Mag-log inDahlia menghembuskan sedikit napas lega. Buru-buru dia menjelaskan, "Dulu saya dan ibu kamu—Em, ibu angkat kamu, melahirkan di rumah sakit yang sama. Lalu, suster yang berjaga di ruangan menaruh bayi di tempat tidur yang salah. Kalian tertukar."
"Kami baru tau akhir-akhir ini saat Velani membutuhkan transfusi darah. Maafkan kami karena telah datang terlambat, ya. Membutuhkan waktu yang cukup lama sampai penyelidikan tentang kamu selesai dan kami bisa menjemputmu langsung," sambung Dahlia. Matanya berlumur penyesalan dan kesedihan.
Tamara mengernyit. "Penyelidikan soal aku? Jadi, kalian sudah tau semua tentangku?"
"Iya, Sayang," ujar Dahlia lembut.
Kemudian, Dahlia membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu. Tetapi setelah menyadari mereka berada di ruang tamu kos-kosan, Dahlia mengurungkan niatnya. Meski demikian, Dahlia bergerak-gerak resah, seolah ada hal mengganjal yang ingin dia bicarakan.
Yudhi tidak memedulikan dimana mereka. Ia mengambil alih pembicaraan dan dengan brutal berkata, "Kami tau semuanya, termasuk kasus kamu di kantor. Saya dengar kamu masih punya sisa hutang yang harus dilunasi, kan."
Tamara membeku di tempat, seketika tak mampu berkata-kata.
Yudhi memandang Tamara dengan mata menusuk. Ucapannya tak lagi disaring, terdengar begitu meremehkan, "Tidak kusangka, anak kandungku berani melakukan korupsi. Saya tidak pernah berharap banyak waktu mencari kamu, tapi setidaknya saya harap kamu anak baik-baik."
Tamara lantas meledak. "Saya dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tua saya! Jangan menghakimi mereka jika kalian tidak kenal siapa mereka sebenarnya!"
Ucapan Yudhi adalah penghinaan terberat bagi Tamara karena seolah-olah mendiang orang tuanya tidak becus dalam mendidik Tamara.
"Dan camkan ini, aku bukan pelakunya. Aku tidak akan sudi menyentuh yang bukan milikku. Kalau kalian menyediliki semua ini dengan benar, harusnya kalian tau bagaimana situasiku!" kecam Tamara keras.
"Justru dari hasil penyelidikan itu, kamu pelakunya," sanggah Yudhi. Ia sudah membaca seluruh laporan penyelidikan tersebut dan menyadari bahwa ada yang janggal di beberapa detail.
Bisa jadi pelakunya adalah orang lain, tetapi yang orang lain tahu tetap Tamara-lah yang melakukan korupsi. Jadi tidak ada bedanya. Yudhi juga tidak mau repot-repot menggali lebih jauh siapa pelaku sebenarnya. Dia tidak punya waktu untuk itu.
Tamara tidak berusaha meyakinkan Yudhi bahwa dia tidak bersalah. Dari perangai Yudhi, ia tahu usahanya akan sia-sia.
Suara Tamara mendesis geram saat berujar, "Jika kalian datang hanya untuk berkata seenak jidat, sebaiknya kalian pergi."
Yudhi mencemooh cara bicara Tamara yang tidak tahu sopan santun. Dia datang juga bukan didasari oleh perasaan kasih seorang ayah pada anaknya, melainkan sebagai pebisnis.
Bila membawa Tamara pulang akan merugikannya, maka Yudhi takkan melakukannya. Toh, dia lebih menyayangi putri yang sudah dia besarkan selama 20 tahun meskipun jatuhnya hanya putri angkat.
Namun, semua keputusan berada di tangan Dahlia.
Seumpama Dahlia ingin mengajak Tamara pulang bersama mereka, Yudhi tidak akan menolak. Bagaimanapun juga kebahagiaan istrinya nomor satu.
Dahlia pun memahami tabiat suaminya. Alasan Yudhi bukan cuma karena kebahagiannya saja. Selain memikirkan soal itu, Yudhi juga memikirkan tentang citranya.
