Se connecterChu Jianqiu menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata.
Di dalam alam pikirannya, cahaya menara itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti detak jantung yang lain. Dia tidak tahu dari mana menara itu berasal. Mungkin ibunya meninggalkannya sebelum pergi. Mungkin ayahnya. Mungkin juga keduanya tidak ada kaitannya dan menara itu datang dari sesuatu yang lain, dari kejatuhan di jurang itu sendiri, dari batas antara hidup dan mati yang sempat dia sentuh. Tidak ada jawaban untuk sekarang. Tapi Chu Jianqiu tidak terburu-buru mencari jawaban. Seiring dia menjadi lebih kuat, seiring lebih banyak pintu menara itu terbuka, dia yakin jawabannya akan datang sendiri. 'Yang penting sekarang adalah...' Suara langkah kaki terdengar kembali dari koridor. Tapi langkahnya berbeda. Lebih pelan. Lebih berat. Chu Jianqiu membuka matanya. Ru Hua muncul di pintu ruang utama. Namun kali ini bukan ekspresi yang tergesa-gesa atau bersemangat yang dia bawa pulang. Gadis itu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, dan bahkan dari jarak beberapa langkah, Chu Jianqiu bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pipi kirinya. Merah. Sedikit bengkak. Dan di sudut matanya, ada bekas kemerahan yang menandakan bahwa entah karena sakit atau marah atau keduanya, gadis kecil itu hampir menangis tapi berhasil menahannya. Chu Jianqiu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari kondisi tubuhnya yang seharusnya memungkinkan. "Ru Hua." Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat gadis itu mengangkat kepala. "Apa yang terjadi?" Ru Hua mengatupkan bibirnya sebentar, kemudian menjawab dengan suara yang dijaga supaya tidak pecah. "Ruang harta dijaga, Tuan Muda. Ketika aku meminta jatah bulanan Tuan Muda, Tabib Wen bilang kalau... katanya Tuan Muda sudah mati. Katanya tidak ada jatah untuk orang yang sudah mati. Dan ketika aku bilang Tuan Muda masih hidup dan baru pulang, dia..." Gadis itu berhenti sebentar. "Dia memukul pipi saya dan menyuruh saya pergi." Keheningan di ruang itu terasa berbeda dari sebelumnya. Chu Jianqiu tidak bergerak selama dua detik penuh. Kemudian dia berjalan ke arah pintu. "Tuan Muda?" panggil Ru Hua dengan suara kecil. "Tunjukkan padaku di mana ruang harta itu." Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Sekarang." Bab 3 — Kebangkitan yang Tidak Terduga Ruang harta Keluarga Chu terletak di sayap timur kompleks, dijaga oleh dua pintu kayu tebal berpalang besi dan seorang penjaga yang berganti setiap empat jam sekali. Chu Jianqiu hafal semua itu sejak kecil. Yang berubah bukan tata letaknya, tapi siapa yang sekarang merasa berhak berdiri di sana seperti tuan rumah. Dia melangkah masuk ke lorong timur dengan Ru Hua sedikit di belakangnya. Suara percakapan terdengar dari dalam, sesekali diselingi tawa keras yang tidak sopan. Pintu ruang harta terbuka lebar, dan di dalamnya, seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun duduk di kursi penjaga dengan kaki diangkat ke atas meja, sebuah botol arak kecil tergenggam di tangannya. Chu Bolin. Sepupu dari cabang kedua keluarga. Usianya dua tahun lebih muda dari Chu Jianqiu, tapi postur tubuhnya lebih besar, lebih gempal, dengan ekspresi wajah yang terbiasa meremehkan sesuatu. Di belakangnya berdiri dua orang pelayan keluarga yang tampaknya lebih berperan sebagai pengikut pribadi daripada pelayan sejati. Saat langkah Chu Jianqiu berhenti di ambang pintu, Chu Bolin menoleh malas. Kemudian matanya membeku. Tiga detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Lalu Chu Bolin tertawa. "Wah, wah." Dia menurunkan kakinya dari meja dengan santai, memutar botol araknya sekali di antara jari-jarinya. "Ternyata memang benar yang dikatakan pelayan kecil itu tadi. Kau masih hidup, Jianqiu." Dia berhenti sebentar, lalu menyipitkan mata. "Atau lebih tepatnya, kau masih bisa berjalan." "Di mana jatah bulananku?" Chu Jianqiu tidak membuang waktu untuk basa-basi. Chu Bolin mengangkat bahu. "Jatah untuk siapa? Setahuku, kepala keluarga kita sudah pergi. Dan berita yang beredar di kota ini, yang menyebar sejak kemarin sore, bilang bahwa Tuan Muda Chu Jianqiu sudah dimangsa binatang buas." Dia meneguk araknya pelan. "Ruang harta tidak bisa mengeluarkan obat untuk seseorang yang tidak terdaftar sebagai anggota keluarga yang masih hidup. Itu aturan." "Aturan yang kau buat sendiri." "Aturan yang berlaku." Chu Bolin meluruskan tubuhnya, berdiri dengan ekspresi yang berubah sedikit lebih tajam. "Lagi pula, bahkan kalau kau memang masih hidup dan entah bagaimana selamat dari jurang itu, kondisimu pasti..." Matanya menyapu tubuh Chu Jianqiu dari atas ke bawah, mencari sesuatu. "Dantianmu pasti sudah hancur. Kultivasimu pasti sudah habis. Kau datang ke sini sambil pura-pura tegak, tapi aku tahu kondisimu sebenarnya." Ru Hua di belakang Chu Jianqiu mengepalkan tangannya diam-diam. Chu Jianqiu tidak langsung menjawab. Matanya berpindah sebentar ke pipi kiri Ru Hua yang masih kemerahan, lalu kembali ke wajah Chu Bolin. "Kau yang memukul pelayanku tadi." Bukan pertanyaan. Pernyataan. Chu Bolin mendengus. "Gadis kecil itu tidak tahu diri. Ngotot bilang kau masih hidup, ngotot minta jatah obat untuk mayat yang katanya bisa jalan sendiri. Apa yang harus kulakukan, membiarkannya mengoceh terus?" Dia melambai dengan tangannya seolah mengusir lalat. "Satu tamparan bukan masalah besar. Dia tidak apa-apa." "Tidak apa-apa." Chu Jianqiu mengulang kata-kata itu dengan nada yang sama persis dengan Chu Bolin, tapi dengan isi yang sama sekali berbeda. Kemudian dia melangkah masuk. Chu Bolin tidak mundur, tapi sesuatu dalam ekspresinya berubah, seperti seseorang yang tiba-tiba tidak yakin dengan kalkulasinya sendiri. Dua pengikutnya di belakang langsung bergerak maju mengambil posisi. "Apa yang mau kau lakukan?" tanya Chu Bolin, nadanya masih mencoba terdengar santai tapi ada ketegangan di baliknya. "Kau tidak punya qi. Kultivasimu sudah habis. Jangan berlagak seperti..." Tangan Chu Jianqiu bergerak. Bukan pukulan besar. Bukan gerakan kultivasinya yang dulu. Hanya satu sentakan tangan yang cepat, tepat menghantam pergelangan tangan Chu Bolin sehingga botol arak itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara pecah yang nyaring. Kemudian, sebelum Chu Bolin sempat bereaksi, satu dorongan qi yang terasa sangat tidak sesuai dengan kondisi seseorang yang seharusnya sudah tidak punya kultivasi mengalir dari telapak tangan Chu Jianqiu dan menghantam bahu sepupunya itu dengan cukup keras untuk membuatnya terhuyung dua langkah ke belakang. Hening. Chu Bolin menstabilkan dirinya dengan tangan berpegangan di tepi meja. Ekspresinya tidak lagi santai. Matanya memandangi Chu Jianqiu dengan campuran kebingungan dan sesuatu yang menyerupai ketidakpercayaan. 'Dia masih punya qi? Tapi caranya berjalan tadi, postur tubuhnya...' "Kau..." Chu Bolin menggertakkan gigi. "Dua orang! Pegang dia!" Dua pengikutnya langsung bergerak. Dan saat itulah keadaan di ruang harta itu mulai menjadi lebih ramai dari yang direncanakan siapa pun. Chu Jianqiu menahan serangan pertama dengan membelokkan arah pukulan menggunakan sisi lengannya, memutar badan, dan mendorong penyerang pertama ke arah penyerang kedua sehingga keduanya saling bertabrakan. Gerakannya tidak semulus dulu, masih ada kekakuan di sana-sini karena meridiannya yang baru pulih, tapi efektivitasnya tidak bisa dipungkiri. Qi mengalir dalam jumlah yang kecil tapi tajam. Cukup. Suara gedebuk, erangan, dan kursi yang terdorong mengisi ruangan selama beberapa detik berikutnya. Kemudian kesunyian kembali. Dua pengikut Chu Bolin sudah tidak dalam posisi untuk berdiri