เข้าสู่ระบบ"bakit mo ginagawa sa akin ito? bakit ganyan Ang pakitungo mo sa akin? Hindi ka ba naiilang? kaibigan mo ang asawa ko!" "kumapare mo ako, kumare kita. that's it! tungkulin kong humalili at tumulong kapag may pagkukulang si pare. come on, climb to my waist!"
ดูเพิ่มเติมLuka tak akan benar-benar sembuh. Selalu saja menyisakan retak kecil yang mengakibatkan tekanan dan trauma
__________"Kamu bahagia?" Pertanyaan itu diangguki oleh Dera. Setelah hampir dua minggu tak bersua, perasaan rindunya kian membucah saat melihat kedatangan Reno.
"Selama aku pergi kamu ngapain aja?" Tangan kekar Reno mengalihkan kepala sang istri ke atas dadanya. Mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Pulang pergi kantor dan ke apartmen kak Betrand." Dera mengeratkan rangkulan. Seolah tak kenyang menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau keringat di tubuh suaminya.
Reno terdiam. Pria itu sibuk menghirup wangi shampoo Dera yang membuatnya candu memainkan rambut sang istri. "Kamu ... udah siap hamil?" Pertanyaan itu ia ucapkan hati-hati. Rasa sepi kerap kali melanda jika menatap rumah mewah mereka. Ingin rasanya mendengar suara tangis dan tawa seorang mahluk kecil di dalamnya. Reno tak ingin munafik, menjadi seorang ayah adalah impian sebagian besar pria. Meski ia tak akan memaksa untuk memilikinya.
Dera menegang. Perasaan itu kembali menggerogotinya. "Aku ingin mandi." Wanita itu membangunkan tubuh, menyentak tangan Reno dengan paksa. Baru merasa bahagia kini moodnya sudah dirusak oleh sang suami.
Melilitkan selimut di sepanjang tubuh, Dera berjalan ke kamar mandi. Meninggalkan Reno yang menghela napas berat menatap pintu yang tertutup.
Dera bukanlah wanita yang dulu ia kenal, istrinya telah berubah menjadi sosok tegas dan kaku. Bahkan bagi beberapa orang yang baru bertemu, akan berpikir bahwa Dera terlahir di lingkungan yang keras. Sudah terlewat bertahun-tahun, tapi ia masih menyimpan luka itu dengan rapat. Membiarkan rasa sakit mendekapnya dengan erat.
Tak ingin terjadi ketegangan lagi diantara mereka, Reno menyusul ke kamar mandi. Menemukan sang istri yang terduduk di pinggiran buthup. Benar dugaannya, wanita itu menangis, namun tak mau menampakkannya di depan orang lain.
"Mau mandi bareng?" Sentuhan di pundaknya membuat Dera mengusap wajah. Warna rambutnya yang kini berubah agak pirang disisir lembut oleh Reno.
"Maafkan aku." Satu kecupan Reno daratkan di pundak sang istri. Tak mendapatkan respon apapun selain helaan singkat dari bibir Dera.
Membahas soal anak dan kehamilan selalu membuat Dera merasa terintimidasi. Dia masih ingat bagaimana rasa sakit ketika sang jabang bayi direnggut dari rahimnya. Masih tersisa sampai sekarang dan mungkin akan tetap ada selamanya, dan ia masih sangat ingat apa penyebabnya.
Dera berdiri. Menatap Reno dengan intens sembari berkata. "Menikahlah dengan wanita lain jika kamu ingin memiliki anak." Satu kalimat yang selalu membuat rahang Reno mengeras.
Tanpa aba-aba, Reno meraup wajah cantik itu, menempelkan bibirnya di atas bibir sang istri dan membawanya ke bawah shower yang menyala.
Dera mengerang, rasa panas dan dingin menyatu menyergap tubuh. Tatapannya melemah, mencengkram erat pundak di depannya.