Kabar kalau Velani bukanlah putri mereka sudah tersebar luas ke jejaring kolega mereka dan bahkan para keluarga elit lainnya. Semua akan mengacungkan telunjuk dan mengambil kesempatan ini untuk mengolok-olok mereka bila mereka tidak segera menjemput Tamara, putri asli keluarga Wirawan.
Yudhi dan Dahlia sama-sama tidak ingin dibilang tak punya hati.
Di sisi lain, Dahlia juga sebetulnya merasa bersalah ke Tamara yang harus hidup susah. Padahal Tamara bisa hidup dengan sangat berkecukupan jika saja dia tidak tertukar dengan Velani. Dahlia sampai kurang tidur beberapa bulan terakhir ini karena rasa bersalah yang terus menggerogotinya.
Dahlia ingin menebus kesalahan ini dengan memberikan Tamara kehidupan yang bergelimang harta. Ia mau Tamara bisa hidup tanpa perlu mengkhawatirkan besok makan apa. Tetapi, Dahlia memiliki keegoisan yang mendalam. Ia mau Velani tetap tinggal bersamanya.
Dahlia tidak tega kalau Velani harus pergi dari rumah bila Tamara pulang. Oleh karena itu, Dahlia dan Yudhi sepakat.
Yudhi berkata dingin, "Baiklah. Sebelum kami pergi, saya ingin menawarkan ...."
Tamara menyipit waspada ketika Yudhi menggantungkan ucapannya. "Apa lagi yang kalian mau dariku?"
"Kami akan melunasi seluruh hutangmu. Syaratnya, kamu pulang ke rumah dan Velani tetap tinggal bersama kami. Jangan mencari masalah dengannya juga," ujar Yudhi dingin. Sorot matanya keras dan mengancam.
Dahlia dengan cepat menimpali, "Kamu dan Velani, kan, seumuran. Velani anak yang manis dan lembut. Kalian bisa jadi saudara atau sahabat dekat. Kamu pasti perlu bantuan untuk beradaptasi nanti, biar Velani yang membantumu, ya?"
Mata Tamara memerah, campuran amarah dan rasa sesak yang tiba-tiba datang ketika mendengar betapa protektifnya mereka terhadap Velani.
Tamara mendengus, lalu terkekeh sinis, "Hah. Kalian pikir aku mau pulang ke tempat yang kalian sebut rumah? Tidak, terima kasih!"
"Jangan keras kepala!" bentak Yudhi.
"Mungkin ini gen yang Anda turunkan padaku, mau menang sendiri!" balas Tamara tak kalah kencang.
Yudhi menggeram. Bila tidak ada Dahlia yang menahannya, tangan Yudhi mungkin sudah melayang ke Tamara. Yudhi menekan amarahnya, kemudian bertanya, "Kenapa kamu tidak mau? Sudah jelas tinggal di rumah jauh lebih baik daripada menjadi gelandangan."
Tamara sempat tergoda dengan tawaran tadi. Melunasi hutangnya itu perkara mendesak yang harus cepat dituntaskan sebelum tenggat waktunya habis dan Tamara diseret ke penjara. Tetapi memikirkan Velani, entah kenapa Tamara merasa jengkel.
"Apa kalian nggak memikirkan bagaimana perasaanku nanti? Harus tinggal bersama Velani yang selama ini sudah menempati posisiku dan menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku? Bohong kalau kubilang, aku tidak merasa sedikitpun dendam padanya," kata Tamara tanpa jeda. Napasnya agak tersengal saking emosinya dia.
Dahlia tersentak, "T-tapi ...."
Tamara memotong perkataan Dahlia, "Kalau kalian ingin membantu menyelesaikan masalahku cuma demi keegoisan kalian, jangan datangi aku lagi. Aku bisa cari cara lain walaupun aku harus menjual diri!"
Usai berkata demikian, Tamara lekas pergi meninggalkan Dahlia dan Yudhi yang tercengang.
