LOGIN"Noval, Nila, Papa pergi sebentar. Papa akan segera kembali.""Pa, Papa mau ke mana?" tanya Noval."Papa ada urusan, Nak. Nanti Papa cerita.""Baik, Pa."Wandi berjalan keluar dari warung, menuju jembatan penyeberangan. Langkahnya cepat, tidak terburu-buru.Tina yang melihat Wandi pergi dengan tergesa-gesa, menatap Arini dengan bingung."Arini, Wandi pergi ke mana? Kenapa dia tiba-tiba pergi?"Arini menghela napas. Dia menatap Tina dengan mata yang lembut, penuh pengertian."Tina, Wandi pergi menyelamatkan seseorang."Tina mengerjap. "Menyelamatkan seseorang? Maksudnya?""Tina, aku akan ceritakan sesuatu. Tapi tolong dengarkan dengan sabar."Tina mengangguk. "Aku mendengarkan."Arini menarik napas panjang. Dia teringat pada pertemuan pertamanya dengan Wandi. Malam itu, di taman yang gelap, ketika dia sedang galau karena mengetahui pacarnya selingkuh dan check in dengan perempuan lain di sebuah hotel. Ketika dia hampir berakhir di dalam mobilnya yang hancur karena truk yang kehilangan
Warung soto "Mbak Sri" di pinggir jalan itu kembali ramai seperti biasa. Tenda hijau yang melindungi para pengunjung dari sinar matahari siang yang mulai terik, masih kokoh berdiri. Meja-meja kayu panjang dengan taplak kotak-kotak merah putih, kursi-kursi plastik yang sedikit goyah, dan kompor besar yang mengeluarkan uap harum, semuanya masih sama seperti yang Wandi ingat. Aroma kaldu ayam yang gurih, campuran rempah-rempah, dan sedikit asap dari arang yang digunakan untuk memasak, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang selera.Wandi memarkir BMW di pinggir jalan, tidak jauh dari warung. Mereka turun, berjalan ke meja yang sama seperti kemarin, meja di pojok, dekat dengan dapur, sehingga mereka bisa melihat proses memasak yang selalu menarik perhatian Noval dan Nila."Kita pesan apa?" tanya Wandi sambil duduk di kursi kayu yang sedikit miring."Aku mau soto ayam, Wan," jawab Arini."Noval juga mau soto ayam, Pa!" seru Noval."Nila juga mau soto ayam, Om!" seru Nila."Aku juga
Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi menyelesaikan urusan administrasi di meja resepsionis rumah sakit. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di lobi. Suasana rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan steril, pagi itu terasa lebih hangat, lebih hidup, seperti ada kegembiraan yang tersembunyi di balik setiap sudut. Para perawat berjalan dengan langkah lebih ringan, pasien-pasien yang mulai pulang tersenyum, dan di ruang perawatan Tina, ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Wandi mengenakan kemeja putih lengan panjang yang rapi, celana chino hitam, dan sepatu kets putih. Rambutnya disisir rapi, wajahnya berseri-seri. Dia telah menghabiskan pagi ini untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan, surat keterangan sehat, surat pulang dari rumah sakit, dan semua administrasi yang dibutuhkan agar Tina bisa pulang dengan tenang. Di tangannya, dia memegang map berisi dokumen-dokumen
Tina menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas. Bahunya naik turun, tangisnya semakin menjadi-jadi."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku hampir meninggalkan Nila. Aku hampir membuatnya kehilangan ibunya. Aku hampir... menghancurkan hidupnya."Dia teringat pada Noval. Noval yang memberikan wejangan kepadanya. Noval yang berkata, "Tante Tina, jangan sampai Tante meninggalkan Nila sendirian. Noval pernah merasakan kehilangan orang tua. Noval ditinggal sendirian di gubuk reyot pinggir rel kereta. Noval lapar. Noval takut. Noval tidak tahu harus ke mana.""Noval... anak kecil itu telah merasakan penderitaan yang tidak seharusnya dia rasakan. Dia kehilangan ibunya. Dia ditinggal sendirian. Dia harus berjuang untuk bertahan hidup. Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama."Tina menangis lebih keras."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku tidak pernah memikirkan akibatnya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan ketakutanku. Aku hanya memikirkan penderitaanku. A
Pintu ruang perawatan tertutup perlahan di belakang Wandi, Arini, Noval, dan Nila. Suara langkah kaki mereka yang perlahan menjauh di koridor, semakin lama semakin redup, hingga akhirnya menghilang. Suara tawa Noval dan Nila yang masih terdengar samar-samar, kini benar-benar padam. Hanya ada keheningan. Keheningan yang mencekik, yang memenuhi setiap sudut ruangan, yang membuat Tina merasa seperti terperangkap di dalam kubus kaca yang dingin.Ruangan itu kembali sunyi. Tina sendiri. Sendirian dengan pikirannya. Sendirian dengan penyesalannya. Sendirian dengan ketakutannya.Tina masih terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang putih bersih. Lampu neon di langit-langit menyala terang, memancarkan cahaya putih yang dingin dan steril. Di samping tempat tidurnya, monitor detak jantung masih berkedip-kedip pelan, menampilkan irama yang stabil, tanda bahwa tubuhnya mulai pulih. Namun hatinya, hatinya masih hancur.Tangannya yang satu, yang tidak terhubung dengan infus, tergeletak d
Tina menunduk, tidak berani menatap Noval. Tangannya yang memegang tangan Nila, gemetar."Noval... Tante... Tante minta maaf..."Noval menggeleng. "Tante Tina tidak perlu minta maaf pada Noval. Tante Tina harus minta maaf pada Nila. Dan Tante Tina harus berjanji, tidak akan pernah meninggalkan Nila sendirian. Karena Nila... Nila masih kecil. Nila butuh Tante."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Noval."Noval, Tante... Tante berjanji. Tante tidak akan pernah meninggalkan Nila. Tante tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi."Noval tersenyum. "Noval percaya, Tante Tina. Noval percaya."Tina menatap Noval dengan perasaan campur aduk, malu, bersalah, dan juga kagum. Anak sekecil Noval telah memberikan wejangan yang begitu dalam, yang bahkan orang dewasa pun sulit mengatakannya."Noval, Tante... Tante malu," bisik Tina. "Tante seharusnya tidak melakukan itu. Tante seharusnya tidak menenggak obat nyamuk. Tante seharusnya tidak mencoba bunuh diri. Tante... Tante eg