Sekuat hati ia mencoba menjadi tangguh, mencoba berdiri dengan kedua kaki yang kerap kali gemetar bila mengingat hal itu. Tak mudah bagi dirinya melupakan begitu saja luka yang pernah amat menghancurkan hidupnya, dan kini ia diminta untuk mengingatnya lagi? Manusia mana yang tak akan emosi? Rasa sakit itu masih enggan untuk ia tinggalkan.
Hisapan di lehernya berpindah ke bagian dada. Kali ini Reno tak mengampuninya, pria itu sudah terlalu frustasi menghadapi sikap dingin dan keras kepala Dera. Sebagai suami ia mengerti luka yang diderita sang istri. Tapi bukan berarti mereka harus terperangkap sampai mati, oleh luka yang Reno pikir telah usai sejak hari itu. Hari ketika ia meminta 'dia' meninggalkannya.
Reno mendongak, menatap lekat wajah Dera dengan napas yang memburu. Tangan besarnya mengusap wajah sang istri. Menyatukan kening mereka. " Jangan pernah memintaku untuk pergi ke wanita lain, atau aku tak akan mengampunimu."
Dera menelan ludah, membasahi keronkongan yang terasa kering. Napasnya cukup tersengal menerima perlakuan sang suami. Selalu, selalu hangat dan nikmat. Membiusnya untuk melupakan sejenak rasa sakit yang tak pernah benar-benar pergi. Karena tak berselang lama, rasa itu akan kembali membayanginya.
****
"Aku cukup tahu diri, jadi jangan membicarakan hal itu atau memintanya." Wanita itu duduk di meja makan, membaca surat kabar ditemani secangkir kopi yang mengepulkan asap.
"Bisakah kita tidak membahasnya sekarang?" Reno mendudukan tubuh setelah menuang kopi ke cangkirnya sendiri.
"Kamu yang mulai membahasnya." Dera melipat koran dan meletakannya di atas meja. Lalu menghirup cairan kafein itu sekali teguk.
"Aku minta maaf." Reno meraih jemari Dera. Sesekali ia berpikir, jika wanita di hadapannya bukanlah seseorang yang dinikahinya 5 tahun lalu. Dera seolah menjadi orang lain setelah kejadian itu. Dingin, kaku, tegas dan tak terbantahkan. Semua sifat yang sama sekali dahulu tak dimilikinya.
Terdiam, keduanya tak ada yang buka suara. Dera telah berubah 180 atau entah 1800 derajat? Jika dulu ia tak akan diam mengoceh, tetapi sekarang sebuah keajaiban jika melihatnya mau mengeluarkan suara.
Reno takut, tentu saja. Ia takut jika trauma yang dialami sang istri sudah pada taraf mengancam hubungan mereka. Bukan ia tak suka Dera yang sekarang, hanya saja ... ia merasa berbeda. Kehangatan yang dulu selalu tercipta disetiap saat, kini hanya tercipta ketika mereka berada di atas ranjang. Selebihnya Dera adalah patung Yunani yang tak tersentuh.
"Akan ku antar." Reno ikut berdiri, sebelum menghela napas panjang karena sebuah penolakan.
"Aku ingin pergi sendiri, nikmati saja waktumu selagi masih bisa." Dera meraih kunci mobil di atas meja. Bergerak mengecup bibir sang suami kemudian tergesa ke luar rumah.
Reno tersenyum tipis. Ia menangkap nada sindiran dari kalimat sang istri. 'Selagi masih bisa' iya, karena ia akan kembali meninggalkan negara ini dalam waktu dekat. Terlalu banyak hal yang harus ia urus. Ia kadang berpikir, mungkinkah karena hal ini juga yang membuat istrinya semakin hari terlihat semakin sulit dijangkau? Tak ada quality time semenjak mereka sama-sama sibuk mengurusi perusahaan keluarga. Hanya akan ada ketika mereka benar-benar saling 'membutuhkan'.
****
Dera mendudukan tubuh di kursi dengan meletakkan tas di atas meja. Tangannya menerima lembaran dokumen yang diberikan satu persatu. Membaca sejenak kemudian membubuhkan tanda tangan.
