LOGIN"Penarik Sukma Yin!"
Tuan Muda Gu mengentak sangat keras, mengadu inti Yang miliknya langsung ke dasar pusat tenaga dalam gadis di bawahnya. KRAK! Bukan sekadar kayu penyangga kereta yang berderit, melainkan tulang panggul sang gadis yang retak. Gadis itu memuntahkan gumpalan darah beku, matanya terbelalak lebar menatap langit-langit kabin dengan pandangan kosong. Tubuhnya mengejang hebat merespons invasi energi asing yang membakar. "Ahhh! Sempurna... Hawa Yin ini... begitu dingin, begitu nikmat!", otot lehernya menegang parah, memancarkan aura cahaya keemasan yang menyilaukan. Setiap tarikan napas Tuan Muda Gu terdengar seperti raungan binatang buas yang kelaparan akan tenaga dalam. Bau amis darah yang menggenang di lantai kayu bercampur dengan aroma ginseng pekat dari keringat "Rasakan ini! Rasakan bagaimana hawa murni Pembukaan Jalur Suci membakar kotoranmu!" Tangannya yang kekar mencengkeram pinggul sang gadis, memaksanya menahan setiap hantaman energi Yang yang terasa sekeras godam baja. "Uhh... ahh... to... long..." Suara gadis itu tak lebih dari bisikan daun kering, tersendat oleh gumpalan darah dan empedu di kerongkongan. "Jangan bicara! Yin murnimu... mengalir begitu deras! Jalur meridianku seperti disiram air es surgawi!" Sensasi dingin dari Yin murni gadis itu berbenturan dengan api Yang di pusar Tuan Muda Gu. "Lebih... aku butuh lebih banyak! Jangan mati dulu sebelum esensimu kering!" Tuan Muda Gu mengerang parau. Tangannya yang besar memutar paksa titik akupuntur di leher gadis itu. Sentuhan tersebut memaksa jantung sang gadis memompa darah dua kali lipat lebih cepat, memeras sisa-sisa energi spiritual murni langsung dari sumsum tulangnya. Tubuh gadis itu melengkung kaku ke belakang, matanya sepenuhnya memutih tanpa iris hitam. Desahan melengking dan panjang keluar secara paksa dari tenggorokannya sebuah melodi kematian yang menyayat hati, namun terdengar bak jeritan kepuasan fana bagi telinga Gu yang dimabuk kekuatan. "Ya! Begitu! Keluarkan semuanya untukku." Getaran dahsyat merambat dari pusarnya ke seluruh organ dalamnya. Kenikmatan spiritual itu meledak ledak di sarafnya, membuatnya buta dan tuli terhadap dunia luar. Kulit gadis itu mulai mengelupas seperti kertas yang dibakar, memunculkan jaringan otot yang membeku oleh tarikan energi Yin. Hawa dingin kematian merayap naik dari ujung jari kakinya, menembus paha, hingga ke ulu hati. "Uuugh... ahhh... luar biasa!" Tuan Muda Gu merintih dalam puncak kenikmatan, bibirnya bergetar hebat menahan gelombang euforia yang menghantam kesadarannya. "Jalur ke-tujuh... tembus! Jalur ke-delapan... buka!" Hentakannya semakin brutal, tidak menyisakan ruang bagi gadis itu untuk sekadar menarik napas. Serpihan kayu dari lantai kereta menusuk lutut, namun pria itu sudah sepenuhnya kebas. Ia mendesah kasar, suaranya serak dan basah, bergema memantul di dinding kayu yang mulai retak rambut di segala sisi. "Tidak ada yang lebih suci dari ini... pengorbanan daging rendahan untuk keabadianku," bisik Tuan Muda Gu tepat di telinga gadis yang wajahnya mulai membusuk itu. Tarikan demi tarikan menciptakan kontraksi otot yang mengerikan pada tubuh gadis itu. Ia mengeluarkan satu desahan terakhir yang teramat parau, melengking pelan seperti kain yang dirobek paksa, sebelum paru-parunya hancur berkeping-keping di dalam dada. "Aaaaaahhhh!" Raungan panjang itu diiringi dengan ledakan energi keemasan dari pori-pori kulitnya. Perisai gaib di sekujur tubuhnya melebur total, terbakar oleh ledakan terobosan kultivasi. Pusat tenaga dalamnya terbuka lebar, menelan sisa jiwa korban bulat-bulat tanpa ampun. Kulit sang gadis seketika berubah menjadi pucat bak batu nisan. Organ dalamnya menyusut kering layaknya daun kemarau. Ia resmi menjadi mayat kosong, kuali yang telah dibuang setelah habis isinya. Satu.... Dua.... Sring! JLEB! Sebuah Jarum Beracun hitam pekat seukuran telunjuk menembus dinding kayu kereta tanpa suara, meluncur cepat membelah udara berbau karat, dan menancap telak tepat dua inci di bawah pusar Tian Muda Gu. "Ukh....!" Rasa kebas seketika menggantikan euforia surgawi. Detik berikutnya, rasa sakit gaib yang seolah merobek ribuan saraf nadi meledak tepat di pusat energinya. Hawa murni keemasan yang baru saja ia kumpulkan langsung bocor dengan suara mendesis seperti air dituang ke atas besi panas. "Bajingan.....!" Brak! CRASH! Dinding kereta hancur ditebas dari luar. Ye Qingyu meluncur masuk bagaikan bayangan pembalas dendam. Matanya menyala oleh kebencian murni. Pedang di tangannya memancarkan aura dingin yang membekukan sisa uap panas di kabin. "Pedang Sabit Pembelah Tulang!" Bilah pedang itu menebas dalam satu lintasan melengkung yang amat brutal menyambar kedua pangkal tangan Tuan amuda Gu. CRASSS! KRAK! "AAAAARRRGH! TANGANKU!" Kedua tangannya terpotong bersih dari pergelangan hingga siku, terlempar menghantam dinding kereta dengan suara basah. Darah segar menyembur deras dari potongan tulang putih yang mencuat, membasahi wajah dan jubah sutranya. Pintu kereta ditendang hancur. Lu Chen melangkah masuk dengan sangat lambat. "Mayat hidup... Lu Chen?!" matanya membuncah ketakutan yang tak tertahankan. "Bagaimana mungkin seekor mayat busuk sepertimu..." "Kau terlalu banyak bicara untuk seorang calon bangkai," potong Lu Chen datar. Lu Chen maju dalam satu kedipan mata, mencekik leher Tuan Muda Gu dengan tangan kirinya dan menancapkan kelima jarinya tepat ke perut yang berlubang akibat jarum beracun. "Pengisap Iblis." Benang-benang hitam pekat melesat dari telapak tangan Lu Chen, merobek jalur tenaga dalam Gu yang sudah retak. "Tidakkk! Hentikan! Hawa murni Pembukaan Jalur Suci milikku! Aaaaaargh!" Lu Chen tersenyum dingin. Ujung lipatan bibirnya tertarik kaku, menikmati setiap rintihan keputusasaan musuhnya. Energi spiritual kelas tinggi disedot paksa, mengalir deras mengisi inti energi Lu Chen. "Kau... iblis... mayat kotor..." rintih Tuan muda Gu, suaranya kian melemah. Darah, cairan tubuh, dan energi vital diperas habis. Tulang tulangnya berderit ngilu saat dagingnya menyusut drastis. Kulit mulusnya berubah menjadi kecokelatan, mengering dan menempel kencang pada tulang belulang. Dalam hitungan detik, berubah menjadi mumi kaku dengan mata melotot dalam ketakutan abadi. Lu Chen menarik tangannya, melempar mayat ke samping. Ia terbatuk pelan, menyapu sisa hawa murni yang baru diserap. Ye Qingyu berdiri dengan pedang meneteskan darah. "Sisa hawa murninya... membuat racun di dadamu lebih stabil?" "Cukup untuk membuatku bertahan," jawab Lu Chen dingin. Lu Chen berjongkok, merogoh kantong penyimpanan berwarna emas di pinggang mumi Gu. Dengan sekali sentakan hawa kematian, segel spiritual kantong itu hancur. Beberapa botol pil kultivasi menggelinding, namun perhatian Lu Chen tertahan pada sebuah gulungan terbuat dari kulit manusia yang disamak halus. Di atas kulit tersebut, terlukis peta rahasia menuju kedalaman lembah dengan simbol teratai darah terbalik. "Peta ini..." Ye Qingyu mendekat, "Ini bukan lokasi perburuan biasa.""Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter
"Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!
Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.
"Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t
Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus
"Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk







