LOGIN"Wan... aku lupa dompet," bisik Arini, wajahnya sedikit merah.Wandi tertawa. "Kamu, Rin. Mana ada CEO pergi tanpa dompet?""Aku kira kamu yang bawa.""Ya, aku bawa. Tapi kamu harus bilang dari awal."Wandi mengeluarkan dompet dari saku celana, dompet kulit coklat yang sudah agak usang, dan menyerahkan uang lima puluh ribu ke ibu-ibu itu."Ini, Bu. Kembaliannya dua puluh ribu.""Terima kasih, Mas."Wandi menerima uang kembalian, lalu memasukkan kembali ke dompet.Arini tersenyum malu. "Maaf, Wan. Aku ketinggalan dompet.""Tidak apa-apa. Itu sudah sering terjadi. Dulu waktu masih pacaran, kamu juga sering lupa dompet.""Kamu masih ingat?""Semua aku ingat."Mereka berjalan kembali ke motor. Noval sudah tidak sabar, matanya tertuju pada bungkusan cilok di tangan Arini."Ma, cilok!""Iya, Nak. Ini."Arini menusuk sebuah cilok dengan tusuk gigi, lalu menyodorkannya ke mulut Noval."Huuufff... hufff... masih panas, Ma," ucap Noval sambil meniup-niup cilok itu."Tunggu dingin dulu. Nanti ke
Wandi keluar, menggendong Noval, lalu mendudukannya di jok depan motor, di antara setang dan jok, di tempat yang biasa untuk anak kecil. Tangannya yang mungil memegang gagang spion kanan."Noval, pegang gagang spionnya, ya. Jangan lepas.""Iya, Pa."Wandi duduk di jok belakang Noval, mengapit anak itu dengan kedua tangannya. Arini naik ke jok paling belakang, duduk di boncengan."Rin, kamu yakin? Kamu kan CEO. Masa naik motor bebek?" canda Wandi."CEO juga boleh naik motor bebek, dong. Lagipula, dulu waktu aku masih kuliah, aku juga kadang naik motor bebek temanku.""Kamu anak mana? Anak orang kaya masa naik motor bebek?""Orang tuaku kaya, bukan aku. Aku mahasiswa biasa. Dulu aku naik KRL, naik angkot, naik ojek. Tidak selalu naik mobil.""Wah, baru tahu.""Banyak yang belum tahu tentang aku.""Pelan-pelan, Rin. Kita punya waktu."Mereka tersenyum.Wandi menyalakan mesin. Motor bebek tua itu bergemuruh, tidak sehalus NMAX, tetapi terdengar kuat. Dia menarik gas perlahan, motor melaju
Wandi mengulangi proses itu dua kali. Pada percobaan ketiga, motor menyala lebih lama. Suara mesinnya kasar, tetapi mulai terdengar stabil. Wandi memanaskan motor selama beberapa menit, membiarkan oli bersirkulasi ke seluruh bagian mesin.Motor itu mengeluarkan suara khas, ngeng... ngeng... ngeng..., tidak sehalus motor baru, tetapi terdengar kuat. Wandi mencium bau knalpot yang sedikit menyengat, bau yang dulu sangat familiar di hidungnya setiap pagi sebelum berangkat kerja sebagai kurir."Hai, kawan," bisik Wandi pada motor itu. "Kita akan jalan-jalan lagi. Ada anggota baru di keluarga kita. Namanya Noval. Dia anak yang baik."Motor itu tidak menjawab, tetapi getarannya terasa sedikit berbeda. Seolah-olah motor itu ikut bahagia.Setelah motor menyala dengan stabil, Wandi mematikan mesin, lalu mengambil selang air dari samping rumah. Air mengalir deras, membasahi motor bebek tua itu. Debu-debu yang menempel sejak bertahun-tahun, sebenarnya tidak terlalu banyak karena motor selalu ber
"Pa, itu apa?" tanya Noval sambil menunjuk."Itu rendang, Nak. Daging sapi dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Enak.""Noval belum pernah makan.""Nanti kamu cicipi. Tapi kalau pedas, jangan dimakan banyak.""Noval tidak takut pedas, Pa. Noval dulu pernah makan cabe mentah."Wandi tertawa. "Cabe mentah? Tidak sakit perut?""Sakit. Tapi Noval lapar. Tidak ada makanan lain."Wandi menghela napas. Ada rasa haru dan sedih bercampur menjadi satu. "Anak ini benar-benar sudah menderita sejak kecil. Mulai sekarang, aku akan pastikan dia tidak akan pernah lapar lagi."Makanan datang. Seorang pelayan lain, perempuan muda dengan kerudung merah muda, membawa nampan besar berisi piring-piring kecil berisi rendang, ayam pop, gulai tunjang, sambal ijo, dan sayur nangka. Tiga piring nasi putih masih mengepul. Dua gelas es teh manis dan satu gelas es jeruk.Wandi menata piring di hadapan Noval. Dia mengambil sedikit nasi, sedikit rendang (yang tidak terlalu pedas), sedikit ayam pop, dan sedikit s
Matahari sudah hampir tepat di atas kepala ketika Wandi memutuskan untuk mengakhiri petualangan mereka di pantai. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sinar matahari terasa sangat terik, membuat pasir putih di sekitar mereka terlihat menyilaukan dan panas di telapak kaki. Ombak bergulung lebih besar dari pagi tadi, mungkin karena pasang, dan angin laut berhembus lebih kencang, membawa butiran-butiran pasir halus yang sesekali menerpa wajah.Noval mulai mengantuk. Matanya yang bulat terlihat sayu, sesekali terpejam sebentar lalu terbuka lagi, seperti lampu yang berkedip-kedip karena listrik tidak stabil. Dia masih duduk di pangkuan Arini, di atas tikar bergambar robot, dengan potongan apel terakhir di tangannya yang sudah tidak dia sentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Mulutnya yang mungil sesekali menguap, kecil, tapi terdengar lucu."Wan, Noval ngantuk," ucap Arini sambil mengelus rambut Noval yang mulai kering karena terkena angin dan sinar matahari."Iya, Rin. Kita pulan
Noval mengangguk di pelukan Arini, tetapi tangisnya belum berhenti. Bahkan semakin menjadi-jadi. Seperti ada yang ingin dia keluarkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."Noval... Noval kangen ibu, Ma," bisik Noval. Suaranya nyaris tidak terdengar, seperti bisikan angin.Arini terdiam. Wandi juga terdiam."Noval kangen Ibu. Ibu sudah lama nggak ada. Ibu pergi ke surga."Air mata Arini semakin deras. Dia memeluk Noval lebih erat.Wandi berlutut di hadapan Noval, menatap matanya yang basah. "Nak, ceritakan tentang ibumu. Papa dan Mama mau dengar."Noval mengusap air matanya dengan punggung tangan. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya."Waktu itu... Noval masih tinggal di gubuk, Pa. Di pinggir rel kereta. Rumahnya kecil. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari seng."Wandi mengangguk, mendorong Noval untuk terus bercerita."Ibu Noval sakit-sakitan, Pa. Ibu batuk terus. Kadang demam. Ibu tidak bisa kerja. Tidak punya uang.""Lalu Noval makan apa?" tanya Arini.







