เข้าสู่ระบบBAM! BAM!
"Tamara!"
BAM!
"Haduhhh kemana perempuan ini," ujar seorang ibu-ibu berambut panjang kuncir kuda dan bertubuh gempal. Urat di pojok keningnya muncul karena kesal tak kunjung menerima jawaban.
Telapak tangannya kerap menggedor—atau lebih tepatnya mencoba mendobrak—pintu kosan Tamara dengan menggebu-gebu.
Pintu kamar sebelah terbuka, lalu sebuah kepala mumbul di selanya. "Ada apa, sih, Bu?"
"Eh, Santi. Kamu punya nomornya Tamara nggak? Coba telpon, cepet," suruh Bu Marni.
Santi memutar bola matanya malas. "Nanti juga keluar sendiri, Bu. Saya tau, kok. Dia ada di dalam."
"Yang bener kamu?"
"Bener, Bu! Ngapain saya bercanda. Saya selalu stand by di kamar, loh. Semenjak masuk kosan sini dia nggak pernah keliatan lagi."
Bu Marni mengehela napas kasar. Kemudian menggedor kembali pintu kamar Tamara. Sedangkan Santi diam-diam menyeringai senang, menunggu drama yang akan datang.
"Lagian Tamara emang sombong banget, Bu. Baru pindah tapi ngga pernah nyapa tetangganya sama sekali. Ckck," terang Santi memanas-manasi Bu Marni.
Jujur saja, Santi tidak suka Tamara. Sudah gayanya berlebihan, sok cantik, apa pula namanya?! Tamara? Halah. Pengen jadi bule atau gimana.
Masih bagusan juga Santi!
"Jangankan kamu! Saya juga tidak pernah disapa. Meman—Aaaah!"
Bu Marni memekik terkejut ketika Tamara keluar dengan rambut panjang yang tergerai mengaburkan wajahnya. Kedua matanya sayu dan hampa. Dengan kulit pucat dan kurus, Bu Marni hampir mengira dia Kuntilan*k!
"Kemana aja, sih, saya panggilin dari tadi," kata Bu Marni ketus.
"... Sibuk," balas Tamara dengan suaranya yang serak seakan-akan tenggorokannya tidak pernah terbasuh air.
Yah, sibuk mengurung diri.
Tamara pikir, meskipun dia harus melunasi hutang penggelapan uang yang dilimpahkan padanya, dia masih punya banyak waktu untuk mencari jalan keluar. Jadi begitu dia pulang ke rumah yang ia beli dengan tangis dan keringat, Tamara langsung beristirahat.
Dia hanya ingin bernapas sejenak.
Namun siapa sangka, besoknya petugas bank datang untuk menyita rumah dan barang-barang berharga lainnya milik Tamara. Semua ludes di tangan mereka. Bahkan, uang tabungannya pun terkuras habis, menyisakan secukupnya untuk biaya hidup dan menyewa kos-kosan sederhana bulan ini.
Setelah pindah, Tamara lemas. Kemarahannya menguap tergantikan sesak dan belenggu yang perlahan-lahan melilitnya, membuatnya nyaris tak sanggup bangun dari tempat tidur.
"Sibuk dari mananya, orang pengangguran," cibir Santi sambil tertawa sinis.
Bu Marni melihat Tamara dari atas sampai bawah dari sudut pandangnya sebelum menggeleng-geleng. "Itu orang tuamu dateng nyariin kamu."
Tamara masih bisa terima dibohongi atau ditusuk dari belakang layaknya kejadian kemarin. Sulit, tapi dia bisa menahannya.
Namun kalau sudah menyangkut orang tua, Tamara segera meledak. Rona kemerahan mulai menghiasi wajah pucatnya. Jika sinar mata dapat digunakan sebagai senjata, mungkin punggung Bu Marni yang sedang berlalu itu akan bolong oleh tatapan menusuk Tamara.
"Maksud Ibu apa? Orang tua saya sudah meninggal!"