"Lima belas menit lagi meeting akan dimulai dengan dewan direksi dari cabang yang di Gorontalo. Beliau sedang dalam perjalan kemari." Sang sekretaris membacakan jadwal Dera yang sudah tersusun rapi pada sebuah tab.
Dera mengangguk. "Atur semua jadwal saya hari ini. Saya tidak mau ada kesalahan." Memberikan dokumen terahir kepada sang sekertaris. Diangguki patuh oleh wanita muda itu.
"One cup black coffee less sugar." Permintaan Dera yang lebih terdengar seperti perintah. Kemudian meminta wanita di sampingnya keluar. Begitu pintu tertutup dari luar, ia menghempaskan kepala ke sandaran kursi.
Lelah, hal yang dia rasakan pagi ini. Tak hanya tubuh yang terasa remuk, tapi otak dan hatinya ikut serta. Perkataan Reno mengacaukan pikirannya sedari tadi. Ada apa dengan pria itu sampai memintanya untuk hamil kembali?
Dera meraba perut datarnya, menegang ketika mengingat bagaimana dua mahluk itu dipaksa keluar karena tak mampu bertahan. Netranya mengembun, ada barisan gerbong ingatan yang kini berjalan di pelupuk mata. Tentang masa itu, tentang luka, penghianatan, kehancuran serta rasa sakit yang tak tersembuhkan.
Bersambung ...
SABELLE POINT OF VIEW Sobrang bilis ng mga pangyayari. Until now ay hindi ko pa rin mapaniwalaan na isa na akong Mrs. Harold for real. Hindi na peke ang kasal na ito dahil totoo na yung feeliings namin para sa isa't isa. Sino nga ba ang mag aakala na na kay kumpare pala ang forever ko. We found love in our darkest hours. We made love in a secret place. We felt happy in a sinful way and Yet, kami pala talaga ang itinadhana. Mart is a man with Full of surprises. May nalalaman pa syang Shutgun wedding. akala ko talaga ay kay kenjie ako ikakasal. hayyysssttt...Hindi ko maipaliwanag ang saya na nararamdaman ko ngayon. having him by my side. i feel relaxed and safe in his arms. Narito nga pala kami ngayon sa kanyang yate. Ang sabi nya ay dito daw kami mag-hohoneymoon. the design is very romantic."do you Like it?" "yes, ofcourse.""first destination pa lang natin yan.""anong first destination?""basta, you will see..." Ngayon ay malaya na kaming ihayag at iparamdam sa isa't isa ang
MART HAROLD POINT OF VIEW Totoo ngang mahiwaga ang pag-ibig. lahat ng imposible ay nagiging posible basta tunay ang intensyon mo. Just Like our story. too Many imperfections and selfishness. dati, sinasabi ko sa sarili ko na gustong gusto ko si Sabelle ngunit ako mismo sa sarili ko ay naduduwag. Sa daming beses na pagkakataon na pwede ko syang ligawan at magpakitang gilas sa kanya ay hindi ko nagawa. Kaya nga ang ending ay si Nikko ang nakatuluyan nya. bagay na kasalanan ko rin. Nang dahil sa kaduwagan ko ay lalong naging kumplikado ang lahat sa amin. lalo lang syang lumayo. Ngunit may kasabihan nga tayo na kung talagang para sa 'yo, para sa 'yo. Nang malaman kong nawala na si Nikko, oo, nalungkot ako pero doon ko rin naisip na hindi kaya kailangan talagang mangyari yon dahil nga hindi talaga sila ni Sabelle ang para sa isa't isa. Dahil kami ang talagang inilaan at nakatadhana. lalo akong nangigigil na ipaglaban ang pag-ibig ko. We both know that we have the same feeling for each
