แชร์

4 Ditindas Keluarga Sendiri

ผู้เขียน: Klan Fang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-14 08:56:23

Chu Jianqiu menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata.

Di dalam alam pikirannya, cahaya menara itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti detak jantung yang lain.

Dia tidak tahu dari mana menara itu berasal. Mungkin ibunya meninggalkannya sebelum pergi. Mungkin ayahnya. Mungkin juga keduanya tidak ada kaitannya dan menara itu datang dari sesuatu yang lain, dari kejatuhan di jurang itu sendiri, dari batas antara hidup dan mati yang sempat dia sentuh.

Tidak ada jawaban untuk sekarang.

Tapi Chu Jianqiu tidak terburu-buru mencari jawaban. Seiring dia menjadi lebih kuat, seiring lebih banyak pintu menara itu terbuka, dia yakin jawabannya akan datang sendiri.

'Yang penting sekarang adalah...'

Suara langkah kaki terdengar kembali dari koridor.

Tapi langkahnya berbeda. Lebih pelan. Lebih berat.

Chu Jianqiu membuka matanya.

Ru Hua muncul di pintu ruang utama.

Namun kali ini bukan ekspresi yang tergesa-gesa atau bersemangat yang dia bawa pulang. Gadis itu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, dan bahkan dari jarak beberapa langkah, Chu Jianqiu bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Pipi kirinya.

Merah. Sedikit bengkak.

Dan di sudut matanya, ada bekas kemerahan yang menandakan bahwa entah karena sakit atau marah atau keduanya, gadis kecil itu hampir menangis tapi berhasil menahannya.

Chu Jianqiu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari kondisi tubuhnya yang seharusnya memungkinkan.

"Ru Hua."

Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat gadis itu mengangkat kepala.

"Apa yang terjadi?"

Ru Hua mengatupkan bibirnya sebentar, kemudian menjawab dengan suara yang dijaga supaya tidak pecah. "Ruang harta dijaga, Tuan Muda. Ketika aku meminta jatah bulanan Tuan Muda, Tabib Wen bilang kalau... katanya Tuan Muda sudah mati. Katanya tidak ada jatah untuk orang yang sudah mati. Dan ketika aku bilang Tuan Muda masih hidup dan baru pulang, dia..." Gadis itu berhenti sebentar. "Dia memukul pipi saya dan menyuruh saya pergi."

Keheningan di ruang itu terasa berbeda dari sebelumnya.

Chu Jianqiu tidak bergerak selama dua detik penuh.

Kemudian dia berjalan ke arah pintu.

"Tuan Muda?" panggil Ru Hua dengan suara kecil.

"Tunjukkan padaku di mana ruang harta itu." Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Sekarang."

Bab 3 — Kebangkitan yang Tidak Terduga

Ruang harta Keluarga Chu terletak di sayap timur kompleks, dijaga oleh dua pintu kayu tebal berpalang besi dan seorang penjaga yang berganti setiap empat jam sekali. Chu Jianqiu hafal semua itu sejak kecil. Yang berubah bukan tata letaknya, tapi siapa yang sekarang merasa berhak berdiri di sana seperti tuan rumah.

Dia melangkah masuk ke lorong timur dengan Ru Hua sedikit di belakangnya.

Suara percakapan terdengar dari dalam, sesekali diselingi tawa keras yang tidak sopan. Pintu ruang harta terbuka lebar, dan di dalamnya, seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun duduk di kursi penjaga dengan kaki diangkat ke atas meja, sebuah botol arak kecil tergenggam di tangannya.

Chu Bolin.

Sepupu dari cabang kedua keluarga. Usianya dua tahun lebih muda dari Chu Jianqiu, tapi postur tubuhnya lebih besar, lebih gempal, dengan ekspresi wajah yang terbiasa meremehkan sesuatu. Di belakangnya berdiri dua orang pelayan keluarga yang tampaknya lebih berperan sebagai pengikut pribadi daripada pelayan sejati.

Saat langkah Chu Jianqiu berhenti di ambang pintu, Chu Bolin menoleh malas.

