MasukDi dunia nyata, tubuhnya tergeletak di lumut lembab dengan napas yang makin melemah.
Tapi di sini, di hadapan menara yang berdiri seperti sesuatu yang menunggu sejak waktu yang sangat lama, dia bisa merasakan bahwa ini bukan mimpi orang yang sedang sekarat. Ini nyata. 'Dantianku sudah hancur. Meridianku kacau. Tidak ada satu pun kultivator di dunia ini yang bisa bangkit dari kondisi seperti itu. Tapi jika menara ini bisa...' Dia mengangkat kepala, menatap puncak menara yang menghilang ke dalam awan. "Aku menerima." Saat dia membuka mata di dunia nyata, malam sudah turun di dasar jurang. Langit di atas sana hanya sepotong kecil, jauh, seperti celah sempit di antara dua dinding batu yang menjulang tinggi. Bintang-bintang terlihat dari sana, dingin dan acuh. Chu Jianqiu berbaring di lumut dan tidak bergerak selama beberapa menit pertama, hanya memastikan bahwa seluruh bagian tubuhnya masih terhubung dengan kesadarannya. Kemudian dia memejamkan mata lagi, bukan untuk tidur, tapi untuk masuk ke dalam menara itu melalui alam pikirannya. Dan kali ini, menara itu menyambutnya seperti sesuatu yang sudah lama menunggu. Apa yang terjadi di dalam menara itu, sulit untuk dijelaskan dalam istilah biasa. Hawa spiritual yang mengalir di sana bukan sekedar tebal, tapi murni dengan cara yang belum pernah dia rasakan dari sumber mana pun. Meridiannya yang kacau mulai merespons, perlahan dipandu oleh aliran hawa spiritual itu untuk kembali ke jalurnya. Dan dantiannya yang hancur, yang seharusnya tidak mungkin diperbaiki, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Retak demi retak menutup. Pecahan demi pecahan menyatu. Ketika dia akhirnya keluar dari menara dan kembali ke kesadaran penuh di dunia nyata, matahari sudah terbit. Dia duduk tegak. Menarik napas panjang. Kemudian dia merasakan qi mengalir dalam meridiannya, tipis tapi nyata, seperti aliran air kecil yang mencari jalannya di antara batu-batu kering. Dantiannya belum kembali ke kondisi terbaiknya, tapi fondasinya sudah tidak hancur lagi. Sudah ada tempat untuk membangun kembali. Sebuah tawa kecil lepas dari bibirnya. Kemudian lebih keras. Hingga akhirnya dia mendongak ke atas, ke arah tepi jurang yang jauh di sana, dan berteriak dengan suara yang terdengar gila di kesunyian dasar jurang itu. "Ouyang Yuan! Liu Tianyao! Kalian dengar itu?!" Suaranya memantul di antara dinding-dinding batu, bergema berulang kali. "Aku akan naik ke sana. Aku akan membayar lunas setiap hutang kalian. Setiap penghinaan, setiap pukulan, setiap kebohongan yang kalian lemparkan padaku selama tiga tahun ini. Aku akan tagih semuanya!" Gema terakhir suaranya perlahan menghilang. Dan Chu Jianqiu tersenyum untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu terjadi. Bukan senyuman hangat seperti dulu. Ini senyuman yang berbeda. Tiga hari di dasar jurang itu tidak sia-sia. Setiap kali dia masuk ke dalam menara, hawa spiritualnya mengalir deras membantu proses pemulihan. Setiap kali dia keluar, kondisinya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dantiannya yang diperbaiki mulai bisa menyerap qi dari lingkungan sekitarnya lagi, walaupun kapasitasnya masih jauh di bawah puncaknya yang dulu. Tapi setidaknya, pondasi itu ada. Pada hari ketiga, Chu Jianqiu memanjat dinding jurang. Tidak dengan cara heroik. Tidak dengan qi yang mengalir memukau di telapak tangannya. Murni dengan jari-jari yang mencengkeram celah-celah batu, kaki yang mencari pijakan di tonjolan dinding, dan tekad yang tidak punya alasan logis untuk sekeras itu selain kenyataan bahwa di atas sana ada dua orang yang perlu dia temui kembali suatu hari nanti. Saat kedua kakinya akhirnya menapak tanah di tepi jurang, matahari sore menyambutnya dengan cahaya oranye yang panjang. Kultivasinya sekarang? Jauh di bawah titik tertinggi yang pernah dia capai sebelumnya. Itu fakta yang tidak bisa disangkal. Tapi fakta lain yang lebih penting adalah bahwa di dalam alam pikirannya, sebuah menara berdiri dengan kokoh, dan pintu pertamanya sudah terbuka. 