Inicio / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Niat Mulia (part 3)

Compartir

Niat Mulia (part 3)

Autor: BoardMarker
last update Fecha de publicación: 2026-08-11 11:25:49

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi jingga keemasan, lalu merah muda, lalu ungu, lalu gelap. Awan-awan tipis bergerak lambat seperti kapas yang diwarnai tangan seniman. Burung-burung pipit mulai kembali ke sarangnya, berkicau riuh di dahan-dahan pohon rindang di halaman panti. Suara mereka terdengar seperti nyanyian perpisahan untuk matahari yang akan segera meninggalkan bumi.

Noval duduk di tepi kasur, di sudut ruangan dormitori laki-laki. Rua
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat Mulia (part 4)

    Pria itu mengajaknya bicara. Mengajaknya ke luar. Mengajaknya ke warung makan. Membelikannya nasi, tempe goreng, telur dadar, dan teh hangat. Noval tidak mengerti mengapa pria itu begitu baik. Pria itu bahkan tidak dikenal. Tidak ada hubungan keluarga. Tidak ada utang budi. Tapi pria itu membelikannya makanan dan menemaninya makan.Noval ingat bagaimana perutnya yang kosong mulai terisi. Sendok demi sendok. Gigitan demi gigitan. Nasi yang hangat. Tempe yang gurih. Telur yang lembut. Teh yang manis. Rasanya seperti... seperti... Noval tidak punya kata-kata untuk menggambarkannya. Yang dia tahu, dia tidak ingin berhenti makan. Dia ingin terus makan sampai perutnya penuh. Sampai tidak ada ruang lagi untuk rasa lapar.Dan pria itu... pria itu membiarkannya. Tidak menyuruhnya cepat-cepat. Tidak berkata, "Cukup." Tidak mengambil piringnya. Malah pria itu tersenyum dan berkata, "Makan yang banyak, Noval. Jangan sisa."Noval juga ingat bagaimana pria itu menangis. Hanya satu tetes. Tapi Noval

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat Mulia (part 3)

    Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi jingga keemasan, lalu merah muda, lalu ungu, lalu gelap. Awan-awan tipis bergerak lambat seperti kapas yang diwarnai tangan seniman. Burung-burung pipit mulai kembali ke sarangnya, berkicau riuh di dahan-dahan pohon rindang di halaman panti. Suara mereka terdengar seperti nyanyian perpisahan untuk matahari yang akan segera meninggalkan bumi.Noval duduk di tepi kasur, di sudut ruangan dormitori laki-laki. Ruangan itu cukup besar, sekitar 6x8 meter, dengan deretan tempat tidur susun dua tingkat di sepanjang dinding. Kasurnya sederhana, kasur busa tipis dengan sprei bermotif kotak-kotak biru putih yang sudah agus pudar. Bantalnya kecil, agak kempes karena terlalu sering dipakai. Selimutnya tipis, hanya cukup untuk menutupi tubuh mungilnya dari dinginnya malam.Dari jendela di samping kasurnya, Noval bisa melihat halaman belakang panti. Pepohonan rimbun, rumput yang mulai menguning karena kemarau, dan

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat Mulia (part 2)

    "Wan, aku lihat Noval tadi. Aku lihat dia duduk di kursi plastik, memeluk perutnya. Aku lihat dia diam ketika anak-anak lain tertawa dan bermain. Aku lihat dia malu-malu ketika kamu ajak bicara." Arini suaranya mulai bergetar. "Dan aku teringat pada diriku sendiri dulu. Waktu kecil, aku juga sering sendirian. Orang tuaku sibuk bekerja. Aku diasuh pembantu. Aku makan sendiri, bermain sendiri, tidur sendiri. Aku tidak punya saudara. Aku tidak punya teman. Aku hanya punya boneka.""Rin, aku tidak tahu...""Tidak banyak yang tahu, Wan. Aku tidak pernah cerita. Karena aku malu. Aku malu mengakui bahwa aku anak yang kesepian. Padahal orang tuaku kaya. Rumahku besar. Mainanku mahal. Tapi aku merasa seperti tidak punya siapa-siapa."Air mata Arini jatuh. Setetes, dua tetes, mengalir di pipinya yang mulus."Dan ketika aku melihat Noval, aku melihat diriku sendiri. Kecil, sendirian, lapar akan kasih sayang. Tapi Noval lebih parah. Dia tidak punya orang tua. Dia tidak punya rumah. Dia tidak puny