Kemudian matanya membeku.

Tiga detik berlalu dalam keheningan yang canggung.

Lalu Chu Bolin tertawa.

"Wah, wah." Dia menurunkan kakinya dari meja dengan santai, memutar botol araknya sekali di antara jari-jarinya. "Ternyata memang benar yang dikatakan pelayan kecil itu tadi. Kau masih hidup, Jianqiu." Dia berhenti sebentar, lalu menyipitkan mata. "Atau lebih tepatnya, kau masih bisa berjalan."

"Di mana jatah bulananku?" Chu Jianqiu tidak membuang waktu untuk basa-basi.

Chu Bolin mengangkat bahu. "Jatah untuk siapa? Setahuku, kepala keluarga kita sudah pergi. Dan berita yang beredar di kota ini, yang menyebar sejak kemarin sore, bilang bahwa Tuan Muda Chu Jianqiu sudah dimangsa binatang buas." Dia meneguk araknya pelan. "Ruang harta tidak bisa mengeluarkan obat untuk seseorang yang tidak terdaftar sebagai anggota keluarga yang masih hidup. Itu aturan."

"Aturan yang kau buat sendiri."

"Aturan yang berlaku." Chu Bolin meluruskan tubuhnya, berdiri dengan ekspresi yang berubah sedikit lebih tajam. "Lagi pula, bahkan kalau kau memang masih hidup dan entah bagaimana selamat dari jurang itu, kondisimu pasti..." Matanya menyapu tubuh Chu Jianqiu dari atas ke bawah, mencari sesuatu. "Dantianmu pasti sudah hancur. Kultivasimu pasti sudah habis. Kau datang ke sini sambil pura-pura tegak, tapi aku tahu kondisimu sebenarnya."

Ru Hua di belakang Chu Jianqiu mengepalkan tangannya diam-diam.

Chu Jianqiu tidak langsung menjawab.

Matanya berpindah sebentar ke pipi kiri Ru Hua yang masih kemerahan, lalu kembali ke wajah Chu Bolin.

"Kau yang memukul pelayanku tadi."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Chu Bolin mendengus. "Gadis kecil itu tidak tahu diri. Ngotot bilang kau masih hidup, ngotot minta jatah obat untuk mayat yang katanya bisa jalan sendiri. Apa yang harus kulakukan, membiarkannya mengoceh terus?" Dia melambai dengan tangannya seolah mengusir lalat. "Satu tamparan bukan masalah besar. Dia tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa."

Chu Jianqiu mengulang kata-kata itu dengan nada yang sama persis dengan Chu Bolin, tapi dengan isi yang sama sekali berbeda.

Kemudian dia melangkah masuk.

Chu Bolin tidak mundur, tapi sesuatu dalam ekspresinya berubah, seperti seseorang yang tiba-tiba tidak yakin dengan kalkulasinya sendiri. Dua pengikutnya di belakang langsung bergerak maju mengambil posisi.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Chu Bolin, nadanya masih mencoba terdengar santai tapi ada ketegangan di baliknya. "Kau tidak punya qi. Kultivasimu sudah habis. Jangan berlagak seperti..."

Tangan Chu Jianqiu bergerak.

Bukan pukulan besar. Bukan gerakan kultivasinya yang dulu. Hanya satu sentakan tangan yang cepat, tepat menghantam pergelangan tangan Chu Bolin sehingga botol arak itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara pecah yang nyaring.

Kemudian, sebelum Chu Bolin sempat bereaksi, satu dorongan qi yang terasa sangat tidak sesuai dengan kondisi seseorang yang seharusnya sudah tidak punya kultivasi mengalir dari telapak tangan Chu Jianqiu dan menghantam bahu sepupunya itu dengan cukup keras untuk membuatnya terhuyung dua langkah ke belakang.

Hening.

Chu Bolin menstabilkan dirinya dengan tangan berpegangan di tepi meja. Ekspresinya tidak lagi santai. Matanya memandangi Chu Jianqiu dengan campuran kebingungan dan sesuatu yang menyerupai ketidakpercayaan.

