Accueil / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Ambang Kematian (part 1)

Partager

Ambang Kematian (part 1)

Auteur: BoardMarker
last update Date de publication: 2026-09-27 11:12:20

Ruang tunggu UGD Rumah Sakit Pertamina terasa dingin dan sunyi. Dindingnya dicat putih bersih, lantainya dari keramik putih mengkilap yang memantulkan lampu-lampu neon di langit-langit. Beberapa kursi plastik berwarna biru tua berjejer rapi di sepanjang dinding, sebagian besar kosong, hanya beberapa yang terisi oleh keluarga pasien lain yang juga menunggu dengan wajah cemas. Di sudut ruangan, ada sebuah televisi kecil yang menyala tanpa suara, menayangkan acara pagi yang tidak ada yang memperha
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Baru (part 2)

    Setelah selesai membersihkan lantai, Tina mulai merapikan meja-meja di ruang rapat. Dia mengelap meja kayu yang besar, merapikan kursi-kursi yang tidak rapi, dan membersihkan papan tulis putih yang penuh dengan coretan."Sudah rapi," gumam Tina sambil menatap hasil kerjanya.Dia tersenyum bangga.Tina pindah ke lantai 13. Di sini, suasana sedikit berbeda, lebih tenang, lebih privat. Lantai 13 adalah lantai untuk para manajer. Ada beberapa ruangan dengan pintu kaca, dan di dalamnya, para manajer sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.Tina mulai membersihkan lantai 13 dengan teliti. Dia memperhatikan setiap detail, setiap sudut, setiap sela-sela meja, setiap jejak kaki yang tertinggal. Dia ingin memberikan yang terbaik.Di salah satu ruangan, seorang manajer perempuan dengan blazer merah dan kacamata tebal, melihat Tina yang sedang membersihkan lantai. Dia tersenyum."Mbak, kamu baru, ya?" sapa manajer itu."Iya, Bu. Saya baru mulai hari ini.""Kamu rajin. Lantainya bersih banget.""Teri

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Baru (part 1)

    Mobil BMW hitam milik Arini melaju perlahan memasuki area parkir gedung perkantoran di kawasan Kuningan. Pagi itu langit cerah, matahari bersinar terang tetapi tidak terlalu terik. Awan-awan tipis bergerak lambat seperti kapas yang ditiup angin. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah berjejeran, kaca-kacanya memantulkan sinar matahari pagi yang hangat. Suasana kawasan perkantoran mulai hidup, pejalan kaki dengan pakaian rapi mulai berdatangan, ada yang sambil memegang tas laptop, ada yang sambil memegang kopi, ada yang sambil berbicara di telepon.Arini memarkir mobil di tempat VIP yang biasa dia gunakan, tidak jauh dari pintu masuk. Dia mematikan mesin, melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke Tina yang duduk di kursi penumpang."Tina, kita sudah sampai," ucap Arini dengan suara lembut.Tina menatap ke luar jendela, melihat gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Matanya membeliak. Dia belum pernah masuk ke gedung sebesar ini sebelumnya. Dulu, ketika dia masih menjadi istri Wan

  • Kurir Pemilik Sistem   Penuh Kebersamaan (part 2)

    Noval tersenyum bangga. "Noval ganteng, Pa!""Nila cantik, Om!" seru Nila.Wandi tertawa. "Ayo, kita sarapan dulu. Papa sudah siapkan bekal untuk kalian."Mereka berjalan ke meja makan. Wandi sudah menyiapkan roti bakar dengan selai coklat dan meses, susu hangat, dan buah-buahan segar."Wah, enak!" seru Noval."Nila suka roti bakar!" seru Nila.Mereka makan dengan lahap. Wandi sesekali menyuapi mereka, membuat mereka semakin bahagia.Setelah sarapan, Wandi menyiapkan bekal untuk Noval dan Nila. Dia mengambil dua kotak makan siang, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi kotak itu dengan nasi, ayam goreng suwir, sayur brokoli, dan potongan buah apel."Noval, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Pa. Noval makan.""Nila, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Om. Nila makan."Wandi juga menyiapkan dua botol minum, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi botol itu dengan air putih dan sedikit perasan lemon."Jangan lupa minum, ya. Biar tidak dehidrasi.""

  • Kurir Pemilik Sistem   Penuh Kebersamaan (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Wandi membuka matanya perlahan. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirinya, tidak ada Noval, karena Noval sudah pindah ke kamarnya sendiri, meskipun kadang dia masih merangkak ke kasur Wandi dan Arini di tengah malam. Wandi tersenyum. Dia menatap Arini yang masih terlelap."Rin..." bisik Wandi pelan.Arini menggeliat, matanya terbuka perlahan. "Wan... sudah pagi?""Sudah, Rin. Hari sudah siang."Arini duduk, mengusap matanya dengan punggung tangan. Rambutnya yang panjang terurai sedikit kusut,

  • Kurir Pemilik Sistem   Untuk Ibu di Surga (part 2)

    "Noval..." bisik Nila pelan, nyaris tidak terdengar.Nila ingin masuk. Ingin memeluk Noval. Ingin mengatakan bahwa dia ada di sini. Tapi kakinya terasa berat, terpaku di tempat.Dan di belakang Nila, seseorang berdiri.Tina.Tina yang terbangun karena Nila tidak ada di sampingnya. Tina yang mencari Nila ke mana-mana. Tina yang menemukan Nila berdiri di depan pintu kamar Noval, menangis.Tina melihat ke dalam kamar Noval. Dia melihat Noval yang memeluk kotak musik, menangis. Dia melihat Nila yang menangis di balik pintu. Dia melihat semua yang terjadi.Tina merasakan dadanya sesak. Hatinya terasa perih."Noval... anak kecil itu... dia merindukan ibunya. Dia menangis karena ibunya sudah tiada. Dia menulis surat untuk ibunya di surga. Dia memeluk kotak musik peninggalan ibunya."Tina menangis juga. Air matanya mengalir di pipinya."Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama. Aku hampir membuat Nila kehilangan ibunya. Aku hampir membuat Nila menjadi yatim piatu. Aku hampir

  • Kurir Pemilik Sistem   Untuk Ibu di Surga (part 1)

    Malam itu, langit di atas Cipinang gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah masih menyala, beberapa redup, beberapa berkedip-kedip tidak karuan. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara jangkrik dari halaman belakang dan suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar. Suasana malam yang tenang, penuh dengan ketenangan dan kedamaian.Nila terbaring di kasurnya di kamar baru, dengan sprei pink lembut yang baru saja dipasang Arini. Di sampingnya, Tina sudah tertidur pulas, wajahnya tenang, napasnya teratur. Nila menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya keheningan.Tapi Nila tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu aktif. Dia memikirkan hari ini, tentang ibunya yang sudah pulang dari rumah sakit, tentang kamar barunya, tentang Noval yang akan menjadi tem

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status