Home / Pendekar / Kultivator Surgawi / 4 Ditindas Keluarga Sendiri

Share

4 Ditindas Keluarga Sendiri

Author: Klan Fang
last update publish date: 2026-03-14 08:56:23

Chu Jianqiu menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata.

Di dalam alam pikirannya, cahaya menara itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti detak jantung yang lain.

Dia tidak tahu dari mana menara itu berasal. Mungkin ibunya meninggalkannya sebelum pergi. Mungkin ayahnya. Mungkin juga keduanya tidak ada kaitannya dan menara itu datang dari sesuatu yang lain, dari kejatuhan di jurang itu sendiri, dari batas antara hidup dan mati yang sempat dia sentuh.

Tidak ada jawaban untuk sekarang.

Tapi Chu Jianqiu tidak terburu-buru mencari jawaban. Seiring dia menjadi lebih kuat, seiring lebih banyak pintu menara itu terbuka, dia yakin jawabannya akan datang sendiri.

'Yang penting sekarang adalah...'

Suara langkah kaki terdengar kembali dari koridor.

Tapi langkahnya berbeda. Lebih pelan. Lebih berat.

Chu Jianqiu membuka matanya.

Ru Hua muncul di pintu ruang utama.

Namun kali ini bukan ekspresi yang tergesa-gesa atau bersemangat yang dia bawa pulang. Gadis itu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, dan bahkan dari jarak beberapa langkah, Chu Jianqiu bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Pipi kirinya.

Merah. Sedikit bengkak.

Dan di sudut matanya, ada bekas kemerahan yang menandakan bahwa entah karena sakit atau marah atau keduanya, gadis kecil itu hampir menangis tapi berhasil menahannya.

Chu Jianqiu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari kondisi tubuhnya yang seharusnya memungkinkan.

"Ru Hua."

Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat gadis itu mengangkat kepala.

"Apa yang terjadi?"

Ru Hua mengatupkan bibirnya sebentar, kemudian menjawab dengan suara yang dijaga supaya tidak pecah. "Ruang harta dijaga, Tuan Muda. Ketika aku meminta jatah bulanan Tuan Muda, Tabib Wen bilang kalau... katanya Tuan Muda sudah mati. Katanya tidak ada jatah untuk orang yang sudah mati. Dan ketika aku bilang Tuan Muda masih hidup dan baru pulang, dia..." Gadis itu berhenti sebentar. "Dia memukul pipi saya dan menyuruh saya pergi."

Keheningan di ruang itu terasa berbeda dari sebelumnya.

Chu Jianqiu tidak bergerak selama dua detik penuh.

Kemudian dia berjalan ke arah pintu.

"Tuan Muda?" panggil Ru Hua dengan suara kecil.

"Tunjukkan padaku di mana ruang harta itu." Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Sekarang."

Bab 3 — Kebangkitan yang Tidak Terduga

Ruang harta Keluarga Chu terletak di sayap timur kompleks, dijaga oleh dua pintu kayu tebal berpalang besi dan seorang penjaga yang berganti setiap empat jam sekali. Chu Jianqiu hafal semua itu sejak kecil. Yang berubah bukan tata letaknya, tapi siapa yang sekarang merasa berhak berdiri di sana seperti tuan rumah.

Dia melangkah masuk ke lorong timur dengan Ru Hua sedikit di belakangnya.

Suara percakapan terdengar dari dalam, sesekali diselingi tawa keras yang tidak sopan. Pintu ruang harta terbuka lebar, dan di dalamnya, seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun duduk di kursi penjaga dengan kaki diangkat ke atas meja, sebuah botol arak kecil tergenggam di tangannya.

Chu Bolin.

Sepupu dari cabang kedua keluarga. Usianya dua tahun lebih muda dari Chu Jianqiu, tapi postur tubuhnya lebih besar, lebih gempal, dengan ekspresi wajah yang terbiasa meremehkan sesuatu. Di belakangnya berdiri dua orang pelayan keluarga yang tampaknya lebih berperan sebagai pengikut pribadi daripada pelayan sejati.