'Dia masih punya qi? Tapi caranya berjalan tadi, postur tubuhnya...'

"Kau..." Chu Bolin menggertakkan gigi. "Dua orang! Pegang dia!"

Dua pengikutnya langsung bergerak.

Dan saat itulah keadaan di ruang harta itu mulai menjadi lebih ramai dari yang direncanakan siapa pun.

Chu Jianqiu menahan serangan pertama dengan membelokkan arah pukulan menggunakan sisi lengannya, memutar badan, dan mendorong penyerang pertama ke arah penyerang kedua sehingga keduanya saling bertabrakan. Gerakannya tidak semulus dulu, masih ada kekakuan di sana-sini karena meridiannya yang baru pulih, tapi efektivitasnya tidak bisa dipungkiri.

Qi mengalir dalam jumlah yang kecil tapi tajam.

Cukup.

Suara gedebuk, erangan, dan kursi yang terdorong mengisi ruangan selama beberapa detik berikutnya. Kemudian kesunyian kembali.

Dua pengikut Chu Bolin sudah tidak dalam posisi untuk berdiri dengan percaya diri. Salah satunya duduk di sudut dengan ekspresi yang mengatakan bahwa dia tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Yang satunya lagi sedang memassage bahunya sambil menghindari kontak mata dengan siapa pun.

Chu Bolin sendiri berdiri dengan rahang yang terkatup rapat, matanya menyala.

"Kau akan menyesal," gumamnya.

"Sebelum aku menyesal," balas Chu Jianqiu dengan tenang, "tolong konfirmasi dulu bahwa pipi pelayan kecilku itu tidak apa-apa."

Kemudian sebuah suara dari arah pintu memotong ketegangan itu.

"Ada apa di sini?"

Suara itu tua tapi kuat, membawa wibawa yang datang dari usia dan pengalaman yang panjang. Chu Jianqiu menoleh.

Seorang lelaki berambut putih berdiri di ambang pintu, jubahnya sederhana tapi berkualitas, matanya yang dalam memandangi seluruh situasi di dalam ruangan itu dengan satu sapuan yang terlatih.

Tetua Chu Minghan.

Salah satu dari sedikit tetua yang masih memegang saham kepercayaan Chu Jianqiu sejak ayahnya pergi. Lelaki tua itu memandangi Chu Bolin, lalu memandangi Chu Jianqiu, lalu memandangi dua orang yang duduk di lantai dengan ekspresi tidak nyaman.

"Chu Jianqiu." Nada suaranya bukan marah. Lebih kepada lega yang disembunyikan dengan baik. "Kau hidup."

"Tampaknya begitu, Tetua."

Chu Minghan menoleh ke Chu Bolin dengan pandangan yang jauh kurang hangat. "Bolin. Keluar."

"Tapi Tetua, dia yang memulai..."

"Keluar."

Chu Bolin mengatupkan bibirnya, menatap Chu Jianqiu dengan tatapan yang menyimpan janji tidak terucap, kemudian berjalan keluar dengan langkah yang berusaha terlihat tidak tergesa-gesa. Dua pengikutnya mengikuti dengan sedikit lebih terburu-buru.

Tetua Chu Minghan masuk ke dalam ruangan, berdiri beberapa langkah dari Chu Jianqiu. Matanya memeriksa kondisi pemuda itu dengan teliti, cara seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia kultivasi memeriksa seseorang, mencari indikasi qi, mencari tanda-tanda luka dalam.

"Kondisimu?" tanyanya pelan.

"Sudah pulih sebagian."

"Dantianmu?"

"Masih bisa digunakan."

Tetua itu menghela napas panjang, lebih kepada napas lega daripada khawatir. "Syukurlah." Dia menggeleng pelan. "Saat berita tentangmu menyebar kemarin, aku tidak langsung percaya. Tapi tidak ada yang bisa kubuktikan."

"Tetua tidak perlu membuktikan apa pun." Chu Jianqiu menatapnya. "Saya yang akan membuktikan sendiri bahwa saya masih di sini."

Sebuah suara gaduh terdengar dari luar, dan Chu Bolin muncul kembali di ambang pintu, kali ini dengan wajah yang tampak lebih percaya diri karena ada seseorang di belakangnya.

Seorang tetua lain. Lebih muda dari Chu Minghan, dengan wajah yang menyiratkan bahwa dia dan Chu Bolin memiliki hubungan yang melebihi sekadar tetua dan anggota keluarga biasa.

Tetua Chu Renfa.

Pelindung Chu Bolin. Semua orang di keluarga ini tahu itu.

"Jianqiu." Nada Chu Renfa tidak hangat. "Kau baru pulang dan langsung membuat keributan di ruang harta. Ini bukan cara seorang ahli waris yang baik untuk kembali."

"Cara yang baik," ulang Chu Jianqiu, "sepertinya bukan cara yang orang di sini gunakan saat memperlakukan pelayanku."

"Urusan kecil itu—"

"Cukup." Chu Minghan mengangkat satu tangan dengan otoritas yang tidak bisa diabaikan bahkan oleh Chu Renfa. "Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk perdebatan ini." Matanya berpindah ke Chu Bolin dengan tatapan yang mengandung peringatan yang jelas. "Bolin. Jika kau punya sesuatu untuk dikatakan kepada Jianqiu, katakan dengan cara yang benar."

Chu Bolin menggertakkan gigi.

Kemudian dia memandang Chu Jianqiu dengan tatapan yang sudah tidak menyembunyikan permusuhannya.

"Baik," katanya akhirnya. "Dengan cara yang benar." Dia menaikkan dagunya sedikit. "Besok pagi, di lapangan latihan utama. Tantangan terbuka. Aku ingin tahu seberapa besar kemampuanmu yang katanya masih ada itu, saudara." Kata terakhir itu dia ucapkan dengan penekanan yang tidak mengandung rasa persaudaraan apa pun.

Chu Jianqiu memandanginya sebentar.

'Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam jurang itu. Dia tidak tahu tentang menara itu. Yang dia tahu hanya bahwa dantianku seharusnya sudah hancur dan kultivasiku seharusnya sudah habis. Dia pikir ini pertarungan yang sudah dia menangkan sebelum dimulai.'

Sudut bibir Chu Jianqiu terangkat sedikit.

"Besok pagi," jawabnya. "Aku akan ada di sana."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kultivator Surgawi    3720 Jalan Baru Menuju Kekayaan!

    Bab 3720: Jalan Baru Menuju Kekayaan!"Kalian berdua bocah nakal berani-beraninya mengatakan itu, memintaku, Raja Harimau, untuk mengantar mereka pulang!" gumam Harimau Pemangsa setelah membaca pesan pada jimat giok komunikasi. "Ah, sudahlah, aku harus pergi. Lagipula, aku bos mereka!"Sambil berbicara, Harimau Pemangsa bangkit dari tanah dan berjalan menuju kamar Chu Jianqiu.Ketika ingin keluar, tentu saja ia perlu melapor kepada pemimpinnya.Setelah memasuki kamar Chu Jianqiu, Harimau Pemangsa itu melesat dan terbang ke tingkat kedua Menara Tertinggi Kekacauan untuk melaporkan situasi kepada Chu Jianqiu."Mereka memenangkan ratusan miliar batu spiritual Tingkat 8 di pasar gelap?" Chu Jianqiu terkejut mendengar ini. "Apakah menghasilkan uang di pasar gelap semudah itu? Harimau Pemangsa, ayo kita lihat!""Bos, ini masalah kecil. Saya bisa menanganinya sendiri. Tidak perlu merepotkan Anda!" kata Harimau Pemangsa."Harimau Pemangsa, aku tidak akan mengawal mereka. Aku ingin pergi ke pa

  • Kultivator Surgawi   3719: Wanita Berbaju Hitam (Bagian 2) 

