เข้าสู่ระบบ"Jurus Telapak Matahari Penghancur Semesta!"
Batu-batu di mulut gua meleleh. Gelombang kejut emas menyapu udara, membakar setiap tetes darah. Lu Chen menarik kerah jubah Ye Qingyu, "Langkah Bayangan Darah!" Benang hitam menyedot sisa darah mayat, membungkus mereka seperti kepompong. Tubuh mereka melebur paksa ke bayangan tanah, terseret puluhan mil di bawah bumi tepat sebelum hawa murni tingkat tinggi meratakan gua. Bruk! Mereka terlempar dari balik bayangan akar, menghantam dahan tebal bertumpuk. Uhuk! Lu Chen memuntahkan darah hitam, pusat tenaga dalamnya bergetar hebat. Ye Qingyu mencengkeram dadanya, napasnya tersengal. Belum sempat napas stabil, udara di bawah terbelah. "Telapak Emas Penghancur Sukma!" Ledakan hawa murni menghantam kereta kayu di bawah mereka. Brak! Dada pemimpin pengawal ambles ke dalam. Tulang rusuknya mencuat, merobek rompi kulit. Dia memuntahkan darah kental bersama serpihan paru-paru sebelum ambruk. "Tuan Muda Gu! Tolong... kami sudah menyerahkan emas..." Saudagar tua itu merangkak maju, tangannya bergetar memegang ujung kaki pemuda berjubah putih sutra itu. "Jari Suci Penembus Jantung!" Dua jarinya menembus dada kiri saudagar tua itu, mencabut jantung yang berdetak liar. Darah segar menyembur. Tuan Muda Gu melempar jantung berlumur darah itu ke tanah. kemudian melangkah masuk ke sisa sisa kabin kereta. Bau anyir darah segar ayahnya menggenang di lantai papan. Gadis itu merangkak mundur, punggungnya menghantam dinding kayu yang retak. "Jangan... kumohon... jangan mendekat..." Sret! Tuan Muda Gu merobek gaun gadis itu dalam satu tarikan kasar. Jangan takut gadis cantik. "Tubuhmu bergetar.. sangat indah..." bisik Tuan Muda Gu sambil membelai wajah gadis yang menangis histeris. "Hentikan... Jangan...." Gadis itu mencoba untuk melepaskan diri "Jangan berontak manis, berikan kenikmatan mu." Tuan muda Gu menindihnya paksa di atas bantal sutra yang basah oleh darah ayahnya sendiri. Tidak ada kelembutan sedikit pun. Jari jari kasar Tuan Muda Gu menekan titik titik akupuntur di leher, bahu, dan paha gadis itu. "Tutup mulutmu, nikmati saja." "Ah... hnggh! Sakit... ampun... tolong....." rintihan putus asa keluar dari bibirnya yang digigit hingga berdarah. Setiap dorongan yang dilakukan Tuan Muda Gu menghancurkan harga dirinya, menyedot paksa esensi kehidupannya. Hawa murni Yin ditarik keluar dari pusarnya, mengalir dalam bentuk kabut biru tipis langsung ke dada Tuan Muda Gu. Tangan kasar nya mencengkeram pinggul gadis itu hingga meninggalkan memar kehitaman, menahannya agar tidak lari dari siksaan tersebut. "Ahhh... ahh... aaaah.. bajingan... ahh......" Desahan gadis itu terdengar parau, tercekik air mata. menahan rasa sakit yang seolah membelah tubuhnya. Tubuhnya menggigil parah setiap kali gelombang panas menembus pusat energi terdalamnya, mengosongkan umurnya detik demi detik. Kereta itu terus bergoyang kasar. Kriet... Kriet... Bunyi suspensi kereta mengiringi desahan berat Tuan Muda Gu. Matanya terpejam sebagian, menikmati aliran kekuatan yang memperbaiki batas kultivasinya. "Lebih... keluarkan lebih banyak Yin murnimu cantik!" sambil mempercepat gerakannya, membuat sang gadis memekik panjang, melengkungkan punggungnya hingga tulang belakang berderak. "Akh! Ayah... tolong...hentikan....." rengekan terakhirnya keluar bersama cairan darah dari bibirnya. "Jalur tenaga dalammu terlalu sempit," gerutu Tuan Muda Gu, menarik pinggul gadis itu lebih rapat. "Pelebaran Nadi Surga!" Gadis itu menjerit melengking, tapi suaranya teredam Tuan Muda Gu membekap mulutnya dengan telapak tangan basah. "Hhmmmp! Hmmmppp!" Matanya melotot, meneteskan air mata yang tak ada habisnya. Napasnya berpacu hebat. Setiap sentakan pinggul Gu mengirimkan gelombang kejut yang merusak organ dalam gadis itu. Yin