LOGINWandi merasakan dadanya sesak. Dia tidak bisa menunggu lebih lama."Rin, aku akan membuka paksa pintu ini.""Wan, hati-hati."Wandi mundur selangkah, mengumpulkan tenaga di kakinya. Dengan kekuatan yang dia miliki, kekuatan yang diberikan oleh alien, dia menendang pintu.BRAK!Pintu itu terbuka dengan keras, engselnya terlepas, dan pintu jatuh ke lantai dengan suara krak yang mengerikan.Mereka masuk ke dalam rumah.Rumah itu gelap. Lampu-lampu tidak menyala. Hanya cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela yang tertutup tirai, menciptakan cahaya temaram yang nyaris tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan.Wandi dan Arini berjalan ke ruang tamu. Dan di sana, mereka melihat Tina.Tina tergeletak di sofa. Tubuhnya yang kurus tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan, matanya terpejam. Di tangannya, ada botol obat nyamuk cair yang hampir kosong. Di lantai, ada beberapa botol lain yang sudah kosong.Wandi membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya
Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi dan Arini bersiap untuk mengantar Nila pulang ke rumah Tina. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Noval sudah bangun sejak pukul enam pagi. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Nila lagi, untuk bermain bersama, untuk tertawa bersama. Wandi dan Arini yang melihat semangat Noval, hanya bisa tersenyum. Mereka tidak ingin mengecewakan anak mereka."Nila, Nila, bangun!" seru Noval sambil menggoyang-goyangkan bahu Nila yang masih tertidur di kasurnya.Nila menggeliat, matanya terbuka perlahan. Wajahnya yang masih sayu menatap Noval dengan bingung."Noval... masih pagi..." ucap Nila dengan suara serak."Udah pagi, Nil! Hari ini Sabtu! Kita bisa ma
Arini tersenyum. Senyum yang sama tulusnya."Wan, aku... aku nggak tau mau jawab apa. Aku cuma... sama sekali nggak ada rasa cemburu di antara kamu dan Tina. Kalian sudah resmi bercerai. Kalian sudah masing-masing punya kehidupan sendiri. Dan aku... sekarang aku menjadi istrimu yang sah."Wandi merasakan hangat di dadanya. Dia tidak bisa berkata-kata. Kata-kata Arini terlalu indah untuk dijawab dengan kata-kata biasa."Rin, kamu tidak pernah merasa... terancam? Dengan Tina yang masih ada di sekitar kita? Dengan Nila yang masih anakku?"Arini menggeleng. Kepalanya yang mungil bergerak tegas."Tidak, Wan. Aku tidak pernah merasa terancam. Aku percaya padamu. Aku percaya pada hubungan kita. Aku percaya bahwa cinta kita sudah cukup kuat untuk menghadapi apa pun."Wandi menarik napas panjang. Dadanya yang tadinya sesak, kini mulai lega."Dan Noval... anak kita yang sah sekarang," ucap Wandi, suararnya penuh dengan keyakinan.Arini tersenyum. "Iya. Noval adalah anak kita. Anak kita yang sah
Malam itu, rumah Wandi dan Arini terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu masih menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaman. Di luar, langit Jakarta gelap tanpa bintang, tetapi di dalam rumah, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Suara jangkrik dari halaman belakang dan sesekali suara knalpot motor dari jalan raya terdengar samar-samar, tetapi tidak mengganggu ketenangan malam.Di kamar Noval, lampu tidur kecil menyala, memancarkan cahaya lembut berwarna biru keunguan. Kamar itu sederhana, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Dindingnya dicat putih bersih dengan stiker-stiker karakter kartun yang ditempel di beberapa bagian. Di sudut ruangan, ada rak buku kecil berisi buku cerita bergambar dan mainan-mainan Tamiya yang sudah dirakit. Di tengah ruangan, ada kasur ukuran sedang dengan sprei bergambar Doraemon, sprei yang dulu dibelikan untuk Nila, tetapi tidak pernah dipakai karena Nila lebih suka sprei polos.Noval dan Nila ter
"Tina, aku menelepon untuk memberitahumu bahwa Nila tertidur di sini. Dia sangat lelah setelah bermain dengan Noval. Mereka makan bersama, bermain bersama, dan sekarang mereka tertidur bersama di kamar Noval."Tina diam. Pikirannya berkecamuk. Dia merasakan kelegaan karena Nila baik-baik saja, tetapi juga merasakan kesedihan karena Nila tidak ada di sampingnya. Rumah ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran Nila."Arini, aku... aku senang Nila baik-baik saja. Tapi...""Tina, aku ingin meminta izin. Bolehkah Nila tidur di sini malam ini? Dia sangat lelah, dan aku tidak tega membangunkannya. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku janji."Tina terdiam. Pikirannya terus berkelahi. Di satu sisi, dia merasa kesepian tanpa Nila di sampingnya. Nila adalah satu-satunya alasan dia bertahan. Nila adalah satu-satunya yang membuatnya tetap tegar. Nila adalah satu-satunya yang membuat rumah ini terasa hangat. Tanpa Nila, rumah ini terasa hampa dan dingin.Di sisi lain, dia tahu bahwa Nila aman bersama
Malam itu, rumah Tina terasa lebih sepi dari biasanya. Langit di luar jendela gelap tanpa bintang, awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat. Lampu-lampu taman di halaman depan masih menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaris tidak cukup untuk menembus kegelapan malam. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan dan suara jangkrik yang bersahutan di halaman belakang. Rumah Tina yang biasanya terasa hangat dengan kehadiran Nila dan Andre, kini terasa hampa dan dingin. Tidak ada suara tawa Nila yang berlarian. Tidak ada suara Andre yang sedang berbicara di telepon. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Hanya keheningan yang mencekik.Tina duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk. Matanya yang merah dan sembab menatap kosong ke langit-langit. Air mata masih mengalir di pipinya, membasahi bantal sofa yang sudah basah karena tangisnya yang