    Bab 3719: Wanita Berbaju Hitam (Bagian 2) Dia merasa sudah menghasilkan cukup banyak uang, dan melanjutkan perjudian akan terlalu berisiko. Selain itu, peluang hanya satu persen sama sekali tidak sebanding dengan risiko besar yang akan dia tanggung. Wanita berbaju hitam itu berjalan ke tempat taruhan dan mempertaruhkan seluruh 30 juta batu spiritual kelas delapannya pada dirinya sendiri, bertaruh pada kemenangannya sendiri. Setelah kedua belah pihak memasang taruhan mereka, Chuan Lan Feiyang dan wanita berbaju hitam melangkah ke arena pertarungan. "Nona muda, karena tingkat kultivasi Anda satu alam lebih rendah dari saya, saya akan membiarkan Anda yang memulai duluan!" Chuan Lan Feiyang melirik wanita berbaju hitam itu dan berkata sambil tersenyum. Wanita berbaju hitam itu meliriknya dengan acuh tak acuh, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia membuka telapak tangannya, dan sebuah senjata sihir pedang panjang tingkat sembilan setengah langkah muncul di tangannya. Tepat setelah

  • Kultivator Surgawi   3718 Wanita Berbaju Hitam (Bagian 1)

    Bab 3718 Wanita Berbaju Hitam (Bagian 1)Setelah memasang taruhannya, Yu Mingyan melesat dan terbang ke arena pertarungan.Selanjutnya adalah pertarungan seru lainnya.Pada akhirnya, yang mengejutkan semua orang, Yu Mingyan, yang tidak disukai oleh orang lain, justru mengalahkan seniman bela diri peringkat 987 di Peringkat Bumi, sama seperti Chuan Lan Feiyang, dan memenangkan pertempuran.Hasil dari pertempuran ini kembali menimbulkan kehebohan di antara semua orang yang hadir.Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa Chuan Lan Fei Yang dan Yu Ming Yan, yang awalnya memiliki kekuatan rata-rata, tiba-tiba mengalami peningkatan kekuatan yang luar biasa hari ini, mengalahkan para ahli top di Peringkat Bumi satu demi satu.Seandainya bukan karena reputasi pasar gelap yang netral dan kredibel, mereka mungkin akan curiga bahwa pasar gelap, Chuan Lanfeiyang, dan Yu Mingyan telah bersekongkol untuk menipu mereka dan mengambil uang mereka.Kali ini, kemenangan Yu Mingyan sekali lagi membuat C

  • Kultivator Surgawi   3717 Meraih Keuntungan Besar

    Bab 3717 Meraih Keuntungan BesarArena pertarungan pasar gelap adalah tempat taruhan dibuka setiap kali seseorang berduel.Di awal setiap ronde, banyak sekali praktisi bela diri memasang taruhan besar.Para praktisi bela diri ini, yang telah mempertaruhkan seluruh kekayaan mereka dalam pertarungan ini, seringkali lebih gugup daripada para praktisi bela diri yang berduel di atas panggung.Kali ini, Chuan Lan Feiyang menantang Zhang Chen, yang berada di peringkat 995 dalam Peringkat Bumi. Hampir semua orang bertaruh pada Zhang Chen untuk menang, kecuali Chuan Lan Feiyang sendiri dan Yu Mingyan.Meskipun Chuan Lan Feiyang adalah seorang seniman bela diri yang cukup terkenal di bagian selatan Zhongzhou, pada akhirnya dia bukanlah tandingan Zhang Chen, yang berada di peringkat 995 dalam Peringkat Bumi. Tidak ada yang percaya bahwa Chuan Lan Feiyang dapat memenangkan pertarungan ini, bahkan Pasar Gelap sekalipun.Pada sesi taruhan pembuka kompetisi ini, peluang untuk bertaruh pada Zhang Che