dengan percaya diri. Salah satunya duduk di sudut dengan ekspresi yang mengatakan bahwa dia tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Yang satunya lagi sedang memassage bahunya sambil menghindari kontak mata dengan siapa pun. Chu Bolin sendiri berdiri dengan rahang yang terkatup rapat, matanya menyala. "Kau akan menyesal," gumamnya. "Sebelum aku menyesal," balas Chu Jianqiu dengan tenang, "tolong konfirmasi dulu bahwa pipi pelayan kecilku itu tidak apa-apa." Kemudian sebuah suara dari arah pintu memotong ketegangan itu. "Ada apa di sini?" Suara itu tua tapi kuat, membawa wibawa yang datang dari usia dan pengalaman yang panjang. Chu Jianqiu menoleh. Seorang lelaki berambut putih berdiri di ambang pintu, jubahnya sederhana tapi berkualitas, matanya yang dalam memandangi seluruh situasi di dalam ruangan itu dengan satu sapuan yang terlatih. Tetua Chu Minghan. Salah satu dari sedikit tetua yang masih memegang saham kepercayaan Chu Jianqiu sejak ayahnya pergi. Lelaki tua itu memandangi Chu Bolin, lalu memandangi Chu Jianqiu, lalu memandangi dua orang yang duduk di lantai dengan ekspresi tidak nyaman. "Chu Jianqiu." Nada suaranya bukan marah. Lebih kepada lega yang disembunyikan dengan baik. "Kau hidup." "Tampaknya begitu, Tetua." Chu Minghan menoleh ke Chu Bolin dengan pandangan yang jauh kurang hangat. "Bolin. Keluar." "Tapi Tetua, dia yang memulai..." "Keluar." Chu Bolin mengatupkan bibirnya, menatap Chu Jianqiu dengan tatapan yang menyimpan janji tidak terucap, kemudian berjalan keluar dengan langkah yang berusaha terlihat tidak tergesa-gesa. Dua pengikutnya mengikuti dengan sedikit lebih terburu-buru. Tetua Chu Minghan masuk ke dalam ruangan, berdiri beberapa langkah dari Chu Jianqiu. Matanya memeriksa kondisi pemuda itu dengan teliti, cara seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia kultivasi memeriksa seseorang, mencari indikasi qi, mencari tanda-tanda luka dalam. "Kondisimu?" tanyanya pelan. "Sudah pulih sebagian." "Dantianmu?" "Masih bisa digunakan." Tetua itu menghela napas panjang, lebih kepada napas lega daripada khawatir. "Syukurlah." Dia menggeleng pelan. "Saat berita tentangmu menyebar kemarin, aku tidak langsung percaya. Tapi tidak ada yang bisa kubuktikan." "Tetua tidak perlu membuktikan apa pun." Chu Jianqiu menatapnya. "Saya yang akan membuktikan sendiri bahwa saya masih di sini." Sebuah suara gaduh terdengar dari luar, dan Chu Bolin muncul kembali di ambang pintu, kali ini dengan wajah yang tampak lebih percaya diri karena ada seseorang di belakangnya. Seorang tetua lain. Lebih muda dari Chu Minghan, dengan wajah yang menyiratkan bahwa dia dan Chu Bolin memiliki hubungan yang melebihi sekadar tetua dan anggota keluarga biasa. Tetua Chu Renfa. Pelindung Chu Bolin. Semua orang di keluarga ini tahu itu. "Jianqiu." Nada Chu Renfa tidak hangat. "Kau baru pulang dan langsung membuat keributan di ruang harta. Ini bukan cara seorang ahli waris yang baik untuk kembali." "Cara yang baik," ulang Chu Jianqiu, "sepertinya bukan cara yang orang di sini gunakan saat memperlakukan pelayanku." "Urusan kecil itu—" "Cukup." Chu Minghan mengangkat satu tangan dengan otoritas yang tidak bisa diabaikan bahkan oleh Chu Renfa. "Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk perdebatan ini." Matanya berpindah ke Chu Bolin dengan tatapan yang mengandung peringatan yang jelas. "Bolin. Jika kau punya sesuatu untuk dikatakan kepada Jianqiu, katakan dengan cara yang benar." Chu Bolin menggertakkan gigi. Kemudian dia memandang Chu Jianqiu dengan tatapan yang sudah tidak menyembunyikan permusuhannya. "Baik," katanya akhirnya. "Dengan cara yang benar." Dia menaikkan dagunya sedikit. "Besok pagi, di lapangan latihan utama. Tantangan terbuka. Aku ingin tahu seberapa besar kemampuanmu yang katanya masih ada itu, saudara." Kata terakhir itu dia ucapkan dengan penekanan yang tidak mengandung rasa persaudaraan apa pun. Chu Jianqiu memandanginya sebentar. 'Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam jurang itu. Dia tidak tahu tentang menara itu. Yang dia tahu hanya bahwa dantianku seharusnya sudah hancur dan kultivasiku seharusnya sudah habis. Dia pikir ini pertarungan yang sudah dia menangkan sebelum dimulai.' Sudut bibir Chu Jianqiu terangkat sedikit. "Besok pagi," jawabnya. "Aku akan ada di sana."