Saat langkah Chu Jianqiu berhenti di ambang pintu, Chu Bolin menoleh malas.

Kemudian matanya membeku.

Tiga detik berlalu dalam keheningan yang canggung.

Lalu Chu Bolin tertawa.

"Wah, wah." Dia menurunkan kakinya dari meja dengan santai, memutar botol araknya sekali di antara jari-jarinya. "Ternyata memang benar yang dikatakan pelayan kecil itu tadi. Kau masih hidup, Jianqiu." Dia berhenti sebentar, lalu menyipitkan mata. "Atau lebih tepatnya, kau masih bisa berjalan."

"Di mana jatah bulananku?" Chu Jianqiu tidak membuang waktu untuk basa-basi.

Chu Bolin mengangkat bahu. "Jatah untuk siapa? Setahuku, kepala keluarga kita sudah pergi. Dan berita yang beredar di kota ini, yang menyebar sejak kemarin sore, bilang bahwa Tuan Muda Chu Jianqiu sudah dimangsa binatang buas." Dia meneguk araknya pelan. "Ruang harta tidak bisa mengeluarkan obat untuk seseorang yang tidak terdaftar sebagai anggota keluarga yang masih hidup. Itu aturan."

"Aturan yang kau buat sendiri."

"Aturan yang berlaku." Chu Bolin meluruskan tubuhnya, berdiri dengan ekspresi yang berubah sedikit lebih tajam. "Lagi pula, bahkan kalau kau memang masih hidup dan entah bagaimana selamat dari jurang itu, kondisimu pasti..." Matanya menyapu tubuh Chu Jianqiu dari atas ke bawah, mencari sesuatu. "Dantianmu pasti sudah hancur. Kultivasimu pasti sudah habis. Kau datang ke sini sambil pura-pura tegak, tapi aku tahu kondisimu sebenarnya."

Ru Hua di belakang Chu Jianqiu mengepalkan tangannya diam-diam.

Chu Jianqiu tidak langsung menjawab.

Matanya berpindah sebentar ke pipi kiri Ru Hua yang masih kemerahan, lalu kembali ke wajah Chu Bolin.

"Kau yang memukul pelayanku tadi."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Chu Bolin mendengus. "Gadis kecil itu tidak tahu diri. Ngotot bilang kau masih hidup, ngotot minta jatah obat untuk mayat yang katanya bisa jalan sendiri. Apa yang harus kulakukan, membiarkannya mengoceh terus?" Dia melambai dengan tangannya seolah mengusir lalat. "Satu tamparan bukan masalah besar. Dia tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa."

Chu Jianqiu mengulang kata-kata itu dengan nada yang sama persis dengan Chu Bolin, tapi dengan isi yang sama sekali berbeda.

Kemudian dia melangkah masuk.

Chu Bolin tidak mundur, tapi sesuatu dalam ekspresinya berubah, seperti seseorang yang tiba-tiba tidak yakin dengan kalkulasinya sendiri. Dua pengikutnya di belakang langsung bergerak maju mengambil posisi.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Chu Bolin, nadanya masih mencoba terdengar santai tapi ada ketegangan di baliknya. "Kau tidak punya qi. Kultivasimu sudah habis. Jangan berlagak seperti..."

Tangan Chu Jianqiu bergerak.

Bukan pukulan besar. Bukan gerakan kultivasinya yang dulu. Hanya satu sentakan tangan yang cepat, tepat menghantam pergelangan tangan Chu Bolin sehingga botol arak itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara pecah yang nyaring.

Kemudian, sebelum Chu Bolin sempat bereaksi, satu dorongan qi yang terasa sangat tidak sesuai dengan kondisi seseorang yang seharusnya sudah tidak punya kultivasi mengalir dari telapak tangan Chu Jianqiu dan menghantam bahu sepupunya itu dengan cukup keras untuk membuatnya terhuyung dua langkah ke belakang.

Hening.

Chu Bolin menstabilkan dirinya dengan tangan berpegangan di tepi meja. Ekspresinya tidak lagi santai. Matanya memandangi Chu Jianqiu dengan campuran kebingungan dan sesuatu yang menyerupai ketidakpercayaan.