murni miliknya disedot paksa, membuat kulitnya yang memucat menjadi sedingin mayat. Sensasi penyatuan itu sepenuhnya perampasan sepihak. "Ahh... begitu suci... Yin ini menembus hambatanku!" ujarnya mengerang puas. Suaranya bergema tumpang tindih dengan decakan basah daging yang saling menghantam. Saraf intim sang gadis dimanipulasi total oleh energi Yang milik Tuan Muda Gu, memaksanya melepaskan desahan kecil sarat penderitaan jiwa. Tubuhnya bereaksi di luar kendali akal sehatnya, melengkung dan menggelepar dalam kepuasan yang dipicu paksaan hawa murni, sementara batinnya hancur berkeping-keping. "Uuugh... ahh... hentikan... hancur..." lirihnya dengan bibir bergetar hebat. Jari-jarinya mencakar papan lantai hingga kuku-kukunya patah berdarah, bercampur genangan darah ayahnya. Gu terus menekan, mengerang dalam kepuasan absolut saat batas puncak kultivasinya hampir tertembus. "Tingkat Pembukaan Jalur Suci... sebentar lagi menembus puncak!" Hentakannya semakin tak terkendali, nyaris menghancurkan kereta dari dalam. Kayu penyangga berderit patah. Serpihan bantal berterbangan. Gu mendesah panjang, memompa sisa kotoran Yang ke dalam tubuh gadis malang itu, merampas sisa nyawa dari pusat tenaga dalamnya sebagai bayaran pengorbanan gaib. Ye Qingyu mencengkeram kulit kayu hingga seratnya hancur. Kuku-kukunya menancap dalam hingga jemarinya sendiri meneteskan darah. Napas Ye Qingyu memburu cepat. Perutnya bergejolak hebat, memutar asam lambungnya hingga ia menelan kembali rasa pahit di pangkal lidah. "Ini... pelindung rakyat? Dia mengambil nyawa semudah memetik daun mati." "Itulah dunia sekte yang kau agungkan," Lu Chen menyahut tanpa menoleh, suaranya sedatar permukaan es. "Kau menyebutnya kejahatan. Mereka menyebutnya hak ilahi. Hawa murninya melonjak pesat, tapi fondasinya busuk. Dia menggunakan jalur ganda untuk memanipulasi energi." "Kita bunuh dia. Sekarang. Sebelum gadis itu mati lemas." "Gadis itu sudah mati semenjak ayahnya dibelah dua," potong Lu Chen. "Tingkat Pembukaan Jalur Suci memiliki perisai roh gaib. Hantaman frontal hanya akan membuat tulang rusukmu hancur kedua kalinya." "Lalu apa? Kita diam saja melihat babi ini memurnikan obat?!" Ye Qingyu menatap Lu Chen dengan mata memerah. "Aku muak. Kultivasi sejati tidak pernah mengajarkan penindasan kejam pada manusia." "Simpan ceramah moralmu," balas Lu Chen tajam. "Muak tidak akan merobek lehernya." Lu Chen bergeser mendekat. Bau hawa kematian dari tubuhnya seketika menyelimuti Ye Qingyu, meredam aura wanita itu agar tidak terdeteksi. Lu Chen mencondongkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ye Qingyu. Hawa dingin napasnya membuat bulu kuduk Ye Qingyu meremang. "Dia sedang memaksakan terobosan. Saat Yin murni gadis itu ditarik paksa bersentuhan dengan inti Yang miliknya, pori-pori spiritualnya terbuka lebar," bisik Lu Chen sangat pelan. "Puncak penyatuan itu momen mematikan. Ada jeda tepat tiga tarikan napas di mana perisai sucinya melebur total. Saat dia mendesah panjang untuk menembus kultivasinya..." Lu Chen menyentuhkan ujung telunjuknya ke leher Ye Qingyu, menyalurkan energi kematian yang membekukan aliran darah sang wanita sejenak mematikan fluktuasi emosinya. "Kau turun dan tusukkan jarimu lurus ke pusat tenaga dalam di bawah pusarnya. Pastikan kukumu merobek jalur tenaga dalam pusatnya. Aku.... akan melompat mematahkan tulang lehernya dari belakang. Bersiaplah, waktu kita hanya tiga detik.""Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter
"Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!
Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.
"Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t
Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus
"Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk







