LOGINWandi tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar. Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas.Lestari melepaskan pelukan dari Noval, lalu berdiri. Matanya yang basah menatap Wandi. Ada kehangatan di sana. Ada rasa terima kasih. Ada rasa bangga."Kamu Wandi," ucap Lestari dengan suara lembut.Wandi mengangguk. "Iya. Saya Wandi.""Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari penjaga keris. Tentang perjuanganmu. Tentang kebaikanmu. Tentang cintamu pada Noval.""Aku… aku hanya melakukan yang terbaik untuknya.""Dan itu sudah lebih dari cukup. Kamu memberinya kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan. Kamu memberinya kasih sayang, perhatian, makanan, pakaian, pendidikan, dan masa depan. Aku tidak bisa membalasmu dengan apa pun. Tapi aku berterima kasih. Dari lubuk hatiku yang paling dalam."Wandi menghela napas. "Saya tidak melakukan apa-apa, Lestari. Noval adalah anak yang baik. Dia pantas mendapatkan yang terbaik.""Dan kamu memberikannya. Itu yang membuatmu istim
Malam itu, setelah memasang alarm dan memeriksa semua pintu serta jendela, Wandi berbaring di samping Arini dan Noval. Matanya masih terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap, waspada terhadap setiap suara yang mungkin muncul dari luar. Tapi kelelahan, baik fisik maupun mental, akhirnya mengalahkannya. Perlahan, kelopak matanya terasa berat. Dunia di sekitarnya mulai memudar. Suara jangkrik dari halaman semakin jauh. Lampu tidur di sudut kamar semakin redup. Wandi masuk ke alam mimpi.Dia tidak menyadari kapan tepatnya dia tertidur. Yang dia tahu, ketika dia membuka mata, dia tidak lagi berada di kamarnya. Dia berdiri di sebuah tempat yang asing, tetapi terasa begitu akrab, begitu tenang, begitu… suci.Wandi berada di dalam sebuah altar.Bukan altar biasa. Altar ini terbuat dari batu putih yang berkilauan seperti mutiara, dengan ukiran-ukiran rumit yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Bukan ukiran manusia, terlalu sempurna, terlalu detail, terlalu… ilahi. Bentuknya seperti bu
Wandi memejamkan mata. Dia mengatur napas, menarik dan menghembus perlahan. Dia mencoba mengingat perasaan semalam ketika dia menghilang, perasaan ketiadaan, perasaan lepas, perasaan tidak terikat."Aku tidak ada. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bayangan."Dia membuka mata.Tidak ada yang berubah. Dia masih terlihat. Bayangannya masih ada di tanah."Tidak bisa, Rin," ucap Wandi."Coba lagi, Wan. Sabar."Wandi memejamkan mata lagi. Kali ini, dia mencoba memvisualisasikan dirinya sebagai udara, sebagai angin, sebagai cahaya. Dia membayangkan tubuhnya memudar, menjadi transparan, lalu menghilang.Dia membuka mata.Masih tidak ada perubahan."Pa, kok belum menghilang?" tanya Noval."Belum bisa, Nak. Papa masih belajar.""Noval bisa, Pa. Noval bisa menghilang." Noval menutup matanya dengan kedua tangan. "Noval hilang!"Wandi dan Arini tertawa."Noval pintar," ucap Arini.Noval membuka tangan. "Noval muncul lagi!"Mereka bertiga tertawa.Wandi mengambil keris dari dalam lemari. Keris itu m
Macan tidak menunggu. Dia berbalik, berlari ke pintu, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam.Wandi berdiri di ruang tamu, masih memegang pentungan. Tubuhnya masih utuh, tidak terluka. Baju nya robek sedikit di bagian lengan, tetapi tidak parah.Dia berjalan ke pintu, menutupnya, lalu menguncinya. Kayu pintu retak di bagian engsel, tetapi masih bisa ditutup.Dia berjalan ke sofa, duduk, dan menghela napas panjang."Aku bisa menghilang. Aku bisa menjadi tidak terlihat. Ini... ini kemampuan baru."Wandi menatap tangannya. Tangan itu terlihat normal. Tidak ada yang aneh."Apa ini efek dari keris? Atau efek dari laser alien? Atau efek dari latihan fisik yang aku lakukan?"Dia tidak tahu. Yang dia tahu, kemampuan ini menyelamatkan nyawanya."Tapi aku tidak bisa menyerang dalam keadaan tidak terlihat. Atau aku belum bisa mengontrolnya."Wandi berdiri, berjalan ke kamar tidur. Arini masih tertidur, tidak terbangun oleh keributan tadi. Noval juga masih tertidur.Wandi merebahkan diri di sam
Pisau besar di tangan Macan melesat ke arah leher Wandi dengan kecepatan yang luar biasa. Bukan kecepatan manusia biasa. Ini kecepatan seorang pembunuh bayaran profesional yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia kegelapan, yang sudah puluhan nyawa melayang di tangannya. Pisau itu berkilauan di bawah cahaya bulan yang redup, memantulkan bayangan-bayangan mengerikan di dinding ruang tamu yang gelap.Wandi melihat pisau itu mendekat. Bukan dengan mata biasa. Tapi dengan kemampuan yang sudah dia miliki sejak kecelakaan dulu, kemampuan memperlambat waktu. Gerakan pisau yang tadinya begitu cepat, tiba-tiba menjadi lambat. Sangat lambat. Seperti gerakan dalam mimpi yang tidak pernah sampai. Seperti tetesan air yang jatuh dari kran, yang bisa dia lihat setiap tetesnya.Dia bisa melihat setiap detail pisau itu. Bilahnya yang tajam dengan goresan-goresan halus di permukaan. Gagangnya yang dibalut kulit hitam, sedikit robek di bagian ujung. Bahkan tetesan keringat yang menetes dari da
Tapi keris itu tidak mungkin berbohong.Wandi menutup aplikasi. Dia berdiri, berjalan ke ruang tamu. Di sana, dia mengambil tas ransel hitam yang berisi perlengkapan darurat, senter, pisau lipat, korek api, dan perban. Dia juga mengambil pentungan besi yang dia beli beberapa hari lalu di toko besi.Dia kembali ke kamar, duduk di kursi di samping kasur, dan menunggu."Jika mereka datang, aku siap."Wandi membuka aplikasi pesan, mengetik cepat. [Rin, jika kamu bangun dan aku tidak ada di sampingmu, jangan panik. Aku di ruang tamu. Ada sesuatu yang harus aku jaga.]Dia tidak ingin membuat Arini khawatir. Tapi dia juga tidak ingin Arini kaget jika bangun dan tidak melihatnya di samping.Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Arini.[Wan, kenapa? Ada apa?][Tidak tahu pasti. Tapi keris memberi sinyal bahaya. Aku harus waspada.][Aku turun.][Jangan. Kamu jaga Noval. Aku yang jaga di bawah.][Baik. Hati-hati, Wan.]"Iya, Rin."Wandi meletakkan ponsel di atas meja. Dia men