Tamara berjalan cepat menuju kamarnya. Tetapi, di sudut belokan dari arah ruang tamu ke lorong kamar, Tamara mendapati Santi yang sedang berdiri memegangi ponselnya. Begitu Santi melihat Tamara, dia sontak melompat kaget.
"L-loh udah balik?" sapa Santi kikuk.
Tamara melirik acuh dan dingin sebelum melewati Santi. Ketika Tamara sudah masuk ke kamar, Santi segera mencibir, "Dasar sok! Obrolan kalian sudah aku rekam, lihat saja nanti bakal kuviralin!"
---
Suara musik klub malam berdendang memekakkan telinga. Jerit dan yel-yel kegembiraan bergaung nyaring di seluruh sudut ruangan, bersatu padu dengan dentingan bunyi gelas alkohol yang diteguk nikmat oleh para pengunjung.
BANG!
"Apa?!"
Serena membanting keras gelas vodkanya ke meja bar sampai mendapat lirikan peringatan dari bartender yang berjaga di dekatnya. Wanita itu memelototi sahabatnya yang kini sedang dirundung badai masalah, yaitu Tamara.
"Demi apa mereka berani menjebakmu? Kamu tau siapa yang punya nyali sebesar itu? Terus kenapa jadi kamu yang dipecat?" cerocos Serena tanpa memberikan kesempatan Tamara untuk menyela.
"Pantas aja kamu nggak pernah mau kuajak ke klub lagi," sambung Serena. Hari ini ia memaksakan Tamara untuk datang karena sudah lama tidak bertemu dan penasaran ada apa dengan temannya ini. Supaya Tamara mau datang, Serena mesti meyakinkannya kalau dia yang traktir.
Tamara mendorong wajah temannya yang semakin lama semakin mendekat dengan jengkel. Mata coklat karamel Tamara berubah mendung dalam sekejap. Setelah itu ia menjawab, "Nggak penting lagi siapa. Yang jelas sekarang, aku masih belum tau gimana caranya bayar hutang-hutang itu."
Serena berdecak, lalu kembali meminum vodkanya. "Mau kukenalkan dengan salah satu pria cadanganku? Mereka pasti mau bayarin semua hutang itu. Jumlahnya nggak begitu besar buat mereka."
Tamara menggigit bibir bawahnya kencang dan keningnya berkerut. Meskipun ia membesar-besarkan perkataannya kemarin di depan Dahlia dan Yudhi dengan bilang ia bisa menjual diri, pada akhirnya, Tamara masih ragu-ragu.
Serena melirik Tamara—memahami kegelisahannya. Serena berujar, "Gimana kalo aku pilihkan satu laki-laki? Ikuti aja jejakku. Perangkap dia dalam pesonamu, puaskan dia, dan voila! Kamu bakal dapat kartu ATM berjalan. Tidak peduli dia sudah beristri atau belum, selama kaya raya, maju terus."
Serena merupakan pelakor yang berhasil memisahkan pasangan suami istri dan sekarang berjaya sebagai istri sah yang baru.
"Aku nggak serendah itu," tepis Tamara sinis.
Namun, Serena tidak tersinggung. Ia malah tertawa terbahak-bahak. "Yeah, right. virgin kayak kamu nggak mungkin kepikiran. Tapi sayang aja, tubuhmu terlalu bagus buat dianggurin."
Tamara terdiam. Kedengarannya sederhana. Dengan figur eloknya, hal itu sangatlah mudah. Ia bisa mendapatkan satu laki-laki kaya yang akan membayar hutangnya jika ia memang ingin.
Cara ini merupakan jalan pintas tercepat. Bahkan lebih cepat dibanding menjual diri ke setiap orang yang berbeda dengan bayaran yang tak menentu. Setidaknya, Tamara hanya perlu memuaskan satu orang.
"Gimana?" tawar Serena lagi. Alisnya naik turun menggoda Tamara, sementara bibirnya menyeringai licik dan cantik, menyerupai seekor rubah.
"Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber
Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be
Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit
Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le
Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru
Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-