'Dia masih punya qi? Tapi caranya berjalan tadi, postur tubuhnya...'

"Kau..." Chu Bolin menggertakkan gigi. "Dua orang! Pegang dia!"

Dua pengikutnya langsung bergerak.

Dan saat itulah keadaan di ruang harta itu mulai menjadi lebih ramai dari yang direncanakan siapa pun.

Chu Jianqiu menahan serangan pertama dengan membelokkan arah pukulan menggunakan sisi lengannya, memutar badan, dan mendorong penyerang pertama ke arah penyerang kedua sehingga keduanya saling bertabrakan. Gerakannya tidak semulus dulu, masih ada kekakuan di sana-sini karena meridiannya yang baru pulih, tapi efektivitasnya tidak bisa dipungkiri.

Qi mengalir dalam jumlah yang kecil tapi tajam.

Cukup.

Suara gedebuk, erangan, dan kursi yang terdorong mengisi ruangan selama beberapa detik berikutnya. Kemudian kesunyian kembali.

Dua pengikut Chu Bolin sudah tidak dalam posisi untuk berdiri dengan percaya diri. Salah satunya duduk di sudut dengan ekspresi yang mengatakan bahwa dia tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Yang satunya lagi sedang memassage bahunya sambil menghindari kontak mata dengan siapa pun.

Chu Bolin sendiri berdiri dengan rahang yang terkatup rapat, matanya menyala.

"Kau akan menyesal," gumamnya.

"Sebelum aku menyesal," balas Chu Jianqiu dengan tenang, "tolong konfirmasi dulu bahwa pipi pelayan kecilku itu tidak apa-apa."

Kemudian sebuah suara dari arah pintu memotong ketegangan itu.

"Ada apa di sini?"

Suara itu tua tapi kuat, membawa wibawa yang datang dari usia dan pengalaman yang panjang. Chu Jianqiu menoleh.

Seorang lelaki berambut putih berdiri di ambang pintu, jubahnya sederhana tapi berkualitas, matanya yang dalam memandangi seluruh situasi di dalam ruangan itu dengan satu sapuan yang terlatih.

Tetua Chu Minghan.

Salah satu dari sedikit tetua yang masih memegang saham kepercayaan Chu Jianqiu sejak ayahnya pergi. Lelaki tua itu memandangi Chu Bolin, lalu memandangi Chu Jianqiu, lalu memandangi dua orang yang duduk di lantai dengan ekspresi tidak nyaman.

"Chu Jianqiu." Nada suaranya bukan marah. Lebih kepada lega yang disembunyikan dengan baik. "Kau hidup."

"Tampaknya begitu, Tetua."

Chu Minghan menoleh ke Chu Bolin dengan pandangan yang jauh kurang hangat. "Bolin. Keluar."

"Tapi Tetua, dia yang memulai..."

"Keluar."

Chu Bolin mengatupkan bibirnya, menatap Chu Jianqiu dengan tatapan yang menyimpan janji tidak terucap, kemudian berjalan keluar dengan langkah yang berusaha terlihat tidak tergesa-gesa. Dua pengikutnya mengikuti dengan sedikit lebih terburu-buru.

Tetua Chu Minghan masuk ke dalam ruangan, berdiri beberapa langkah dari Chu Jianqiu. Matanya memeriksa kondisi pemuda itu dengan teliti, cara seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia kultivasi memeriksa seseorang, mencari indikasi qi, mencari tanda-tanda luka dalam.

"Kondisimu?" tanyanya pelan.

"Sudah pulih sebagian."

"Dantianmu?"

"Masih bisa digunakan."

Tetua itu menghela napas panjang, lebih kepada napas lega daripada khawatir. "Syukurlah." Dia menggeleng pelan. "Saat berita tentangmu menyebar kemarin, aku tidak langsung percaya. Tapi tidak ada yang bisa kubuktikan."

"Tetua tidak perlu membuktikan apa pun." Chu Jianqiu menatapnya. "Saya yang akan membuktikan sendiri bahwa saya masih di sini."