'Aku akan melampaui titik tertinggi itu. Dan kemudian aku akan terus naik jauh melewati apa yang bahkan tidak berani aku bayangkan sebelumnya.' Dia merapikan pakaiannya yang compang-camping, membersihkan debu dari wajahnya dengan punggung tangan, lalu mulai berjalan. Menghindari jalan utama. Menghindari jalur yang biasa dilalui para anggota Keluarga Ouyang dan pengikut-pengikut mereka. Menyusuri gang-gang kecil di belakang deretan rumah dan toko, memilih bayangan sore yang memanjang sebagai pelindungnya, hingga akhirnya tembok keluarganya sendiri muncul di ujung jalan belakang yang sepi itu. Dia masuk lewat pintu samping yang sudah dia hafalkan sejak kecil. Halaman dalam rumahnya menyambutnya dengan kesunyian yang familiar. Pohon-pohon yang sama. Kolam kecil yang sama. Batu-batu hias yang sama. Semuanya tidak berubah, seolah dunia di dalam tembok ini tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Chu Jianqiu berdiri di tengah halaman itu sebentar. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Ayahnya pergi sudah beberapa tahun lalu, mengikuti jejak ibunya yang lebih dulu menghilang. Tidak ada kabar. Tidak ada penjelasan. Hanya kepergian yang meninggalkan lebih banyak pertanyaan dari jawaban. Chu Jianqiu tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai teman, bersama satu orang yang tidak pernah pergi. 'Ah. Ru Hua.' Seolah merespons pikirannya, suara langkah kaki kecil yang terburu-buru terdengar dari arah koridor samping, dan sesosok gadis kecil dengan gaun abu-abu polos muncul dari balik sudut, mata bulatnya langsung membeku saat melihat sosok yang berdiri di tengah halaman. Pelayan itu berusia sekitar lima belas tahun, dengan rambut yang dikepang rapi ke belakang dan pipi yang sedikit tembam. Ekspresinya dalam tiga detik pertama melewati setidaknya lima perubahan, dari terkejut, ke tidak percaya, ke bingung, ke hampir menangis, dan terakhir ke sesuatu yang sulit diberi nama. "T... Tuan Muda?!" "Aku pulang," kata Chu Jianqiu sederhana. "Tapi mereka bilang..." Ru Hua berhenti, suaranya tercekat. "Mereka bilang Tuan Muda dimakan binatang buas di hutan. Mereka bilang tidak ada yang bisa selamat jika jatuh ke jurang itu. Mereka bilang..." "Siapa yang bilang?" Gadis kecil itu menelan ludah. "Pemuda Ouyang. Dia yang menyebarkan beritanya ke seluruh kota. Kemarin sore." Cepat sekali. Chu Jianqiu menyimpan fakta itu di kepala, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. "Cerita itu tidak benar. Aku baik-baik saja, atau setidaknya cukup baik untuk berjalan sendiri ke sini." Dia duduk di kursi di ruang utama, menyandarkan punggung dengan lelah. "Duduk dulu, Ru Hua. Ada beberapa hal yang perlu kau ketahui." Gadis itu duduk di bangku kecil di hadapannya, tangan-tangannya tergenggam di atas lutut, matanya tidak beranjak dari wajah tuannya. Chu Jianqiu menceritakan segalanya. Tidak semua detail. Tidak tentang menara, belum waktunya. Tapi tentang apa yang terjadi di Bukit Bunga Merah, tentang pil pembakar darah, tentang kata-kata Liu Tianyao, tentang Ouyang Yuan yang muncul dari balik bayang-bayang, dan tentang dirinya yang dilempar ke dalam jurang. Ru Hua mendengarkan dengan diam. Tapi rahangnya makin lama makin mengeras. Ketika Chu Jianqiu selesai berbicara, gadis kecil itu sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Pipinya memerah. Matanya berkilat dengan kegeraman yang terasa terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil itu. "Aku sudah tahu," katanya akhirnya, suaranya bergetar tapi terkontrol. "Aku sudah lama tahu kalau Nona Liu itu orangnya tidak beres. Cara dia memandang Tuan Muda, cara dia berbicara saat Tuan Muda tidak ada di dekatnya. Tapi setiap kali aku mau bilang..." "Kau tidak yakin aku akan percaya," sambung Chu Jianqiu pelan. Ru Hua mengangguk kecil, sedikit menunduk. "Maaf, Tuan Muda. Seharusnya aku tetap bilang waktu itu." "Tidak apa-apa." Dia menggeleng pelan. "Bahkan jika kau bilang pun, waktu itu aku mungkin tidak akan mendengar." Jeda sebentar. "Sekarang aku lapar dan perlu obat kultivasi untuk pemulihan. Tolong ambilkan jatah bulananku dari ruang harta." Ru Hua bangkit dengan cepat, mengangguk sekali, lalu pergi dengan langkah ringan yang terburu-buru.Bab 5200 Beraninya kau mengatakan itu pada gadis ini? Aku akan mengabaikanmu! Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! Saat berbicara, burung biru kecil itu tak kuasa menahan diri untuk melirik Gu Tingyun yang berada di sampingnya. Awalnya, tujuannya adalah untuk menanyai Chu Jianqiu apakah dia telah terpesona oleh Gu Tingyun, si wanita licik itu, sampai-sampai dia melupakan prinsip-prinsipnya demi kecantikan, mengabaikan teman-temannya dan bahkan orang-orangnya sendiri seperti Xiaoyan. Namun, mengingat Gu Tongguang telah membela dirinya sebelumnya, dan mempertimbangkan betapa benarnya Gu Tongguang, ia menelan kembali kata-kata yang hampir keluar dari mulutnya. Apakah Gu Tongguang membela hal itu atau tidak, tidak banyak berpengaruh. Dengan kekuatannya, meskipun tidak bisa mengalahkan orang-orang itu, kecepatannya akan memudahkannya untuk melarikan diri. Namun, terlepas dari apakah tindakan Gu Tongguang efektif atau tidak, karena Gu Tongguang telah melakukannya, maka pihak
Bab 5199 Ketidakpuasan Burung Biru Kecil Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! Melihat Xiao Qie pergi bersama sekelompok murid Sekte Bai Shuang, Li Zixia dengan cepat menarik lengan baju Gu Tongguang dan berkata, "Kakak Senior Tongguang, ayo cepat-cepat menyusul!" Setelah akhirnya bertemu dengan sesama murid dari Sekte Embun Putih di Kediaman Abadi Tujuh Pedang, Li Zixia tentu saja tidak ingin terpisah dari Xiao Qie dan yang lainnya lagi. Lagipula, Istana Abadi Tujuh Pedang sangat berbahaya, dan akan lebih aman untuk tinggal bersama kelompok besar. Selain itu, dengan adanya orang lain yang membuka jalan di depannya, dia dapat menghindari banyak risiko. Setelah mendengar perkataan Li Zixia, Gu Tongguang ragu sejenak. Sejujurnya, dia tidak terlalu ingin terlibat dengan seseorang seperti Xiao Qie, dan sekarang setelah konflik seperti ini muncul, dia bahkan semakin tidak ingin terus mengikuti Xiao Qie. Namun, Gu Tongguang tidak tega menentang keinginan Li Zixia. Bagaimanapu
Bab 5198 Li Zixia (Bagian 2) Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! "Kakak Xiao, saya sungguh tidak berniat menjadi musuhmu. Bisakah kau berbaik hati dan membiarkan kami pergi hari ini? Saya pasti akan mengunjungimu secara pribadi untuk menyampaikan rasa terima kasih dan membalas kebaikanmu hari ini!" Li Zixia membungkuk dalam-dalam kepada Xiao Qie dan berbicara dengan sungguh-sungguh. Setelah mendengar kata-kata Li Zixia, tatapan Xiao Qie beralih antara terang dan gelap. Setelah terdiam cukup lama, dia tiba-tiba tersenyum tipis dan berkata, "Karena Adik Zixia yang memohon kepadamu, maka demi dia, aku akan memberimu kesempatan ini!" Karena Li Zixia sudah memutuskan untuk memihak Gu Tongguang, tidak ada yang bisa dia lakukan terhadap Gu Tongguang dan Li Zixia. Kalau begitu, dia sebaiknya menikah saja untuk menyelamatkan muka. Selain itu, dengan cara ini, dia juga bisa membantu Li Zixia. Li Zixia sangat cantik dan dianggap sebagai wanita tercantik yang terkenal di Sekte Ba