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat Mulia (part 1)

    BMW hitam melaju perlahan meninggalkan panti asuhan Bina Mulia. Jalanan di kawasan Ciputat sore itu tidak terlalu macet, hanya sesekali truk sampah atau angkot yang melintas dengan kecepatan sedang. Langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan, tanda matahari akan segera tenggelam. Awan-awan tipis di ufuk barat terlihat seperti kapas yang terbakar, merah muda dan oranye bercampur menjadi satu.Wandi mengemudi dengan santai, tidak tergesa-gesa. Tangannya memegang setir dengan rileks, matanya kadang menatap jalan, kadang menoleh ke Arini yang duduk di sampingnya. Arini diam, matanya menatap ke luar jendela, memperhatikan pemandangan sawah dan perkebunan teh yang mulai gelap. Pikirannya mungkin masih tertuju pada Noval, anak kecil kurus dengan wajah pucat yang duduk di kursi plastik, memeluk perutnya yang kelaparan, dan tersenyum polos ketika diberi makan.Suasana di dalam mobil sunyi. Hanya suara mesin yang halus dan desiran angin dari ventilasi AC yang terdengar.

  • Kurir Pemilik Sistem   Sepuluh Menit (part 3)

    "Tidak usah bayar. Papa yang bayar.""Om baik."Wandi tersenyum. "Sama-sama."00:04:15Empat menit lima belas detik.Makanan datang. Sepiring nasi putih dengan tempe goreng dan telur dadar di sampingnya. Dua gelas teh hangat mengepul.Wandi meletakkan piring di hadapan Noval. "Ini, Noval. Makan."Noval menatap piring itu. Tangannya yang kecil gemetar. Dia mengambil sendok, lalu menyendok nasi perlahan. Ketika nasi itu masuk ke mulutnya, matanya membeliak. Dia mengunyah perlahan, lalu menelan."Enak, Om," bisik Noval."Makan yang banyak, Noval. Jangan sisa."Noval mulai makan dengan lahap. Sendoknya bergerak cepat dari piring ke mulut, piring ke mulut. Sesekali dia mengambil tempe goreng, menggigitnya, lalu mencampurnya dengan nasi. Sesekali dia mengambil telur dadar, memotongnya dengan sendok, lalu memakannya.Wandi melihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Anak ini benar-benar kelaparan. Lapar yang tidak dia rasakan sejak dulu, ketika dia dan Tina masih berjuang memberi makan N

  • Kurir Pemilik Sistem   Sepuluh Menit (part 2)

    Arini tersenyum. Dia mengambil posisi di depan, mulai bercerita tentang Kancil dan Buaya, dengan suara ekspresif dan gerakan tangan yang lucu. Anak-anak terpesona. Sesekali mereka tertawa, sesekali mereka bertanya, sesekali mereka berbisik satu sama lain.Wandi berdiri di samping, mengamati anak-anak. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain.Tiba-tiba, Wandi melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.Merah.Angka merah di atas kepala seorang anak laki-laki di barisan depan. Wandi mendekat sedikit. Anak itu duduk di kursi plastik, memeluk perutnya dengan tangan kirinya. Wajahnya pucat, matanya sayu, bibirnya pecah-pecah. Dia terlihat sangat kurus, bahkan di balik baju panti yang sedikit kebesaran.Angka itu berkedip-kedip.00:09:47Sembilan menit empat puluh tujuh detik.Wandi menarik napas panjang. Dia berusaha tenang. Tidak boleh panik. Tidak boleh membuat anak-anak ketakutan.Dia berbisik ke Arini, "Rin, aku ke luar sebentar. Ada yang harus aku urus."Ari

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status