Sebuah suara gaduh terdengar dari luar, dan Chu Bolin muncul kembali di ambang pintu, kali ini dengan wajah yang tampak lebih percaya diri karena ada seseorang di belakangnya.

Seorang tetua lain. Lebih muda dari Chu Minghan, dengan wajah yang menyiratkan bahwa dia dan Chu Bolin memiliki hubungan yang melebihi sekadar tetua dan anggota keluarga biasa.

Tetua Chu Renfa.

Pelindung Chu Bolin. Semua orang di keluarga ini tahu itu.

"Jianqiu." Nada Chu Renfa tidak hangat. "Kau baru pulang dan langsung membuat keributan di ruang harta. Ini bukan cara seorang ahli waris yang baik untuk kembali."

"Cara yang baik," ulang Chu Jianqiu, "sepertinya bukan cara yang orang di sini gunakan saat memperlakukan pelayanku."

"Urusan kecil itu—"

"Cukup." Chu Minghan mengangkat satu tangan dengan otoritas yang tidak bisa diabaikan bahkan oleh Chu Renfa. "Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk perdebatan ini." Matanya berpindah ke Chu Bolin dengan tatapan yang mengandung peringatan yang jelas. "Bolin. Jika kau punya sesuatu untuk dikatakan kepada Jianqiu, katakan dengan cara yang benar."

Chu Bolin menggertakkan gigi.

Kemudian dia memandang Chu Jianqiu dengan tatapan yang sudah tidak menyembunyikan permusuhannya.

"Baik," katanya akhirnya. "Dengan cara yang benar." Dia menaikkan dagunya sedikit. "Besok pagi, di lapangan latihan utama. Tantangan terbuka. Aku ingin tahu seberapa besar kemampuanmu yang katanya masih ada itu, saudara." Kata terakhir itu dia ucapkan dengan penekanan yang tidak mengandung rasa persaudaraan apa pun.

Chu Jianqiu memandanginya sebentar.

'Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam jurang itu. Dia tidak tahu tentang menara itu. Yang dia tahu hanya bahwa dantianku seharusnya sudah hancur dan kultivasiku seharusnya sudah habis. Dia pikir ini pertarungan yang sudah dia menangkan sebelum dimulai.'

Sudut bibir Chu Jianqiu terangkat sedikit.

"Besok pagi," jawabnya. "Aku akan ada di sana."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kultivator Surgawi    2242 Terobosan Chu Jianqiu Berbaju Putih

    Sekte Xuanjian, di perbatasan barat daya.Chu Jianqiu, mengenakan pakaian putih, duduk bersila dalam formasi penempaan niat pedang tingkat sembilan, tubuhnya berdenyut dengan aura misterius. Di sekelilingnya, Dao Agung Langit dan Bumi merespons, menampilkan fenomena Dao yang menakjubkan tak terhitung jumlahnya.Chu Jianqiu, yang mengenakan pakaian putih, tiba-tiba membuka matanya dan berdiri dari tanah. Dia tahu bahwa dia telah menekan tingkat kultivasinya hingga batas maksimal dan tidak dapat lagi menekannya hari ini.Saat ia hendak menembus ke Alam Yang Mulia, Dao Agung Langit dan Bumi mulai beresonansi dengan esensi Dao yang terpancar darinya.Tanpa ragu-ragu lagi, Chu Jianqiu yang berbaju putih menghilang dari tempatnya dalam sekejap, dan di saat berikutnya, ia muncul di Gua Hujan Surgawi.Setelah muncul di Gua Hujan Surgawi, Chu Jianqiu, yang mengenakan pakaian putih, menyapa gadis kecil itu dan memberitahunya bahwa dia akan segera mencapai Alam Yang Mulia agar gadis itu dapat me

  • Kultivator Surgawi   2241 Siapakah tuan muda ini?

