Share

Cipokan basah

Author: Risya Petrova
last update publish date: 2026-07-21 23:21:13

"Mbak ... saya mulai, ya?" bisik Wildan. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Maya.

Maya menelan ludah, dadanya berdegup kencang melihat sorot mata montir di depannya. "Cepat lakukan, Wildan. Jangan banyak bicara lagi, nanti aku malah berubah pikiran."

"Baik, Mbak. Maaf kalau saya lancang," jawab Wildan.

Tanpa membuang waktu, Wildan memiringkan kepalanya. Tepat ketika bibir Wildan menyentuh bibir ranum Maya, mengikis habis sisa jarak dan kecanggungan di antara mereka. Sen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Gagah Spesialis   Candu

    "Aku … sekarang … aku pengin hamil bukan lagi demi warisan dari orang tua Mas Indra," ucap Maya tegas, matanya memancarkan amarah dan dendam yang selama ini ia pendam. "Dan aku juga udah nggak peduli lagi kalaupun akhirnya aku diusir dari rumah mewah yang rasanya kayak neraka itu.""Terus, buat apa Mbak bela-belain sejauh ini kalau bukan buat ngamanin posisi Mbak di keluarga itu?""Buat ngebuktiin ke mereka semua kalau aku nggak mandul, Wil!" desis Maya tajam. Jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. "Selama ini ibu mertuaku selalu ngatain aku perempuan pembawa sial karena rahimku kosong. Mas Indra juga selalu mukulin aku buat nutupin kelemahannya sendiri. Sekarang, aku mau hamil buat ngebuktiin ke muka mereka kalau yang cacat dan bermasalah itu adalah Indra! Jaksa terhormat itu yang impoten, bukan aku!"Mendengar letupan amarah dan keputusasaan dari wanita di pelukannya, Wildan terdiam. Hatinya ikut mendidih membayangkan penderitaan mental yang harus ditanggung Maya bertahun-tahun.

  • Kuli Gagah Spesialis   Cairan hangat

    Hujan badai yang sangat lebat akhirnya tumpah mengguyur ibu kota malam itu. Suara rintik air yang menghantam keras atap kontrakan menciptakan tirai suara alami.Di sudut dinding yang dingin, pagutan liar mereka terlepas sejenak. Keduanya terengah-engah, berebut meraup oksigen. Hawa dingin dari luar merembes masuk melalui celah ventilasi, namun hal itu justru berbanding terbalik dengan suhu tubuh mereka yang mendidih terbakar gairah."Kita pindah ke kasur, Mbak. Punggung Mbak bisa sakit kalau kelamaan nempel di tembok," bisik Wildan dengan napas berat.Maya menggeleng pelan, kedua kakinya masih melingkar erat di pinggang pria itu. "Bawa aku ke sana, Wil. Jangan lepasin pelukanmu."Tanpa membantah, Wildan berjalan memanggul tubuh Maya dan merebahkan punggung wanita itu perlahan di atas kasur busa. Gerakan Wildan sangat berhati-hati, seolah wanita di bawahnya ini adalah karya seni paling berharga yang tidak boleh tergores sedikit pun.Dengan sekali tarikan lembut, Wildan melepaskan kaus

  • Kuli Gagah Spesialis   26. Lanjut yang tadi pagi

    Bunyi logam beradu dan deru mesin kendaraan memenuhi area bengkel yang sibuk. Di bawah kolong mobil SUV pelanggan, Wildan berusaha keras mempertahankan fokusnya pada mur dan baut yang sedang ia kencangkan. Namun konsentrasinya terus-menerus buyar.Alih-alih memikirkan mesin, otaknya justru terus memutar ulang bayangan wajah Maya. Sensasi ciuman panas mereka pagi tadi terasa begitu nyata, dan aroma manis vanila dari rambut sang nyonya seolah masih menempel kuat di ujung jari-jarinya."Woi, Wil! Kunci pas nomor dua belas mana?" teriak Diki dari kap mobil sebelah, membuyarkan lamunan Wildan.Wildan tersentak pelan. Ia menyodorkan kunci tersebut dari bawah kolong. "Ini, ambil."Diki mengambilnya sambil mendengus heran. "Lo kenapa sih dari tadi pagi? Bengong mulu, baut udah kencang masih aja lo putar. Kurang tidur lo?""Nggak apa-apa. Badan gue agak meriang aja," kilah Wildan, segera mengalihkan pandangannya kembali ke mesin.Rasa rindu yang mendadak membakar dadanya itu terpaksa ia pendam

