Home / Fantasi / Kultivator Terlarang / Bab 4 Teratai Hitam

Share

Bab 4 Teratai Hitam

Author: Cahaya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-17 12:40:31

"Mati kau, Pengkhianat Sekta! Pedang Cahaya Pemutus Nyawa!"

Lu Chen tidak menoleh. Tangan kirinya terangkat ke udara, menadah lurus ke arah mata pedang.

Trang! KRAK!

"Mustahil! Pedang Spiritual Baja Putih milikku... ditahan dengan telapak tangan telanjang?!"

Shen Wei memuntahkan seteguk darah segar, mundur tiga langkah secara paksa akibat pantulan energi.

"Kau... pusat tenaga dalammu sudah hancur! Tingkat kultivasimu terhapus!" teriak Shen Wei, napasnya memburu cepat. Bau keringat asam memancar dari tubuhnya yang gemetar.

"Hawa murni kotor macam apa ini?!"

Lu Chen berdiri perlahan. Bunyi tulang punggungnya berderak keras, menyatu secara paksa oleh benang benang gaib tersebut.

"Tingkat Pengumpulan Mayat."

"Ajaran sesat!"

Shen Wei menggeram beringas. Ia merogoh kantong di pinggangnya, menelan sebuah pil merah pekat tanpa ragu.

"Pil Pembakar Jiwa! Telapak Teratai Penghancur Gunung!"

Gelombang hawa murni meledak. Shen Wei menerjang maju dengan kecepatan gila. Hantaman telapak tangannya membawa panas yang sanggup melelehkan daging, mengarah lurus untuk menghancurkan dada Lu Chen.

Ye Qingyu, yang masih terbaring lemas di sudut, memaksakan diri setengah bangkit. "Jangan terima langsung! Menghindar..."

Uhuk!

Ye Qingyu terbatuk keras sebelum kalimatnya selesai.

"Tenagaku..." Ye Qingyu tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya seketika. Bau karat darah dan sisa racun di mulutnya membuatnya mual.

"Kau... mengunci jalur tenaga dalamku padamu?!"

Lu Chen sama sekali tidak mempedulikan kepanikan Ye Qingyu. Ia justru menabrakkan tubuhnya secara sengaja, membiarkan hantaman telapak tangan Shen Wei menghantam dadanya secara telak tanpa perisai hawa murni sedikit pun.

BRAK!

Dada Lu Chen ambles ke dalam.

"Hahaha! Kena kau, Iblis! Mati!"

Shen Wei tertawa histeris, meski urat tangannya sendiri bergetar hebat menahan pantulan energi benturan tersebut.

Senyum Shen Wei membeku di detik berikutnya. Lu Chen tidak tumbang. Ia bahkan tidak meringis.

Tangan kanannya melesat ke atas dengan kecepatan yang membelah angin, mencengkeram pergelangan tangan Shen Wei yang masih menempel di dadanya.

Benang-benang hitam dari luka di dada Lu Chen melesat keluar seperti ratusan taring lintah yang kelaparan, menembus langsung ke dalam daging lengan Shen Wei, menjahit tulang rusuk Lu Chen kembali ke tempatnya sekaligus menyedot paksa hawa murni pria itu.

"Apa... apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! Tanganku... jalur tenaga dalamku hancur!" Shen Wei menjerit, suaranya melengking memecah udara. Kulit lengannya mengering drastis seperti daun layu, berubah warna menjadi abu-abu mati.

"Pemutus Urat Nadi," bisik Lu Chen sedingin es.

Lu Chen memutar pergelangan tangan Shen Wei secara paksa.

KREK! KREK!

Sendi siku hingga bahu Shen Wei patah melintir menjadi bentuk spiral yang mengerikan. Serpihan tulang putih mencuat merobek kulit, memuncratkan darah yang langsung dihisap oleh benang hitam Lu Chen.

"Aaaaargh! Lepaskan...!"

Jari Dewa Penembus Roh!

Dengan sisa tangan kirinya yang gemetar, ia menusukkan dua jarinya yang berlapis hawa murni berwarna emas lurus ke arah mata Lu Chen.

Lu Chen hanya memiringkan kepalanya sedikit. Jari Shen Wei menggores pipinya, merobek daging hingga tulang pipinya terlihat. Darah hitam menetes lambat. Sebagai balasannya, Lu Chen mengangkat kakinya dan menendang keras rahang bawah Shen Wei.

Brak!

Tulang rahang pria itu lepas dari engselnya, melayang di udara beserta belasan gigi yang hancur. Sebelum tubuh Shen Wei sempat terpelanting ke tanah, Lu Chen menusukkan tangan kirinya menembus perut Shen Wei, langsung mencengkeram pusat tenaga dalam pria itu.