    Setelah kembali dari reruntuhan kuno, Devouring Tiger menemukan semua jenderal di perkemahan militer mereka dan memukuli mereka, kecuali Liang Yanling. Dia bahkan mengaku ingin mengenal mereka lebih baik agar mereka tidak melupakannya, Raja Harimau, setelah sekian lama berlalu.Setelah dipukuli oleh Harimau Pemangsa, para jenderal di kamp militer tidak berani mengucapkan sepatah kata pun dan hanya bisa menahan penderitaan itu dalam diam.Mau bagaimana lagi?Benda ini sangat kuat sehingga, selain Gong Nanyan dan Little Bluebird, tidak ada seorang pun di seluruh Sekte Xuanjian yang dapat menandinginya. Terpukul olehnya hanyalah sia-sia.Fang Xiao pernah mencoba menggunakan formasi pertempuran dan tentara lapis baja untuk menghadapi Harimau Pemangsa, tetapi hasilnya dapat diprediksi.Meskipun Harimau Pemangsa saat ini baru berada di puncak Alam Yang Mulia Bumi, kekuatan tempurnya terlalu dahsyat, bahkan lebih kuat dari Cui Liandu, jenderal terkenal dari Dinasti Iblis Kegelapan yang menye

  • Kultivator Surgawi    2240 Sang Naga Perang yang Mengejutkan

    "Saudara Feng, kau benar-benar telah mengharumkan namamu akhir-akhir ini!" kata Chu Jianqiu kepada Feng Feiyuan sambil tersenyum."Kakak Chu, tolong jangan menggodaku. Aku sedang dalam situasi yang sangat sulit sekarang. Jika bukan karena bantuanmu, aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan sampai besok!" kata Feng Feiyuan sambil tersenyum getir.Dia tidak melebih-lebihkan. Meskipun dia cukup kuat, dia masih jauh dari mampu bersaing dengan Feng Feiyu dan Feng Feiyun, apalagi Feng Feiyu dan Feng Feiyun memiliki kekuatan raksasa dari lima keluarga besar Kota Kekaisaran Fengyuan yang berdiri di belakang mereka.Tanpa bantuan Chu Jianqiu, bahkan jika dia tetap tinggal di Akademi Fengyuan, Feng Feiyu dan Feng Feiyun mungkin akan melakukan segala cara untuk membunuhnya.Meskipun kekuatan Chu Jianqiu mirip dengannya, Chu Jianqiu memiliki terlalu banyak kartu truf. Terlebih lagi, Chu Jianqiu memiliki seluruh Sekte Xuanjian di belakangnya, dan dia juga memiliki binatang buas tak tertandingi sepe

  • Kultivator Surgawi    2239 Mengejutkan Semua Pihak

    Seandainya bakat bela diri Feng Feiyuan hanya luar biasa, dan tidak mengerikan, mungkin dia tidak akan ikut campur dalam konflik antara Feng Feiyu dan Feng Feiyuan setelah kejadian ini.Namun, bakat bela diri Feng Feiyuan kali ini benar-benar luar biasa. Ia baru berada di Alam Dewa Bumi setengah langkah, namun ia mampu mengalahkan Mang Ran, yang berada di puncak Alam Dewa Bumi. Bakat luar biasa seperti itu bahkan sedikit melampaui Feng Feichen.Feng Feichen adalah kebanggaan terbesarnya dalam hidup ini, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun menyaingi Feng Feichen. Penampilan Feng Feiyuan hari ini jelas telah menyentuh titik sensitifnya.Dia menjadi semakin marah ketika mengetahui bahwa Feng Feiyuan sebenarnya bergaul dengan Chu Jianqiu.Performa Chu Jianqiu selama beberapa tahun terakhir telah menjadikannya bintang yang sedang naik daun di Dinasti Fengyuan.Pada awalnya, reputasi Chu Jianqiu hanya dikenal di kalangan sekte luar Akademi Fengyuan.Namun, sejak kompetisi sekte luar Aka

