Share

Satu Juta Bisa Kok Berhemat.

"Ini satu juta dulu, pergunakan dengan baik. Jangan boros-boros jadi istri."

Aku tersenyum tipis, lalu segera mengambil uang satu juta itu. Mas Darma tersenyum sinis, namun senyum itu tak lama di wajahnya.

"Kau lihat ini mas, pas satu juta aku belikan token listrik. Semoga bisa bertahan sampai sebulan, jangan lupa bayar tagihan air."

Aku kembali duduk setelah membeli token listrik, lalu menarik mas Darma untuk melihat, aku sudah menghabiskan uang pemberiannya dalam sekejap.

"Kau kan bisa beli lagi nanti, tak harus langsung sejuta kau belikan token listrik."

Terdengar suara melengking mas Darma. Dia pikir bisa uang sejuta di suruh berhemat.

"Aku sudah melakukan sesuai permintaan mu, Mas. Untuk berhemat, dengan membeli token listrik. Jadi, bisa bertahan sebulan, kurang lebihnya begitulah."

Aku menjawab dengan santai. Dia pikir aku masih bisa dia bohongi, dengan memberi satu juta disuruh berhemat pula. Belum lagi, nanti dia minta uang bensin, hemat dari mananya? Yang ada, aku yang tekor lebih awal.

"Aku semakin heran denganmu, May? Kenapa kau sekarang pandai membangkang, apa perlu aku kawin lagi agar kau tau diri?"

Mendengar ucapan mas Darma, aku hanya tertawa. Dia pikir aku takut kalau dia menikah lagi? Yang ada, aku bersyukur jika masih ada yang mau dengannya.

"Kalau begitu silahkan mas, segera cari calonnya. Kalau butuh bantuan, aku bisa carikan, tapi tak usahlah! Pasti, susah mencari wanita yang mau menerimamu."

Mas Darma terlihat marah setelah mendengar ucapanku. Dia pasti tak menyangka, aku akan berkata seperti itu.

"Kalau begitu, aku mau ke rumah ibu. Mungkin, aku akan menginap karena besok libur kerja."

Aku kembali fokus dengan ponselku. Tak perduli meski mas Darma melirik tanda tak suka, biar dia pergi ke rumah ibunya, semoga dia tak lupa kalau masih punya cicilan hutang.

"Jangan lupa sekalian bayar air. Kalau tidak mau diputus karena tak mampu bayar!"

Aku berteriak sebelum mas Darma masuk ke mobilnya. Aku rasa dia akan bersenang-senang dengan keluarganya.

"Brak ...."

Aku terkejut karena mas Darma kembali masuk dengan membanting pintu. Aku yakin dia pasti sedang bingung untuk mengatur keuangannya, dia pikir mudah membagi gajinya yang sudah terpotong cicilan hutang itu.

***

"Tok ...tok ...tok ...."

"Pucuk di cinta ulam pun tiba". Aku segera membuka pintu, untuk tamu yang sudah tak sabar mengambil uang yang dijanjikan mas Darma.

"Mas, ibu datang dia menunggu di depan!"

Aku sengaja berteriak di depan pintu kamar. Mas Darma pasti sedang pusing, memikirkan alasan untuk menolak memberi ibunya uang.

"Kenapa tak kau bilang saja, kalau aku belum pulang?"

Aku menatap mas Darma dengan heran. Dia selalu merasa dirinya pintar, tapi untuk masalah begini saja dia lupa?

"Mobilmu di luar mas, ibu punya mata mana mungkin aku bilang kau belum pulang, kalau mobil kebanggaanmu itu sudah terparkir di depan rumah."

Aku berkata dengan kesal. Dia yang susah kenapa aku yang diajak?

"Sudah, temui ibumu sebelum dia membuat kita semua malu."

Aku meninggalkan mas Darma. Dia segera berjalan ke depan menemui ibunya, aku hanya menunggu untuk tontonan gratis.

"Silakan diminum Bu, maaf hanya air putih yang ada."

Aku sengaja memberinya air putih. Agar dia segera tahu apa yang terjadi pada anak kesayangannya.

"Tak ada warnanya, May. Luar biasa sekali hidupmu, ibarat parasit yang menyusahkan, apa tak bisa kau berhemat sedikit untuk membeli gula dan teh?"

Mendengar hinaan ibu mertua, aku hanya tersenyum tipis. Tunggu saja, sebentar lagi kau yang akan tau siapa parasit sebenarnya.

"Mana uang tiga juta itu, Dar? Kau sudah gajian, kan? Cepat ibu buru-buru mau pergi."

Aku yang duduk di depan televisi masih diam. Kupingku saja yang mencoba mendengarkan, pembicaraan ibu dan anak itu.

"Maaf Bu, aku tak bisa memberi ibu uang. Karena gajiku hanya cukup untuk membayar cicilan rumah dan mobil."

Aku tersenyum sinis mendengar ucapan mas Darma. Sekarang biar dia tau, siapa dirinya tanpa aku.

"Sudahlah jangan berbohong lagi. Kau pasti takut pada Maya, kan? Dia pasti mengancammu?"

Aku melirik ibu karena dia menyebut namaku. Perlahan, aku berdiri dan menghampirinya.

"Maaf Bu, kalau bicara mohon dijaga. Asal tau saja, mas Darma baru memberi satu juta. Itu untuk membeli token listrik. Air dan makan belum dia pikirkan, jatah ibu minta saja padanya karena aku tak Lagi memegang uang darinya. Mulai sekarang, soal uang langsung minta mas Darma. Seperti kata ibu, aku tak akan lagi mengurus keuangannya lagi."

Aku melempar pandangan pada mas Darma. Pria itu terlihat mulai gugup, aku tau dia pasti mulai bingung memikirkan uang untuk semua orang.

"Tolong May, jangan bicara begitu. Aku sedang kesulitan jangan kau tambah lagi."

Aku tertawa mendengar ucapan mas Darma. Dia pikir aku main-main? Sudah cukup menjadi bodoh, sudah saatnya berubah.

"Kau salah Mas, aku justru membantu mengurangi beban hidup yang kau tanggung. Bukankah kau dan ibu keberatan aku menguasai uangmu? Jadi, aku kembalikan saja semuanya agar kau atur sendiri."

Aku kembali berjalan menuju ke depan televisi, tapi aku berbalik karena belum menyebutkan satu lagi beban yang dilimpahkan padaku.

"Satu lagi! Uang kuliah adikmu, jangan lupa! Besok atau lusa, dia pasti memintanya."

Aku kembali tersenyum lalu mematikan televisi. Setelah itu, aku memilih untuk keluar cari makan.

"Maya tunggu dulu, kau mau ke mana? Kita sedang bicara dengan ibu."

Mas Darma berlari mengejarku, tapi ibu terlihat menangkap tangannya. Mereka pasti akan ribut besar, karena ini soal uang.

YUK TERUS BACA DAN BERI ULASAN 🌟 5 NYA BIAR MAKIN SEMANGAT. JANGAN LUPA VOTED JUGA SEBAGAI DUKUNGAN UNTUK CERITA INI.

Comments (7)
goodnovel comment avatar
Jee Esmael
Iya kannnn..
goodnovel comment avatar
Isabella
benalu si mertuanya
goodnovel comment avatar
Iman Teguh
penasaran bnget
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status