# Bab 4833 Jauh di Utara "Dasar bodoh, kenapa terburu-buru!" Mendengar itu, Chu Jianqiu menatapnya tajam dan berkata dengan kesal. Dia baru saja selesai menghitung pengeluaran perang di Kementerian Pendapatan dan masih khawatir dengan biaya yang sangat besar. Dia bahkan belum sempat duduk dengan nyaman ketika si bodoh ini mulai menuntut sumber daya darinya seperti penagih utang. Hal ini membuat Chu Jianqiu... Bagaimana mungkin musim gugur tidak menyebalkan! Namun, meskipun marah, Chu Jianqiu tetap memberikan sejumlah besar pecahan senjata sihir dan air sungai dari benua kuno yang tandus kepada bocah berbaju biru itu. Chu Jianqiu tahu betul bahwa kartu truf terkuatnya saat ini masihlah Pedang Jurang Naga. Memastikan bahwa Pedang Jurang Naga memiliki kekuatan yang cukup adalah hal yang sangat penting baginya. Karena ini adalah kartu truf terpentingnya dalam menghadapi krisis besar. Jika dia tidak menggunakan Pedang Jurang Naga kali ini, dia benar-benar tidak akan bisa berbuat a
Bab 4832 Konsumsi Besar-besaran Pertempuran besar ini, yang memusnahkan begitu banyak vampir kuat, tidak membawa kelegaan sedikit pun bagi Chu Jianqiu; sebaliknya, hal itu membuatnya semakin waspada terhadap para vampir. Dia tidak tahu seberapa besar kekuatan yang masih dimiliki para vampir yang bersembunyi di Benua Tianwu. Mengingat sifat vampir yang licik dan khianat, Chu Jianqiu merasa bahwa mereka tidak akan mengambil risiko besar dengan mengerahkan seluruh kekuatan mereka sekaligus. Lagipula, sebelum hari ini, siapa yang menyangka bahwa para vampir begitu kuat sehingga mereka dapat mengerahkan lebih dari tiga ratus ahli Alam Evolusi Surgawi sekaligus? Apakah para vampir menyimpan kekuatan yang lebih dahsyat lagi di Benua Tianwu sulit untuk dipastikan, tetapi kemungkinan besar memang demikian. Setelah membersihkan medan perang, Chu Jianqiu memimpin para ahli dan pasukan Sekte Xuanjian kembali ke Benua Selatan melalui susunan teleportasi. Semua orang mengalami luka serius da
Bab 4831 Pemusnahan Master Istana Phoenix Surgawi, Yu Jinghe, Luo Xueping, Nong Gucui, Guo Baimei, Lang Qi, Bao Jie, Dongfang Hai, Hu Baining, dan para ahli bela diri lainnya dari Sekte Xuanjian dan Istana Phoenix Surgawi juga mengendalikan boneka Klan Iblis Kegelapan tersebut pada tahap pertengahan Alam Evolusi Surgawi, atau... Dia sendiri yang mengangkat senjata dan mengejar para prajurit vampir yang melarikan diri. Di sisi lain, Liang Yanling secara pribadi memimpin Pasukan Panah Ilahi, di mana para prajurit menjulang tinggi, masing-masing setinggi sepuluh ribu kaki, menggunakan busur dan anak panah yang sangat besar, membentuk Formasi Panah Besi Emas Ilahi Xuanjing. "menembak!" Liang Yanling mengendalikan formasi pertempuran para prajurit, melambaikan tangannya ke arah para vampir kuat yang melarikan diri, dan berteriak. Wussssss! Anak panah raksasa, yang membawa kekuatan mengerikan, ditembakkan dari busur besar yang dipegang oleh para prajurit berbaju zirah dalam formasi p
