LOGINNoval mengangguk di pelukan Arini, tetapi tangisnya belum berhenti. Bahkan semakin menjadi-jadi. Seperti ada yang ingin dia keluarkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."Noval... Noval kangen ibu, Ma," bisik Noval. Suaranya nyaris tidak terdengar, seperti bisikan angin.Arini terdiam. Wandi juga terdiam."Noval kangen Ibu. Ibu sudah lama nggak ada. Ibu pergi ke surga."Air mata Arini semakin deras. Dia memeluk Noval lebih erat.Wandi berlutut di hadapan Noval, menatap matanya yang basah. "Nak, ceritakan tentang ibumu. Papa dan Mama mau dengar."Noval mengusap air matanya dengan punggung tangan. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya."Waktu itu... Noval masih tinggal di gubuk, Pa. Di pinggir rel kereta. Rumahnya kecil. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari seng."Wandi mengangguk, mendorong Noval untuk terus bercerita."Ibu Noval sakit-sakitan, Pa. Ibu batuk terus. Kadang demam. Ibu tidak bisa kerja. Tidak punya uang.""Lalu Noval makan apa?" tanya Arini.
"Mama, Noval masih mau main," rengek Noval."Nanti, Nak. Sekarang istirahat dulu. Mama dan Papa kasih makan.""Noval tidak lapar.""Cuma sebentar. Nanti kalau matahari sudah tidak terlalu panas, kita main lagi."Noval mengangguk meskipun wajahnya masih cemberut.Mereka sampai di tikar. Arini melepaskan gendongannya, menurunkan Noval perlahan. Wandi sudah menyiapkan tikar yang lebih lebar, dengan bantal-bantal kecil untuk bersandar. Di atas tikar, sudah terhampar kotak bekal berisi buah-buahan, roti bakar sisa tadi, dan dua botol air mineral."Noval, duduk sini," ucap Wandi sambil menepuk tikar di sampingnya.Noval duduk bersila, tangannya yang masih basah karena air laut, mengusap-usap pasir yang menempel di celananya.Arini duduk di sisi lain Noval, menghela napas lega. Dia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan."Wan, panas banget," ucap Arini."Iya. Makanya aku panggil. Nanti kalian pada dehidrasi."Wandi membuka kotak bekal. Di dalamnya, teronggok potongan-potongan bu
Matahari semakin meninggi, meninggalkan garis cakrawala yang tadinya berwarna jingga keemasan, kini berubah menjadi biru terang dengan semburat putih di sekitar pusatnya. Sinar matahari mulai terasa hangat di kulit, tidak lagi dingin seperti saat pertama kali mereka tiba. Ombak bergulung-gulung dengan irama yang teratur, sesekali besar, sesekali kecil, sesekali naik hingga ke batas tertinggi pasir yang basah, lalu surut kembali dengan suara gemericik yang menenangkan. Burung-burung camar terbang rendah di atas permukaan air, sesekali menyelam untuk menangkap ikan kecil yang kurang beruntung. Udara pantai yang tadinya sejuk dan segar, kini mulai bercampur dengan sedikit panas, tetapi masih cukup nyaman karena angin laut masih berhembus cukup kencang.Noval berlarian di tepi air, telanjang kaki, dengan celana pendek yang sudah basah sampai ke lutut karena terlalu sering menerjang ombak kecil. Sesekali dia berteriak kegirangan ketika ombak yang lebih besar dari sebelumnya datang dan hamp
Noval tertawa kecil. Tangannya yang mungil tiba-tiba meraih hidung Arini, menjepitnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, lalu menariknya sedikit. Arini terkejut, lalu tertawa."Mama hidungnya panjang kayu Pinokio..." ucap Noval dengan polos.Arini berpura-pura marah. "Hidung Mama panjang? Pinokio itu boneka kayu yang hidungnya panjang kalau bohong. Mama nggak pernah bohong, jadi hidung Mama nggak panjang.""Tapi ini panjang, Ma." Noval menarik hidung Arini lagi."Ah, kamu ini. Nanti hidung Mama copot."Noval tertawa lepas. Di belakang mereka, Wandi yang sedang menggelar tikar, ikut tertawa."Noval, jangan nakal sama Mama," tegur Wandi sambil tersenyum."Noval nggak nakal, Pa. Noval cuma... cuma... penasaran.""Penasaran sama hidung Mama?""Iya. Hidung Mama beda sama hidung Papa. Hidung Mama mancung. Hidung Papa pesek."Wandi tertawa. "Ya, hidung Papa pesek. Tapi Papa ganteng, kan?"Noval mengerjap. "Noval nggak tahu, Pa. Tapi Mama bilang Papa ganteng.""Mama bohong."Arini memukul len
Noval berjalan ke arah motor bebek, berdiri di sampingnya, lalu menatap Wandi dengan polos. Tangannya yang mungil mengelus body motor yang penyok, merasakan tekstur tidak rata dengan tangan mungilnya."Papa... kenapa motor ini nggak dipakai?"Wandi terdiam. Matanya menatap motor itu, lalu menatap Noval, lalu kembali ke motor itu. Dadanya terasa hangat. Ada begitu banyak kenangan yang terpatri di benda tua itu. Ada begitu banyak cerita yang tidak bisa dia ceritakan kepada anak seusia Noval.Motor itu adalah saksi bisu perjuangannya. Saksi ketika dia masih menjadi kurir, mengantar paket dari satu tempat ke tempat lain dengan penghasilan pas-pasan. Saksi ketika dia harus meminjam uang ke Pakde Slamet untuk membayar cicilan yang telat lima bulan. Saksi ketika dia jatuh di aspal karena mobil yang dikemudikan Arini, yang saat itu masih belum kenal Wandi, menabraknya dari samping. Saksi ketika dia mengantar Nila, anak kandungnya yang kini tinggal bersama Tina, ke klinik karena demam tinggi d
Jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Langit di luar masih gelap gulita, tidak ada satu pun bintang yang terlihat karena awan tipis menutupi hampir seluruh langit. Hanya sesekali lampu jalan di gang yang masih menyala, memancarkan cahaya jingga temaram yang nyaris tidak cukup untuk menerangi aspal yang basah karena embun. Burung-burung pipit belum mulai berkicau, ayam tetangga belum terdengar berkokok, dan suara jangkrik dari halaman belakang masih terdengar nyaring, seolah mereka belum siap menyerahkan malam kepada pagi.Wandi sudah tidak bisa tidur sejak satu jam yang lalu. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan hari ini. Bukan karena cemas, bukan karena ada rencana besar yang menegangkan, tapi karena hari ini adalah pertama kalinya Noval, anaknya yang baru resmi diadopsi, akan melihat laut. Pertama kalinya dalam hidupnya, anak kecil berusia empat tahun itu akan merasakan pasir di sela-sela jari ka







