Beranda / Fantasi / Kultivator Terlarang / Bab 10 Kebenaran yang Menyengat

Share

Bab 10 Kebenaran yang Menyengat

Penulis: Cahaya
last update Tanggal publikasi: 2026-09-25 18:05:37

"Suara rantai itu... Tetua Gu?"

Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya.

Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kultivator Terlarang   Bab 38 Kebangkitan Batas Gaib

    "Tekanan ini... jiwaku rasanya dipuntir!"Lin Ruyan merintih parau, jemarinya yang lentik dan gemetar kencang mencengkeram pergelangan tangan Lu Chen. Tanda teratai hitam di punggungnya berdenyut membara bagaikan besi merah yang ditempa, memancarkan gelombang uap ungu keperakan yang merayap menembus tiap celah pori pori kulit mulusnya. Rasa panas yang tadinya membakar Inti Yin nya mendadak berganti menjadi aliran energi hangat yang amat melimpah. Aliran itu meluncur deras merajut kembali seluruh jalur meridiannya yang retak, menyapu bersih sisa sisa bintik racun tanpa menyisakan satu pun cacat pada rantai tenaga dalamnya.Ye Qingyu terhuyung kaku di samping mereka, memegangi dadanya yang terengah-engah kencang. Tanda teratai hitam di dadanya menyala terang benderang, memuntahkan pendar cahaya putih murni yang membakar dan memurnikan seluruh sisa darah kotor di dalam pembuluh darah utamanya."Kultivasiku... merangsek naik ke puncak tanpa ada

  • Kultivator Terlarang   Bab 37 Penyatuan Tiga Jiwa

    "Buka dadanya! Jantungnya hampir pecah!" Seruan melengking Lin Ruyan memecah gemuruh batuk darah Lu Chen. "Bantu aku membalikkan tubuhnya!" jerit Ye Qingyu, jemarinya yang gemetar hebat merobek sisa sisa jubah hitam Lu Chen yang melengket pada jaringan daging terbakar. "Denyut nadinya... berhenti!" BOOM! Semburan gelombang energi kematian mendadak meledak dari Dantian Lu Chen, melemparkan Ye Qingyu dan Lin Ruyan hingga menabrak potongan batu mezbah yang runtuh. Rasa sakit menyengat menjalar di punggung mereka, bercampur dengan aroma asam racun dan amarah darah yang mendidih dari tubuh Lu Chen. "Tidak ada waktu lagi!" "Pusat energinya akan meledak dalam sepuluh hitungan napas! Aura iblis itu akan menghancurkan organ dalamnya!" Ye Qingyu menatap wajah Lu Chen yang memucat pasi dengan bibir membiru, lalu mengalihkan pandangan kaku ke arah Lin Ruyan.

  • Kultivator Terlarang   Bab 36 Pembalasan Dendam

    "Mati kau, bangkai tua!"SLURRRRP JLEB!Lu Chen melompat, Lengan iblis Purba miliknya meluncur cepat bagai paruh gagak besi, menghujam lurus menembus leher Bai Wuchen yang melayang kaku di dalam inti dada raksasa tersebut. "Ugh... k-kau..." Bai Wuchen memuntahkan gumpalan darah kental berwarna kehitaman tepat ke wajah Lu Chen. Matanya yang sayu membelalak kaku, dipenuhi rasa tidak percaya sewaktu jemari cakar keperakan Lu Chen mencengkeram erat tulang leher dan saluran meridian utamanya. Bau tembaga dingin bercampur cairan empedu membanjiri kerongkongan pria tua itu, membuatnya tercekik parah di tengah pusaran energi terlarang."Dendam belasan tahun... selesai di sini," desis Lu Chen "Teknik iblis: Penyedotan Jiwa Abadi!"BOOM!Pusaran aura hitam pekat meledak liar dari telapak tangan Lu Chen, merembes masuk secara paksa ke dalam tenggorokan dan rongga dada Bai Wuchen. membuat tubuh Guru Besar Sekte Teratai

  • Kultivator Terlarang   Bab 35 Kegilaan

    "Mati kalian semua, serangga busuk!" DUAAMMM! Lu Chen membanting bahunya ke samping, menyambar pinggang Ye Qingyu dan melempar gadis itu menjauh sebelum pukulan raksasa itu menghantam tempat mereka berdiri. BUMMM CRACK! Lantai batu di bawahnya hancur luluh menjadi serbuk. Gelombang kejut berdarah memancar ke segala arah, melontarkan Lin Ruyan hingga tubuhnya terbanting keras menabrak dinding goa. "Lu Chen! Wajahnya... itu bukan lagi manusia!" jerit Lin Ruyan dari balik kepulan debu batu, memegangi tulang rusuknya yang retak sambil terbatuk-batuk memuntahkan cairan hijau bercampur darah. "Tutup mulutmu dan tetap bergerak!" bentak Lu Chen parau. Belasan akar meliuk bagaikan cambuk berdarah melesat mengincar leher Lu Chen dari sisi kiri. Lu Chen mengepalkan Lengan Netherworld Purba miliknya, memutar tubuhnya seraya menghantamkan cakar keper

  • Kultivator Terlarang   Bab 34 Perang Berdarah di Taman Mayat

    Sebelum jemari gemetar Bai Wuchen sempat memasukkan Buah Keabadian ke dalam kerongkongannya, lengan iblis milik Lu Chen meluncurkan dorongan gelombang kejut murni yang melesat bagai tembakan meriam gaib, menghantam tepat pada telapak tangan Guru Besar Sekte Teratai Putih tersebut. CRAAASH! "Buahku... Buah Keabadianku!" raung Bai Wuchen dengan jeritan histeris yang melengking pecah. Suara anggunnya sirna seketika, berganti menjadi raungan binatang liar yang kehilangan akal sehat. "Mati! Bantai dia! Cincang iblis itu sampai jadi bubur darah!" jerit Bai Wuchen seraya menunjuk Lu Chen dengan tangan yang bersimbah lelehan busuk buah purba. "Seluruh Tetua Inti! Bunuh dia sekarang juga!" Delapan Tetua Inti Sekte Teratai Putih mencabut senjata mereka serentak, melompat menerjang maju melintasi danau darah dengan aura pembunuh yang menggelegar.

  • Kultivator Terlarang   Bab 33 Pohon Mayat dan Buah Keabadian

    "Satu langkah lagi kau mengikis udara di tempat ini, cakar busukmu akan kupotong menjadi serbuk." Suara berat bercampur pendar aura yang begitu menindas meledak dari balik bayangan mahkota pohon raksasa. Raksasa berbalut zirah akar yang baru saja bangkit mendadak terbelah dua dari atas ke bawah, memuntahkan cairan hijau pekat sewaktu sebuah tebasan energi spiritual berbentuk teratai putih raksasa menebasnya tanpa ampun. Di bawah lelehan cairan raksasa itu, berdiri Guru Besar Sekte Teratai Putih Bai Wuchen. Jubah putih bersihnya yang dihiasi benang emas memancarkan pendar keabadian, sama sekali tidak bernoda walau berada di tengah bau amis darah mendidih. Di sekelilingnya, delapan Tetua Inti berlutut rapat, menjaga susunan formasi pelindung di sekitar akar pohon purba. "G-Guru...?" Ye Qingyu terhenyak kaku, kakinya lemas hingga ia hampir terjatuh ke dalam genangan darah. Matanya membelalak lebar, memantulkan sosok pria paruh baya berwajah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status