Perasaan teredam Tamara kembali bergejolak. Tetapi, percuma ia mengejar-ngejar Bu Marni. Ibu itu sama sekali tidak peduli siapa sepasang orang tua yang saat ini menunggu di ruang tamunya. Lantaran mereka mengaku sebagai keluarga Tamara, mereka adalah masalah Tamara. Bukan dia.
Pada akhirnya Tamara mengikuti Bu Marni ke depan dan bertatap muka dengan orang-orang tersebut.
Seorang wanita paruh baya bersanggul menyambut kedatangan Tamara dengan tatapan penuh kecemasan. Dari gelagatnya, terlihat sekali dia ingin menghampiri Tamara. Tetapi mungkin ada sesuatu yang menahannya, makanya ia mengurungkan diri dan bertahan di tempat. Hanya memandangi dari kejauhan sembari meremas pelan genggaman tangannya.
Di sebelahnya, seorang pria tua yang masih terlihat segar untuk usianya, sedang duduk dengan berwibawa. Lengannya menjulur dari belakang punggung sampai ke pundak wanita itu, memeluknya erat dengan upaya untuk menenangkan istrinya. Lain dari kecemasan yang dipancarkan oleh istrinya, pria tua itu memandang Tamara dengan tatapan mendalam dan sulit dibaca.
Tamara tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Disaat ia menginjakkan kaki di area yang sama dengan kedua orang itu, perasaannya berdesir sekilas. Tetapi setelah mengedip, perasaan itu hilang.
Bu Marni pergi meninggalkan mereka dengan mata memicing yang penuh rasa ingin tahu. Tamara memutar balikkan mata melihat hal itu. Setelah dia duduk, dia ikut menyipit.
"Kalian siapa?" tanyanya tanpa basa-basi. Meski terkesan kurang ajar, ia tidak peduli. Dari sejak mereka mengaku-ngaku orang tuanya, rasa respek Tamara tertendang ke luar jendela.
Wanita paruh baya itu menarik napas dalam sebelum berujar, "Nak, dengarkan kami baik-baik."
"Kami adalah orang tua kandungmu dan kamu anak bungsu kami yang waktu itu lahir tertukar dengan bayi lain."
"...."
Omong kosong apalagi sekarang ...
Saking tidak masuk akalnya, Tamara cuma mampu berkata, ".... Kedengerannya gila. Kalian mau syuting disini?"
"Mama mengerti ini sulit diterima, tapi-"
"Stop," Tamara menyela dingin, "Jangan sebut Mama. Karena Mama saya sudah tiada."
Wanita paruh baya itu menggigit bibirnya dengan wajah bersalah. Sedangkan suaminya mengerutkan kening tidak suka menyaksikan istrinya bersedih.
Jika orang lain yang tidak mengenal mereka lewat, mungkin akan terlintas di benak orang tersebut kalau mereka adalah keluarga. Ekspresi bapak itu persis sekali Tamara ketika sedang marah.
"Kamu memang anak kami. Terima kenyataan itu. Kamu akan pulang bersama kami, jadi kemasi barang-barangmu." Sang suami mengambil alih. Titahnya seperti tak terima dibantah.
Sudut bibir Tamara tertarik kecil. "Dan kenapa aku harus menurutimu?"
"Kau tidak punya pilihan lain."
"Berpura-pura jadi orang tua saya saja sudah keterlaluan. Tetapi memerintahku apalagi. Minimal perkenalkan diri kalian, supaya aku tidak memanggil kalian penipu."
"Sepertinya aku harus mengajarimu tata krama," kata sang suami dengan memancarkan aura kekuasaan yang membuat Tamara merasa kecil. Tak ada kehangatan yang bisa ditemukan di tatapannya.
Tamara melemparkan tatapan tajam, tak mau kalah. "If you can."
Bapak itu menyatukan kedua alisnya. Sesaat sebelum dia meledak, istrinya dengan cepat menahan lengannya dan memintanya sabar dengan pandangan memelas. Mau tidak mau, dia terpaksa menahan diri.
"Nama mama-ah ... saya Dahlia. Hmm ... kalo paman ini Yudhi Wirawan," jelas Dahlia sambil menunjuk Yudhi.
"Mm," gumam Yudhi, masih dengan kerutan-kerutan di keningnya yang membentuk ombak.
Tamara mendengus. Melanjutkan topik yang sangat menggangunya, "Kenapa saya?"
Kenapa harus dia lagi. Pertanyaannya hanya satu itu saja.
Apa tahun ini tahun sialnya?
"Kalian datang dan mengharapkanku menelan mentah-mentah kabar ini, sama saja seperti berharap beruang kutub menyukai musim kemarau."
Alias mustahil.
"Kamu benar." Dahlia mengangguk paham dengan senyum tanpa daya. Tetapi di detik berikutnya, tatapan Dahlia berkelip penuh harap. "Setidaknya, maukah kamu mendengarkan penjelasan kami dulu?"
Tamara mengatupkan rahangnya rapat-rapat, alis bertaut kencang, dan matanya terlihat siaga.
Mestinya Tamara menolak untuk mendengarkan.
Mendiang orang tuanya adalah kado terbaik di hidupnya. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan dan kerap kali tidur dalam keadaan lapar, tapi orang tuanya selalu mengusahakan sebisa mereka bila itu menyangkut pendidikan dan kebahagiaan Tamara.
Keluarga kecil mereka hampir terbebas dari tali kemiskinan ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan tetap. Nahas, nasib tetap tak berpihak pada mereka.
Kala itu, ibu Kirana sedang bekerja serabutan menjadi tukang cuci. Pada saat ayahnya menjemput ibu Kirana dari tempat kerjanya, mereka berdua ditabrak oleh mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan. Konon katanya, pengemudi itu tengah dilanda mabuk berat.
Tamara mengepalkan tangannya erat begitu memori pahit itu muncul kembali. Tubuhnya kaku dan tegang. Tatapannya mengeras seiring berjalannya waktu.
Dahlia menjadi sangat gugup menerima pandangan tak mengenakkan Tamara. Dia beringsut semakin mendekat ke dalam dekapan Yudhi. Sedangkan Yudhi tampak tidak terpengaruh. Malahan, dia merasa kemarahannya menggelegak.
Belum juga mereka membawa Tamara pulang ke rumah, tetapi bocah ini sudah berani menakuti istrinya. Bila Tamara terus seperti ini, Yudhi tak akan segan tuk mendisiplinkannya.
Tamara tidak tahu kalau Yudhi bahkan sudah siap-siap memberinya pelajaran. Padahal sebagai ayah kandung yang baru "reuni" dengan anak gadisnya, bukankah seharusnya dia bersikap hangat dan penuh kasih sayang?
Untungnya, Tamara belum mempertimbangkan sampai situ. Jujur saja, dia masih larut dalam pikirannya.
Selepas orang tuanya meninggal, Tamara membanting tulang bagai tak kenal hari hanya demi menghidupi dirinya sendiri. Dia bekerja di semua tempat yang berani mempekerjakan seorang gadis ingusan dengan upah yang tak sepadan.
Dia menangis siang dan malam meratapi nasibnya, tetapi juga memaksa matanya terbuka siang dan malam untuk belajar. Sampai akhirnya dia bisa lulus kuliah, mendapat pekerjaan di kantor bergengsi, dan membangun karir cemerlang.
Tamara berjuang memperoleh semua itu hingga titik darah penghabisan. Sayangnya, lagi-lagi dia harus kehilangan segalanya. Karir, pekerjaan, rumah, biaya hidup layak, hangus tak bersisa.
Tamara betul-betul nyaris gila. Dia merasa tidak sanggup menerima kabar buruk lainnya bahwa selama ini orang tuanya bukanlah orang tua kandung.
Tamara masih kesulitan menelan kenyataan memilukan itu dan refleks ingin lari ke kamar. Tetapi mulutnya berkata lain, "Katakan."
"Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber
Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be
Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit
Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le
Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru
Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-