  • Kultivator Surgawi   3716 Arena Pertarungan Pasar Gelap

    Bab 3716 Arena Pertarungan Pasar GelapKota Kekaisaran Yuming, di gerbang kota.Seorang wanita berpakaian hitam, dengan kecantikan yang memukau, mendongak ke arah empat aksara stempel besar "Kota Kekaisaran Yu Ming" di ambang gerbang kota yang besar, dan ekspresi kompleks terlintas di matanya yang dalam dan cerah."Akhirnya kita sampai di Kota Kekaisaran Yuming!" Wanita cantik berbaju hitam itu bergumam pada dirinya sendiri sambil memandang tulisan besar di gerbang kota. "Prefektur Xuanwu, Li Bin, tunggu saja! Aku akan membalaskan dendam leluhur kita sendiri!"Wanita berbaju hitam itu berlama-lama di gerbang kota sebelum langsung menuju ke Kota Kekaisaran Yuming.Setelah memasuki Kota Kekaisaran Yuming, wanita berbaju hitam itu menemukan penginapan untuk menginap."Pelayan, siapkan halaman yang tenang untukku, dan pastikan luas!" kata wanita berbaju hitam itu, sambil melirik pelayan di belakang konter."Nona, kami memiliki halaman dengan tingkatan'Surga' dan halaman dengan tingkatan '

  • Kultivator Surgawi   3715 Kampung Halaman Burung Biru Kecil

    Bab 3715 Kampung Halaman Burung Biru Kecil"Hmph, siapa yang tahu? Dasar bajingan, yang kau lakukan hanyalah menindasku!" Si Burung Biru Kecil mendengus, matanya masih sedikit merah saat berbicara.Namun, meskipun mengatakan itu, ia tetap memilih untuk mempercayai Chu Jianqiu dalam hatinya.Lagipula, Chu Jianqiu tidak akan pernah menggunakan taktik curang; dia selalu mengalahkan lawan secara terbuka dan jujur."Burung kecil yang bodoh, apakah kau benar-benar ingin pulang?" tanya Chu Jianqiu setelah hening sejenak.Dilihat dari tingkah laku burung biru kecil dalam ilusi tersebut, pasti ia sangat merindukan kampung halamannya."Tentu saja!" kata burung biru kecil itu dengan sedih. "Aku sudah lama sekali jauh dari rumah, ibuku pasti sangat khawatir. Dia pasti mencariku di mana-mana!""Burung bodoh, di mana kau tinggal? Seberapa jauh dari sini?" tanya Chu Jianqiu dengan penasaran.“Percuma saja kukatakan padamu. Kau benar-benar orang udik yang tidak tahu apa-apa. Kau bahkan tidak tahu seg

  • Kultivator Surgawi   6 Sembilan Hari yang Tersisa

    Ru Hua masuk ke kamar dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis pelayan itu mengerutkan kening, bibirnya sedikit mengatup sebelum akhirnya dia membuka suara."Tuan Muda, saya baru mendengar kabar dari beberapa orang di koridor. Tuan Muda Chu Han telah mengajukan usul kepada

  • Kultivator Surgawi   5 Membuktikan Diri

    Malam itu, setelah Ru Hua mengompres pipinya yang masih sedikit bengkak dan membawakan makan malam sederhana yang dia makan tanpa banyak bicara, Chu Jianqiu duduk bersila di kamarnya, memejamkan mata, dan masuk ke dalam menara. Pintu pertama yang terbuka menyambutnya dengan hawa spiritual yang men

  • Kultivator Surgawi   3 Aku Menerima

    Di dunia nyata, tubuhnya tergeletak di lumut lembab dengan napas yang makin melemah.Tapi di sini, di hadapan menara yang berdiri seperti sesuatu yang menunggu sejak waktu yang sangat lama, dia bisa merasakan bahwa ini bukan mimpi orang yang sedang sekarat.Ini nyata.'Dantianku sudah hancur. Merid

  • Kultivator Surgawi   2 Dibuang ke Jurang

    Sesuatu di dalam dada Chu Jianqiu retak.Bukan karena sakit fisik, walaupun itu pun sudah hampir tak tertahankan.Melainkan karena sebuah pemahaman yang perlahan-lahan merayap masuk ke benaknya, dingin dan kejam.'Tidak ada yang nyata dari semua ini.'Tiga tahun.Tiga tahun dia meninggalkan kultiva

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status