkin, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kantor kedap suara tersebut.Baru saja Wildan menutup pintu, sebuah hantaman keras langsung memecah keheningan.BRAK!Mario menggebrak meja kerja kayunya dengan kedua telapak tangan. Urat di pelipisnya menonjol. Raut wajahnya dipenuhi oleh amarah dan kepanikan yang meledak-ledak."Jangan main-main sama gue, Wil! Jawab jujur sekarang, di mana kakak gue?!" bentak Mario tanpa basa-basi sedikit pun.Wildan memundurkan tubuhnya sel
Deru mesin motor tua Wildan mematikan membelah kebisingan jalanan pagi. Namun, setibanya ia di pelataran bengkel, firasat buruk yang sejak tadi mengganjal di dadanya langsung terbukti.Suasana di tempat kerjanya pagi itu terasa sangat mencekam dan tidak biasa. Tidak ada candaan para montir yang biasanya terdengar saat mereka sedang memanaskan mesin mobil pelanggan. Sebaliknya, sebuah mobil SUV hitam mewah yang sangat familier bagi Wildan terparkir sembarangan tepat di depan pintu masuk utama, menghalangi jalur masuk kendaraan lain.Di luar mobil itu, terlihat dua orang pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak dan kemeja rapi. Mereka berdiri bersedekap, menatap tajam ke setiap sudut bengkel. Itu pasti anjing penjaga suruhan Indra.Wildan menekan rem motornya perlahan. Ia menelan ludah, berusaha keras menekan rasa gugupnya. Matanya melirik ke arah ruang kaca kantor di sudut bengkel. Di dalam sana, terlihat Mario sedang duduk dengan wajah pucat dan tegang. Di depannya berdiri se
Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar kontrakan yang sempit, menyorot tepat ke wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada kasur king size berbalut seprai sutra, tidak ada suara pendingin ruangan yang senyap, dan tidak ada kemewahan. Namun, anehnya, ini adalah tidur paling lelap dan tenang yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.Maya menggerakkan tubuhnya yang masih terasa pegal. Ia mendapati dirinya masih berada di dalam dekapan hangat lengan kokoh Wildan. Kulit mereka yang bersentuhan di balik selimut tipis itu memicu seulas senyum tipis di bibir Maya yang masih sedikit membengkak akibat ciuman semalam.Kecanggungan yang biasanya muncul setelah dua orang asing bercinta sama sekali tidak terasa pagi ini. Sebaliknya, ada ikatan emosional baru yang kini mengakar kuat di antara mereka berdua. Maya menyandarkan kepalanya lebih dalam ke dada Wildan, mendengarkan detak jantung pria itu."Sudah bangun, Mbak?" Suara serak Wildan memecah keheningan pagi. Pria