Shen Wei kejang kejang hebat. Matanya melotot menatap kehampaan, cairan empedu tumpah dari mulutnya yang tak lagi memiliki rahang bawah, sebelum napasnya berhenti total.

Lu Chen menarik tangannya dari perut mayat Shen Wei. Suara daging robek terdengar basah.

Ia menarik jubah ortodoks Shen Wei yang ternoda darah di bagian kerah, merobeknya dengan kasar hingga terlepas dari mayat itu.

Ye Qingyu menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang kasar. Kain sutra bajunya yang robek menempel lekat pada kulitnya yang berkeringat dingin.

"Jadi ini... harga mutlak untuk hidupku?" Suara Ye Qingyu bergetar, setengah mendesis menahan amarah, "Kau mengikat nyawaku. Menjadikanku... parasit yang hanya bisa menghisap sisa hawa murni dari monster sepertimu?"

Lu Chen menarik sabuk kulit Shen Wei, melepaskan kantong penyimpanan berukir lambang sekte dari pinggang mayat itu.

"Pakai."

Ye Qingyu menepis jubah berbau keringat asam dan darah itu dengan jijik.

"Aku tidak akan pernah memakai pakaian kotor dari anjing sekte ini. Baunya membuatku ingin muntah."

Lu Chen berbalik lambat. Matanya yang sangat gelap, dipenuhi benang merah pembuluh darah yang pecah, menatap tajam bagai belati berkarat yang siap menggorok leher.

"Baumu menyengat. Bau Racun Jiwa dan keringat Yin murni. Anjing sektale lain akan mengendus hawa murnimu dari jarak sepuluh mil. Kecuali kau ingin diseret kembali ke atas altar dan ditelanjangi oleh tetuamu, pakai itu."

Ye Qingyu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Kepasrahan dan rasa terhina bergejolak hebat di dadanya, bertabrakan dengan akal sehatnya. Wanita suci yang tak pernah dibiarkan tersentuh

"Aku... tidak butuh belas kasihanmu," kata Ye Qingyu pelan, nadanya sedingin es di puncak gunung.

Tangannya yang gemetar perlahan meraih jubah tersebut, membalut tubuhnya sendiri dengan gerakan kaku.

"Kau hanya memanfaatkanku. Menstabilkan hawa murni kematianmu yang cacat itu. Jika tidak ada aku, tubuhmu sudah meledak menjadi serpihan tulang."

"Bagus kalau kau sadar posisi." Lu Chen berjongkok di samping mayat lain, merobek pelindung dada kulit dari tubuh murid yang tenggorokannya telah ia koyak sebelumnya.

"Kau butuh tenagaku untuk merobek tenggorokan Tetuamu. Aku butuh Yin murnimu agar tubuhku tidak hancur dari dalam."

"Jangan bermimpi aku akan benar-benar tunduk padamu, Lu Chen. Setelah leher Tetua terputus di tanganku..." Ye Qingyu menelan ludah yang terasa berpasir, membiarkan ancamannya menggantung di udara dengan jeda panjang, matanya menyipit penuh ancaman pembunuhan.

Lu Chen mengabaikan ancaman itu. Ia merogoh saku mayat Shen Wei, mengeluarkan tiga keping giok pelacak yang berkedip kemerahan. Tanpa membuang waktu, Lu Chen meremas ketiga giok itu hingga hancur menjadi bubuk, lalu menaburkannya ke atas genangan darah busuk.

"Bubuk giok yang bercampur darah mayat akan mengacaukan arah kompas spiritual sekte."

"Kita lihat siapa yang mati meledak lebih dulu nanti," potong Lu Chen tanpa emosi. Ia mengikat sabuknya kuat-kuat, menekan tulang rusuknya yang masih terasa linu akibat paksaan benang hitam.

Udara di sekitar mereka mendadak terasa terkompresi secara tidak wajar, menghantam bahu mereka seberat lempengan besi ribuan kati.

Ye Qingyu terkesiap mundur, memegangi lehernya seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya dari segala arah.

"Bau dupa ini... tekanan hawa murni ini..."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kultivator Terlarang   Bab 11 Remukan Jiwa

    "Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter

  • Kultivator Terlarang   Bab 13 Perlindungan dalam Kegelapan

    "Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!

  • Kultivator Terlarang   Bab 12 Memanen Daging Tetua Sekte

    Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.

  • Kultivator Terlarang   Bab 10 Kebenaran yang Menyengat

    "Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t

  • Kultivator Terlarang   Bab 9 Buronan Berdarah

    Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus

  • Kultivator Terlarang   Bab 8 Bantai di Kedai Remang

    "Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status