  • Kuli Gagah Spesialis   25. Ci uman basah di pagi hari

    Suasana pagi di dalam kamar kontrakan petak itu terasa sangat damai. Sinar matahari pagi yang mengintip dari celah jendela berdebu jatuh menyinari wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada suara bantingan pintu atau makian kasar yang biasanya mengawali paginya di rumah mewah sang jaksa.Terbuai oleh rasa aman yang diberikan oleh Wildan semalam, Maya menggeliat pelan di balik selimut tipisnya. Pandangan matanya yang masih sayu menangkap sosok tinggi besar di sudut ruangan.Wildan sudah bangun. Pria itu sudah mandi dan kini tengah sibuk mengancingkan kemeja seragam bengkelnya yang berwarna biru pudar. Wajah pria itu tampak serius, bersiap untuk kembali menghadapi hari yang penuh risiko di luar sana.Tanpa mengeluarkan suara, Maya beranjak dari ranjang kasur busa. Ia merapatkan kemeja kebesaran yang membungkus tubuhnya, lalu melangkah pelan menghampiri sang montir dari belakang."Sini, biar aku saja yang pasang," ucap Maya pelan.Tangannya yang lembut menepis pelan tanga

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 24

    Wildan menarik tubuh Maya semakin merapat ke dadanya. Tangan besar dan kasar sang montir menyusup ke balik tengkuk wanita itu, sementara tangan kirinya memeluk pinggang ramping Maya dengan posesif.Tanpa aba-aba, Wildan semakin menundukkan wajahnya. Bibirnya menyapu bibir ranum Maya dengan sangat lembut. Ciuman itu tidak lagi didorong oleh dominan nafsu seperti malam sebelumnya, melainkan sebuah cumbuan mesra yang sarat akan kasih sayang dan rasa syukur karena mereka berdua berhasil melewati hari yang gila ini dengan selamat.Maya membalas pagutan itu perlahan. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Wildan, mendesah pelan saat lidah pria itu membelai rongga mulutnya. Setelah beberapa menit saling bertukar napas hangat, Wildan melepaskan ciumannya dan mengecup kening Maya cukup lama."Kamu beneran nggak luka, kan, Wil?" bisik Maya, masih mengelus rahang tegas pria itu."Nggak, Mbak. Saya aman," jawab Wildan dengan senyum tipis.Wildan menyandarkan punggungnya ke tembok, membiarkan Ma

  • Kuli Gagah Spesialis   23. Makian

    Jam dinding usang di bengkel menunjuk angka lima sore. Suara bising kompresor dan dentingan kunci pas perlahan mereda. Waktu operasional telah berakhir.Wildan mencuci tangannya yang hitam terkena oli di wastafel belakang. Setelah mengeringkan tangannya, ia berjalan menuju loker, mengambil tas ransel bututnya, dan bersiap pulang."Gue balik duluan ya, Wil!" pamit Diki, rekan sesama montir, sambil memanaskan motornya."Yoi, hati-hati di jalan lo," balas Wildan santai.Wildan melangkah menuju pelataran parkir dan menaiki sepeda motor tuanya. Ia memasukkan kunci dan menekan starter. Deru mesin yang sedikit kasar memecah keheningan sore. Sebelum memutar gas, insting jalanan Wildan secara refleks membuatnya melirik ke arah kaca spion.Matanya seketika menyipit tajam.Di seberang jalan, sekitar lima puluh meter dari gerbang bengkel, sebuah mobil sedan mewah terparkir dengan mesin menyala. Kaca filmnya sangat gelap, tapi Wildan hafal betul pelat nomor itu. Itu adalah mobil sedan milik Mario.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status