Bab 5197 Li Zixia (Bagian 1) Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! Meskipun Sekte Embun Putih tidak menetapkan bahwa para murid harus melapor ke sekte ketika mereka menemukan peluang atau relik. Lagipula, setiap orang memiliki motif egois, dan tidak seorang pun akan mau berbagi peluang yang mereka temukan dengan orang lain. Namun jika itu hanya kesempatan biasa, maka biarlah; apakah hal itu dilaporkan kepada sekte tersebut atau tidak, biasanya bukanlah sesuatu yang mereka pedulikan. Namun, Istana Abadi Tujuh Pedang bukanlah kesempatan biasa, melainkan keberuntungan luar biasa yang bahkan patriark Sekte Embun Putih pun merasa sangat tertarik. Jika seorang murid dari sebuah sekte menemukan peluang sekaliber ini tetapi gagal melaporkannya, tidak masalah jika sekte tersebut tidak mengetahuinya. Tetapi begitu sekte tersebut mengetahuinya, bagaimana mungkin para petinggi sekte tersebut memiliki kesan yang baik terhadap murid seperti itu? "Kakak Tongguang, kenapa kau tidak memi
Bab 5196 Ancaman Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! Jika Li Zixia maju ke depan, mereka akan memiliki saingan tangguh lainnya. Meskipun mereka kalah jumlah dan persenjataan, mungkin akan membutuhkan banyak usaha bagi mereka untuk mengalahkan Gu Tongguang dan Li Zixia, yang menggunakan senjata ilahi tiga kesengsaraan. "Aku akan selalu mendukung Kakak Tongguang dalam suka dan duka. Apa yang penting bagi Kakak Tongguang, penting juga bagiku, Li Zixia!" kata Li Zixia dengan tenang. "Adik Zixia, kamu tidak perlu melakukan ini!" Mendengar itu, Gu Tongguang sangat tersentuh. Dia menoleh ke Li Zixia dan berkata, "Saudara Chu telah berbuat baik kepada Tingyun. Sebagai kakak Tingyun, aku tidak bisa tinggal diam dan menyaksikan mereka ditindas. Tapi kau tidak perlu melakukan itu!" Gu Tongguang sangat menghargai rasa terima kasih dan kesetiaan. Karena Chu Jianqiu telah menyelamatkan Gu Tingyun, dia harus membalas budi tersebut. Oleh karena itu, ketika dia melihat Yu Kai, Shi Weiy
Bab 5195 Silakan saja, tunjukkan semua trik yang kau punya. Dapatkan pembaruan bab terbaru dengan cepat! Dalam perebutan yang terjadi kemudian, burung biru kecil ini berhasil merebut lebih banyak Buah Roh Merah daripada siapa pun. Bahkan Buah Roh Merah yang berhasil direbut oleh Xiao Qie, Shi Weiyang, dan Yu Kai pun tak mampu menandingi burung biru kecil ini. Dari 139 Buah Roh Merah di pohon ini, setidaknya 30 di antaranya telah direbut oleh burung biru kecil ini. Ketiga pihak saling bertarung sampai mati, saling mengawasi dan menyeimbangkan kekuatan, tetapi pada akhirnya, burung biru kecil di puncak Alam Evolusi Surgawi inilah yang menuai keuntungan. Hal ini sungguh tak tertahankan bagi para pendekar yang sombong dari ketiga sekte utama tersebut. Lebih dari tiga puluh buah roh merah tua, dan masing-masing memiliki tingkatan di atas Transformasi Kesengsaraan tingkat menengah. Betapa besarnya kekayaan ini! Bagaimana mungkin mereka membiarkan seekor burung biru kecil di puncak Ala
Perusahaan Perdagangan Wanwu adalah nama yang dikenal oleh hampir setiap orang di Dinasti Qian Agung. Bukan sekadar dikenal, melainkan dihormati, bahkan ditakuti. Bisnisnya menjangkau seluruh wilayah kekaisaran tanpa terkecuali, dengan cabang di setiap prefektur besar. Di dalamnya diperjualbelikan
Ru Hua masuk ke kamar dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis pelayan itu mengerutkan kening, bibirnya sedikit mengatup sebelum akhirnya dia membuka suara."Tuan Muda, saya baru mendengar kabar dari beberapa orang di koridor. Tuan Muda Chu Han telah mengajukan usul kepada
Malam itu, setelah Ru Hua mengompres pipinya yang masih sedikit bengkak dan membawakan makan malam sederhana yang dia makan tanpa banyak bicara, Chu Jianqiu duduk bersila di kamarnya, memejamkan mata, dan masuk ke dalam menara. Pintu pertama yang terbuka menyambutnya dengan hawa spiritual yang men
Chu Jianqiu menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata. Di dalam alam pikirannya, cahaya menara itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti detak jantung yang lain. Dia tidak tahu dari mana menara itu berasal. Mungkin ibunya meninggalkannya sebelum pergi. Mungkin ayahnya. Mungkin juga keduanya t