Bab 4830 Pedang yang Sangat Mengerikan Suara mendesing! Cahaya pedang yang menakutkan muncul entah dari mana, menebas ke arah Kuil Dewa Darah yang baru saja berhasil keluar dari pengepungan. Pemimpin vampir, yang mengendalikan pelarian dari Kuil Dewa Darah, tiba-tiba merasakan krisis yang sangat mengerikan mendekat. Dia menoleh dan melihat cahaya pedang yang sangat menakutkan menebas ke arah Kuil Dewa Darah di langit. "TIDAK……" Melihat hal itu, pemimpin vampir tersebut merasa ngeri. Matanya yang merah darah langsung melebar, dan dia meraung penuh amarah. Cahaya pedang ini sungguh menakutkan, menimbulkan perasaan putus asa dan firasat kematian yang sangat kuat. Ia tahu betul bahwa Kuil Dewa Darah saja tidak akan mampu menahan serangan pedang yang begitu mengerikan. Pada saat ini, pemimpin vampir itu mati-matian memanipulasi Kuil Dewa Darah, berusaha menghindari cahaya pedang yang mengerikan ini. Sayangnya, cahaya pedang itu datang terlalu cepat, begitu cepat sehingga dia tidak
Bab 4829 Formasi Pertempuran Logam Geng Agung Jika klon-klon boneka Sekte Xuanjian ini tidak dipancing masuk ke Istana Dewa Darah, mereka tidak akan menderita kerugian sebesar itu berkat pertahanan Istana Dewa Darah yang kuat. Sayangnya, tidak ada "bagaimana jika" dalam hidup. Ketika Mihe memutuskan untuk menggunakan Shi Qianliu sebagai pion, kekalahan mereka yang tak terhindarkan sudah terpatri. Karena Shi Qianliu awalnya adalah umpan yang sengaja ditanam oleh Chu Jianqiu untuk memancing ikan besar. Begitu Sekte Iblis Darah menggunakan pion ini, seolah-olah mereka telah termakan umpan. Namun, jerat Sekte Iblis Darah menyeret seluruh klan vampir ke dalam kekacauan tersebut. Bahkan Chu Jianqiu pun tidak menyangka bahwa meninggalkan Shi Qianliu sebagai umpan akhirnya akan menangkap ikan sebesar itu. Untungnya, Shi Qianliu tidak terbunuh saat itu; jika tidak, mustahil untuk memancing begitu banyak vampir kuat keluar. Mengingat kelicikan para vampir, dibutuhkan upaya yang sangat b
Bab 4828 Rencana Klan Vampir Meskipun umat manusia dikelilingi musuh di semua dunia, ia tetap menjadi salah satu ras teratas di antara semua ras, dan kekuatannya sangat dahsyat. Secara khusus, di antara umat manusia, terdapat beberapa ahli tak tertandingi yang sangat menakutkan yang memegang kendali. Kekuatan membunuh yang mengerikan dari para ahli tak tertandingi itu membuat seluruh alam semesta gemetar ketakutan. Selain itu, kemauan umat manusia yang teguh dan tak tergoyahkan adalah alasan mendasar mengapa mereka tetap bertahan. Di banyak medan pertempuran, bahkan jika hanya satu manusia yang tersisa, mereka akan berjuang hingga akhir. Dalam setiap peperangan, bahkan ketika ras lain memiliki keunggulan di medan perang, mereka tetap harus membayar harga yang sangat mahal karena perlawanan gigih dari umat manusia. Para vampir yang akhirnya sampai di Benua Tianwu ini juga merupakan para penyintas dari medan perang tertentu. Benua Tianwu sendiri tidak memiliki vampir; semua vampi
Ru Hua masuk ke kamar dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis pelayan itu mengerutkan kening, bibirnya sedikit mengatup sebelum akhirnya dia membuka suara."Tuan Muda, saya baru mendengar kabar dari beberapa orang di koridor. Tuan Muda Chu Han telah mengajukan usul kepada
Malam itu, setelah Ru Hua mengompres pipinya yang masih sedikit bengkak dan membawakan makan malam sederhana yang dia makan tanpa banyak bicara, Chu Jianqiu duduk bersila di kamarnya, memejamkan mata, dan masuk ke dalam menara. Pintu pertama yang terbuka menyambutnya dengan hawa spiritual yang men
Di dunia nyata, tubuhnya tergeletak di lumut lembab dengan napas yang makin melemah.Tapi di sini, di hadapan menara yang berdiri seperti sesuatu yang menunggu sejak waktu yang sangat lama, dia bisa merasakan bahwa ini bukan mimpi orang yang sedang sekarat.Ini nyata.'Dantianku sudah hancur. Merid
Sesuatu di dalam dada Chu Jianqiu retak.Bukan karena sakit fisik, walaupun itu pun sudah hampir tak tertahankan.Melainkan karena sebuah pemahaman yang perlahan-lahan merayap masuk ke benaknya, dingin dan kejam.'Tidak ada yang nyata dari semua ini.'Tiga tahun.Tiga tahun dia meninggalkan kultiva