  • Kultivator Surgawi    2238 Ratu Feng Yuan

    Karena Chu Jianqiu telah mempercayakan tugas berbahaya seperti itu kepada Tang Xuan, tentu saja dia harus memastikan keselamatannya.Oleh karena itu, Chu Jianqiu tidak hanya memberikan Tang Xuan lebih dari sepuluh boneka di puncak Alam Yang Mulia Bumi, tetapi juga memberinya sejumlah besar jimat spiritual yang sangat berharga.Dengan begitu banyak kartu truf untuk melindunginya, Tang Xuan akan memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri bahkan jika dia bertemu dengan seorang ahli Alam Yang Mulia Surgawi...."Kakak Tang, aku tidak pernah menyangka bahwa ahli yang dibicarakan Kakak Chu itu adalah kamu!"Ketika Feng Feiyuan melihat Tang Xuan, dia sangat terkejut.Chu Jianqiu mengatakan dia akan mengirim seseorang untuk menyelesaikan masalah keselamatan ibunya, tetapi Feng Feiyuan tidak menyangka bahwa yang datang adalah Tang Xuan. Ini adalah kejutan yang menyenangkan baginya."Apa, kau meremehkanku?" Tang Xuan melipat tangannya, mengangkat dagunya, dan berkata dengan angkuh."Ti

  • Kultivator Surgawi    2237 Chu Jianqiu, Anda memihak!

    Chu Jianqiu memandang kedua wanita yang bertarung sengit di atas arena dan tak kuasa menahan desahan. Kedua wanita ini tak pernah memberinya ketenangan pikiran sedikit pun setiap kali mereka bersama.Saat kedua wanita itu terlibat dalam perdebatan sengit, dia tidak berani ikut campur, karena jika tidak, dia sendiri yang akan kena dampaknya.Masalah ini baru bisa dianggap selesai jika keduanya telah bertarung cukup sengit dan salah satu dari mereka terjatuh ke tanah; jika tidak, meskipun ia bisa menghentikan mereka untuk sementara waktu, ia tidak bisa menghentikan mereka selamanya.Satu jam kemudian, Tang Xuan dikalahkan.Meskipun dia telah mencapai tahap akhir Alam Yang Mulia Bumi, dan meskipun dia tiga alam lebih tinggi dari Gong Hanyun, dia hanya meminum satu Pil Yang Mulia Mendalam, dan aura kuno yang telah dia sempurnakan sangat sedikit.Gong Hanyun telah memurnikan tidak kurang dari dua puluh untaian aura kuno, dan semua esensi sejati di tubuhnya telah diubah menjadi esensi sejat

  • Kultivator Surgawi   1363 Kenapa kamu tidak jalan-jalan keluar dulu dan kembali lagi!

    "Sepuluh ribu batu spiritual tingkat tujuh untuk masing-masing, Nak, kau meminta terlalu banyak!" kata lelaki tua berjubah cokelat itu dengan marah setelah mendengar ucapan Chu Jianqiu.Sepuluh ribu batu roh tingkat tujuh—kau bahkan tidak bisa menjualnya dengan harga setinggi itu.Pemuda berwajah d

  • Kultivator Surgawi   1358 Kekuatan Fisik yang Dahsyat

    Melihat hal ini, para pengikut Wu Qiong semuanya menunjukkan ekspresi mengejek."Sial, itu membuatku sangat takut! Dia terdengar sangat arogan barusan, kukira seorang ahli hebat dari Alam Dewa telah tiba!""Apakah pria ini idiot? Sekalipun dia ingin berperan sebagai pahlawan dan menyelamatkan gadis

  • Kultivator Surgawi   1357 Wu Qiong 

    Untungnya, meskipun kekuatan tempur Su Yanxiang kurang, dia memiliki cukup banyak kartu truf. Untuk meningkatkan kemampuan bertarungnya, Chu Jianqiu memberikan semua yang dia bisa, termasuk senjata sihir terbaik, jimat, dan pil yang tersedia pada tahap ini. Dengan artefak dan jimat magis yang amp

  • Kultivator Surgawi   1356 Masalah Datang Mengetuk

    Masih ada lima hari lagi hingga dimulainya ujian masuk Akademi Fengyuan. Kelompok itu beristirahat di penginapan dan menunggu ujian dimulai.Meskipun Li Xiangjun sedang merajuk kepada Chu Jianqiu, dia tetap menginap di kamar sebelah kamar Chu Jianqiu ketika membutuhkan kamar di penginapan.Kota Kek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status