Nagising na lang si Sabelle dahil sa isang ingay. dahan-dahan nyang iminulat ang kanyang mata at mga ilang minuto rin nya bago napagtanto na nakasakay pala sila sa isang helikopter kasama si Kenjie. Dito na sya nakaramdam ng labis na inis at galit. "s-saan mo ako dadalhin? nababaliw ka na nga ata talaga! ano ba ang kailangan mo sa akin? Huh? hanggang ngayon ba naman ba, kenjie?" Kung hindi lamang nakatali ang kamay ni Sabelle ay malamang sa masaktan nya si Kenjie. Gustong-gusto nya itong pagkakalmutin sa mukha para magising ito sa kahibangan. Kenjie laughed evily. "grabe pa rin ang tingin mo sa akin, Sab. Hindi mo ba alam na ang tagal kong hinintay na mamatay si Nikko? Ang tagal kong inintay ang pagkakataon na ito. Sa wakas, Sab, maso solo na rin kita.""A-anong masosolo? bakit? saan mo ba ako dadalhin? ano ba ang pinaplano mo? pwede ba kenjie, itigil mo na yang kabaliwan mo!" pagsigaw ni Sab na may halong gigil. "Malalaman mo rin mamaya, Sab. malalaman mo rin!""ahhhh!!!!" Walang
"B-buntis ka ba?" diretsahang tanong ni Mart matapos nyang makita ang tiyan ni Sab. May kalakihan ito kumpara noong huli nya itong nakita kaya nagulat talaga si Mart. "Hindi. Hindi ako buntis." Sagot naman ni Sabelle. kinuha nya ang pagkakataon na tulala si Mart at madali syang nagbihis. sinuot nyang muli ang gula-gulanit na nyang damit. "Ano bang tanong yan." pagkakaila nya. lalagpasan sana nya si Mart para lumabas ngunit bigla sya nitong hinawakan sa kanyang braso para pigilan. "hindi ako naniniwala na hindi ka buntis. Hindi mo ako maloloko, Sab. Alam ko na ang lahat. ang lahat-lahat! alam kong patay na si nikko at alam ko rin na hindi ka nahawa sa kanya dahil ako ang huling lalaking gumalaw sa iyo." "a-lam mo na? kailan pa?""nito, lang! kaya nga ako umuwi dito sa Pilipinas dahil mukhang wala kang balak na magsabi sa akin. Ang gara mo, Sab."mabilis na hinawi ni Sab ang kamay ni Mart na mahigpit ang pagkakahawak sa kanya. nakakatakot ang itsura nito at mukhang hindi talaga sya p
SABELLE POINT OF VIEW Early in the morning I put breakfast at your tableAnd make sure that your coffee has it's sugar and creamYour eggs are overeasyYour toast done lightlyAll that's missing is your morning kiss that used to greet meito na siguro ang pinaka masakit sa part ko. nasaktan ako, nagpataw
Mabigat ang loob ni Sab na nilisan ang mansyon ni Mart. wala na syang ibang naiisip ngayon kung hindi ang mahuli ang asawa nya at ang babae na ito. okupado na ng galit ang isipan nya. isipin pa lang nya na may mga milagro itong ginagawa sa lugar na iyon ay parang gusto nyang pumatay o mamatay na lan
SABELLE POINT OF VIEW marami akong nainom ngunit nasa tamang pag-iisip pa ako. alam kong mali itong nangyayari at kasalanan ito sa Diyos. HINAHALIKAN AKO NGAYON NG BESTFRIEND NG ASAWA KO!masyadong mabilis ang mga pangyayari. hindi ko na nagawang umiwas sa halik nya. Nakahiga ako ngayon sa ibabaw ng
Nikko Alferes Point of view what a fucking tired Day!yung tipong maaliwalas akong umalis ng bahay, maiipit lang pala ako sa traffic. nakakapang hina ang init. may aircon naman 'yung bus ngunit tagaktak pa rin ang pawis ko. ang lakas makapag init ng ulo. mabuti na lang ay kontrol ko ang sarili ko at












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
ความคิดเห็น